
Sesampainya di pulau rahasia, Rychelle diperlihatkan pemandangan yang sangat indah di pinggir dermaga. Nampak matahari yang akan terbit dengan pancaran warna-warna sangat indah di ufuk Timur. Terlihat juga beberapa restoran yang dilengkapi saung-saung klasik di sekelilingnya yang mulai penuh dengan orang-orang yang ingin menikmati sunrise di tepi pantai.
"Aku sudah memesan satu saung untuk menikmati sunrise." ucap Alarick yang langsung menarik tangan Rychelle menuju saung di ujung dermaga.
Rychelle mengikuti langkah kaki Alarick dengan membiarkan tangannya digenggam oleh atasannya sendiri. Jika beberapa kali ini Rychelle selalu menolak, tapi tidak untuk saat ini karena ia mulai menikmati kehangatan dari Alarick.
Debaran antara mereka berdua kini bercampur dengan suara deburan ombak yang bergulung-gulung menuju tepi pantai. Sesampainya di saung, keduanya langsung duduk berdampingan tanpa jarak dan mulai menikmati sunrise yang perlahan-lahan menampakkan dirinya.
Tanpa Rychelle sadari, tangan Alarick kini sudah melingkar di bahu Rychelle dan membuat jarak keduanya semakin dekat. Sedangkan Rychelle tampak sangat menikmati sunrise di hadapannya.
"Sangat indah, bukan?" tanya Alarick.
"Ya, ini sangat indah dan saya sangat menyukainya." ucap Rychelle tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi ada yang lebih indah dari pada itu, Rachel." ucap Alarick.
"Benarkah?" tanya Rychelle menoleh ke arah Alarick.
Kini Rychelle baru tersadar jika dia dan atasannya sudah tidak berjarak sama sekali. Bahkan hembusan nafas Alarick begitu terasa menyapu wajahnya.
"Tentu saja," jawab Alarick. "Jika matahari yang terbit itu sangat indah, tetap saja sangat sulit untuk aku gapai. Tapi ada yang teramat indah bagiku sekarang, Rachel. Meskipun nantinya akan sulit untuk aku gapai, tetap saja bukan hal yang mustahil untuk aku dapatkan."
Rychelle seperti terpaku dengan ucapan Alarick yang sangat dekat dengannya.
"Dan keindahan itu terdapat pada dirimu, Rachel." ucap Alarick yang sudah tidak mampu menahan untuk mengutarakan perasaannya pada Rychelle.
Blush! Seketika wajah Rychelle merona dengan apa yang diucapkan oleh Alarick barusan. Cepat-cepat ia berpaling ke samping untuk menyembunyikan wajahnya dari Alarick.
Sayangnya dengan cepat Alarick memegang dagu Rychelle dan membuatnya tetap memandang atasannya. "Maaf Mr. Saya datang hanya untuk bekerja. Tidak lebih." ucap Rychelle menutupi perasaan yang sesungguhnya.
'Aku tidak boleh terkecoh dengan semua hal gila ini. Jangan sampai terbawa dalam perasaan, Rychelle. Sadarlah, jika apa yang diucapkan Mr Alarick hanya candaan sementara. Kamu harus fokus dengan misimu, Rachel.' batin Rychelle terus mengingatkan dirinya sendiri. Rychelle menatap netra Alarick dengan menepiskan rasa istimewa dalam relung hatinya.
Mendengar ucapan Rychelle barusan membuat Alarick mengernyitkan dahinya. "Bagaimana jika aku memintamu untuk lebih dari bekerja?" tanya Alarick.
Rychelle sedikit mendorong tubuh Alarick ke belakang. "Maaf Mr. Bukankah dari awal anda sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan saya?" tanya Rychelle mengingatkan Alarick dengan Apa yang sudah ia ucapkan.
Alarick pun mengusap wajahnya kasar. Ia mulai teringat bahwa Rychelle meminta dirinya untuk berjaga jarak dengan alasan tidak ingin Molly salah sangka.
"Tapi kita belum membicarakannya terkait aturan dan batasan yang kau inginkan, Rachel." sanggah Alarick.
"Baiklah, kalu begitu bagaimana jika kita bicarakan sekarang juga?" ajak Rychelle.
"Jangan sekarang! Emm, karena aku sangat ingin mandi dan beristirahat. Setelah itu kita baru bisa bicarakan mengenai aturan antara kita. Baru nanti kita mengambil obat papi dan bersiap untuk pulang." jawab Alarick yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Rychelle begitu saja.
Sedangkan Rychelle hanya memandangi kepergian Alarick tanpa mengikutinya sama sekali. Saat mengetahui Rychelle tidak mengejarnya, Alarick pun menghentikan langkahnya dan berbalik memanggil Rychelle.
"Rachel!" teriak Alarick dan Rychelle langsung berlari memenuhi panggilan atasannya.
