Complicated Mission

Complicated Mission
Perkelahian Tak Terelakkan



Akhirnya Alarick dengan berat meninggalkan cottage Jerry. Namun ia tidak langsung masuk ke dalam cottage bersama Molly melainkan duduk di teras cottage sambil menikmati udara malam.


"Kamu gak lelah, Al?" tanya Molly.


"Gak." jawab Alarick singkat. "Kamu tidur aja dulu."


"Al, kamu mikirin apa sih?"


"Ck, sudahlah Molly. Lebih baik kau masuk ke dalam kamar dan istirahat. Aku hanya ingin menikmati udara malam sendirian." jawab Alarick yang tampak tidak suka dengan keberadaan Molly di dekatnya.


Dengan kesal Molly menghentakkan kakinya sambil masuk ke dalam cottage dan menutup pintu kamar dengan sangat kencang. Jdarr!!!


Setelah Molly masuk ke dalam kamarnya, Alarick mendengar suara teriakan Rachel di Cottage Jerry dan membuat Alarick melangkahkan kakinya untuk mendekat ke asal suara. Ia pun berdiri tepat di jendela cottage dan mendekatkan telinganya.


"Jangan sentuh aku atau anda akan menyesal, Tuan!" teriak Rachel lagi membuat Alarick langsung mendidih.


Tanpa berfikir panjang, Alarick langsung menerobos masuk ke dalam Cottage Abangnya dan mendobrak kamar Jerry.


Brakkk!


Mata Alarick membulat sempurna dengan pemandangan tidak senonoh di depannya. Terlihat Abangnya kini berada di atas tubuh Rachel yang masih menggunakan pakaian lengkap namun tangan dan kakinya terikat di setiap tepi ranjang.


"Apa yang sudah kau lakukan terhadap Rachel, Bang?" tanya Alarick yang langsung menarik tubuh Jerry.


Kini Rachel pun akhirnya bisa bernafas lega dengan kedatangan Alarick. Setidaknya malam ini ia terlepas dari kegilaan Jerry yang entah kenapa sangat terobsesi dengannya.


"Kenapa kau selalu ikut campur dengan urusanku, Al?" Jerry menepis tangan Alarick yang masih menarik bajunya yang ia kenakan.


"Selalu kau bilang? Bahkan aku tidak pernah mencampuri apa yang menjadi urusanmu, Bang!" jawab Alarick dengan nada suara yang tinggi.


"Saat ini kau yang ikut campur dengan urusanku karena berbuat semena-mena terhadap asisten Pribadi ku." timpal Alarick lagi sambil beranjak membuka ikatan di tangan Rachel.


"Stop, Al! Jangan pernah menyentuhnya sedikit pun karena saat ini Rachel adalah tawanan ku dan bukan lagi asisten Pribadi mu." Kali ini Jerry yang menarik tubuh Alarick agar menjauh dari wanitanya.


Akhirnya perkelahian antara keduanya pun tak terelakkan. Alarick mulai menyerang Abangnya sendiri dan Jerry pun membalas pukulan Alarick bertubi-tubi. Melihat Alarick mulai kalah melawan Abangnya sendiri, Rachel pun berteriak untuk melerai perkelahian mereka.


"Stop it please!" Teriak Rachel dengan kencang. "Atau aku akan membenci kalian berdua."


Kata-kata Rachel barusan seketika menghentikan perkelahian mereka.


"Mr. Alarick. Aku membenarkan kata-kata Tuan Jerry bahwa saat ini aku adalah tawanan nya dan bukan lagi asisten pribadi anda." lanjut Rachel membuat Jerry langsung menarik bibirnya Dan tersenyum lebar.


"Tapi Rachel..."


"Kembali lah ke Cottage anda dan tinggalkan kami berdua. Anda sama sekali tidak berhak atas diriku lagi." Rachel kali ini memotong ucapan Alarick membuat Alarick mengerutkan dahinya tidak percaya.


"Rachel..."


"Kau tidak dengar ya, wanita ku memintamu untuk meninggalkan aku dan dia." ucap Jerry menarik lengan Alarick dan membawanya keluar dari cottage nya.


"Aku mohon jangan sakiti Rachel, Bang." pinta Alarick saat Jerry hendak menutup pintu cottage nya.


"Kenapa?"


"Karena aku sangat mencintai, Rachel." jawab Alarick dengan jujur.


Sayangnya jawaban Alarick kali ini membuatnya semakin naik pitam dan menutup pintu Cottage dengan sangat kencang.


"Sial! Benar-benar sial! Kenapa dia harus mencintai wanita yang sangat aku cintai!" gumam Jerry sambil meninjukan kepalan tangannya ke dinding.


