Complicated Mission

Complicated Mission
Ryan One bertemu Putranya



Ryan One kini sudah dibawa ke kantor polisi oleh Aipda Teysar dengan barang bukti sabu dan kokain yang sempat tertinggal di Cottage sebelum ia melarikan diri bersama Ludolf Berwyn. Rychand sendiri yang mendengar kabar ayahnya tertangkap langsung bergegas menuju ke kantor polisi.


"Dimana tersangka yang tertangkap di Pulau Bira?" tanya Rychand pada Aipda Teysar.


"Ryan One ada di ruang 173 bersama dengan BrigJen Aris." jawab Teysar.


Rychand pun langsung menuju ke ruang yang ditunjukkan Teysar untuk bertemu dengan ayah kandungnya. Meski semalam Rachel sudah memberi tahukan kepada Rychand bahwa ayahnya ada di Pulau Bira, akan tetapi Rychand tidak turun tangan untuk menangkap ayahnya sendiri.


Pintu ruangan terbuka dan Rychand berdiri tegap di depan ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Nampak ayah kandungnya masih sama persis dengan 6 tahun yang lalu saat meninggalkannya. Seperti mimpi, tapi kali ini tampak nyata di depan mata.


"Komisaris Rychand, anda bisa meluahkan kerinduan anda bersama Iptu Ryan One. Take your time." ucap BrigJen Aris menepuk bahu Rychand dan keluar dari ruangan untuk memberikan waktu Rychand bersua dengan ayahnya.


Perlahan Rychand melangkah mendekati ayahnya. Perasaan haru kali ini memenuhi dada Ryan One saat melihat lambang 3 bunga melati di bahu putranya yang menandakan bahwa putranya kini telah menjabat sebagai Komisaris Besar Polisi.


"Ayah." suara Rychand tercekat saat memanggil ayahnya.


"Aku sangat bahagia melihatmu masih hidup." ucapnya lagi sambil memeluk ayahnya dengan sangat erat.


Ryan One pun membalas pelukan putra sulung nya dengan perasaan bangga.


"Aku bangga padamu, Rychand. Kau sudah berhasil menduduki jabatan Perwira Tengah di usiamu yang masih sangat muda." balas Ryan One yang tidak menyangka jabatan putranya kini melejit di atasnya.


"Kau seharusnya lebih bangga terhadap putrimu yang sangat keras kepala itu ayah." ucap Rychand menyangkal pujian ayahnya.


"Dia bahkan sudah berpangkat Brigadir Polisi dan sebentar lagi akan menjadi Brigadir Kepala karena berhasil menjalankan misi besar mu, ayah." jelas Rychand.


Seketika air mata Ryan One jatuh berderai mendengar ucapan putra sulungnya kali ini. Bukan lagi bangga melainkan teramat bangga dengan keberanian dan kegigihan Rychelle dalam menguak misi besar dan juga sangat berbahaya.


"Kau tahu, ayah. Sejak kau menghilang 6 tahun yang lalu, Rychelle sangat gigih berlatih dan mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan misi besar mu." timpal Rychand lagi.


Ryan One yang memang bertemu dengan Putrinya terlebih dahulu memang tidak sempat bercerita meski hanya sedikit karena suasana memang tidak memungkinkan. Tapi sedikit cerita yang baru saja terlontar dari mulut putra sulungnya membuatnya yakin bahwa ia memiliki anak yang sangat luar biasa.


"Dia memang anak yang sangat keras kepala. Bahkan dia tidak gentar sedikit pun menghadapi bahaya yang taruhan nya adalah nyawa." ucap Ryan One dengan suara yang bergetar.


"Aku sangat mengkhwatirkannya, Rychand."


Ryan One melepas pelukannya dan duduk dengan pandangan yang kosong.


"Jangan khawatir ayah. Aku yakin Rychelle akan baik-baik saja." balas Rychand.


Keduanya pun ini saling bercerita tentang apa yang terjadi selama 6 tahun. Tentang kematian bundanya dan juga pernikahan Rychand dan juga Citra satu tahun yang lalu.


...☘️☘️☘️...


Sedangkan Rachel kini tiba di Rumah Sakit dan langsung diberi tindakan oleh pihak rumah sakit. Kondisinya saat ini sangat kritis karena ia mengalami pendarahan hebat dan kerusakan pada jaringan organ yang terdapat pada bahunya.


"Tolong selamatkan Wanita ku, Dokter." pinta Jerry yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rachel saat ini.


"Kami tetap akan memberikan tindakan yang terbaik, dan anda bisa mengurus administrasi terlebih dahulu. Tuan." ucap dokter yang kini akan menangani Rachel.


