Complicated Mission

Complicated Mission
Meet You



Sore ini Rychelle pun setuju dengan Teysar untuk mengunjungi Alarick untuk menanyakan kemungkinan keberadaan papi dan juga kakaknya. Tidak hanya itu, mereka berdua juga ingin memberi kabar tentang pernikahan mereka sekitar 2 bulan yang akan datang.


Selama perjalanan menuju ke Lapas, Rychelle terus saja meremas jari tangannya. Raut wajahnya memperlihatkan jika ia sangat cemas akan bertemu dengan Alarick setelah sekian purnama tidak melihatnya.


Sedangkan Teysar yang paham betul dengan kecemasan yang dirasakan Rychelle hanya mengusap bahu Rychelle pelan untuk sekedar membuat Rychelle sedikit tenang.


"Aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua berbicara." ucap Teysar yang langsung mendapat tatapan protes dari Rychelle.


"Jangan kak!" tolak Rychelle. "Aku tetap mau kak Teysar ada diantara aku dan Mas Arick nanti."


Teysar tersenyum sambil menatap ke arah Rychelle. "Aku percaya, kamu bisa menguasai keadaan dengan baik. Kalian butuh waktu untuk saling berbicara empat mata."


Rychelle pun berdecih kesal dengan sikap Teysar yang terlihat sangat santai mempersilahkan dirinya bersua dengan lelaki yang membuat hatinya tidak karuan.


"Ck, kakak gak nyesel nantinya kalo aku gak bisa move on dari Mas Arick?" tanya Rychelle.


Lagi-lagi Teysar menanggapinya dengan santai dengan menggelengkan kepalanya. "Untuk apa menyesal Rychelle ku sayang? Justru melihat kamu begitu khawatir dengan perasaanku, membuktikan kalau kamu udah ada perasaan khusus sama aku."


Teysar kali ini menoel hidung Rychelle gemas melihat wanitanya sedari tadi menolak untuk bertemu dengan Alarick.


"Diiih, Narsis banget Kak Teysar nih." gerutu Rychelle sambil membuang mukanya ke luar jendela.


Apa yang dikatakan Teysar barusan memang tidak salah. Dirinya sudah merasa nyaman berada di dekat Teysar dan menyetujui untuk menikah dalam waktu cepat. Namun, Rychelle belum tahu bagaimana jika ia bertemu dengan Alarick nanti.


Adakah perasaan cintanya dengan Alarick akan tumbuh kembali dan justru semakin kuat?


Atau bahkan perasaan cinta yang dulu pernah ada justru hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?


...☘️☘️☘️...


Sesampainya di Lapas, Teysar langsung mengantarkan Rychelle ke tempat yang biasa digunakan untuk menjenguk narapidana. Sedangkan Teysar justru masuk ke dalam ruang penyidikan untuk menggali informasi dari Molly dan juga Avega.


Perasaan Rychelle benar-benar berkecamuk tidak menentu. Jantungnya terus berdegub kencang saat menunggu kehadiran Alarick yang sedang dipanggilkan oleh pegawai Lapas.


'Hai jantung, berdetaklah sewajarnya! Bukankah kau sudah tahu jika aku telah menjatuhkan pilihan untuk menikah dengan Kak Teysar?' batin Rychelle sambil mengatur nafasnya agar tidak terlihat begitu gugup.


Tap!


Tap!


Tap!


Suara langkah seseorang yang mendekat ke arah Rychelle membuat jantungnya makin berdebar-debar. Bahkan tiba-tiba tubuhnya terasa begitu kaku untuk bergerak. Namun, sebisa mungkin Rychelle bersikap biasa saja meskipun tangan dan kakinya sudah mulai gemetaran.


"Hai, BripKa Rychelle. Apa kabar?" tanya Alarick yang kini sudah duduk di hadapan Rychelle.


Rychelle mengangkat kepalanya dan kini keduanya saling melemparkan pandangan. Alarick tampak semakin tampan, bahkan kulitnya semakin bersinar karena jarang terpapar sinar matahari secara langsung.


Meski tubuhnya terlihat sedikit kurus, tetap saja tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun. Rambutnya yang sedikit panjang, justru membuatnya semakin macho dan cool di mata Rychelle.


"Aku baik." jawab Rychelle berusaha sedatar mungkin meski suaranya hampir tercekat. "Bagaimana kabar Mas Arick?"


Alarick tersenyum dan senyuman Alarick kini membuat dada Rychelle semakin terasa sesak.


"Saat ini kabarku sangat baik. Karena aku bisa melihat dan bertemu denganmu secara langsung."


"Kau tahu, Rychelle? Sidang terakhirku kemarin telah diputuskan jika aku dan Avega akan mendapatkan keringanan hukuman dengan beberapa syarat. Dan itu adalah atas bantuan Aipda Teysar yang kemudian mengenalkan aku dengan pengacara handal."


