
Sebelum menuju ke dermaga, Rychelle berdiri di teras samping Cottage sambil menikmati udara pantai dan menunggu Alarick bersiap.
DOR! Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang diiringi suara teriakan histeris di ruang kecil belakang cottage yang tidak jauh dari Rychelle berdiri. Setelah itu terdengar gertakan pria dengan suara menggelegar.
["Itu adalah hukuman jika dia berani menentangku! Ryan, hanyut kan mayatnya di lautan!"]
Rychelle yang sangat terkejut perlahan berjalan mendekat ke asal suara. Ia berjalan mengendap-endap sambil memastikan langkah kakinya tidak terdengar.
Suara isak tangis seorang perempuan makin terdengar di dalam ruangan tersebut membuat Rychelle semakin penasaran. Sedikit lagi ia hampir sampai di pintu ruangan tersebut.
Tetapi tiba-tiba mulutnya langsung ditutup dan tubuhnya diangkat oleh seseorang untuk menjauh dari ruang tersebut.
Rychelle awalnya meronta-ronta karena ia sama sekali tidak melihat siapa yang saat ini membawanya pergi, terlebih pria tersebut mengangkatnya seperti seekor induk kanguru yang hendak memasukkan anaknya ke kantong.
Tapi akhirnya Rychelle tidak lagi meronta saat mengenali parfum pria yang kali ini mengangkat tubuhnya dan membawanya ke Cottage. Alarick langsung membawa Rychelle masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghempaskan ke atas tempat tidur.
Setelah itu Alarick mengunci kamarnya dan menatap tajam ke arah Rychelle. Tatapan Alarick kali ini benar-benar menyiratkan amarah dan membuat Rychelle sedikit merasa takut.
"Maaf, Mr. Tadi saya hanya mendengar..."
"Aku tahu apa yang kau dengar, Rachel!" gertak Alarick membuat Rychelle menelan ludahnya kasar. Terlebih Rychelle belum pernah melihat Alarick semarah ini.
"Tapi kau tidak dibenarkan pergi tanpaku saat berada di Pulau ini, Rachel! Apapun alasanmu!" ucap Alarick dengan suara yang masih meninggi.
"Maaf." ucap Rychelle sambil menundukkan kepalanya. Kali ini ia tidak mau menyanggah gertakan Alarick sama sekali.
Rychelle sendiri bingung dengan perubahan sikap Alarick sore ini. Saat di pinggir pantai Alarick sendiri yang memintanya untuk menjadi teman. Baru satu jam terlewati Alarick sudah seperti musuhnya sendiri.
Alarick membuang nafasnya kasar. Perlahan ia duduk di tepi ranjang dan perlahan mengangkat dagu Rychelle. Alarick menatap netra Rychelle dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan pernah diulangi lagi." ucap Alarick dan Rychelle pun langsung menganggukkan kepalanya.
Kini Alarick pun tersenyum dan kemudian melihat ke arah jam tangannya. "Baru jam 4 dan masih ada waktu untuk menjelaskan perihal Pulau ini padamu, Rachel." ucap Alarick sambil mengusap kepala Rychelle.
"Berjanjilah padaku untuk menyimpan rahasia ini karena nyawamu adalah sebagai taruhan nya. Seperti yang kau dengar tadi."
Lagi - lagi Rychelle menganggukkan kepalanya dan Alarick mulai bercerita bahwa suara tembakan tadi memang berasal dari pemilik bandar narkoba di pulau ini. Ia akan dengan mudahnya menembak siapa pun yang menentang aturan di sini tanpa terkecuali. Dan Pulau ini memang digunakan sebagai transaksi jual beli narkoba.
Bukan hal yang mudah untuk masuk ke pulau ini. Bahkan Rychelle bisa masuk hanya karena dibawa oleh pemegang saham terbesar pemilik pulau rahasia.
Rychelle benar-benar tercekat tidak tahu harus mengatakan apa. Baginya kali ini, misinya sudah hampir mencapai titik keberhasilan. Tapi nyawanya sangat terancam karena semua data dirinya sudah masuk dalam data base perusahaan Alarick.
"Aku tidak akan berbicara panjang lebar. Yang jelas ketika di sini, jangan pernah pergi tanpaku, Rachel." ucap Alarick.
"Baik." jawab Rychelle singkat.
"Kalau begitu, kita harus bersiap ke dermaga. Kapal kita akan segera sampai." ajak Alarick.
"Sekali lagi saya minta maaf." ucap Rychelle.
"Aku sudah memaafkanmu, Rachel." balas Alarick sambil tersenyum. "Aku hanya sangat mengkhawtirkanmu."
