
Pagi harinya, Rachel terbangun terlebih dahulu karena mendengar suara gedoran pintu dari luar cottage. Ia pun memaksakan membuka matanya yang masih sangat mengantuk dan berjalan membukakan pintu.
"Maaf mengganggu tidur anda Nona, tapi ini sangat penting." ucap salah satu penjaga Jerry.
"Ada apa?" tanya Jerry yang sudah berdiri tepat di belakang Rachel.
"Ryan One tertangkap polisi pagi ini." ucap penjaga tadi membuat Rachel langsung membuka matanya dengan sempurna.
"Apa?!" pekik Rachel terkejut.
"Dan polisi kini mencari Nona Rachel Ortisia karena namanya tertulis dalam pengiriman barang tersebut." lanjutnya lagi membuat Jerry sangat gusar.
Ia langsung menatap ke arah Rachel yang tampak sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan khawatir Rachel! Kali ini aku akan menyelamatkanmu dan memastikan kau aman bersamaku." ucap Jerry menenangkan Rachel sambil mengusap punggungnya.
"Siapkan speed boat sekarang juga, aku akan membawa Rachel pergi dari pulau ini. " perintah Jerry kepada anak buahnya.
"Maaf Tuan, dermaga juga sudah di tutup sejak pagi tadi." jawab anak buah Jerry membuat Jerry mengusap wajahnya kasar.
"Sial!" umpat Jerry. "Polisi bergerak dengan sangat cepat kali ini. Sepertinya ia sudah merencanakannya sejak lama."
Jerry mulai gusar, ia pun berfikir keras bagaimana cara menyelamatkan Rachel kali ini. "Rachel, kau harus menungguku di sini dan jangan kemana-mana. Aku akan mengajak Alarick untuk mencari cara agar bisa keluar dari Pulau ini." pesan Jerry dan Rachel langsung menganggukkan kepalanya.
...☘️☘️☘️...
Tak lama setelah Jerry meninggalkan Cottage, Molly datang tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja.
"Rachel." panggil Molly sedikit berteriak.
"Iya Miss. Ada apa?"
"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu."ucapnya lagi sambil menutup pintu.
"Kau tidak sedang sibuk kan?" tanya Molly sambil duduk di sofa cottage.
"Tidak Miss. Katakan saja apa yang ingin anda bicarakan." jawab Rachel.
"Kau tahu bukan, aku dan Al sebentar lagi akan menikah. Dan pernikahan kami bukan hanya untuk masalah bisnis saja."
"Al tidak bisa menolak apa yang menjadi keinginan papinya dalam perjodohan ini. Kau tahu kenapa, Rachel?" tanya Molly dan Rachel pun menggelengkan kepalanya.
"Karena bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan nya, tetapi juga nyawa Maminya. Mami Divya. Sebab, Papi tidak segan-segan membunuh siapa pun yang menentang dirinya."
Penjelasan Molly kali ini membuat Rachel bergidik ngeri. Ia tidak menyangka sama sekali jika misinya kali ini berhubungan dengan keluarga psikopat. Tapi setidaknya saat ini ia bisa bernafas lega karena Ludolf pasti sudah tertangkap bersama dengan ayahnya.
Sayangnya dugaan Rachel kali ini salah besar. Ludolf Berwyn tidak tertangkap polisi bersama ayahnya. Dia berhasil melarikan diri terlebih dahulu dan kini ia a sudah berada tepat di depan pintu Cottage Jerry.
Tok! Tok! Tok!
"Jerry! Buka pintunya!" teriak Ludolf dari luar dan Molly bergegas membukakan pintu cottage.
"Papi, kau selamat?"
Mata Molly berbinar sempurna dan mengajak Ludolf Berwyn masuk ke dalam.
"Aku berhasil melarikan diri diam-diam sebelum polisi sampai di Pulau Bira. Sayangnya Ryan tertangkap saat hendak mengambil beberapa barang yang tertinggal." jelas Ludolf Berwyn. "Dimana Jerry dan Al?"
"Mereka sedang mencari agar bisa keluar dari pulau ini." timpal Rachel dan Ludolf langsung menatap tajam ke arahnya.
"Seharusnya kau sudah tidak bernyawa hari ini, Rachel. Lebih baik aku membunuhmu sekarang dan meninggalkan mayatmu disini." Ludolf mengacungkan pistolnya tepat di depan Rachel.
"Aku setuju dengan papi Ludolf. Satu satunya cara agar kita selamat hanya melenyapkan orang tidak berguna ini." tukas Molly yang kemudian memegangi kedua tangan Rachel agar tidak bergerak dan memudahkan Ludolf untuk menghabisi nyawa perempuan yang sudah merebut Alarick.
