Complicated Mission

Complicated Mission
Terkuak Satu Per Satu



"Bagaimana jika aku belum merasa cukup?" tanya Alarick tanpa mengalihkan pandangannya terhadap asistennya.


Pertanyaan Alarick membuat Rychelle mencoba untuk mengangkat kepala Alarick agar menjauh dari pangkuannya. Sayangnya kepala Alarick tidak bergeser sedikit pun dari pangkuan Rychelle.


"Lepaskan tanganmu atau kau akan kutarik sampai bibirmu bersentuhan dengan bibirku!" ancam Alarick dan Rychelle langsung menarik tangannya ke belakang.


"Posisi kita saat ini tidak dibenarkan, Mr. Saya tidak ingin mengkhianati kepercayaan Miss Molly terhadap saya. Lagi pula dia adalah tunangan anda, Mr." ucap Rychelle yang sudah tidak nyaman dengan sikap Alarick saat ini.


"Tapi aku sama sekali tidak mencintainya, Rachel."


"Dan saya tidak ingin ikut campur dalam apa yang menjadi masalah pribadi anda, Mr. Yang saya ingin tahu, apa masalah antara anda dengan Tuan Chicko?" tanya Rychelle to the point.


Alarick pun kini mengubah posisinya dengan duduk di samping Rychelle. "Chicko Praya adalah lawan bisnis Bank One Point selama beberapa tahun terakhir ini. Selama ini persaingan kami selalu seri, dan baru kali ini perusahaanku berhasil mengalahkannya."


"Pastinya Chicko masih belum terima dengan kekalahannya saat ini. Maka dari itu, dia kemudian menyerang di luar meeting seperti tadi. Hal itu sangat biasa terjadi saat perebutan tender, Rachel. Dan kau tidak perlu khawatir karena aku bisa menyelesaikan masalah itu." jelas Alarick.


Sayangnya Rychelle sama sekali tidak puas dengan jawaban Alarick. Tapi ia enggan untuk bertanya lagi karena ia melihat Alarick kini sibuk memainkan ponselnya.


"Mau mampir ke mansionku lagi?" tawar Alarick dan langsung ditolak oleh Rychelle.


"Tidak, Mr. Tuan Ludolf sama sekali tidak menyukai kehadiran saya. Lebih baik kita kembali ke kantor karena saya akan mengambil motor di Mall depan kantor." jawab Rychelle.


"Baiklah jika itu maumu." tukas Alarick yang kemudian meminta sopir untuk langsung menuju Mall agar Rychelle langsung mengambil motornya.


...🍁🍁🍁...


Setelah mengantar Rychelle mengambil motornya dan memastikan Rychelle pulang ke rumahnya, kini Alarick tiba di Mansionnya.


Ia langsung diperlihatkan pertunjukan yang sangat tidak lazim, beberapa satpam penjaga tampak babak belur. Bahkan beberapa pot di taman pun hancur berantakan. Tidak hanya itu, saat mobilnya berhenti di depan Mansion tampak maminya menangis di pintu mansion dan dikelilingi oleh para asisten rumah tangganya.


Alarick segera turun dari mobilnya dan menemui maminya. "Apa yang sudah terjadi?" tanya Alarick gusar.


Mami Divya langsung memeluk putranya sambil menangis sesenggukan. "Papi mu Al."


"Ada apa dengan papi?" tanya Alarick.


"Papi dibawa paksa oleh sekelompok orang." ucap Mami Divya sambil terus terisak memeluk putranya.


Tiba-tiba ponsel Alarick berdering dan ia langsung mengangkat panggilan yang masuk dalam ponselnya.


"..."


"Katakan dimana papiku?" tanya Alarick saat mendengar suara Chicko di ujung panggilan.


"..."


"Aku akan datang dan jangan lukai papiku sedikit pun karena kau akan tahu akibatnya!" ucap Alarick dan panggilannya pun terputus.


Ia pun melihat jam yang melingkar di tangannya dan menunjukkan pukul 5 sore. "Mami, aku akan segera membawa papi pulang ke Mansion ini. Mami jangan khawatir." ucap Alarick yang kemudian segera kembali ke mobil dan meninggalkan mansion.


...🍀🍀🍀...


Rychelle yang baru saja selesai mandi dan mengganti bajunya langsung terkejut saat melihat kakak iparnya duduk di atas tempat tidurnya.


"Ngapain sih pake dateng kesini?" tanya Rychelle kesal dan Citra hanya mengedikkan bahunya.


Rychelle yang kini mengenakan kaos oblong dengan celana pendek yang jauh di atas lutut pun segera keluar menemui Alarick.


Meskipun Rychelle dan juga kakaknya sama-sama dari anggota kepolisian, tidak ada sedikit pun lambang atau identitas apapun yang mencerminkan bahwa rumah yang mereka tempati adalah rumah salah satu dari anggota kepolisian.