Ucapan Alarick kali ini membuat hati Rychelle berbunga-bunga. Entah mengapa perhatian Alarick selalu melukiskan ketenangan dalam hatinya.
Keduanya pun langsung menuju ke dermaga. Tepat pukul 5 sore, mereka kembali mengarungi lautan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Alarick dan juga Rychelle sama - sama terdiam.
Avega langsung membantu Rychelle turun dari kapal. Rychelle pun langsung berpegangan pada uluran tangan Avega. Namun, tanpa disengaja Avega menarik tangan Rychelle hingga Rychelle terjatuh tepat di atas Avega.
Brukkk! Seketika bibir Rychelle mendarat tepat di bibir Avega dan pemandangan tersebut membuat Alarick sangat gusar. Berbeda dengan Molly yang justru senang melihat kedekatan antara Avega dan karyawan barunya itu.
"Ayo sayang, kita tinggalkan mereka berdua." ajak Molly sambil menarik tangan Alarick.
Alarick langsung menghentakkan kakinya dan membuat Rychelle langsung menjauhkan dirinya dari Avega. Rychelle langsung mengusap bibirnya dan kemudian menepuk pakaiannya yang terkena pasir pantai.
Sedangkan Avega kini tersenyum penuh kemenangan. Kecelakaannya kali ini membuat dirinya sangat beruntung mencicipi bibir merah Rychelle.
"Maaf, tadi aku terlalu kencang menarikmu, Rachel." ucap Avega membuat Rychelle sangat malu.
"Emmm, lupakan kecelakaan tadi. Anggap saja tidak terjadi apa-apa antara kita, Ega." ucap Rychelle yang jalan terlebih dahulu meninggalkan Ega.
'Oh My God, pipinya bersemu merah.' gumam Avega dalam hati. Ia pun langsung mengejar Rychelle dan menyamakan langkahnya.
"Rachel, Kak Molly mengajak Kita makan dulu sebelum pulang ke restoran di tepi dermaga. Arahnya bukan kesini." ucap Avega menarik tangan Rychelle dan menuju ke arah barat.
Mau tidak mau, Rychelle pun mengikuti langkah Avega sambil melepaskan genggaman Avega. "Maaf Ega, aku bisa jalan sendiri." ucap Rychelle.
Avega pun melepaskan genggamannya dan kini mereka pun sampai di restoran yang dituju. Molly langsung tersenyum melihat kedatangan Avega dan juga Rychelle.
"Waaah, kayaknya ada yang mau jadian nih." ucap Molly saat Avega menarikkan kursi untuk Rychelle duduk.
Rychelle hanya tersenyum dan itu justru membuat Alarick semakin kesal dan muak.
"Doain aja ya kak, biar Rachel mau jadi pacar aku." ucap Avega.
Mendengar ucapan Avega yang terang-terangan menginginkan Rachel untuk menjadi pacarnya membuat Alarick seketika kehilangan selera makannya. Terlebih Rychelle tidak menyanggah atau menolak sama sekali ucapan Avega tadi.
"Yang tadi hanya kecelakaan saja yang tidak berarti apa-apa." ucap Alarick ketus. "Lagi pula aku yakin itu bukan ciuman pertamanya Rachel."
Kali ini Rychelle membelalakkan matanya. Ia sama sekali tidak menyangka Alarick akan mengatakan hal seperti itu. Melihat Rychelle tampak tidak nyaman dengan ucapan Alarick, Avega pun menepuk bahu Rychelle perlahan.
"Jangan hiraukan ucapan bang Al. Buat dirimu nyaman di sini dan kenyang. Aku tahu kau sangat lelah." ucap Avega dan Rychelle pun mengangguk.
"Al sayang, kamu seharusnya tidak bicara seperti itu." ucap Molly. "Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, Rachel."
"Tidak apa - apa Miss Molly. Saya yakin Mr Alarick hanya lelah dan mungkin juga merindukan anda." ucap Rychelle yang makin menyulut amarah Alarick.
Alarick mencengkeram gelasnya dengan sangat kuat dan
Pyarr! gelas tersebut pecah dan membuat tangan Alarick berdarah.
Dengan sigap Rychelle meminta kotak obat pada pegawai restoran dan langsung menyerahkan pada Molly yang kini menghentikan pendarahan Alarick.
"Kamu ini kenapa sih sayang?" tanya Molly sambil mengobati tangan Alarick.
"Aku sangat tidak suka mendengarkan Rachel berbicara." jawab Alarick kesal.
"Dan kau, Rachel. Besok kau harus sampai di kantor tepat jam 5 pagi!" perintah Alarick.
Akhirnya makan malam pun tertunda karena Alarick lebih memilih makan setelah sampai di Rumah sakit dan bertemu dengan Papinya.