Rachel menggigit bibir bawahnya dan mulai merasa ketakutan. Jika kemarin dia masih bisa selamat, kemungkinan besar kali ini nyawanya melayang.
DOR!
Teriakan mereka bersamaan dengan peluru yang ditembakkan Ludolf ke arah Rachel. Kali ini Ludolf menembak dada kiri Rachel.
"Argh!" Rachel meringis kesakitan memegangi bahu kirinya yang tertembak peluru.
Ternyata bidikan Ludolf Berwyn tidak tepat sasaran di dada kiri Rachel melainkan justru mengenai bahu kirinya. Darah segar langsung mengucur dari dada Rachel membuat Jerry dan Alarick sangat panik dan berlari ke arah Rachel.
"Darah!" satu kata terakhir yang terucap dari mulut Rachel dan kemudian ia pingsan tidak sadarkan diri.
"Kenapa Papi menembak Rachel?" tanya Jerry dengan sorot matanya yang sangat tajam sambil bersiap mengangkat tubuh Rachel yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dia Wanita ku, Pi." pekik Jerry sontak membuat Alarick sangat terkejut.
"Jangan gila, Jerry!" gertak Ludolf Berwyn. "Dia hanya wanita Biasa yang sudah membuat kita menjadi buronan polisi."
"Aku akan membawanya ke klinik terdekat. Kalian bisa langsung ke dermaga dan menyelamatkan diri." Alarick langsung mengambil tubuh Rachel dan membawanya menuju klinik terdekat.
"Aku sudah menyiapkan kapal di dermaga, Papi bisa pergi bersama Molly karena aku akan memastikan Rachel baik-baik saja." Jerry berdiri dan mengejar langkah Alarick yang sudah membawa Rachel lebih dahulu.
Sedangkan Ludolf Berwyn kini mengusap wajahnya kasar.
"Perempuan itu benar-benar membuatku sangat geram." Ludolf mengepalkan tangannya dan kemudian meninggalkan cottage di ikuti dengan Molly.
Mereka berdua pun langsung menuju speed boat yang sudah disiapkan oleh Jerry dan juga Alarick untuk melarikan diri dari kejaran polisi.
Sedangkan darah di bahu Rachel terus saja mengucur sampai dress nya penuh bersimbah darah. Sesampainya di klinik pun pihak tenaga medis langsung angkat tangan dan menyarankan agar Rachel segera dibawa ke rumah sakit. Setelah diberi penanganan pertama, Rachel langsung dibawa menuju ke rumah sakit oleh Alarick dan Jerry.
"Sejak kapan tawanan mu berubah menjadi Wanita mu, Bang?" tanya Alarick dengan nada tidak suka.
"Dan sejak kapan kau suka ikut campur dalam urusanku, Al?" Jerry balik bertanya kepada Alarick. "Bukankah Selama ini kau tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan?"
"Aku memang tidak pernah ikut campur dalam urusanmu, Bang. Tapi kali ini, Rachel adalah urusan ku juga."
Jerry menatap ke arah Alarick dengan tajam dan Alarick pun membalas tatapan Jerry.
"Apa kau tahu siapa Rachel?" pertanyaan Jerry kali ini terdengar sangat meremehkan Alarick.
"Aku yakin kau tidak mengenal dia sepenuhnya."
Mendengar Jerry begitu meremehkannya, membuat Alarick naik pitam. "Apa aku tidak salah dengar, Bang?" tanya Alarick kesal.
"Sepertinya aku yang lebih dulu mengenal Rachel dari pada kau yang baru mengenalnya hanya dalam hitungan jam."
"Kau salah besar, Al. Aku mengenalnya sejak dia masih sangat kecil. Bahkan sejak saat itu aku sudah mulai mencintainya." timpal Jerry dengan sangat percaya diri.
"Jadi aku mohon, jangan pernah usik apa yang sudah menjadi milikku. Atau kau akan menyesal nantinya." ancam Jerry.
"Tapi dia belum menjadi milikmu, Bang." sanggah Alarick.
"Secepatnya dia akan menjadi milikku."
Kali ini Alarick terdiam karena ia tidak mauribut yang berkepanjangan dengan Abangnya. Terlebih ia paham betul bagaimana Abangnya saat menginginkan sesuatu, ia pasti akan menempuh jalan apapun untuk mendapatkkannya.
...☘️☘️☘️...
Seperti biasa yaaa, aku mau promosiin novel bestie aku yang ceritanya keren banget. Naaah, kalian bisa mampir dulu baca novel bestie aku sambil nunggu up ya.
Nama Pena : Siti Fatimah
Judul Novel : Jeratan Istri yang Terhina