Complicated Mission

Complicated Mission
Petunjuk Baru



Keesokan harinya, Rychelle yang sudah bersiap pergi ke kantor tiba-tiba dipanggil oleh Rychand yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Rychelle," panggil kakaknya. "Aku sudah mendengar kabar baik yang dijanjikan oleh BrigJen Aris padamu kemarin. Semangat menjalankan misi besar ya. Kakak percaya kau pasti bisa menyelesaikan misi tersebut tepat pada waktunya." ucap Rychand bangga.


"Thanks kak. Aku berangkat dulu ya." ucap Rychelle yang kemudian menyalami tangan kakaknya.


"Untuk masalah Teysar, tidak perlu kau fikirkan dulu. Kakak mendukungmu seratus persen untuk menjalankan misi." timpal kakaknya lagi membuat senyum Rychelle langsung merekah dengan sempurna.


"Kakak memang yang terbaik. Selamat bekerja Kak Rychand." ucap Rychelle yang segera meninggalkan kakaknya dan langsung mengendarai motornya menuju ke kantor.


......🛵🛵🛵......


Pagi ini, Rychelle sudah siap untuk meretas CCTV di ruang kerja Alarick karena ia harus mencari tahu tentang seluk beluk berdirinya Bank One Point. Sesampainya di Kantor, seperti biasa saat Rychelle tiba. Hanya ada pak Satpam saja yang berjaga di pos dekat pintu gerbang.


Keadaan kali ini benar-benar berpihak paddaa Rychelle untuk menjalankan misinya. Ia segera melakukan aksinya untuk mencari berkas penting di ruangan Alarick.


Ruangan Alarick memang luas dengan tatanan buku yang sangat rapi. Dengan teliti Rychelle mencari buku atau album yang berkaitan dengan Bank One Point. Satu persatu Rychelle telisik hingga ia menemukan buku "Perusahaan Bank One Point Go Internasional".


Selain itu Rychelle juga menemukan beberapa album yang tertata rapi di rak tersebut. Ia pun segera membaca tentang sejarah berdirinya Bank One Point yang ternyata sudah berdiri jauh sejak ia belum lahir dan kemudian mulai bergerak dalam kancah internasional sejak Tahun Millenium.


Sayangnya pendiri Bank One Point tidak dituliskan dengan jelas, hanya pemiliknya saat itu adalah Ludolf Berwyn dan juga Liber Ran.


Saat Rychelle masih asyik membaca, dari monitor CCTV tampak Avega sedang berjalan menuju ruangan Alarick. Cepat-cepat Rychelle merapikan buku yang baru ia baca ke tempatnya dan kembali ke tempat duduknya.


"Pagi Rachel Ortisia." sapa Avega dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Mr Alarick memerintahkan aku untuk mengecek apakah kau datang pagi atau tidak saat dia tidak pergi ke kantor untuk beberapa hari ke depan." ucap Avega yang kemudian menarik kursi dan duduk di samping Rychelle.


"Oooooh, begitu." jawab Rychelle yang tentunya kini sedang mengatur nafasnya karena ia baru saja duduk di meja kerjanya.


"Kau belum menyalakan komputer?" tanya Avega lagi yang melihat komputer Rychelle belum menyala.


"Tentu saja belum karena aku baru saja mengecek berkas-berkas yang ada di meja ini." kilah Rychelle sambil memperlihatkan tumpukan berkas yang ada di mejanya.


Avega pun mengangguk anggukan kepalanya. "Baiklah kalau begitu selamat bekerja Rachel. Kabari saja aku jika kau menemukan kesulitan." ucap Avega karena tidak ada lagi yang perlu ia curigai dari karyawan barunya itu.


"Siiiip." jawab Rychelle. "Thanks ya." Rychelle menyunggingkan senyumnya ke arah Avega.


Mendapatkan senyuman dari Rychelle membuat Avega justru salah tingkah. Entah mengapa senyuman Rychelle kali ini membuat perasaannya jadi sulit untuk di artikan. Sambil mengulum senyumnya, Avega mulai berjalan keluar dari ruangan Rychelle menuju ke lift.


Dugghh! Tiba-tiba kepala Avega terjedug tepi pintu ruangan Rychelle.


"Awwhh!" pekik Avega.


Melihat Avega terjedug pintu, buru-buru Rychelle bangun dari tempat duduknya. "Avega!" panggil Rychelle. "Are you okey?" tanya Rychelle lagi yang melihat kepala Avega terantuk pintu dengan sangat kencang.


