
Rychelle yang berada di dalam ruang kaca langsung berteriak minta tolong saat mendapati Ludolf Berwyn tiba-tiba terjatuh dan kejang kejang. Ia dan Bayu langsung mendekat ke arah Ludolf Berwyn yang kini terus saja memegangi dadanya.
Rychelle langsung memeriksa denyut nadi Ludolf Berwyn yang berdenyut dengan ritme yang cepat tidak seperti biasanya. Tubuh Ludolf juga mulai basah dengan keringat dan kini ia terlihat mengalami kesulitan dalam bernafas.
Melihat hal demikian, Rychelle dengan sigap melepas pakaian yang dikenakan Ludolf. "Tolong bantu aku!" pinta Rychelle pada Bayu untuk membuka gesper dan celana Ludolf Berwyn.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Molly dan Avega secara bersamaan. Keduanya sangat terkejut saat melihat Ludolf Berwyn kini hanya mengenakan kaos dalam nya dan celana boxer saja.
"Papi!" pekik Alarick saat melihat papinya tersungkur mengenakan boxer dan kejang-kejang sambil memegangi dadanya.
"Kita harus segera membawanya ke dokter. Tuan Ludolf harus segera mendapatkan bantuan pernafasan " ucap Rychelle.
Meskipun Tuan Ludolf masih merasakan sesak dalam dadanya, tapi rasa sesak tadi sudah mulai sedikit berkurang saat Rychelle melucuti pakaiannya.
"Jika kau mau membawa papimu ke rumah sakit, berarti deal, Rachel sudah kau tukarkan dengan papimu." ucap Chicko yang langsung mengamit tangan Rychelle.
"Permainan kita selesai dan aku yang memenangkannya. Jadi aku membawa pulang papiku dan juga Rachel secara bersamaan." ucap Alarick
Sedangkan Avega mulai mengangkat Ludolf Berwyn dibantu oleh karyawan bar yang lain.
"Tidak bisa, Alarick. Aku yang memenangkannya kali ini." ucap Chicko yang masih memegang lengan Rychelle.
"Kau selesaikan urusanmu dengan Chicko, aku dan Avega akan segera membawa papi ke Rumah sakit." ucap Molly.
"Total poinku lebih unggul tiga angka dari poinmu, Chicko!" ucap Alarick penuh penekanan sambil menarik Rychelle dari genggaman Chicko.
Chicko pun berbalik untuk melihat hasil lemparan paser Alarick. Ia pun langsung mengepalkan tangannya saat mengetahui poin yang didapatkan Alarick adalah sampai pada titik 60 dan jika ditambahkan dengan yang awal, Alarick memang lebih unggul dari Chicko 3 poin.
"Permainan kita belum selesai, Alarick." ucap Chicko geram.
"Tapi bagiku, semua sudah selesai." balas Alarick sambil membawa Rychelle menjauh dari Chicko.
"Si*l!" umpat Chicko mengiringi kepergian Alarick dan juga Rychelle.
Kini Rychelle sudah mulai bisa bernafas lega saat dirinya sudah benar-benar terlepas dari taruhan gila antara Alarick dan juga Chicko.
"Sudah aku katakan bahwa aku akan memenangkan taruhan ini. Dan aku bukanlah tipe orang yang tidak menepati janji, Rachel." ucap Alarick sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Terima kasih, Mr." ucap Rychelle tulus.
"Aku juga berterima kasih padamu karena sudah memberikan pertolongan pertama pada papi tadi." ucap Alarick.
Rychelle hanya menyunggingkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya.
"Kau berteriak tepat pada waktunya, Rachel."
"Saya berteriak karena Tuan Ludolf benar-benar butuh pertolongan, Mr." timpal Rychelle.
"Yaah, dan itu bertepatan saat aku memenangkan permainannya malam ini, Rachel." ucap Alarick dengan perasaan yang sangat lega karena sudah berhasil mengalahkan Chicko. "Hari ini aku sangat suka mendengarkan teriakanmu, mungkin lain waktu aku akan selalu menanti kau berteriak memanggil namaku."
Ucapan Alarick kali ini membuat Rychelle gagal paham. "Haaah??! Maksudnya apa ya?" tanya Rychelle.
"Oh, lupakan saja itu." jawab Alarick sambil mengulum senyumnya.
"Emm, Kau tidak keberatan kan jika aku ajak ke rumah sakit untuk melihat kondisi papi?" tanya Alarick dan Rychelle pun langsung menganggukkan kepalanya.
...🍀🍀🍀...