"Benarkah?" tanya Rychelle terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka, jika Teysar membantu Alarick sampai sejauh ini.


"Yap." jawab Alarick mantap. "Dua bulan lagi aku akan menghirup udara bebas di luaran sana dan juga membantu misi kalian untuk mencari tahu keberadaan papi dan bang Jerry. Setelah itu menyerahkannya kepada polisi."


Rychelle hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar cerita dari Alarick. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat bersyukur dengan kabar yang barusan ia dengar. Tidak hanya itu, ia juga semakin mengagumi kebaikan dan kebesaran hati Teysar dalam membantu Alarick.


"Oh iya, Rychelle. Apa ada suatu hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Alarick.


"Emmmh, iya."


"Dua bulan lagi aku dan Aipda Teysar akan menikah." ucap Rychelle dengan begitu hati-hati.


Namun dugaan Rychelle justru meleset jauh. Alarick justru langsung mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat.


"Aku senang mendengar kabar baik ini, Rychelle."


Dengan wajah bingung, Rychelle menyambut uluran tangan Alarick.


"Aipda Teysar adalah orang baik yang sangat pantas bersanding denganmu. Dan aku akan dengan senang hati menghadiri acara pernikahan Kalian berdua saat sudah terbebas dari sini."


Entah mengapa ucapan Alarick kali ini membuat hati Rychelle sangat sakit.


"Apa rasa cinta Mas Arick untukku sudah hilang?"


Kali ini Rychelle memberanikan dirinya untuk membahas tentang perasaan antara mereka.


"Bohong jika aku tidak mencintaimu, Rychelle. Tapi bagiku, mencintai tidak harus memiliki. Melihatmu bahagia saja sudah membuat hidupku tenang." jawab Alarick membuat Rychelle langsung melepaskan jabatan tangannya dengan Arick.


"Kenapa kalian berdua sama saja?!" pekik Rychelle yang seketika tangisnya pecah.


Untung saja Teysar sedang mendekat ke ruangan dimana Rychelle dan Alarick bertemu. Ia begitu terkejut saat melihat Rychelle yang menangis di depan Alarick.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Teysar kepada Alarick.


"Aku hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rychelle, dan tiba-tiba ia menangis." jawab Alarick.


Tak lama kemudian pegawai Lapas pun datang dan memberitahukan jika waktu berkunjung sudah habis.


"Aipda Teysar, aku benar-benar mempercayakan Rychelle denganmu. Jaga dia dengan baik!"


"Terima kasih sudah berkenan menjadi sahabatku selama ini. Semoga tidak ada halangan apapun sampai Hari Pernikahan kalian." ucap Alarick sebelum meninggalkan Rychelle.


"Jangan lupa untuk hadir dalam acara pernikahan kami, Al." pinta Teysar.


"Aku pasti akan datang untuk memberikan ucapan selamat pada kalian." jawab Alarick yang kemudian mengikuti langkah pegawai Lapas untuk kembali ke selnya.


Sedangkan Teysar langsung memeluk Rychelle yang masih menangis dan mengajaknya untuk menuju ke mobil.


"Apa yang membuatmu menangis Rychelle?" tanya Teysar saat mereka sudah sampai di mobil.


"Sebenarnya apa yang ada dalam fikiran kalian berdua?" tanya Rychelle sambil mengusap air matanya.


Teysar yang belum paham arah pembicaraan Rychelle pun hanya diam menunggu Rychelle melanjutkan ucapannya.


"Kenapa kalian berdua memiliki pemikiran yang sama dan bahkan mencintai aku dengan cara yang sama hingga membuatku semakin bimbang untuk melangkah?" tanya Rychelle yang masih kesal dengan kebimbangan hatinya yang saat ini bergejolak.


Kali ini Teysar mulai paham kemana arah pembicaraan Rychelle.


"Hanya ada satu cara agar hatimu tidak lagi bimbang." ucap Teysar sambil mengusap kepala Rychelle.


"Apa?"


"Diam sejenak dan minta pertolongan Tuhan agar ditunjukkan mana yang baik untukmu saat ini." jelas Teysar membuat hati Rychelle sedikit lega dan tidak terasa sesak seperti tadi.


"Baiklah, antarkan aku ke tempat yang baik menurut Kak Teysar agar aku bisa lebih tenang menghadapi semua ini." pinta Rychelle,


Teysar pun langsung menjalankan mobilnya menuju tempat yang diinginkan oleh Rychelle.


...☘️☘️☘️...


Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua 😍😍😍


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan Like, comment, Vote, Gift dan Tonton iklannya juga ya.


Sambil menunggu update selanjutnya mampir yuk ke Novel aku yang lainnya.