Complicated Mission

Complicated Mission
Antara Arick dan Ega



"Bagaimana rasanya berciuman dengan Avega?" tanya Alarick saat pesanan mereka sudah siap untuk di nikmati.


Rychelle sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Alarick. Ia tidak menyangka Alarick membahas hal itu sepagi ini. Terlebih menurut Rychelle dia tidak berciuman dengan sengaja karena itu hanyalah kecelakaan yang benar-benar tidak di sengaja.


"Saya tidak berciuman, Mr." sanggah Rychelle. "Untuk kemarin yang di dermaga murni hanya kecelakaan. No more." jelas Rychelle sambil mulai memotong steak yang dipesankan Alarick untuknya.


"Tapi aku lihat kau sangat menikmatinya, Rachel. Sampai enggan melepaskan bibirmu dari bibir Avega."


Ucapan Alarick kali ini membuat selera makan Rychelle hilang seketika. Ia langsung meletakkan pisau dan garpunya di atas meja sambil menatap tajam ke arah Alarick. Kali ini Rychelle benar-benar tidak habis fikir dengan Alarick.


"Menikmati atau tidak, tentunya itu bukan urusan anda, Mr. Lagi pula semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan anda."


Rychelle langsung berdiri dari tempat duduknya dan beranjak untuk meninggalkan Alarick. Tapi dengan cepat Alarick menarik tangan Rychelle dan menahannya agar tidak pergi.


"Mau kemana, Rachel?" tanya Alarick.


"Ke toilet, mau buang air kecil." jawab Rychelle sambil melepaskan tangan Alarick.


Alarick langsung mengusap wajahnya kasar saat mendapati Rychelle meninggalkan dirinya begitu saja saat ia mulai membahas kejadian kemarin yang tentunya membuat hatinya sangat panas.


Sedangkan Rychelle yang kini sudah berada di dalam kamar mandi langsung mencuci tangannya sambil melihat dirinya sendiri di depan kaca.


'Jangan khawatir, Rychelle. Misi besarmu sebentar lagi akan selesai dan kamu akan kembali ke rutinitas yaang sesuai dengan hatimu.' batin Rychelle menguatkan dirinya sendiri.


Semua bukti sudah banyak terkumpul dan Rychelle tinggal membuat laporan kepada atasannya. Setelah itu BrigJen Aris tinggal memberikan komando kepada anak buahnya untuk segera bergerak cepat.


"Aku harus tetap bertahan sebentar saja. Agar semuanya berjalan sesuai dengan harapan." gumam Rychelle pelan sambil menghembuskan nafasnya perlahan.


Setelah itu Rychelle keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat duduknya. Tak lama kemudian kolega yang hendak kerja sama dengan Alarick pun tiba lebih awal dari jam yang disepakati.


Akhirnya meeting pun segera dilaksanakan dan tepat pukul 9 pagi, kedua belah pihak dari masing masing perusahaan sepakat untuk menandatangani kontrak kerja sama.


"Steak kamu udah dingin, aku akan memesankan yang baru lagi untukmu." ucap Alarick saat kolega bisnisnya Sudah meninggalkan tempat meeting.


"Tidak perlu, Mr. Lagi pula saya sudah tidak berselera untuk melanjutkan sarapan. Lebih baik kita segera kembali ke kantor." balas Rychelle sambil menata berkas meeting dan memasukkan nya ke dalam tas.


"Ada apa denganmu, Rachel?" tanya Alarick memindah posisi duduknya agar lebih dekar dengan Rychelle.


"Bukankah kemarin kita sudah sepakat untuk menjadi teman?"


"Saat di perusahaan tidak ada pertemanan di antara kita, Mr. Anda adalah atasan saya dan saya asisten anda." jawab Rychelle tegas membuat Alarick diam seribu bahasa.


Akhirnya ia pun mengalah untuk segera kembali ke kantor.


'Kenapa sikapnya sangat dingin setelah aku membahas masalah ciuman kemarin? Apa Rachel marah?' Tanya Alarick pada dirinya sendiri.


Diam - diam Alarick terus memperhatikan Rychelle yang tampak sibuk dengan tab kerjanya. Tampak dengan cekatan Rychelle membuat kesimpulan dan rangkuman dari hasil meeting barusan.


'Mungkin kali ini aku sudah menemukan siapa wanita yang tepat untukku. Dan aku akan terus berjuang meski nantinya aku akan melawan papi.' gumam Alarick dalam hati.


"Laporan meeting sudah saya kirimkan ke email anda, Mr." ucap Rychelle.


Sayangnya Alarick sama sekali tidak menjawab ucapan Rychelle dan terus saja memandangi diri Rychelle lekat-lekat.


"Mr!" Rychelle menggerakkan tangannya di depan wajah Alarick.


"Ah, iya. Ada apa?" tanya Alarick sedikit terkejut.


"Laporan meeting sudah saya kirimkan ke email anda, Mr." Rychelle kembali mengulangi ucapannya.


"Aku akan mengeceknya nanti." jawab Alarick sambil membenarkan posisi duduknya. "Oh iya Rachel, nanti sepulang kerja aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan."


"Mohon maaf, Mr. Tapi saya tidak bisa memenuhi ajakan anda karena saya sudah membuat janji dengan seseorang." balas Rychelle menolak ajakan Alarick dengan sangat halus.


"Oh. Baiklah." timpal Alarick singkat.


Baru kali ini ia ditolak oleh seseorang yang belum lama ia kenal. Terlebih orang yang menolaknya berstatus sebagai asistennya sendiri.