Sesampainya di rumah sakit, Molly langsung menyambut kedatangan Alarick dan mengabarkan tentang keadaan Ludolf Berwyn, sedangkan Avega juga langsung mendekat ke arah Rychelle.
"Kamu tidak apa-apa kan, Rachel?" tanya Avega yang begitu mencemaskan Rychelle.
Rychelle tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku baik, Avega." jawab Rychelle.
"Ternyata panggilan itu mampu meredakan amarahmu bukan?"
Avega menganggukkan kepalanya dan kemudian mengajak Rychelle duduk di bangku selasar rumah sakit.
"Bagaimana aku tidak marah, jika Al terbukti sedang mempertaruhkan nyawamu?"
"Kau hanya terlalu mencemaskan aku, Ega. Buktinya calon kakak iparmu itu berhasil memenangkan taruhan ini bukan?"
"Ck, dia memang harus melakukan itu, Rachel. Jika tidak, maka aku akan mendaftarkan diri untuk menjadi musuh besarnya."
Rychelle pun langsung tertawa mendengar ucapan Avega. Memang jika di ingat-ingat, tadi Avega sama sekali tidak menganggap bahwa Alarick adalah atasannya dalam kerja dan bahkan calon kakak iparnya hanya gara - gara Rychelle yang menjadi bahan taruhan.
"Hei, kenapa kau malah tertawa?" tanya Avega.
"Aku sedikit salut saja dengan keberanianmu terhadap bos sendiri."
"Tentu saja aku berani karena ini berkaitan dengan wanita yang aku cintai."
"Ooooh, begitu yaa." balas Rychelle. "Eh, apa katamu tadi?" tanya Rychelle merasa ada sesuatu kalimat yang janggal dari ucapan Avega.
Belum sempat Avega memperjelas ucapannya, tiba-tiba Molly memanggil Rychelle dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang rawat Ludolf Berwyn. Dengan berat, Rychelle melangkahkan kakinya mengikuti Molly.
Nampak Tuan Ludolf melambaikan tangannya memanggil Rychelle untuk mendekat padanya.
"Bagaimana keadaan anda Tuan?" tanya Rychelle yang kini sudah berdiri di samping Ludolf Berwyn.
"Aku sudah lebih baik. Terima kasih sudah..."
Uhuk! Uhuk! Ludolf Berwyn terbatuk-batuk karena memang belum bisa untuk berbicara dalam waktu yang lama. Molly pun langsung mengambilkan minuman untuk Ludolf.
"Lebih baik anda beristirahat, Tuan. Agar cepat pulih dan membaik." ucap Rychelle dan Ludolf pun menganggukkan kepalanya.
"Rachel, duduklah denganku. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu." ucap Molly mengajak Rychelle duduk di sofa.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Miss?" tanya Rychelle dan Molly langsung menganggukkan kepalanya.
"Papi membutuhkan obat khusus yang harus dibeli di suatu pulau pribadi. Kebetulan sekali banyak agenda kantor yang harus diselesaikan dalam waktu dekat ini, Rachel."
"Kali ini aku dan Avega tidak bisa menemani Al, untuk mengambil obat papi. Dan karena kau adalah asisten Al, kali ini kau yang akan ditugaskan untuk mengambil obat papii bersama Al di pulau tersebut." jelas Molly panjang lebar.
"Baik Miss." jawab Rychelle. "Kapan saya harus segera bergerak?"
"Sekarang juga, Rachel." jawab Alarick yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rychelle melihat jam di tangannya kini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Kemudian ia pun beralih menatap ke arah Alarick. "Sekarang juga, Mr?" tanya Rychelle meminta kepastian.
"Yaa, karena kapal boat yang menuju pulau khusus itu hanya ada setiap jam 5 pagi dan jam 5 sore. Sedangkan perjalanan menuju ke pelabuhan sekitar satu setengah jam. Kita sudah tidak punya waktu lagi sekarang." jelas Alarick.
Rychelle pun langsung mengangguk dan mengikuti langkah Alarick.
"Weekend ini benar-benar sangat melelahkan dari hari kerja biasanya." gumam Rychelle dalam hati.
Sesampainya di parkiran mobil, nampak sopir sudah siap di mobil Alarick untuk mengantarkan menuju ke pelabuhan.
"Duduk saja di belakang bersamaku." ucap Alarick saat Rychelle hendak memegang handle pintu bagian depan.
Rychelle pun menurut, dan kini ia duduk berdampingan dengan Alarick.
"Aku tahu kau sangat lelah, Rachel. Kau bisa istirahat di mobil selama perjalanan menuju ke pelabuhan." ucap Alarick.
"Terima kasih Mr." jawab Rychelle sambil menyandarkan tubuhnya.