Perlahan Jerry menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk sedikit meredam amarahnya. Ia pun kembali menyalakan rokoknya dan duduk menyandarkan tubuhnya di sofa. Jerry pun memejamkan matanya sambil berfikir keras.


'Aku tidak boleh kalah dengan Alarick. Sebisa mungkin aku harus meluluhkan hati Achiel agar dia juga membalas perasaanku.' gumam Jerry sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Dilihatnya Rachel sudah tertidur dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Rasa iba menyelimuti Jerry dan membuatnya bergegas melepaskan ikatan di tangan Rachel dan juga kakinya. Bekas ikatan itu tampak memerah karena Rachel pasti terus bergerak agar ikatan itu terlepas.


"Maafkan, aku Rachel. Aku sudah menyakitimu." ucap Jerry sambil mengusap kepala Rachel dengan sangat lembut.


Tanda lahir Rachel yang sedikit berbentuk hati itu makin menguatkan dugaan Jerry jika wanita yang ada di hadapannya adalah Achielnya.


"Tuan." ucap Rachel sambil beringsut mundur dan menjauh dari Jerry.


"Jangan menjauh, Achiel ku. Aku mohon." pinta Jerry yang kemudian merebahkan tubuhnya di samping Rachel.


"Maafkan aku, Achiel." ucapnya lagi sambil memandang sendu ke arah Rachel.


"Achiel?" Rachel mengernyitkan dahinya dan langsung menggelengkan kepalanya. "Anda pasti salah orang, Tuan. Aku bukan Achiel, namaku Rachel."


Lagi-lagi ucapan Rachel kali ini mengingatkan Jerry saat Achielnya masih balita.


Flashback ON


Rychelle memegangi lututnya yang berdarah karena terjatuh karena dikejar oleh Jerry.


"Maaf Achiel, kau terjatuh karena aku mengejar mu. Aku hanya ingin memelukmu saja." ucap Jerry sambil berjongkok dan siap untuk menggendong Rychelle.


"Abang salah, Aku bukan Achiel. Namaku itu Ichel." jawab Rychelle kecil.


"Siapapun namamu, yang jelas kau adalah Achiel kesayanganku." tukas Jerry sambil menggendong Rychelle,


"Pokoknya bukan Achiel."


Flashback OFF


Jerry pun tersenyum mengingat kenangannya bersama Achiel kecil.


"Siapapun namamu, yang jelas kau adalah Achiel kesayanganku." ucap Jerry dan Rachel hanya mendengus kesal.


"Aku benar-benar tidak faham dengan anda, Tuan. Sebenarnya apa yang anda inginkan dariku?" tanya Rachel.


"Mengapa anda juga bersikukuh menganggap aku adalah Achiel?"


Jerry menyunggingkan senyumannya tanpa menjawab pertanyaan Rachel.


"Sekarang katakan siapa nama ayah kandungmu?" pinta Jerry.


"Ck, ditanya malah balik nanya sih." gerutu Rachel. "Babe aku itu namanya Tedjo Orlando, makanya aku dikasih nama Rachel Ortisia, karena nama emakku Titis dan kakakku Ria." jawab Rachel.


Jerry kembali tercenung mendengar jawaban Rachel yang jauh dari dugaannya. Melihat Jerry terdiam dan melamun, Perlahan Rachel turun dari tempat tidur dan mangambil kotak P3K.


"Duduklah, Tuan. Biar aku obati luka anda." ucap Rachel dan Jerry menurut begitu saja. Dengan telaten Rachel mengobati luka di bibir dan Pelipis Jerry.


'Kenapa dia tidak mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Ryan One? Bahkan dia juga menyebutkan nama kakak perempuan dan bukan kakak laki-laki.' gumam Jerry dalam hati sambil mengamati Rachel lekat-lekat.


'Apa dia sudah berbohong kepadaku? Tetapi dia tampak biasa saja saat bertemu dengan Paman Ryan seolah mereka memang tidak saling mengenal sebelumnya.' batin Jerry dengan perasaan berkecamuk di dalam hatinya.


"Tuan, Istirahatlah. Kau tampak sangat lelah." ucap Rachel.


"Tidurlah bersamaku, malam ini saja. Aku tidak akan menyentuh. Aku berjanji." pinta Jerry.


Akhirnya mau tidak mau Rachel pun menganggukkan kepalanya.


...☘️☘️☘️...


Untuk hari ini sampai di sini dulu yaa, besok Author UP 3 bab lagi.


Nah sambil menunggu Up, mampir dulu yuk ke karya bestie aku yang dijamin Novelnya seru dan keren.


Nama Pena : Mom Al


Judul Novel : Lady Devil