
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Teysar saat Rychelle sudah selesai menenangkan dirinya.
"Aku sudah lebih tenang, Kak. Terima kasih sudah memberi saran yang baik untukku." ucap Rychelle yang sudah duduk dan memasang seat beltnya.
"Lalu bagaimana keputusanmu saat ini?"
Rychelle menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Aku akan menjalani apa yang sudah kita rencanakan dengan baik. Untuk ke depannya bagaimana, aku yakin Tuhan tidak akan pernah lepas dalam membimbingku." jawab Rychelle dengan mantap membuat bibir Teysar tertarik sempurna dan menyunggingkan senyuman yang sangat indah.
'Aku memang tidak pernah salah dalam mencintai seorang wanita. Rychelle benar-benar sangat luar biasa. Dan aku akan terus membuatnya merasa bahagia berada di sampingku.' gumam Teysar sambil mulai mengemudikan mobilnya.
...🎋🎋🎋...
Karena padatnya tugas Rychelle dan juga Teysar, acara lamaran mereka pun hanya diadakan dengan sederhana dan hanya mengundang Keluarga besar saja. Sedangkan undangan Pernikahan Rychelle kini sudah mulai tersebar ke berbagai kerabat dekat maupun jauh.
Rychelle dan Teysar juga tampak semakin kompak entah dalam bertugas maupun di luar jam tugas. Meski acara pernikahan mereka tinggal menghitung hari saja, mereka tetap fokus dengan tugas dan misi yang saat ini mereka geluti.
"Ini laporan dari Kantor Catatan Sipil di Surabaya dan Bandung yang baru dikirim tadi siang ke email. Ternyata sangat banyak penduduk baru yang dari namanya tampak berasal dari luar negeri. Dan kita membutuhkan waktu yang lama untuk menguak nya satu per satu." ucap Teysar menyerahkan laporannya kepada Rychelle.
Rychelle pun dengan teliti membaca laporan yang baru saja ia terima dari Teysar. Mengecek nama, tempat dan juga tanggal kelahiran satu per satu sambil memperkirakan usia Jerry Berwyn dan juga Lodofl Berwyn.
"Rychelle, ini sudah hampir jam 7 malam. Bunda memintaku untuk mengajakmu makan malam di rumah." ucap Teysar hati-hati karena ia tidak ingin Rychelle terganggu dengan ajakannya.
Rychelle pun meletakkan stabilo miliknya yang baru saja ia gunakan untuk memberi tanda data dari Catatan Sipil dan menyimpan kembali kertas tersebut ke dalam map.
"Baiklah, kita pulang sekarang yuk. Aku juga sudah sangat lelah hari ini." ucap Rychelle sambil mengamit tasnya.
"Tapi Kak, kita mampir ke rumah dulu ya buat mandi dan ganti baju." pinta Rychelle.
Teysar pun kemudian mengambil goodie bag yang sudah ia siapkan sejak berangkat dari rumah. "Aku sudah membawakan baju ganti lengkap dengan peralatan mandi untukmu." ucapnya sambil menyerahkan goodie bag kepada Rychelle.
"Bagaimana jika kamu mandi di kantor saja?" tanya Teysar membuat Rychelle mengecek isi goodie bag.
"Siapa yang membeli dan menyiapkan semua ini?" tanya Rychelle dengan tatapan tajam nya setelah melihat isi di dalam goodie bag ternyata sangat lengkap hingga ada pakaian dalam yang baru untuknya.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah ya?" tanya Teysar yang mulai risau menerima tatapan tajam dari Rychelle.
"Itu tadi bunda yang nitipin sama aku. Dan aku cuma tinggal bawa aja tanpa mengecek isinya."
Penjelasan Teysar kali ini pun membuat Rychelle bernafas lega. "Oooh, bunda ya. kirain Kak Teysar."
Rychelle pun dengan santai melewati Teysar begitu saja untuk menuju ke kamar mandi. Namun kemudian Teysar menarik lengannya dan menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh lagi.
"Eits, asal kabur aja nih orang. Jawab dulu kenapa?" tanya Teysar mendesak Rychelle.
Rychelle justru hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa kok."
"Jawab atau aku cium!" ancam Teysar membuat Rychelle pun akhirnya menjawab pertanyaan Teysar.
"Iya, iya. Gitu amat jadi orang. Aku pikir kak Tey yang nyiapin semuanya. Makanya aku sempet kaget tadi."
Sayangnya jawaban Rychelle masih membuat Teysar belum paham maksud dari keterkejutan Rychelle.
"Memangnya kenapa kalo aku yang nyiapin?" tanya Teysar lagi.
Rychelle pun kini mendorong tubuh Teysar agar menjauh darinya. "Dih dasar aneh! Ya aku malu lah." jawab Rychelle sambil berlalu meninggalkan Teysar.
"Malu?" gumam Teysar pelan. "Kenapa harus malu?"
Teysar masih terdiam sambil mencari alasan kenapa Rychelle harus malu. Namun seketika ia menepuk jidatnya saat mulai paham kemana arah pembicaraan Rychelle.
...☘️☘️☘️...
Kini keduanya sudah berada di mobil untuk menuju pulang ke rumah Teysar. Rychelle pun sudah tampak segar setelah mandi dan mengganti bajunya.
Bunda Teysar memang sangat paham outfit yang disenangi Rychelle, Blouse lengan pendek dan celana panjang dengan warna yang senada membuat Rychelle tampak cantik dengan pakaian casualnya.
"Cantik." puji Teysar sambil mengemudikan mobilnya.
"Dari lahir kali." jawab Rychelle santai. Pujian Teysar ini mungkin sudah ratusan kali ia dengar.
Rychelle langsung menepuk lengan Teysar kesal saat mendengar calon suaminya mulai berbicara vulgar di depannya.
"Gak usah dibahas deh. Masalah udah lewat masih aja diomongin." gerutu Rychelle.
"Udah lewat?"
"Ini masalah penting loh sayang. Jangan sampai nanti setelah nikah aku mah beliin punya kamu kedodoran atau malah kekecilan."
Wajah Rychelle langsung memerah mendengar ucapan Teysar yang menurutnya tidak harus dibicarakan karena ini justru membuatnya sangat malu.
"Kak Tey mulai parno deh." keluh Rychelle membuat Teysar hanya terkekeh.
"Tapi nanti parno sama istri sendiri boleh kan?" goda Teysar lagi.
"Au ah. Ngeselin deh." Rychelle yang semakin malu pun membuang mukanya keluar jendela.
Sedangkan Teysar hanya mengulum senyumnya melihat Rychelle yang tampak mengemaskan sambil mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di rumah, bunda Teysar yang sudah menunggu mereka di teras pun langsung menyambut kedatangan Rychelle.
"Akhirnya anak cantik bunda sampai juga. Masuk yuk, Bunda udah masak makanan kesukaan kamu loh." ucap bunda Teysar sambil mengamit lengan Rychelle.
"Thanks a lot bunda." Jawab Rychelle sambil memeluk lengan bunda Teysar. "Rychelle juga pingin banget bikin masakan buat bunda. Tapi tugas Rychelle masih padat banget."
"Bunda juga paham sayang, yang penting anak bunda tetap jaga kesehatan sesibuk apapun."
Teysar yang berjalan di belakang mereka pun merasa sangat bahagia melihat kedekatan bunda dan calon istrinya. Pemandangan di depannya membuatnya sangat bersyukur dan merasa kebahagiaannya benar-benar sudah lengkap.
Makan malam kali ini benar-benar terasa sangat hangat. Rychelle benar-benar sudah seperti menantu di keluarga BrigJen Aris. Tidak hanya bunda Teysar yang sangat menyayanginya, BrigJen Aris pun juga sudah menganggap Rychelle seperti anaknya sendiri.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, meski sudah 2 jam Rychelle menghabiskan waktu bersama keluarga Teysar, tetapi tetap saja terasa masih sangat kurang.
"Rychelle, kamu tetap harus jaga kesehatan yaa." pesan bunda Teysar.
"Seharusnya seminggu sebelum nikah itu kamu dipingit loh sayang." lanjutnya lagi sambil mengusap kepala Rychelle.
"Bunda, jangan lebay deh. Rychelle itu bekerja untuk negara dan tugasnya memang sangat padat." tukas BrigJen Aris yang saat ini juga turut andil dalam misi besar Rychelle.
"Trus nanti bulan madunya juga ditunda hanya untuk tugas dan misinya?" tanya Bunda Teysar yang kurang setuju Rychelle terus menerus berkutat dengan tugasnya, terlebih ia sangat mendambakan seorang cucu.
"Bunda juga kan butuh menghabiskan waktu berdua dengan menantu cantik bunda." lanjutnya lagi.
Berkali-kali bunda Teysar menginginkan Rychelle istirahat di rumah dan bermanja-manja dengannya di salon atau menghabiskan waktu untuk shopping bersama ke Mall.
"Tenang saja bunda, Rychelle akan mengagendakan waktu khusus untuk bunda setelah Rychelle menikah nanti." ucap Rychelle yang seketika membuat mata bunda Teysar berbinar.
Akhirnya Rychelle pun berpamitan dan pulang ke rumahnya diantar oleh Teysar.
Jalanan kota malam ini sudah sangat sepi. Rychelle pun mulai menguap berkali-kali sambil berusaha menahan kantuk nya.
"Tidur aja kalo udah ngantuk, nanti kalau udah sampai kakak bangunin." ucap Teysar.
Rychelle pun akhirnya memejamkan matanya karena benar-benar sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya. Sedangkan Teysar masih terjaga karena ia memang sudah terbiasa melakukan patroli malam.
Namun tiba-tiba kaca mobilnya bagian depan dilempari beberapa butir telur dari mobil yang baru saja manyalip mobilnya.
Prak!
Prak!
Prak!
Suara pecahan telur di kaca mobil membuatnya waspada dan tidak panik meskipun saat ini ia tidak bisa melihat jalanan di depannya sama sekali. Ia pun kemudian menepikan mobilnya untuk mengecek siapa yang sudah berusaha menghadangnya di tengah jalan.
...☘️☘️☘️...
Mohon dukungannya ya semua untuk karya receh Author 😍😍😍