"Ya, Mr."
"Ikut denganku atau kau akan hilang di pulau kecil ini." ucap Alarick.
Rychelle yang tadinya masih sangat ingin menikmati suasana di tepi pantai, mau tidak mau pun mengikuti langkah Alarick menuju ke Cottage.
...🍀🍀🍀...
Sedangkan di sisi lain, Avega yang mengetahui Rychelle pergi ke Pulau bersama Alarick langsung uring-uringan di dalam kamar. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan nampak Molly masuk ke dalam kamar adiknya.
"Tumben masih di kamar aja. Biasanya udah ngeluyur kemana-mana." ucap Molly yang kemudian duduk di sofa kamar Avega.
"Panggil dia Abang. Usianya jauh lebih tua dari pada kamu Avega." protes Molly mendengar adiknya memanggil tunangannya hanya dengan sebutan namanya saja.
"Lagi pula Alarick pasti akan bersikap dingin terhadap Rachel dan aku yakin tidak akan terjadi apa pun terhadap mereka berdua." tambah Molly.
"Rachel capek kak. Kenapa bukan kakak aja yang ikut sama Bang Al?" tanya Avega yang masih belum terima Rychelle pergi bersama Alarick.
"Aku juga lelah. Bahkan pergi bersama Al lebih melelahkan karena ia selalu bersikap dingin terhadapku. Hanya sekedar untuk berpegangan tangan saja dia selalu menolak." ucap Molly.
"Jangan khawatir, Avega. Aku akan memberikan bonus untuk Rachel setelah kembali nanti."
"Ck, aku hanya cemburu membayangkan Rachel berlibur dengan tunangan kakak."
Seketika Molly langsung tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha. Kau hanya membayangkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi, Avega."
"Tidak akan mungkin seorang Alarick Berwyn tergoda dengan seorang wanita sekelas Rachel."
"Kakak merendahkan, Rachel?" tanya Avega dengan nada bicara tidak terima.
"Ups! bukan itu maksudku, Avega. Yah kamu tahu sendiri lah bagaimana sikap dingin Alarick kepada semua wanita. Itu membuktikan bahwa Rachel tidak perlu untuk kau cemburui saat ia pergi bersama Al." jelas Molly.
"Bagaimana jika dugaan kakak salah dan mereka menikmati kebersamaan mereka berdua?" tanya Avega.
"Adik laki-lakiku ini ternyata sangat lucu ya saat jatuh cinta. Jika kau masih khawatir, berarti kau sendiri yang menganggap Rachel mudah untuk tergoda seorang pria." tukas Molly.
"Aku tidak mengkhawatirkan Rachel, aku justru khawatir Bang Al tunangan kakak itu menggoda gebetan aku." sanggah Avega.
"Dan itu sangat tidak mungkin. Sudahlah jika kau tidak percaya, lebih baik nanti kita yang menjemput mereka di dermaga untuk memastikan semua dugaanmu yang salah. Bagaimana?" tawar Molly.
"Oke. Siapa takut?!" jawab Avega.
Molly pun keluar dari kamar Avega dan mengirim pesan untuk Alarick.
Sayangnya beberapa pesan Molly sama sekali tidak dibalas dan bahkan tidak dibaca sama sekali oleh Alarick. Molly pun tidak putus asa. Ia langsung mendial nomor ponsel Alarick dan ternyata ponsel Alarick tidak aktif sama sekali.
"Huft, selalu saja seperti ini. Kenapa sih Al kamu susah banget untuk dihubungi?" gerutu Molly sambil melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
"Oh iya, lebih baik aku menghubungi Rachel dan menanyakan Alarick dengannya." gumam Molly dan mengambil lagi ponselnya.
"Hallo Rachel, kau sedang apa sekarang?"
"..."
"Hemm, sebenarnya aku ingin menanyakan perihal Alarick padamu. Apa dia sedang bersamamu?"
"..."
"Oh, begitu yaa. Aku juga yakin dia pasti langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Baiklah, kalau dia sudah keluar dari kamarnya tolong sampaikan padanya untuk mengaktifkan ponselnya."
"..."
Setelah panggilannya dengan Rychelle terputus, Molly pun segera memberitahukan Avega bahwa Rachel tidak sedang bersama dengan Alarick.
"Kenapa kakak tidak memberitahukan aku jika menelfon Rachel? Aku kan juga ingin berbicara dengannya." protes Avega yang sama sekali belum menyimpanan nomor ponsel Rychelle.
"Rachel sepertinya juga akan beristirahat. Bukankah katamu tadi dia sedang lelah?" tanya Molly.
"Kalau begitu berikan nomor ponsel Rachel. Aku ingin mengirim pesan untuknya." ucap Avega yang langsung merebut ponsel Kakaknya.