DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Mulai merindukanmu



Kenapa harus merasa sedih, saat kehilangan?


Bukankah sebelum ada dia kamu baik-baik saja, coba tanyakan pada hatimu.


••


Nanda mengetuk-etukan jarinya di meja sebuah cafe depan apartemen miliknya, makanan yang ia pesan bahkan sama sekali belum tersentuh, pandangannya tetap kosong. Ia seolah merasa mempunyai raga tapi tak bernyawa, hatinya terasa hampa.


Memutuskan untuk makan ternyata sama sekali tidak mengubah moodnya, di cafe itu ia justru mengingat jelas kenangan Yuna menjalani kencan buta bersama pria lain.


Nanda memutuskan keluar dari cafe itu, tanpa memakan makananan yang ia pesan, ia memutuskan kembali ke apartemen.


Nanda menyapu setiap sudut apartemen miliknya. Mendudukan dirinya di sofa, saat ini entah kenapa ia merasa hatinya hampa dan kosong. Ia masih memikirkan mengapa Yuna tiba-tiba memutuskan risent. Apakah selama ini dia terlalu menekannya.


Beranjak menuju kamar miliknya, ia merasa terpaku di ambang pintu, ia mengingat jelas Yuna juga pernah tidur di ranjang miliknya. Dan dengan bodohnya Nanda membohongi wanita itu bahwa wanita ia mengigau dan memeluknya dengan erat, padahal itu hanya alibinya saja. Lalu dengan polosnya wanita itu berkata maaf untuk kesalahan yang tak pernah ia buat. Nanda merasa gila, sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal konyol seperti ini, dia seolah menjerat Yuna hanya miliknya, padahal jelas-jelas ikatan keduanya hanya sebatas atasan dan sekretaris, bagaimana Nanda bisa melewati batasan itu.


"Damn'it, aku bisa gila. Kenapa wanita itu tidak bisa pergi dari otakku..."umpat Nanda.


Pria itu memutuskan untuk keluar dari apartemen miliknya.


🌹🌹


Ketika matahari perlahan mulai terbenam, Nanda tiba di rumah kedua orang tuanya.


"Tumben anak mami pulang. Kebetulan mami masak makanan kesukaan kamu, ayo makan..."seru Vriska


"Aku tidak lapar mi, aku mau istirahat aja, capek.."ucapnya denga lesu, ia naik tangga menuju kamar miliknya.


"Dia kenapa pi, tumben lesu gitu.."tanya Vriska pada suaminya.


Alan hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tau, Vriska menghela nafasnya lalu mengambil ponselnya di atas meja mencoba menelpon Papanya, ia akan bertanya ada permasalahan apa di kantor.


🌹🌹


Nanda menjatuhkan tubuhnya di ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangannya bergerak mengambil ponselnya, tanpa sadar ia membuka galeri foto di ponselnya, jarinya terhenti pada sebuah foto dirinya dan Yuna saat berada di Jepang.


Tuan, ayo kita foto bersama, tapi pinjam ponsel milikmu ya.. pintu Yuna kala itu


Untuk apa, saya tidak suka berfoto. jawab Nanda


Untuk kenang-kenangan, bahwa kita pernah pergi bersama, barangkali suatu hari nanti Tuan merindukan saya, Tuan bisa lihat foto saya dengan anda..seru wanita itu sambil menampilkan senyum polosnya.


Nanda membelai wajah Yuna yang berada di ponselnya, tanpa sadar ia mengangkat sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman tipis.


"Jadi maksudmu berkata begitu, karena kau memang mau meninggalkan aku.. Kamu benar Yuna, aku mulai merindukanmu..."lirihnya


Krek.


Pintu kamar terbuka, Vriska masuk membawa makanan, segera Nanda menyembunyikan ponselnya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk.


"Mami bawakan makanan untukmu.."serunya.


"Aku gak lapar mi.."sahutnya sambil menghela nafasnya kesal.


"Jangan gitu, orang patah hati juga butuh tenaga lho.."ucapnya, membuat Nanda tergelak.


"Aku gak punya kekasih, bagaimana mungkin aku patah hati.."elaknya.


Vriska terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, ia meletakkan nampannya di atas meja kecil yang terdapat di kamar putranya. Ia melangkahkan kakinya, duduk di sebelah putranya.


