Complicated Mission

Complicated Mission
Kembali Bekerja



Sesuai dengan perintah Alarick, tepat pukul 5 pagi Rychelle sudah berada di ruangannya. Ia pun langsung mulai mempersiapkan agenda Alarick hari ini.


Baru mulai menyalakan komputer di meja kerjanya, tampak Avega keluar dari pintu lift dan masuk ke ruang kerja Rychelle.


"Pagi, Rachel." sapa Avega sambil menenteng sesuatu di belakang punggungnya.


"Pagi juga Ega." balas Rychelle. "Kau datang pagi juga?"


"Tentu saja, aku tidak ingin membiarkanmu bekerja sendirian sepagi ini. Lagi pula aku juga baru saja mengantar Kak Molly ke dermaga." jawab Avega.


"Oh iya Rachel." Avega langsung meletakkan sebuah bingkisan ke atas meja Rychelle. "This is for you."


Rychelle langsung mengernyitkan dahinya saat Avega meletakkan bingkisan ke atas meja kerjanya. "Apa ini?" tanya Rychelle.


"Buka saja." jawab Avega sambil duduk di sofa depan meja kerja Rychelle.


Rychelle pun membuka bingkisan dari Avega dan matanya langsung berbinar saat mengetahui bahwa isi bingkisan itu adalah Tas Louis Vuitton Twist Black yang sangat ia inginkan saat berjalan - jalan di Mall Metropolitan tiga hari yang lalu.


"Untukku?" tanya Rychelle tidak percaya dan Avega langsung mengangguk mantap.


"Tapi Ega, ini kan sangat mahal." ucap Rychelle merasa sangat tidak enak menerima pemberian dari Avega. "Aku rasa aku tidak pantas menerima ini."


"Tapi kau suka kan? Aku membelinya khusus untukmu, Rachel. Aku harap kau menerimanya." tukas Avega.


"Tapi dalam rangka apa?" tanya Rychelle.


"Emm, dalam rangka ucapan terima kasih karena kau sudah membantuku saat di Mall kemarin. Dan terima kasih untuk segala yang telah kau lakukan untukku." jawab Avega.


"Tapi ini terlalu berlebihan, Ega." ucap Rychelle.


"Tidak ada yang berlebihan untukmu, Rachel. Semuanya tepat pada sasaran. Kau makin cantik jika menggunakan tas itu. Besok aku sangat ingin melihatmu memakainya saat bekerja." ucap Avega yang kemudian keluar dari ruang kerja Rychelle.


Rychelle yang belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Avega pun langsung berdiri dan mengejar langkah Avega. Namun sayangnya langkahnya terhenti saat lengannya di cekal oleh seseorang dari belakang.


"Mau kemana?" suara bariton Alarick langsung menggema tepat di telinga Rychelle.


"Awh!" pekik Rychelle kesakitan. "Mr sudah datang?" tanya Rychelle yang awalnya mengira jika Alarick belum datang ke kantor.


Melihat Rychelle merasa kesakitan, Alarick pun melepaskan lengan Rychelle. "Aku bahkan datang sebelum dirimu, Rachel." jawab Alarick dengan nada yang ketus.


"Ikut ke ruanganku!" perintah Alarick sambil berbalik masuk ke dalam ruangannya.


Rychelle pun langsung membuang nafasnya kasar. "Huft, aku bahkan belum sempat berterima kasih dengan Ega." gerutu Rychelle pelan sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Alarick.


Tampak Alarick sedang berdiri di balkon ruang kerjanya dan Rychelle pun langsung mendekat ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mr?" tanya Rychelle.


"Tidak!" jawab Alarick dengan ketus.


"Lalu apa keperluan anda memanggil saya masuk kemari, Mr Alarick?"


"Katakan padaku, siapa yang lebih tampan antara aku dengan Avega? tanya Alarick yang seketika membuat Rychelle menahan dirinya agar tidak tertawa.


"Tentu saja anda lebih tampan, Mr." jawab Rychelle. Kali ini ia paham jika Alarick menginginkan jawaban seperti yang baru saja ia katakan.


Mendengar jawaban Rychelle, Alarick langsung tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu apa panggilan khusus untukku, Rachel?" tanya Alarick membuat Rychelle mengernyitkan dahinya heran.


"Maaf Mr, saya belum paham dengan apa yang anda maksud." jawab Rychelle.


"Emmmh, begini. Hanya kau wanita yang memanggil Avega dengan panggilan Ega. Lalu bagaimana denganku?" timpal Alarick.


