
Alarick langsung keluar dari gerbang rumah Rychelle dan menemui Teysar yang baru saja melakukan panggilan dengannya.
Ternyata Teysar tidak sengaja melihat kebersamaan Alarick dengan Rychelle tepat saat Alarick sedang mencium punggung tangan Rychelle.
"Ada yang bisa aku bantu, Aipda Teysar?" tanya Alarick sambil mendekat ke arah Teysar.
"Ya!" jawabnya mantap. "Bagaimana jika kita bicara di suatu tempat?" tawar Teysar dan langsung diangguki dengan mantap oleh Alarick.
Keduanya akhirnya menjalankan mobil mereka masing masing menuju ke sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah Rychelle. Setelah memesan minuman, Teysar pun akhirnya membuka pembicaraan.
"Aku sangat cemburu melihat kedekatan kalian berdua."
Alarick sudah menduga sebelumnya jika Teysar pasti melihatnya dengan Rychelle di taman.
"Aku tidak bermaksud untuk merebut Rychelle darimu, Teysar." ucap Alarick.
"Oh, tenang saja Al. Aku juga tidak berfikiran seperti itu." sanggah Teysar.
"Wajar jika aku merasa sangat cemburu karena aku sangat mencintainya. Dan aku juga sangat yakin, kau juga masih memiliki perasaan yang sama, dengannya bukan?"
Alarick langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku mengajakmu bersaing dengan sportif, Al. Kali ini biarkan Rychelle memilih siapa yang nantinya akan menjadi suaminya." ucap Teysar.
"Baiklah." jawab Alarick tanpa berfikir panjang. "Nanti malam aku akan mengajak Rychelle keluar untuk makan malam. Biarkan malam ini dia menentukan siapa yang akan dia pilih sebagai suaminya."
Teysar pun langsung sepakat dengan rencana Alarick. Mereka berdua pun langsung menyusun rencana.
Yang pertama, mereka akan memberi kabar kepada orang tua mereka untuk acara yang mereka agendakan secara mendadak nanti malam.
Yang kedua, mereka berdua sama sama memilihkan gaun, tas, dan juga sepatu yang akan digunakan untuk Rychelle nanti malam.
Kali ini Alarick memilih warna soft grey untuk gaun Rychelle. Tidak hanya itu, ia juga membelikan tas dan juga sepatu dengan warna yang senada.
Sedangkan Teysar memilih warna peach, karena ia lebih sering melihat Rychelle membawa barang yang berwarna peach.
Yang ketiga, salah satu ari mereka tidak ada satu pun yang diperbolehkan untuk menjemput Rychelle.
Rychelle harus dijemput oleh supir pribadi. Dan tidak boleh bersamaan dengan Rychand maupun Citra agar Rychelle tidak banyak pertanyaan selama perjalanan.
Sedangkan yang ke empat, mereka sama-sama menyiapkan cincin untuk Rychelle. Waktu ini lah mereka berdua mulai sedikit ribut.
"Aku tidak tahu ukuran jari Rychelle, bisa kau beritahu aku berapa ukurannya?" tanya Alarick kepada Teysar yang sedang memilih model cincinnya.
"Ck, tidak bisa!" balas Teysar. "Kita ini sedang bersaing, anggap saja ini adalah ujian dan peserta ujian dilarang mencontek." lanjut Teysar lagi.
"Ini berbeda Tey, aku tidak mau cincin nya nanti terlalu longgar di jarinya atau malah kekecilan." balas Alarick. "TELL ME, PLEASE, TEYSAR!" pinta Alarick penuh penekanan.
"NO!" jawab Teysar sambil menyimpan cincin yang sudah ia pilih di saku celananya.
"Dasar pelit!" umpat Alarick kesal. "Baiklah, lebih baik aku bertanya saja pada mbaknya."
Teysar yang tadinya ingin meninggalkan Alarick yang sedang kebingungan dengan ukuran jari Rychelle pun berbalik sambil sedikit mengancam pegawai Toko Emas.
"Jangan diberi tahu, mbak! Itu namanya curang. Saya akan melaporkan anda ke kantor polisi jika anda memberi tahukan ukuran cincin yang saya pilih tadi." ancam Teysar.
Pegawai Toko Emas itu pun mengangguk membuat Alarick kini berfikir keras untuk menentukan ukuran jari Rychelle.
"Ternyata polisi sok kegantengan ini ngeselin banget ya!" gerutu Alarick dalam hati.
"Boleh pinjam tangannya mbak?" tanya Alarick yang kemudian memegang jemari pegawai Toko Emas tadi untuk memastikan ukuran jari Rychelle.
