DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Kenapa menangis ?



Ini masih lanjutan part sebelumya ya...


Yang nunggu mereka jadian sabar ya..


🌹


🌹


Begitu sampai di kontrakannya, Yuna melangkahkahkan kakinya ke kamarnya. Lalu ia merebahkan dirinya di ranjang, matanya menatap menelisik langit-langit kamarnya.


"Makan malam, Tuan Nanda jadi jemput gak ya...?"gumam Yuna pada diri sendiri, karena yang ia tau Nanda sedang marah padanya.


Yuna menggapai ponsel miliknya yang berada dalam tas lalu mengeluarkannya. Ia kembali membuka pesan dari atasannya itu, terlihat di sana ada beberapa pesan yang di kirimkan Nanda tadi.


Yuna kamu di mana ?


Yuna kamu baik-baik saja kan, kenapa tidak menjawab telponku.


Angkat telponku, kau membuat saya khawatir.


Aku ke tempatmu ya, kamu di sana kan.


Yuna aku sudah berada di depan kontrakanmu, cepat buka pintunya atau ku dobrak ni ya.


Yuna kamu di dalam tidak , buka pintunya.


Begitulah rentetan pesan yang tertulis di ponsel Yuna dari Nanda. Yuna menutup mulutnya ia tercengang kaget.


"Aku harus mandi, setelah itu aku akan ke tempat Tuan Nanda, gak papa aku yang minta maaf duluan..."gumam Yuna lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


pukul 19.00 wib


Bunyi sebuah deru mobil terdengar jelas di telinga Yuna. Ia membuka pintu kontrakannya, bersamaan dengan Nanda yang membuka pintu mobilnya.


Nanda berdiri di depan mobilnya sambil tersenyum tipis, "Sudah siap...?"tanya Nanda.


Dari arah pintu Yuna segera berlari memeluk Nanda dengan erat, Nanda mendengar jelas isakan Yuna, tentu saja hal itu membuat Nanda tercengang kaget, namun tak urung dia membalas pelukan Yuna dan mengelus punggungnya.


"Maaf. Aku tidak tahu jika membuat anda begitu khawatir pada saya..."lirih Yuna di balik isak tangisnya. Nanda tau Yuna bukanlah tipe wanita yang melakonis, tapi entah kenapa hari ini dia bisa menangis. Mungkin saja Yuna merasa terharu di balik sikap Nanda yang selalu membuat ia kesal, suka menindas, dan seenaknya ternyata Nanda sangat peduli padanya, apalagi Yuna sudah lama juga jauh dari keluarganya.


"Kenapa menangis...?hem.. Harusnya saya yang marah bukan.."tanya Nanda usai melepas pelukannya, tak lupa pria itu juga menghapus air mata Yuna menggunakan tangannya.


"Saya...-"


"Jelek... kamu terlihat begitu jelek kalau menangis. Jadi sekarang tersenyumlah, oke.."kata Nanda, yah memang kapan atasannya itu memuji dirinya cantik, pikir Yuna.


Yuna mencibut lengan Nanda, membuat Nanda meringis sakit.


"aww... sakit Yun."rintih Nanda


"Memang kapan Tuan muji saya cantik, saya kan selalu jelek.."cetus Yuna


"Pengen banget sih saya bilang cantik..."celetuk Nanda.


"Jadi pergi Tuan..."tanya Yuna


"Kamu pikir untuk apa saya kesini.."sahut Nanda


"Ya kan..."


"Kamu sudah siap..?"tanya Nanda yang balas anggukan oleh Yuna.


Nanda berdecak, "Kamu mau pakai, pakaian begitu.."seru Nanda karena saat ini Yuna hanya memakai celana panjang beserta kaos saja, sementara dirinya sudah memakai kemeja berwarna marun.


"Gantilah, pakai-pakaian yang lebih feminim, Oke. Saya tunggu di sini.."sambung Nanda kembali.


Yuna mengangguk, "Baiklah saya masuk dulu.."


🌹🌹


Mobil mercy milik Nanda sudah tiba di loby sebuah restoran bintang lima.


"Kita makan di sini.."tanya Yuna begitu keluar dari mobilnya.


"Iya, aku sudah reservasi tempat di sini.."jawab Nanda.


Nanda menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet untuk memarkirkan mobil miliknya. Setelah itu, Nanda dan Yuna turun berjalan beriringan namun tidak bergandengan tangan ya.


