
Rychelle's Point of View
Hari ini aku melihat banyak orang yang bangga terhadapku. Tapi tidak sedikit pula orang yang nantinya sangat tidak menyukaiku. Tentu saja karena banyak pihak yang sudah dirugikan atas keberhasilan saat ini. dan mungkin saja kini mereka sedang mengecamku dari kejauhan.
Adakah aku bangga terhadap pencapaianku? Entahlah, aku sepertinya tidak merasa begitu. Karena bagiku sendiri misi ini belum sepenuhnya selesai. Selagi dalang perjudian dan perdagangan narkoba belum tertangkap, maka aku tetap menganggap misi ini masih harus berlanjut.
Sedangkan aku sendiri masih bimbang dengan bagaimana perasaanku. Terlebih karena misi inilah aku masih harus terkurung dengan perasaan cinta yang tidak kunjung hilang dan terlupakan. Bahkan perasaan ini semakin kuat dan membuat aku sangat tersiksa.
Selama ini aku bukan belajar mencintai Aipda Teysar, namun aku hanya berusaha agar tidak membuat ayah dan Kak Rychand kecewa. dan aku sangat tidak ingin membuat bunda Kak Teysar kembali jatuh sakit hanya karena aku terus menerus bersikap dingin dan menolak cinta putranya.
Inilah aku, Rychelle Olyvia yang kini sedang kalian banggakan karena keberhasilan dari misi ku. Mungkin kalian melihatku sebagai sosok wanita yang begitu kuat dan mandiri.
Ya, Aku memang wanita yang kuat, kuat bertahan dengan situasi dan keadaan yang sama sekali tidak aku inginkan.
Dan aku juga memang wanita yang mandiri, karena aku memang merasa berdiri sendiri di antara sekumpulan banyak orang. Hanya aku yang mengerti bagaimana peliknya kehidupanku tanpa ada seorang pun yang tahu.
"Dek, nanti pulangnya biar diantar Teysar aja ya." terdengar Kak Rychand memintaku pulang dengan orang lain saat aku sudah keluar dari ballroom hotel.
Aku sangat paham bagaimana kakakku sendiri begitu menginginkan aku semakin lengket dengan Kak Teysar. Dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala.
Teysar juga langsung mendekat ke arah ku dan langsung mengajakku pulang sambil menggandeng tanganku.
Selama satu bulan ini, hanya berpegangan tanganlah yang kami lakukan di depan keluarga kami. Dan kami belum membicarakan tentang hubungan kami sama sekali karena kesibukan tugas yang semakin padat akhir-akhir ini.
Seperti biasa, Kak Teysar selalu membukakan pintu mobil untukku dan aku sama sekali tidak pernah melarangnya. Namun kali ini ia membukakan pintu mobil bagian belakang.
Aku pun bertanya-tanya, Apa ada orang di dalam mobil selain aku dan Kak Teysar? Bukankah biasanya aku dipersilahkan duduk di sampingnya, kenapa ia membukakan pintu belakang untukku?
Melihat aku sedikit tercenung, Kak Teysar pun membisikkan sesuatu tepat di telingaku dan membuat ku sedikit meremang.
"Masuklah, ayah dan bunda sudah menunggu di dalam." bisik nya dan aku mulai melangkahkan kakiku ke dalam mobil kak Teysar.
Dan benar dengan apa yang dikatakan Kak Teysar, bundanya sudah duduk di seat belakang menungguku.
"Rychelle sayaaang. Bunda sangat bangga denganmu." ucapnya sambil memeluku dengan erat.
Kehangatan bunda Teysar mengingatkan aku dengan almarhumah bunda yang sudah tiada. Ini yang membuatku sulit untuk menjauh dari keluarga Teysar. Aku tidak membohongi diriku sendiri yang sangat merindukan kasih sayang seorang ibu.
"Apa Rychelle terlihat sangat membanggakan di mata bunda?" tanyaku sedikit manja.
"Tentu saja. Kamu adalah anak bunda yang sangat membuat bangga. Bahkan bunda sangat menyayangimu." balas bunda Teysar dan membuatku memeluknya lebih erat lagi.
"Rychelle juga sayang sama bunda."
"Hari ini pulang ke rumah bunda dulu yaa. Bunda sudah buatkan ikan bakar kesukaan mu."
Mendengar makanan favoritku yang selalu dibuat oleh almarhumah bunda setiap aku naik kelas membuat aku semakin merindukannya. Dan kali ini makanan itu ada lagi dan dibuatkan oleh bunda Teysar setelah sekian lama aku menginginkannya.