"Achiela?" Alarick sedikit memicingkan matanya saat mendengar nama samaran untuk Rachel yang dibuat oleh Jerry.


"Ya, aku yakin dia adalah Achiel ku." jawab Jerry sambil meninggalkan Alarick yang berdiri mematung.


'Achiel? Kenapa tiba tiba Bang Jerry menganggap Rachel sebagai Achielnya?' tanya Alarick dalam hati.


Ingatannya kembali saat ia bermain dengan anak balita yang masih berusia dua tahun. Bayi cantik yang sangat aktif, ceriwis, pemberani dan sangat mengemaskan. Usianya saat itu masih menginjak 9 tahun.


Alarick teringat bahwa ia selalu bermain ke rumah Achiel setiap libur tiba. Namun, saat ia menginjak di Sekolah Menengah Pertama, ia tidak lagi bertemu dengan Achiel karena sekolahnya dipindah ke luar negeri.


'Jika Rachel adalah Achiel, bermakna ia adalah anak dari Paman Ryan.' batin Alarick sambil menerka-nerka.


Sayangnya langkah Alarick kini terhenti oleh dua orang polisi yang sudah berdiri di hadapannya.


"Anda kami tangkap dengan tuduhan transaksi obat-obatan terlarang." ucap polisi tadi yang langsung melingkar kan borgol di tangan Alarick.


"What?!" pekik Alarick yang terkejut bukan main. "Aku bukanlah orang yang mengkonsumsi barang laknat itu." kilah Alarick.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi." ucap polisi tersebut dan langsung membawa Alarick secara paksa ke kantor polisi.


Jerry yang mengamati Alarick dari kejauhan pun langsung menghubungi papinya dan memberi kabar bahwa Alarick sudah tertangkap.


"Papi, Alarick sudah berhasil diringkas oleh polisi. Larilah sejauh mungkin bersama Molly dan selamatkan nyawa papi secepatnya." ucap Jerry yang terus waspada dengan sekelilingnya.


"..."


"Jangan khawatirkan aku, Pi. Aku bisa menjaga diriku sendiri dari kejaran polisi." balas Jerry yang langsung memutuskan panggilannya.


Jerry menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kali ini ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk terus mengawasi Achielnya dan melaporkan kabar terbarunya setiap waktu. Sedangkan Jerry langsung bergegas meninggalkan rumah sakit karena ia sangat yakin polisi masih ada di sekitar rumah sakit.


Benar saja dugaan Jerry, polisi sudah mengepung rumah sakit. Kali ini ia bersembunyi di parkiran rumah sakit dan diam diam menyelinap masuk ke dalam mobil box pengiriman alat kesehatan rumah sakit.


Jerry pun bisa bernafas lega terbebas dari kejaran polisi dan ia tetap bisa memantau Achielnya yang di rawat di rumah sakit lewat anak buah Jerry.


'Kesalahan terbesar pada diriku adalah teramat mencintaimu, Achiel. Aku sadar, kau adalah orang dibalik semua ini. Tapi aku sama sekali tidak bisa marah atau pun menghukum kesalahanmu. Meski saat ini aku menjadi buronan polisi.' batin Jerry sambil menutup muka dengan kedua tangannya.


Ia paham betul bahwa Achielnya datang hanya untuk melanjutkan misi besar ayahnya yang gagal dalam menguak perjudian dan perdagangan narkoba di Kota Metropolitan. Bahkan awalnya ia juga tidak setuju dengan usaha dan bisnis yang diprakarsai oleh papinya.


Namun, setelah ia mencicipi narkoba, ia pun sangat ketagihan dan kemudian bergabung bersama ayahnya untuk menjalankan bisnis besar yang sangat menguntungkan ini. Bahkan watak bengis papinya pun menurun kepada Jerry yang menghalalkan segala cara agar bisnisnya berjalan lancar.


Kali ini ia sama sekali tidak bisa berlaku bengis saat bertemu dengan Rachel dan melihat tanda lahir yang ada di lengan kanannya. Sama seperti saat ia menjadikan Ryan One sebagai tawanan. Ia tidak tega untuk membunuhnya karena Ryan sudah ia anggap sebagaicalon mertuanya.


' Aku benar-benar sudah gila karena mencintai bayi kecil yang cantik dan mengemaskan. Gadis kecil itu kini sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik, pemberani dan juga menantang. Dan aku tidak akan pernah menyesali kebodohanku yang larut memendam cinta terhadapmu, Achiel. Dan aku pastikan kita pasti akan bersama. ' gumam Jerry dalam hati.


Lama kelamaan ia pun tertidur bersama dengan beberapa tumpukan alat kesehatan karena sudah teramat lelah.