
Seperti rencana sebelumnya jika hari ini Nanda meminta kedua orang tuanya untuk melamar Yuna secara resmi. Mobil Vellifire milik keluarga Alan melaju dengan kecepatan sedang, mereka memilih dengan menggunakan mobil keluarga dan membawa sopir pribadi, karena Nanda, Tristan, Alan merasa lelah dalam urusan kantor, takut terjadi sesuatu jadi mereka lebih memilih membawa sopir.
Nanda duduk di bagian depan bersama sopir, Vriska dan Alan duduk di tengah, sementara di belakang ada Nada dan Tristan. Vriska dan Alan sudah menasehati Nada untuk tidak ikut karena kehamilannya, namun Nada terus merengek ikut.
"Kan jadi lama.."decak Nanda, ia merasa kesal lantaran ada Nada jadi pak sopir tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gak tau apa ia sudah sangat merindukan calon istrinya.
Nada yang duduk di belakang tampak tak peduli, wanita itu terus bergelayut manja pada suaminya, sesekali ia akan mencium pipi suaminya, "Nad, jangan gini. Gak malu tuh di lihatin.."tunjuk Tristan pada Nanda di depan.
Nada pun mengikuti arah pandang suaminya, "gak papa anggap aja dia itu seekor lalat yang sedang hinggap.."jawabnya santai, membuat Tristan, Alan dan Vriska tergelak.
"Dasar norak, bucin tingkat dewa..."cibir Nanda membuang mukanya ke luar jendela tampak pepohonan rindang yang terlihat begitu indah dan sejuk.
"Cihhh, iri bilang boss..."ejek Nada, Alan dan Vriska menggelengkan kepalanya heran sejak dulu Nada dan Nanda ya begitu ada saja yang di ributin.
"Calvin kenapa tidak ikut mi. Kalau ada dia pasti rame, pemandangannya sangat bagus dia suka, suatu saat pasti ia akan jadi photografer yang handal...."tanya Tristan, ia mengingat jika adik iparnya itu memang berbeda di bandingkan dengan Nanda dan Nada, ia sangat menyukai kegiatannya menggunakan handycame miliknya terbukti hasilnya juga sangat bagus-bagus, pun ia sangat suka dengan berbagai jenis motor sport.
"Nggak sih, katanya lagi sibuk. Ada kegiatan di sekolahnya..."jawab Vriska.
"Kegiatan apa ? paling-paling godain cewek di sekolah.."ejek Nanda.
"Itu mah kamu,.."sarkas Alan membuat semuanya tergelak kemudian terkekeh, "Memangnya papi gak ingat, dulu kalau sekolah papi atau mami sering di panggil ke sekolah gara-gara kamu sering bolos, dan memilih tidak masuk malah godain cewek.."sambung Alan.
Nanda jadi malu, ia merasa terskak sekarang tak bisa berkata-kata, "Nah benar tuh pi, emang dia tuh sejak dulu nakal..."timpal Nada sambil mengelus perutnya.
"Kamu juga Nad, sama aja. Mami dan papi sering di panggil sekolah, gara-gara kamu selalu ribut dan berantem dengan Tristan..."seru Vriska, eh kok jadi gini kan Nada jadi malu.
Buahahahaa.. Nanda tertawa terbahak-bahak, pak sopir di depan cuman mesam-mesem. Tristan cuman nyengir menatap istrinya yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Dulu aja benci, sekarang bucin... Makan tuh benci..."ejek Nanda bungah, ia merasa bangga bisa mengejek kembarannya itu.
"Sayang... Bantuin napa, gak terima aku di ejek begitu..."decak Nada kesal, ia meminta bantuan suaminya.
Tristan meringis, "Bantuin gimana, bukannya semua itu benar.."ujar Tristan polos tanpa dosa, Nada memalingkan mukanya ke jendela ia mendesah kesal. Dan detik berikutnya Tristan menyesali ucapannya saat melihat wajah istrinya kini berubah mendung. Ia menelan salivanya dengan susah.
"Sayang, maksudku..."
Nada menyingkirkan tangan Tristan membuat sang empunya meringis, menyadari bahwa ia telah salah berucap.
"Kamu juga nda apa bedanya dengan Nada, katanya Yuna gak level, bukan seleramu, taunya Yuna risent kamu klimpungan di rumah udah kaya ayam sayur, bagai raga tak bernyawa. Sekalinya bertemu langsung ngajak nikah. Makan tuh gengsi...."ejek Vriska kali ini, Alan terkekeh mendengarnya, makin kesini istrinya itu makin pandai berbicara apa karena sering bergaul dengan emak-emak komplek ya.
"Tuh Nad, udah di belain mami kok.."seru Tristan, Nada masih melengos. Membuat Nanda yang di depan terkikik.
Drt.. drt.. ponsel Nanda bergetar.
