
Molly tercengang saat melihat isi dalam kamar yang hanya ada satu tempat tidur berukuran single bed dan satu meja kecil di sampingnya. Tidak ada lemari dan lampu yang menerangi kamar juga redup sekali.
"Apa kita tidak bisa cari tempat yang lain, Pi?" tanya Molly dengan sangat hati-hati.
"Silahkan saja jika kau mau mencari tempat yang lain. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat." jawab Papi Ludolf sambil meletakkan tasnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Molly masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Kali ini ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Sedangkan tampak calon mertuanya itu sudah hampir memejamkan matanya.
"Lalu aku tidur dimana, Pi?" tanya Molly membuat Ludolf yang sudah hampir tertidur, kini justru terbangun dan seketika rasa kantuk nya hilang. Tidak hanya itu, bahkan kepalanya mulai berdenyut sakit karena pertanyaan Molly mengganggu istirahatnya.
Ludolf Berwyn kini terduduk sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap Molly dengan mata yang memerah.
"Apa maumu sebenarnya?" gertak Ludolf Berwyn.
Gertakan calon mertuanya itu membuat Molly bergidik ngeri terlebih mengingat Ludolf bisa melakukan apapun sesuka hatinya.
"Maaf Pi, aku tidak bermaksud mengganggu tidur papi." Molly langsung bersimpuh di kaki Ludolf Berwyn sambil terus meminta maaf.
"Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau mengembalikan rasa kantuk ku yang hilang begitu saja karena ocehan yang keluar dari mulutmu." balas Ludolf sambil memandang ke arah Molly yang kini mendekap kakinya dengan erat.
'Sial! Apa sih sebenarnya yang diinginkan tua bangka ini?' gerutu Molly dalam hati.
'Sabar Molly, kau harus berbuat baik di depan calon mertuamu agar kau tidak mati mengenaskan di tangannya.' kali ini Molly menghibur dirinya sendiri yang sedang berada diujung tanduk.
Bagaimana tidak?
Jika ia tidak mengikuti Ludolf Berwyn, ia pasti akan tertembak mati oleh Ludolf karena ia paham betul calon mertuanya itu tidak suka jika ada yang menentangnya.
Tapi jika ia melarikan diri dari Ludolf, maka polisi akan dengan mudah menangkapnya dan hukuman mati pun siap menantinya. Karena ia bukan hanya positif mengkonsumsi narkoba, tetapi ia juga melakukan perdagangan besar narkoba.
"Baiklah Pi, katakan apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan rasa kantuk Papi?" tanya Molly.
Ludolf Berwyn pun langsung melemparkan senyum seringainya sambil memandang Molly dari atas sampai bawah.
'Anak Liber Ran ini boleh juga untuk dicicipi,' gumam Ludolf dalam hati.
Sedangkan Molly mulai merasa sedikit risih saat Ludolf memandangi nya dan terlihat seperti ingin menerkamnya. Terlebih saat tangan Ludolf saat ini sudah mulai menarik lengan Molly untuk duduk di sampingnya.
"Layani aku sampai rasa kantuk ku kembali, Molly Ran." ucap Ludolf.
"Tapi Pi, aku kan anak Papi sendiri." kilah Molly yang mulai ketakutan. Ia tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak dengan calon papi mertuanya sendiri.
"Ingat, Pi. Aku anak sahabat papi sendiri." ucap Molly lagi dengan suara yang mulai bergetar. Berharap Ludolf menarik keinginan gilanya barusan.
"Disini tidak ada lagi yang namanya sahabat. Apa kau tidak dengar, apa yang aku katakan tadi dengan pemilik rumah?" tanya Ludolf sambil memegang dagu Molly.
"Biar kuperjelas lagi agar kau tidak lupa Molly. Aku sudah mengatakan bahwa kau adalah istriku." bisik Ludolf tepat di telinga Molly.
Deg!
Molly terdiam tidak dapat membalas perkataan Ludolf Berwyn. Matanya tpejam dan bulir air mata Molly mulai jatuh membasahi pipinya.
'Aku kini mulai sadar bahwa tua bangka ini benar-benar psikopat akut.' umpat Molly tanp menghindar dari tangan nakal Ludolf yang mulai mengabsen setiap inci dari tubuhnya.
...🎋🎋🎋...
Sedangkan di ruang rawat Rychelle, Citra kini sedang menyuapi Rychelle buah potong yang baru ia beli di kantin rumah sakit sesuai dengan apa yang Rychelle inginkan.