Nanda yang memakai kemeja berwarna merah maron, dan Yuna dengan baju atasan berwarna putih serta rok berwarna maron pendek namun masih cukup sopan membuat keduanya terlihat begitu serasi. Jika orang lain yang melihat, tentunya mereka akan mengira keduanya sepasang kekasih.


"Makan yang banyak ya..."ucap Nanda sambil memotong-motong stik menjadi kecil, lalu menyerahkannya pada Yuna. Ia mengambil milik Yuna yang belum di potong.


"Em untuk saya..."tanya Yuna


"Tapi kan tidak ada Bi Ningsih.."jawabnya polos, membuat Nanda tergelak.


"Sudah tau pakai nanya untuk siapa..?"cetus Nanda.


Yuna mengambil alih piring Nanda lalu mulai makan stik yang sudah atasannya potong-potong untuk dirinya.


Yuna melihat banyaknya hidangan yang sudah Nanda pesan di atas meja.


"Tuan serius memesan makanan sebanyak ini.."tanya Yuna.


"Heem.."jawab Nanda sambil mengunyah.


"Kita hanya berdua kenapa memesan makanan begitu banyak, mubadzir lho.."tutur Yuna


"Kan ada kamu yang ngabisin.."


"Mana kuat saya.."


"Ya harus kuat, biar badanmu berisi.."ucap Nanda seenaknya.


Yuna bangkit dari tempat duduknya lalu memindai tubuhnya, "Saya kurang berisi di mana sih Tuan. Perasaan saya gak tepos, tepos amat.."seru Yuna sambil berjalan lenggak-lenggok, untungnya ruangan yang Nanda reservasi merupakan ruangan VIP.


Uhuk.. uhuk.. Nanda tersedak segera ia meraih minuman di depannya. Setelah itu Nanda memalingkan mukanya dari Yuna, wajahnya terlihat sudah memerah entah karena habis tersedak atau karena sesuatu hal yang lain.


"Yuna kembali duduk..."perintah Nanda penuh tekanan, dengan Yuna berdiri di depannya itu membuat suasana tubuhnya menjadi panas, Nanda membuka kancing kemeja bagian atasnya.


"Kenapa sih Tuan, "tanya Yuna ia kembali duduk sesuai perintah Nanda


"Makan..."jawab Nanda


Yuna menurut ia kembali memakan makanannya, "Tuan kenapa..?"tanya Yuna begitu melihat wajah atasannya yang gelisah, serta mengelus-elus lehernya.


"Panas.."jawab Nanda sekenanya.


"Panas.."lirih Yuna sambil memindai ruangan itu, Perasaan ruangan ini ber AC bagaimana bisa Tuan Nanda kepanasan, gumam Yuna.


"Kamu tunggu di sini habisin makannya, saya ke toilet dulu.."pamit Nanda yang di jawab anggukan oleh Yuna.


🌹🌹🌹


Nada dan Tristan sedang berada di ruangan televisi, dengan posisi Nada yang tiduran di paha suaminya, tangan Tristan sesekali akan mengelus wajah istrinya dan perutnya.


Setelah di renovasi tidak ada yang berubah sebenarnya, Tristan hanya menambahkan satu lantai lagi di atas, ia bilang ia ingin rumahnya terasa longgar bila nanti kedua anaknya sudah lahir jadi nyaman.


"Tanganmu.."decak Nada sambil memukul kecil lengan suaminya, saat tangan suaminya sudah bergelya kemana-mana.


"Boleh gak sih Nad..."tanya Tristan.


"Apaan...?"tanya Nada


"Jenguk baby twins.."seru Tristan.


"Biasanya juga gak nanya.."


"Jadi boleh ya..."ucap Tristan


Nada tidak menjawab, ia bangkit dari tempatnya lalu mendudukan dirinya di paha Tristan , mencium bibir suaminya dan mengalungkan kedua tangannya di pundak suaminya.


"Masih nanya..."tanya Nada sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tristan membulatkan matanya, "Jadi boleh ya.."serunya dengan girang ia langsung mengangkat tubuh istrinya membawa ke kamar.


"Pelan-pelan ya.."ucap Nada


"Iya sayang..."


Malam itu Tristan dan Nada mengulang kembali pergumulan panas yang penuh gairah, tapi Tristan tetap melakukannya dengan hati-hati, penuh perasaan.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc