Complicated Mission

Complicated Mission
I Found You



"Kita langsung menuju ke Pulau seberang ya Rachel. Kita akan menyelesaikan beberapa urusan di sana." ucap Molly saat mobil yang mereka tumpangi tiba di dermaga.


"Oh, bukankah kapal menuju ke sana hanya ada setiap jam 5 pagi, Miss?" tanya Rachel saat ia melihat ada satu speedboat khusus yang disiapkan untuk mereka berdua.


"Hari ini aku memesannya khusus karena kita harus segera bekerja setelah sampai di sana." jawab Molly memberikan alasan kepada Rachel.


Rachel pun hanya mengangguk sambil mengikuti langkah Molly menuju speedboat yang sudah siap di tepi dermaga.


"Terima kasih sudah berkenan menjemput kami, Om Ryan." ucap Molly menyapa nahkoda yang kini sedang membelakangi dirinya dan juga Rachel.


"Kita langsung berlabuh saja ya Non Molly dan ..." nahkoda tersebut terdiam saat membalikkan badannya dan bersitatap dengan Rachel.


Rychelle pun langsung merasakan sesak di dadanya saat melihat orang yang berdiri di depannya dan kini sedang menjemputnya adalah Ryan One, ayahnya.


"Kenalkan ini Rachel Ortisia, asisten saya yang akan membantu pekerjaan saya di sana nanti." Molly mengenalkan Rachel kepada Ryan One.


Ryan pun langsung berbalik dan siap untuk mengemudikan speedboatnya tanpa menyapa Rachel sama sekali.


'Ayah. Akhirnya aku menemukanmu.' gumam Rychelle dalam hati sambil menahan rasa sesak dalam dadanya. Mata Rychelle mulai berkaca-kaca dan wajahnya terus menghadap ke lautan lepas.


...⛵⛵⛵...


Sesampainya di dermaga, Rychelle langsung diajak menuju ke Cottage yang lebih menjorok ke dalam dan jauh dari dermaga.


"Rachel, kita akan bertemu dengan seseorang setelah makan siang di sini. Kamu bisa beristirahat dulu di kamar." ucap Molly menunjukkan kamar untuk Rachel.


"Baik Miss. Terima kasih." ucap Rachel sambil mendorong kopernya menuju ke kamar.


"Oh iya Rachel. Bisa aku pinjam ponselmu." pinta Molly dan Rachel pun langsung menyerahkan ponselnya pada Molly tanpa ba bi bu lagi.


"Terima kasih Rachel, aku hanya ingin memastikan kau tidak mengaktifkan ponselmu dan fokus bekerja."


Rachel hanya tersenyum dan mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Pertama kali yang ia telisik adalah CCTV di kamarnya. Matanya terus berputar memeriksa sekelilingnya dan tidak ada CCTV sama sekali.


Setelah semuanya aman, Rychelle langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil mengetikkan pesan untuk kakaknya.


'Aku sangat paham bahwa ini adalah saat yang paling berbahaya untukku. Tapi setidaknya aku bisa bertemu dengan ayah dan menanyakan bagaimana kabarnya. Tidak hanya itu, aku juga ingin memberi kabar bahwa bunda sudah lama meninggal dan Kak Rychand kini sudah menikah.' gumam Rychelle dalam hati.


'Ayah, semoga kita dapat bertemu meski sebentar saja.'


...🍂🍂🍂...


Sedangkan di sisi lain, Ryan One sedang gusar di kamarnya sambil berjalan mondar mandir.


'Rychelle ku masih hidup. Dia sangat cantik seperti Oliv, bundanya. Oliv, bagaimana kabarnya sekarang? Sudah 6 tahun aku di tahan disini dan sama sekali tidak tahu bagaimana kabar keluargaku.' gumam Ryan dalam hati.


Pikirannya sangat kalut saat melihat Putrinya datang bersama Molly Ran, anak sahabatnya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk memenuhi kepalanya. Mulai bagaimana Rychelle mengenal Molly, apa yang membuatnya bisa datang ke pulau ini, dan bahkan yang ditakutkan oleh Ryan adalah apa alasan Tuan Jerry, bandar narkoba di pulau tersebut memintanya untuk menjemput Molly dan juga Rachel secara khusus.


Ia paham betul siapa Tuan Jerry yang dengan mudahnya akan membunuh seseorang yang membuat bisnisnya terhambat.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dan Ryan langsung membuka pintu kamarnya.


"Nak Chicko, akhirnya kau datang juga." ucap Ryan yang langsung menarik Chicko masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang membuat anda memanggil ku, paman?" tanya Chicko kemudian.


"Katakan padaku, siapa wanita yang ingin kau bawa padaku beberapa hari yang lalu?" tanya Ryan One mengingat Chicko pernah ingin membawakan seorang wanita kepadanya.


"Dia Rachel Ortisia, asisten dari Alarick Berwyn. Aku rasa dia orang yang dekat dengan anda, paman. Karena aku tidak sengaja melihat fotonya di dompet anda waktu itu." jelas Chicko membuat Ryan One sangat terkejut.


Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Chicko yang selama ini berbuat baik padanya ternyata sudah menemukan Putrinya terlebih dahulu. Tapi yang menjadi pertanyaan Ryan saat ini adalah, kenapa Putrinya mengganti namanya menjadi Rachel Ortisia.


"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Chicko kemudian.


"Aku melihat putriku datang bersama Molly Ran." jawab Ryan yang kali ini membuat Chicko sangat terkejut.


"Bahkan, aku sendiri yang menjemputnya secara khusus ats perintah dari Tuan Jerry."


"Berarti benar dugaanku jika Rachel Ortisia adalah putri anda?" tanya Chicko dan Ryan One langsung menganggukkan kepalanya.


"Aku akan mencari tahu alasan kedatangan Rachel dengan Molly kali ini. Tenanglah paman, aku usahakan untuk membawanya bertemu dengan anda."


"Jangan Chicko!" tolak Ryan One. "Itu sangat berbahaya."


"Aku akan mencari waktu yang tepat." balas Chicko Praya sambil meninggalkan Ryan One.


Chicko langsung berjalan ke arah Cottage dimana Molly dan juga Rachel ada di sana. Ia langsung mengerutkan dahinya saat melihat Cottage tersebut dijaga oleh beberapa orang di sekelilingnya.


"Apa sebenarnya yang sudah terjadi di sini?" gumam Chicko yang kemudian menghubungi asistennya.


"Halo Bayu."


"..."


"Cari tahu alasan kedatangan Molly Ran dan juga Rachel ke pulau ini."


"..."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Setelah panggilan terputus, Chicko langsung melangkahkan kakinya menuju gedung khusus yang ada tepat di tengah pulau sesuai arahan Bayu.


"Tuan Chicko, untung anda cepat datang kemari. Rachel Ortisia sedang dalam bahaya besar, Tuan." ucap Bayu yang langsung menemui Chicko di luar gedung.


"Katakan apa yang terjadi!"


"Molly Ran mengirim narkoba atas nama Rachel, dan enam orang yang membeli barang Molly kini tertangkap polisi. Tadi aku lihat Molly Ran datang dan menyerahkan nama Rachel Ortisia sebagai orang yang akan ditembak mati oleh Tuan Jerry. Kemungkinan malam ini proses penembakan itu akan dilaksanakan di belakang gedung ini." jelas Bayu membuat Chicko mengepalkan tangannya.


"Sial! Molly sudah berani menjadikan Rachel sebagai tumbal atas kebodohan dirinya sendiri." umpat Chicko yang langsung melangkahkan kakinya menuju gedung tersebut.


"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Bayu menahan langkah Tuannya.


"Aku harus menemui Jerry untuk membicarakan semua ini." jawab Chicko.


"Lebih baik jangan, Tuan. Ini juga akan membahayakan diri anda." cegah Bayu mengkhawatirkan nyawa Tuannya.


Sayangnya Chicko tetap menuju ke gedung dan menepis tangan Bayu yang menahannya.


"Lebih baik kau cek kondisi Rachel dan pastikan dia baik-baik saja." ucap Chicko memberi perintah.


...🍹🍹🍹...


Sambil menunggu kelanjutannya, mampir yuk ke Novel temen Author. Di jamin seru banget ceritanya.


Nama Pena: SyaSyi


Judul Novel : Goresan Luka



Blurb :


Pernikahan adalah sebuah impian setiap orang, tetapi bagaimana rasanya kalau kita menikah dengan orang yang salah? Perkenalan yang begitu singkat membuat Anindya tak mengenal jelas sosok Argantara suaminya. Niat hati ingin mendapatkan kebahagiaan, dia justru mendapatkan goresan luka yang dibuat oleh sang suami. Lantas, siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mungkinkah takdir tak berpihak kepadanya?


Anindya Saputri, wanita berusia 24 tahun yang harus merasakan luka dan penderitaan yang mendalam dalam pernikahannya. Pernikahan tak seperti dalam bayangannya. Dia telah salah dalam memilih suami. Argantara bukanlah suami yang baik untuknya. Banyak rahasia yang belum terungkap.


"Aku cape, harus terus terlihat bahagia di depan semua orang. Menutupi kelakuan kamu!"


-Anindya Saputri-


"Aku yakin kamu akan selalu mempertahankan aku dan tak akan pernah pergi meninggalkan aku."


-Argantara Wijaksono-


Rahasia apa yang dimiliki Argantara? Akankah Anindya tetap mempertahankan pernikahannya?