"Dek," panggil Citra.
"Hemmm."
"Kakak boleh tanya sesuatu yang sedikit pribadi denganmu?"
Rychelle sedikit mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah kakak iparnya itu.
"Sejak kapan kakak meminta izin denganku hanya untuk menanyakan sesuatu?" tanya Rychelle sambil mengunyah potongan apel di mulutnya.
"Ck, kakak ini kayak sama siapa aja." tukas Rychelle.
Citra pun menyunggingkan senyumannya. Ia merasa sangat bahagia Rychelle benar-benar menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Padahal ia hanya orang baru yang masuk dalam keluarga Rychelle.
"Boleh kakak tahu, siapa yang saat ini kamu suka?"
Pertanyaan Citra kali ini membuat Rychelle tersedak.
Uhuk! Uhuk!
"Pelan - pelan dek." Citra dengan sigap menepuk punggung Rychelle dan menyodorkan minum untuknya.
"Kakak salah tanya ya?" tukas Citra lagi dan Rychelle langsung menggelengkan kepalanya.
"Emm, Kak Citra sejak kapan jatuh cinta sama Kak Rychand?"
Bukan menjawab pertanyaan dari Citra, Rychelle justru balik bertanya.
"Trus gimana perasaan Kak Citra kalo lagi deket sama Kak Rychand?" tanya Rychelle lagi membuat Citra terkekeh.
"Sepertinya ini yang dinamakan senjata makan tuan, kakak yang tanya kenapa malah kamu yang balik tanya sih dek." timpal Citra gemas.
Tapi akhirnya Citra pun menjawab apa yang ditanyakan oleh adik iparnya itu. Dan Rychelle pun mendengarkan setiap apa yang keluar dai mulut Citra.
"Itu yang aku rasain kalo lagi deket sama Mas Arick kak." celetuk Rychelle saat Citra selesai bercerita.
"Kakak tau sendiri kan kalo aku tuh paling anti sama yang namanya pacaran. Bahkan aku tidak tahu Gimana rasanya jatuh cinta."
"Tapi kali ini beda banget, Kak. Aku selalu dag dig dug kalo deket sama Mas Arick. Rasanya dalam dada aku itu mau meledak saking kerasnya jantung aku berdebar."
Kali ini cerita Rychelle mengalir begitu saja tentang perasaannya terhadap Alarick. Sedangkan Citra pun menjadi pendengar setia Rychelle sambil menimpali sedikit sedikit.
"Berarti kalian Sudah jadian?" tanya Citra kemudian.
Rychelle pun langsung menggelengkan kepalanya. "Bahkan aku belum sempat mengatakan padanya jika aku sangat mencintainya, Kak." jawab Rychelle yang raut wajahnya kini berubah menjadi sendu.
"Aku takut dia kecewa denganku dan berbalik membenci ku, Kak." tukas nya lagi.
Citra pun menghela nafasnya sambil mengusap bahu Rychelle.
"Tapi sekarang coba Rychelle fikirkan lagi. Apa Rychelle mau menikah dengan seorang yang berstatus sebagai narapidana?" tanya Citra.
"Sedangkan sebentar lagi kau akan naik pangkat menjadi BripKa."
Pertanyaan Citra langsung membungkam mulut Rychelle. Pandangannya langsung berubah menjadi pandangan kosong.
"Apa aku sudah salah jatuh cinta kak?" tanya Rychelle.
Citra langsung mendekap Rychelle dengan sangat erat.
"Tidak ada yang salah dengan perasaan cinta, dek. Maaf jika ucapan kakak tadi membuatmu terluka." ucap Citra sambil mengusap punggung Rychelle.
"Aku paham dengan apa yang kak Citra maksud. Aku juga yakin Kak Rychand dan ayah tidak akan setuju jika aku menyukai Mas Arick." timpal Rychelle.
Kali ini Citra sangat sedih mendengar penuturan dari adik ipar kesayangannya.
'Misi terbesarmu kemarin memang sangat rumit. Tapi sepertinya kisah cintamu juga akan rumit, Rychelle. It's Complicated Love.' gumam Citra dalam hati.
...💞💞💞...
Seperti biasa yaa, Author mau promosi lagi karya milik bestie Author yang karyanya keren banget. Yuk mampir di sini ke Novel Jangan Hina Kekuranganku Karya Ocybasoaci.