Tangan Rychelle kini mengecek kening Avega yang langsung memar dan sedikit membesar. "Duduklah terlebih dahulu, biar aku ambilkan obat gel untuk mengurangi memarnya." ucap Rychelle yang langsung menuju ke kotak obat dan mengambil gel untuk luka memar.


"Ini gel nya, kau bisa mengoleskannya di kepalamu yang memar." Rychelle menyodorkan gel pada Avega.


Avega pun langsung menerimanya dan mengoleskannya ke kepalanya. Sayangnya dia salah menyentuh dan tidak tepat pada yang memar. "Rachel, aku kesulitan untuk mengoleskannya. Biasakah kau membantuku?" tanya Avega.


Rychelle pun mengambil gel tersebut dan mulai mengoleskannya dengan perlahan lahan di luka memar kepala Avega. Sedangkan Avega kini terus memandangi kecantikan Rychelle dari jarak yang sangat dekat.


'Sangat cantik dan harum.' batin Avega saat bau parfum Rychelle yang sangat lembut itu menusuk ke dalam hidungnya membuatnya ingin berlama-lama berada di dekat pegawai baru ini.


"Nah, sudah selesai." ucap Rychelle sambil menjauhkan tubuhnya dari Avega. "Lain kali kalau jalan lihat-lihat dong. Masa pintu sebesar itu gak kelihatan."


Avega terkekeh mendengar ucapan Rychelle. "Aku hanya salah lihat tadi. Tapi by the way, terima kasih ya." jawab Avega.


"Sama-sama. Emang salah lihat apa tadi?" tanya Rychelle kemudian.


"Aku ngelihatnya kamu terus di depan mata aku." ucap Avega sambil beranjak meninggalkan ruang kerja Rychelle.


"Haaah?! Dasar aneh!" gumam Rychelle.


Setelah kepergian Avega, Rychelle mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Alarick. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyaknya tugas laporan beberapa tahun lalu dan ia harus menatanya dalam folder di komputer. Terlebih hari ini ia harus mengecek laporan dari setiap divisi.


"Huuuuh! Ini benar-benar akan sangat melelahkan berjam-jam di depan komputer." gerutu Rychelle.


Ia pun segera mengerjakan apa yang yang menjadi tugasnya. Hingga jam istirahat tiba, ia hanya berhenti sebentar dan kemudian lanjut berkutat lagi di depan komputer hingga sore tiba.


Setelah itu, Rychelle mengecek laporan dari setiap divisi dan baru selesai hingga senja tiba. Ia pun berkemas karena hari sudah mulai gelap. Semua ruang para pegawai juga sudah kosong saat Rychelle sampai di lantai bawah.


Tapi kini matanya tertuju pada ruang kosong yang terletak di ujung koridor. Ruangan yang pernah membuatnya terkunci di dalamnya. Ia pun berjalan menuju ke ruangan tersebut untuk kembali mencari sesuatu. Kebetulan juga CCTV yang mengarah ke ruangan tersebut sudah berhasil ia retas.


Dengan menggunakan kawat pengait kunci, dengan mudah Rychelle membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Rychelle terus mengelilingi ruang kosong tersebut dan lagi lagi ia tidak mendapatkan apa-apa.


"Ruangan ini benar-benar kosong dan tidak terdapat apapun di dalamnya." gumam Rychelle yang sudah mulai putus asa.


Kini ia berdiri di depan foto besar yang tertempel di dindingnya dimana ada gambar ayahnya dalam foto tersebut. Tangan Rychelle pun tergerak mengambil foto tersebut untuk melihatnya lebih dekat lagi.


Setelah berhasil mengambil bingkai foto tersebut, Rychelle makin terkejut saat melihat ada tombol di balik foto yang ia pegang. Ia pun meletakkan bingkai foto tersebut dan memencet tombol merah.


Pintu yang menyerupai dinding tempat digantung nya bingkai foto tersebut pun terbuka. Mata Rychelle berbinar melihat lorong yang sengaja dibuat khusus menuju ke ruang bawah tanah.


"Ternyata ini adalah rahasia besar ruang kosong ini." gumam Rychelle yang merasa sangat senang mendapatkan petunjuk baru untuk misi besarnya.


Bahkan rasa lelahnya dalam satu hari ini pun sekejap langsung menghilang setelah mendapatkan petunjuk baru ini. Ia pun mulai melangkahkan kakinya ke lorong yang tidak begitu gelap karena ada lampu temaram di dalamnya.