Melihat hal tersebut, diam-diam Teysar merekam aksi Alarick.
"Aku akan melaporkan kepada Rychelle jika kau sedang mencoba menggoda seorang pegawai cantik Toko Emas." ledek Teysar yang langsung mematikan kameranya dan meninggalkan Alarick begitu saja.
"Awas kau ya!" teriak Alarick kesal.
...🍄🍄🍄...
"Wow, nanti malam mau kencan ya?" tanya Citra melihat jejeran kotak barang yang ada di ruang tamu.
"Dih, apaan sih Kak Citra nih. Cuma hang out biasa kok. Tapi gak tau kenapa tiba-tiba kirimannya segini banyaknya." jawab Rychelle.
Sebelumnya Citra sudah di kabari oleh Alarick dan juga Teysar tentang acara nanti malam. Tapi Citra sendiri diminta oleh suaminya untuk tidak mengatakan hal ini pada Rychelle.
"Memangnya Al mu jemput kamu jam berapa?" tanya Citra.
"Katanya sih jam tujuh kak." jawab Rychelle sambil melihat ke arah jam dinding.
"Ini udah hampir jam 5 loh, dek. Buruan yuk siap-siap." ajak Citra.
Tiba-tiba saja bel rumah mereka berbunyi dan Citra segera membukakan pintu.
"Maaf Nyonya, kami diminta untuk merias Nona Rychelle Olyvia." ucap dua orang MUA yang berdiri di depan Citra..
"Oh silahkan saja." Citra pun mempersilahkan dua orang tersebut masuk ke dalam.
"Duh, kenapa firasat aku mulai gak enak ya? Mas Arick cuma ngajak jalan aja kan?"
"Kenapa harus pake MUA dan kirim gaun segala sih? Sampai 2 gaun lagi." batin Rychelle.
"Rychelle!" panggil Citra membuyarkan lamunan Rychelle. "Buruan gih! Kok malah melamun sih."
"Aneh gak sih menurut kakak?"
"Ngapain coba Mas Arick pake kirim gaun dan MUA datang kesini?" tanya Rychelle yang masih belum beranjak dari tempatnya.
"Gak aneh, sayang." kali ini Citra mendorong Rychelle agar segera masuk ke kamarnya.
"Ayo mbak ikuti saya." ajak Citra kepada kedua MUA tadi sambil membawakan kotak-kotak hadiah milik Rychelle.
Sesampainya di kamar, Rychelle meminta agar tidak dipoles terlalu tebal dan ingin terkesan natural.
Satu jam terlewati dan kali ini waktunya Rychelle untuk memilih gaun mana yang akan ia pakai.
Saat melihat kotak yang berisikan gaun berwarna peach, senyum Rychelle langsung merekah karena ia memang sangat menyukai warna soft seperti itu.
Namun, saat membuka kotak gaun berwarna soft grey, Rychelle mulai bimbang.
Kedua duanya sama-sama sangat indah dan modelnya juga sesuai dengan seleranya.
"Hai cantik, kok gaunnya belum dipakai?" tanya Citra yang baru saja masuk ke dalam kamar Rychelle.
"Aku bingung nih kak harus pakai yang mana. Bisa bantu pilih?" pinta Rychelle dan Citra pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Maaf sayang, kali ini kakak sama sekali tidak bisa membantumu. Pilih saja mana yang Rychelle paling suka." balas Citra.
Akhirnya Rychelle pun memilih gaun yang berwarna peach dan tas dengan warna yang senada.
Namun, saat membuka kota sepatu, Rychelle justru memilih sepatu yang berwarna soft grey karena lebih nyaman di kakinya.
Ia pun kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengenakan gaunnya.
Setelah semua persiapan Rychelle selesai, supir yang diminta untuk menjemput Rychelle pun sudah tiba di rumah. Dan Rychelle pun langsung berpamitan dengan kedua kakaknya.
Kini Rychelle sudah berada dalam perjalanan menuju ke tempat yang sudah disiapkan oleh Alarick dan juga Teysar.
"Kenapa bukan Mas Arick yang menjemputku?" tanya Rychelle kepada supir wanita yang sedang mengendarai mobilnya.
"Mr. Alarick meminta saya untuk menjemput anda secara khusus BripKa Rychelle." ucap supir wanita tadi yang suaranya sangat Rychelle kenal.
"Bripda Imelda!" pekik Rychelle saat memastikan siapa supir wanita yang menjemputnya kali ini.
"Apa kabaaar?" tanya Rychelle kemudian.
Mereka berdua akhirnya pun saling mengobrol hingga sampai di Restoran yang dituju.