Bahkan foto pernikahan Rychand maupun foto keluarga pun tidak tertempel satu pun di dinding ruang tamu. Semua memang disengaja kan polos tanpa hiasan apapun di teras, ruang tamu maupun ruang keluarga.


"Apa yang membawa anda datang kemari, Mr Alarick?" tanya Rychelle yang kini berdiri di depan Alarick.


"Aku membutuhkan bantuanmu lagi, Rachel. Tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini." ucap Alarick yang memandang Rychelle dengan tatapan permohonan yang sangat dalam.


"Tapi..."


"Ku mohon, Rachel." pinta Alarick sambil memegang tangan Rychelle dan bersimpuh di hadapannya.


"Ck, Huuuuh." Rychelle membuang nafasnya kasar. "Baiklah, saya akan meminta izin pada kakak dulu." ucap Rychelle yang kemudian masuk ke dalam meninggalkan Alarick.


Tak lama kemudian, Rychelle keluar dengan membawa ponselnya dan mengenakan celana jeans panjang tanpa mengganti kaosnya. Ia pun mengikuti Alarick menuju mobilnya.


"Anda membawa mobil sendri?" tanya Rychelle sambil mengerutkan dahinya.


Alarick langsung menganggukkan kepalanya. "Aku akan bercerita tentang masalah besar yang kini sedang melanda keluargaku dan kini aku tidak bisa menyelesaikannya tanpamu, Rachel." ucap Alarick mulai bercerita.


"Chicko dan anak buahnya memporak poranda Mansion dan kini mereka membawa Papi secara paksa untuk ikut dengannya."


Rychelle yang belum tahu duduk permasalahannya tetap diam mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Alarick.


"Chicko sebenarnya adalah lawanku dalam bermain judi yang kini merambat menjadi lawan bisnisku. Awalnya aku sangat tidak ingin berjudi, Rachel. Tetapi aku dipaksa oleh papi."


"Kemenangan pertamaku disambut suka cita oleh papi dan semua rekan bisnisnya yang tergabung dalam kelompok judi. Hingga kita meraup banyak keuntungan dan terbangunlah Mall Metropolitan yang berdiri tepat di depan perusahaan kami."


Rychelle menelan ludahnya kasar saat mendengarkan cerita Alarick. Ini adalah rahasia terbesar yang sangat ia butuhkan untuk membuat mistis besarnya sempurna. Tapi keterkejutan Rychelle sebisa mungkin ia sembunyikan agar informasi dari Alarick makin banyak yang ia dapatkan.


"Malam ini, Chicko memintaku untuk membawamu sebagai barang taruhan. Dan jika aku memenangkan judi, maka aku bisa membawamu pulang bersama dengan papiku. Tapi jika aku kalah dalam berjudi, maka ia meminta mu dan menukarkannya dengan papi." jelas Alarick panjang lebar membuat mata Rychelle melebar sempurna.


"Apaa?!!" pekik Rychelle yang kini sudah tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Bagaimana jika nanti anda kalah, Mr?" tanya Rychelle dengan raut wajah piasnya.


Tangan Alarick terulur mengusap kepala Rychelle dengan sangat lembut dan menyelipkan beberapa rambut Rychelle ke belakang telinganya. "Aku pastikan akan memenangkan taruhan ini dan membawamu pulang bersama papi. Trust me, Rachel." ucap Alarick meyakinkan Rychelle.


"Gila! Ini benar-benar sudah Gila! Aku benar-benar terjebak dalam misi besar ku sendiri. Informasi yang Alarick katakan barusan benar-benar seperti lampu hijau bahwa aku akan berhasil menjalankan misi ini." gumam Rychelle dalam hati.


"Tetapi kali ini lampunya sudah berubah menjadi warna kuning yang terus berkedip tanpa henti, seolah memberi tanda jika aku harus lebih berhati-hati." pergolakan dalam batin Rychelle terus berkecamuk dan membuat Rychelle menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Alarick pun menepikan mobilnya. "Maaf sudah membawamu masuk terlalu dalam dengan masalahku saat ini. Aku mohon dengan sangat, Rachel. Ikutlah denganku untuk menyelamatkan papi." pinta Alarick sambil mengusap kepala Rychelle.


Rychelle perlahan menepis tangan Alarick dan menatapnya tajam. "Baik, tapi tolong jaga jarak anda dengan saya, Mr. Karena saya sama sekali tidak ingin Miss Molly beranggapan yang tidak-tidak terhadap saya." ucap Rychelle tegas.


"Oke, aku akan menjaga jarak denganmu. Sebutkan saja nanti aturan yang kau inginkan." balas Alarick yang kemudian kembali mengemudikan mobilnya menuju ke salon untuk merubah penampilan asistennya malam ini.