
Selama dalam perjalanan menuju ke kantor, Rychand mengobrol dengan ayahnya tentang sikap jutek Rychelle pagi ini. Terlebih saat mereka membahas tentang Teysar.
"Apa Rychelle sering uring-uringan kayak tadi?" tanya Ryan One yang merasa sangat tidak nyaman melihat sikap putrinya acuh dengannya.
"Bisa dibilang jarang dan hampir tidak pernah, ayah." jawab Rychand sambil fokus mengendarai mobilnya. "Meski dia anak yang keras kepala, dia tidak bersikap acuh seperti tadi."
"Rychelle sudah lama mengetahui jika Teysar menyukainya, tetapi dia juga tetap bersikap biasa, tidak sejutek pagi ini." jelas Rychand yang sangat hafal dengan karakter adik perempuannya.
Namun kali ini ia juga bingung kenapa Rychelle berubah dan tidak bersikap seperti biasanya.
"Ayah rasa dia tidak begitu suka disandingkan dengan Teysar. Bisa jadi ia memang benar-benar mencintai Alarick, hanya saja dia masih enggan untuk mengatakannya pada kita."
Ucapan Ryan One kini membuat Rychand tertegun. Ia kembali teringat saat istrinya bercerita bahwa Rychelle mencintai putra dari Ludolf Berwyn itu. Rychand pun membuang nafasnya kasar. Kini keduanya sama - sama terdiam sampai mereka tiba di kantor polisi.
Ryan One langsung bergegas menuju ke ruangan kerjanya, sedangkan Rychand justru terlebih dahulu mengecek keadaan Alarick bersama Avega di dalam bui.
"Hai Al, apa kabar?" tanya Rychand menyapa Alarick yang tampak sangat segar sehabis mandi.
"Baik, Komisaris Rychand."
"Tidak perlu seformal itu, Al. Toh usia kita hampir sama. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, apa Rychelle sudah menemuimu di sini?"
Pertanyaan Rychand kali ini membuat Alarick tercenung. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia saat Rychelle bertemu dengannya yang saat ini mengenakan baju narapidana.
"Aku harap dia tidak menemui ku saat ini maupun ke depannya." jawab Alarick meskipun jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan Rychelle.
'Ternyata Rychelle sama sekali tidak menemui Alarick di sini. Baguslah kalau begitu, semoga ia bisa memilih mana lelaki yang pantas untuk bersanding dengannya.' gumam Rychand dalam hati.
Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar Rychelle dan juga Teysar yang sempat diabadikan oleh istrinya.
"Oh iya Alarick, aku hanya ingin memperlihatkan calon suami Rychelle. Mohon doa restunya ya agar pernikahan mereka nanti lancar."
Wajah Rychand seketika pias menahan gejolak api cemburu di dalam dadanya. Posisi Teysar di pangkuan Rychelle adalah posisi yang sangat ia sukai saat bersama dengan Rychelle.
Ingatannya langsung kembali di moment saat Rychelle mengusap kepalanya dengan sangat lembut yang seketika mampu menghilangkan segala penat yang ada dalam fikirannya.
Tapi kini lelaki yang ada di ponsel Rychand tampak mengakuisisi Rychelle seperti miliknya. Terlebih kedua tangan mereka saling berpegangan dan Rychelle juga tampak sangat nyaman bersama Teysar.
Sekuat mungkin Alarick menyembunyikan rasa cemburunya di depan Rychand dengan tersenyum. "Selama untuk Rychelle, semoga dia bahagia bersama dengan lelaki pilihannya."
Rychand pun menepuk bahu Alarick. "Thanks ya bro. Mereka memang sangat serasi. Kemungkinan pernikahan mereka akan dihelat setelah kenaikan pangkat Rychelle." jelas Rychand membuat Alarick benar-benar tidak memiliki harapan lagi untuk menggapai cintanya.
Setelah Rychand menunjukkan foto Rychelle dengan Teysar tadi malam, ia pun bergegas meninggalkan sel Alarick dan memulai tugasnya. Sedangkan Alarick dengan geram meninjukan tangannya ke dinding sel sampai tangannya mengeluarkan darah.
"Kenapa dia begitu tega mempermainkan perasaanku?" gumam Alarick dengan suara yang lirih.
Avega pun mendekat ke arah Alarick dan sedikit menghiburnya.
"Aku pun sangat mencintai Rachel, bahkan saat pertama kali aku bertemu dengannya, Bang. Tapi kali ini aku harus menepis jauh-jauh perasaan itu karena status kita sangat berbeda jauh."
"Sadarlah Bang, kita hanyalah seorang narapidana." ungkap Avega membuat Alarick terdiam membisu tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan karena hatinya pun membenarkan apa yang sudah Avega ucapkan.