"Aku sangat suka mendengarnya. Kalau begitu, mulai sekarang kau memanggilku Arick." tukas Alarick yang sangat menyukai panggilan Khusus dari Rychelle untuk dirinya.


"Bersiaplah, Rachel. Sepuluh menit lagi kita akan menuju Restoran ABC untuk meeting dengan Tuan Nagata." perintah Alarick.


Rychelle langsung melirik ke arah jam tangannya yang masih menunjukkan Jam setengah 6 pagi. "Apa tidak terlalu pagi, Mr?" tanya Rychelle. "Bukankah meetingnya dimulai jam 8.30?"


"Tentu saja tidak, karena aku akan mengajakmu sarapan terlebih dahulu." jawab Alarick.


"Baik, Mr. Akan saya siapkan berkasnya sesegera mungkin." jawab Rychelle yang langsung undur diri dari hadapan Alarick.


Sesampainya di meja kerjanya, Rychelle langsung mempersiapkan dan mengecek berkas meeting yang dibutuhkan hari ini.


Setelah itu ia memasukkan tas pemberian dari Avega ke dalam box bingkisannya dan ia melihat kartu ucapan di dalamnya. Ia pun langsung tergerak untuk membukanya dan membaca pesan dari Avega.


...[Aku menunggumu di Red Resto saat jam pulang dari kantor nanti. Reservasi atas nama Rachel]...


...[Sincerely, Ega]...


Rychelle langsung menyimpan kartu ucapan dari Ega dan bersiap untuk pergi meeting bersama Alarick.


Selama dalam perjalanan, Rychelle dan Alarick sama sekali tidak saling berbicara karena keduanya sama - sama mempersiapkan diri untuk presentasi. Rychelle nantinya akan presentasi terlebih dahulu, sedangkan Alarick nanti akan menambahkan penjelasan dari point presentasi Rychelle.


...☘️☘️☘️...


Sedangkan di sisi lain, Kini Molly sedang melakukan perjalanan bersama daddynya, Liber Ran menuju ke Pulau Rahasia yang dikunjungi oleh Alarick dan juga Rychelle sebelumnya.


"Tumben banget sih Daddy mau ikut Molly ke pulau R?" tanya Molly saat keduanya berada dalam speed boat yang mengantarkan mereka ke seberang.


"Tentu saja untuk refreshing. Ada seseorang yang Daddy rindukan di sana." jawab Liber Ran.


"Seorang wanita?" tanya Molyy dan Liber Ran langsung menggelengkan kepalanya.


"Bukan." jawab Liber Ran singkat.


"Apa aku mengenalnya?" tanya Molly lagi.


"May be Yes, May be No." jawab Liber Ran membuat Molly sedikit kesal.


"Ck, Daddy nih pake rahasia segala sih." gerutu Molly kesal.


"Lagi pula ini hal yang gak penting, sayang." balas Liber sambil mengusap kepala putri sulungnya.


"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Alarick?" tanya Liber mengalihkan pembicaraan. "Pernikahan kalian sudah hampir dekat loh."


Molly menghembuskan nafasnya kasar. "Alarick masih saja bersikap dingin sama Molly." jawab Molly yang terlihat sangat sedih.


"Kalo yang cowok sikapnya dingin, harusnya kamu yang agresif dong sayang. Jangan malah diem aja." ucap Liber Ran memberi saran.


"Alarick tuh kayak ga punya hati, Dad. Kaku, ketus, arogan dan Molly capek sama dia." tukas Molly.


Selama ini Alarick selalu bersikap dingin kepada semua wanita yang ia temui termasuk tunangannya sendiri. Padahal Molly sudah sangat lama mengenal Alarick, sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak.


Tapi Alarick kecil yang sangat ketus dan kaku sama sekali tidak berubah sampai dia dewasa. Hal ini yang membuat Molly hampir menyerah untuk mendapatkan Alarick.


"Dia sama seperti papinya, Ludolf Berwyn." ucap Liber Ran. "Tetapi papi yakin Alarick masih mempunyai hati. Tidak seperti yang kau katakan Molly. Bersabarlah!"


"Tapi Dad..."


"Sebuah batu yang keras saja akan berlubang jika terus terkena tetesan air. Pesan Daddy, teruslah menjadi air yang suatu saat akan melunakkan hati Al." tukas Liber Ran dan Molly hanya menganggukkan kepalanya.