"Ya sayang..."sapanya begitu ponselnya ia angkat, membuat yang lainnya memutar bola matanya jengah. Apalagi Nada rasanya ingin muntah dengarnya.
"sampai mana...?"
"Masih di jalan, paling satu jam lagi sampai. Sabar ya, habis bawa bumil ini jadi gak bisa ngebut, bikin ribet aja.."decaknya.
" Gak boleh gitu. Oke, hati-hati.."
•••
Mobil Vellifire tiba di depan halaman rumah Yuna. Mereka segera turun.
"Jangan lupa barang-barangnya di turunin nda, awas jangan sampai rusak.."ujar Vriska.
"Ayuk papi bantuin.."ajak Alan.
Tristan membangunkan Nada yang masih terlelap di dalam mobil, "Nad bangun, kita sudah sampai lho..."ia menepuk pipi istrinya lembut.
"hm..."Nada hanya bergumam.
Tristan menghelas nafasnya, "Sayang, ayo bangun kita sudah sampai..."ia kembali mengulangi ucapannya tadi, berharap kali ini berhasil.
Nada menggeliat, perlahan ia membuka matanya, "Gendong..."ucapnya dengan manja ia merentangkan kedua tangannya.
Tristan tergelak ia masih terdiam bingung, "Ayo buru, gendong..."sambungnya.
"Nad, aku gandeng aja ya. Malu ih, kan ini bukan di tempat kita. Nanti aja gendong-gendongannya kalau udah di rumah kita.."eh, udah pandai merayu dia. Tristan mencoba memberi pengertian pada Nada, ia menunjuk bahwa saat ini mereka sudah berada di depan rumah Yuna.
"Memangnya kenapa harus malu.."cetus Nada wajahnya sudah berubah menjadi kesal.
"Kamu malu karena badan aku tuh sekarang jelek, mirip tahu bulat. Dasar gak sadar diri, aku begini juga karena kamu yang buat, siapa suruh buat aku hamil.. Langsung dua lagi, dasar gak ada akhlak, bikin anak langsung dua orang mah satu aja dulu..."sambungnya, ia kembali terisak. Tristan tergelak mendengar rentetan ucapan istrinya, kenapa jadi merambat kemana-mana, wanita memang selalu benar.
Tristan meremas rambutnya kesal, sikap istrinya begitu sensitif dan ucapannya itu sekarang seperti bukan Nada yang ia kenal, ceplas ceplos bahkan sekarang ia tidak tanggung-tanggung bersikap mesra di depan orang, tak jarang Nada kerap sekali mengikuti Tristan bekerja dan mengganggunya. Apakah semua itu bawaan kedua anaknya ? entahlah, saat ini Tristan hanya mencoba bersikap sabar.
Pintu mobil di ketuk dari luar, "Ayo.."ajak Vriska.
Nada menyadari saat ini semua keluarganya sudah turun hanya tersisa mereka berdua, "Em jadi minta gendong..."seru Tristan akhirnya.
"Gak perlu, udah gak butuh dan gak mood..."cetusnya.
Bugh.. Nada memukul suaminya dengan tas miliknya, "Minggir..."sergahnya.
Tristab meringis, "Ya ampun galak banget sih..."ucapnya tanpa sadar.
Nada kembali melotot pada Tristan, "Jadi gak terima, kamu bilang aku galak. Kamu aja gak pengertian, dasar suami durhaka..."
Tristan tergelak, emang ada suami durhaka, "ya maaf sayang, aku ngaku salah. Ya sudah ayo kita keluar.."seru Tristan akhirnya ia lebih memilih mengalah, Tristan mengulurkan tangannya bermaksud menuntun istrinya turun.
"Gak usah pegang-pegang, dasar modus. Tadi aja sok gak butuh, aku punya kaki bisa jalan sendiri.."ucap Nada masih kesal.
Tristan menghela nafasnya, memilih keluar berjalan lebih dulu.
"Tuh kan di tinggalin, dasar suami gak peka.."decak Nada kesal, membuat langkah suaminya terhenti.
Ya ampun tembok mana tembok pengen ku jedotin aja nie kepala, tadi yang sok gak butuh siapa sih. Apa semua ibu hamil emang begitu sifatnya, wanita memang selalu benar.
Tristan menarik nafas lalu membuangnya, ia kembali memutar tubuhnya dan memasang senyum manisnya meski harus di paksakan, "Ayo sayang, kita masuk. Semua sudah menunggu di dalam.."ucap Tristan.
Nada masih cemberut, "Gandeng..."pintanya ia mengulurkan tangannya.
Mengalah, Tristan lebih memilih berjalan kembali menghampiri istrinya dan menuruti maunya. Sekali lagi ingat, wanita selalu benar.
🌹🌹🌹
Yuk dukung author dengan like, komentar, hadiahnya.
Tbc.