Tangannya terangkat untuk membelai kepala putranya.


"Katakan pada mami, apa yang saat ini kau rasakan..."tanya Vriska lembut.


Nanda membuang mukanya, "Tidak ada.."


"Sayang, bagaimana Yuna bisa risent.."tanya Vriska.


"Bosen kali mi.."jawabnya seadanya.


Vriska terkekeh, "Apa kau merasa kehilangan..?"


"Tidak.."dustanya.


Vriska melirik ke arah ponsel putranya yang masih menyala menampilkan foto dirinya dan Yuna, "Mami tau mungkin Yuna pulang kampung mau nikah kali ya. Iya sih Yuna memang cantik, cerdas, mandiri, sifat ke ibuan juga ada, dia hampir mendekati kata sempurna, mana ada pria yang mau menolak dirinya, coba aja Calvin sudah besar mami mau menjodohkan Yuna dengannya.."


"Tidak boleh..."jawab Nanda cepat.


Vriska menyeringai, Nanda masuk dalam jebakannya, "Kenapa tidak boleh..?."


"Karena aku..."


"Kau mencintainya...? Benar kan. Mami tau dari opamu, bagaimana kerjamu hari ini begitu berantakan. Kau tidak pernah seperti ini sayang. Kejarlah Yuna dan dapatkan kembali jangan sampai kau menyesal.. Katakan kau mencintainya.."tutur Vriska membelai lembut kepala Nanda, lalu ia bangkit dari tempat duduknya.


"Jangan lupa makan, mami mau keluar dulu.."


Sepeninggal Vriska, Nanda mencoba mencari jawaban pada hatinya sendiri. Mengingat beberapa kelakuan konyolnya pada Yuna, bagaimana wanita itu begitu sabar menghadapi dirinya. Kini dirinya mencoba membayangkan andainya Yuna bersanding dengan pria lain, ia menggelengkan kepalanya. Rasa sakit dan sesak perlahan menjalar ke dalam ulu hatinya. Ia memijat pelipisnya, lalu menghela nafasnya.


Benar aku tidak pernah seperti ini, ternyata dari semua yang ku lakukan padanya, karena aku memang mencintainya. Aku tidak rela dia bersama pria lain.lirihnya


"Tunggu aku Yuna, aku akan menjemput dan mendapatkanmu kembali, saat itu tiba jangan harap aku akan melepaskanmu.."ucapnya


Nanda mencari ponselnya menelpon opa Danu untuk meminta alamat rumah Yuna di kampungnya. Bahkan berbulan-bulan sebagai sekretarisnya Nanda tidak pernah menanyakan alamat kampung Yuna, setiap wanita itu bercerita tentang kampung halamannya Nanda hanya akan mendengarkan.


Setelah itu ia berlalu ke kamar mandi untik membersihkan dirinya.


🌹🌹🌹


Di sebuah desa seorang gadis tengah duduk di kursi depan rumahnya.


"Kira-kira Tuan Nanda sudah makan apa belum ya. Dia sedang apa ya ? dia kangen sama aku gak ya..."ucap Yuna pada diri sendiri.


Yuna memukul keningnya sendiri, "Bodoh, untuk apa kamu memutuskan risent kalau masih memikirkan dia. Yuna kamu harus sadar diri siapa kamu, siapa dirinya. Baginya kamu itu hanya butiran debu.."ucapnya dengan lesu.


"Yunaaaa.. masuk. Anak perawan jam segini duduk melamun di luar.. Pamali.."teriak seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Yuna.


"Iya Bu..."jawabnya lesu, ia kembali masuk ke dalam, terlihat kedua adiknya sedang duduk sambil mengerjakan tugas sekolah.


"Ngapain dek.."tanya Yuna pada kedua adiknya.


"Makan..."jawab asal,


Yuna tergelak, kenapa adiknya begitu ngeselin sama persis dengan atasannya, eh salah sekarang Yuna tidak punya atasannya ia seorang pengangguran. Males menanggapi lagi, Yuna memeilih berlalu ke kamar tidur, ia merasa lelah.


🌹🌹


Maaf ya baru up, kadang kesibukan dunia nyata emang gak bisa di tinggalkan😊.


Yuk dukung author dengan like, komentar, hadiahnya, makasih..


Tbc.