"Lagi pula bukannya anda harus menjemput Miss Molly di dermaga?" tanya Rychelle dan Alarick hanya menjawab nya dengan deheman singkat.


...🍁🍁🍁...


Tepat saat jam pulang kerja, Rychelle langsung membereskan mejanya dan bergegas untuk meninggalkan ruangannya karena pekerjaannya juga sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Sedangkan Alarick sengaja mengamati Rychelle dari dalam ruangannya.


"Aku penasaran, siapa yang sebenarnya sudah membuat janji dengannya?" gumam Alarick yang diam diam mengikuti Rychelle dari belakang.


Setelah melihat Rychelle menaiki motornya dan keluar dari gerbang Bank One Point, Alarick buru - buru masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti kemana arah Minerva pergi.


Alarick pun terus mengikuti langkah Rychelle yang masuk lewat pintu timur Mall dan kemudian menuju ke Red Resto. Tangan Alarick langsung mengepal saat melihat Rychelle ternyata menemui Avega.


Dengan geram ia melangkahkan kakinya mendekat ke meja Rychelle, namun sayangnya ponsel Alarick berdering dan tampak Molly sedang menghubunginya.


"Huft! Menyebalkan!" umpat Alarick sambil berbalik dan mengangkat panggilan dari Molly.


"..."


"Baiklah, aku akan bersiap untuk menjemputmu di dermaga."


"..."


Setelah panggilan terputus, Alarick langsung meninggalkan Red Resto dan memanggil sopirnya untuk mengantarkannya menjemput Molly dan juga daddynya.


...☘️☘️☘️...


"Maaf, aku tadi belum sempat berterima kasih denganmu, Ega." ucap Rychelle sambil duduk di hadapan Ega.


"Oh, itu bukan apa-apa, Rachel." jawab Ega. "Emm, apa kau menyukainya?"


"Ya, bahkan aku sedang mengumpulkan uang untuk membelinya. Bagaimana bisa pas dengan yang aku inginkan ya?" tanya Rychelle sambil menatap Avega dengan tatapan menyelidiki.


"Waaah, benarkah?" Kali ini Avega pura - pura tidak tahu jika Rachel sangat menginginkan tas itu. "Syukurlah jika kau senang dan pas dengan apa yang kau inginkan, Rachel."


"Jangan-jangan kamu ngikutin aku ya?" Desak Rychelle yang mulai teringat bahwa tidak lama setelah melewati toko tas tersebut, ia bertemu dengan Avega.


Sedangkan Avega hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun.


"Dih, bener kan dugaan aku." gerutu Rychelle. "Ngikutin dari mana?"


"Dari depan rumah kamu." jawab Avega jujur membuat Rychelle membelalakkan matanya.


"Aku sengaja berhenti di depan rumahmu untuk melihat apa saja yang kamu lakukan saat hari libur. Ternyata kamu suka jalan ke Mall ya kalo libur." timpal Avega.


Kini Rychelle sangat terkejut saat mengetahui Avega sempat menguntitnya. 'Ega ngikutin aku dari depan rumah? Duuh, kenapa aku bisa gak sadar sih diikuti Ega? Ke depannya aku harus lebih waspada. Aku tidak mau misi ini gagal karena Ega diam-diam mengikuti aku suatu saat nanti.' gumam Rychelle dalam hati.


"Kenapa kamu sengaja ngikutin aku, Ega?" tanya Rychelle dengan tatapan tidak suka.


"Maaf, aku hanya penasaran denganmu, Rachel." jawab Ega. "Ku mohon jangan marah." pinta Ega sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Apa yang bikin kamu penasaran?" tanya Rychelle lagi.


"Aku penasaran saat weekend ada laki-laki yang datang ke rumahmu atau tidak. Aku sama sekali tidak ada niat jahat, Rachel." jelas Avega.


"Dan permintaanku tempo hari itu benar - benar sangat serius. Aku ingin menjalin hubungan khusus denganmu. I do love you at the first sight."


Rychelle menghela nafasnya pelan.


"Tapi, Ega. Aku benar - benar tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Lagi pula aku juga sudah dijodohkan." tukas Rychelle berbohong.


Mendengar Rychelle sudah dijodohkan, membuat Ega seketika memasang wajah kecewa.


"Benarkah?" tanya Ega dan Rychelle langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Kalau begitu selamat ya, Rachel." Avega langsung mengulurkan tangannya yang disambut dengan senang hati oleh Rychelle.


"Terima kasih, Ega." balas Rychelle sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Bolehkah aku mengenal laki - laki yang sangat beruntung itu, Rachel? Aku ingin berpesan dengannya agar ia bisa menjagamu dengan baik."


"Haah?!" Rychelle sedikit terkesiap dengan permintaan Ega kali ini. "Emm tentu saja bisa. Aku akan mengenalkannya padamu nanti." jawab Rychelle sedikit tergagap.


"Bagaimana jika besok sore di tempat ini lagi?" ajakan Ega kali ini membuat mata Rychelle membulat sempurna.


"Tidak bisa Ega."


"Kenapa? Kamu tidak sedang berbohong kan denganku?" tanya Ega makin mendesak Rychelle.


"Dia sangat sibuk dan ..."


"Kalau besok dia tidak datang, aku bisa pastikan dia tidak serius denganmu, atau bahkan kali ini kau sedang berbohong padaku." ucap Ega.


"Baiklah, aku akan memintanya datang besok sore di sini." jawab Rychelle. "Aku pamit dulu."