Untuk meredam segala amarahnya, ia pun mengambil bukunya dan meluaskan segal kekecewaannya di dalam tulisan.
...📖📖📖...
Kali ini aku sangat menyesal sudah bertemu kembali denganmu, mengenalmu, dan memiliki perasaan khusus terhadapmu, Rychelle Olyvia.
Kau pembohong!
Kau penipu ulung yang sudah berhasil melukai hatiku!
Aku pikir sorot matamu mengatakan jika kau juga mencintaiku, Rychelle. Ternyata aku salah besar. Karena Sorot mata dan bahasa tubuhmu juga sangat pandai mengelabui perasaanku.
Aku marah!
Aku sangat benci melihatnya, terlebih kalian tampak sangat romantis dengan saling berpegangan tangan.
Cintaku benar-benar bagai air susu yang dibalas dengan air tuba. Segala ketulusan dan kesungguhan ang aku berikan justru kau balas dengan tipuan dan jebakan yang mematikan.
Terima kasih sudah menancapkan pisau yang sangat tajam ke hatiku. Kau hanya wanita yang cantik, namun sangat bengis, Rychelle. Dan dengan bodoh nya, aku mencintai wanita bengis sepertimu.
Awalnya memang tidak sedikit pun terlintas rasa kecewa dalam hatiku. Namun kali ini aku benar-benar sangat kecewa dengan segala apa yang ada padamu. Aku sangat membencimu, Rychelle.
...📖📖📖...
Setelah selesai menulis di dalam bukunya, kini Alarick meletakkan bukunya secara sembarangan dan mengikuti acara pelatihan khusus yang diberikan untuk para narapidana.
Tepat saat Alarick dan juga Avega meninggalkan sel nya, sipir penjara dengan sigap mengambil buku Alarick dan langsung mengambil gambarnya.
Tanpa menunggu lama, apa yang baru saja Alarick tulis langsung ia kirim ke nomor ponsel Rychelle.
...🎀🎀🎀...
Rychelle yang baru saja hendak bersiap untuk berangkat ke kantor, akhirnya menunda keberangkatannya hanya untuk melihat apa yang baru saja di tulis oleh Alarick.
Rychelle yang sudah mulai terbiasa memecahkan sandi yang ditulis Alarick tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca apa yang sudah ditulis oleh lelaki yang sangat ia cintai.
"Whatttt?!!"
"Bagaimana mungkin Mas Arick tahu jika semalam Kak Teysar tidur di pangkuanku?"
"Bahkan ia juga tahu jika aku dan Kak Teysar saling berpegangan tangan." gumam Rychelle sambil mula menebak-nebak siapa yang sudah memberi tahu Alarick tentang semua itu.
'Apa mungkin Kak Teysar yang memberi tahu Mas Arick?' tanya Rychelle dalam hati.
Namun cepat - cepat menepis dugaanya kali ini. "Pasti Kak Rychand yang sudah memberi tahunya." tebak Rychelle dengan mantap dan kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui Citra.
Rychelle harus memastikan kepada Citra apa yang sudah terjadi dengannya dan Teysar tadi malam.
"Kak Citra." panggil Rychelle sambil menghentikan tangan Citra yang sedang membersihkan kaca.
"Tolong kasih tau aku apa yang sudah terjadi tadi malam!" pinta Rychelle.
"Antara kamu sama Teysar?"
Rychelle pun langsung menganggukkan kepalanya. Akhirnya Citra pun bercerita saat Rychelle dan Teysar sama - sama tertidur dengan saling berpegangan tangan.
"Kalian sangat romantis dan serasi, Rychelle. Jadi aku mengabadikan moment romantis itu dengan mengambil gambar kalian berdua." jelas Citra mengakui apa yang sudah ia lakukan.
Rychelle mengusap wajahnya dengan kasar dan memperlihatkan wajahnya yang sangat kesal.
'Sudah jelas sekarang. Ini semua pasti kerjaan Kak Rychand yang sengaja memperlihatkan fotoku dengan Teysar tadi malam.' batin Rychelle geram.
Ia pun langsung berbalik meninggalkan Citra begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Entah mengapa kali ini Rychelle merasa kecewa dengan sikap Abang dan juga kakak iparnya.
"Aku harus menjelaskan semua ini dengan Mas Arick. Aku tidak mau ia salah sangka."
...🎋🎋🎋...
Mohon maaf ya baru up malam ini dan cuma satu bab. Insya Allah besok up lagi ya Guys.
Sekarang waktunya promosiin karya keren punya bestie aku ya. Judulnya Asmara Turun Ranjang Karya Lichalika