Biasanya Kak Rychand hanya mengajakku ke pemancingan untuk menikmati ikan bakar sebanyak yang aku mau, namun kali ini sangat berbeda. Sosok yang di hadapanku saat ini benar-benar menggantikan sosok almarhumah bunda di sisiku.
"Wow. I like it so much, bunda. Terima kasih banyak bun." ucap ku.
Kulihat Teysar mengemudikan mobil sambil sesekali melihatku dari kaca spion tanpa mengganggu obrolan kami berdua. Jika sosok bundanya bisa menggantikan almarhumah bunda di sampingku, Adakah aku mampu menggantikan sosok Mas Arick dengan sosok Kak Teysar untuk berada di sampingku?
Ck, lagi-lagi aku belum tahu jawabannya.
"Bukan hanya bunda yang bangga sama kamu, ayah juga sangat bangga denganmu, nak." ucap BrigJen Aris yang mulai menyebut dirinya sebagai ayah untukku.
Apa lagi maksudnya semua ini?
"Ayah?" celetuk ku yang terdengar seperti protes kecil. Karena baru hari ini aku mendengar seperti itu.
"Tentu saja, ayah. Jika Iptu Ryan One adalah ayah kandungmu, maka BrigJen Aris akan menjadi ayah mertuamu."
Aku terdiam sambil melemparkan pandang ke Kak Teysar lewat kaca spion mobil.
"Kapan kau siap menerima lamaran kami yang kedua kalinya, Rychelle?" tanya BrigJen Aris to the point membuat aku tergagap sambil terus beradu pandang dengan Teysar lewat kaca spion.
"Emm Ammm emmm."
"Aku nanti akan membahasnya dengan Rychelle dulu, yah. Jangan terburu-buru, lagi pula tugas kami masih sangat padat." ucap Teysar membuat aku bernafas lega.
Terdengar BrigJen Aris membuang nafasnya kasar, "Baiklah, ayah akan memberi waktu kalian satu minggu untuk memutuskan ini."
"Satu minggu?" Aku sedikit memekik secara refleks mendengar rentang waktu sangat singkat yang diberikan oleh ayah Kak Teysar.
"Oh, kelamaan yaaa? Yaudah, 3 hari lagi ayah tunggu keputusan dari kalian ya."
Kali ini aku memilih bungkam dari pada nanti BrigJen Aris meminta hasil keputusannya besok pagi.
"Bunda juga sudah tidak sabar memanjakan anak mantu bunda ini." timpal bunda Teysar.
Fix, kali ini aku pasti akan dalam masalah besar.
...🎀🎀🎀...
Setelah menikmati masakan dari bunda Teysar, aku pun bersiap pulang. Dari luar terlihat mobil sudah disiapkan oleh sopir BrigJen Aris. Aku pikir aku akan diantar pulang dengan pak sopir saja, ternyata Kak Teysar juga ikut.
"Capek ya?" Tanya Kak Teysar yang kini duduk di sampingku.
"Lumayan sih kak." jawabku sambil menyandarkan punggungku.
"Rychelle." panggil nya dan aku pun mengarahkan kepalaku untuk memandangnya.
"Aku cinta sama kamu, dan aku juga sangat menyayangimu. Kita sudah satu bulan ini saling dekat dan aku juga sangat paham bagaimana kau berusaha untuk mencintai aku."
Kali ini aku sedikit terhenyak dengan ucapan Kak Teysar.
"Apakah sudah ada rasa cinta dan sayang untukku sedikit saja dalam hatimu?" tanya Kak Teysar membuatku sangat bingung harus menjawab apa.
"Aku juga sudah meminta izin dengan Alarick untuk selalu menjagamu dan menggantikan posisinya di hatimu, Rychelle."
"Mmm maksudnya?" tanyaku yang tidak paham dengan apa yang saat ini dibicarakan oleh Kak Teysar.
Kak Teysar pun kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Mas Arick sebelum ia dipindahkan ke lapas.
Dari cerita Kak Teysar kali ini membuat aku semakin merindukan Mas Arick. Dan aku makin mengagumi ke gentlean dua sosok pria yang sama-sama mencintaiku.
"Rychelle, aku tidak akan memaksa apapun tentang hubungan kita nantinya. Untuk masalah perasaan, biarkan itu mengalir dengan sendirinya. Hanya saja, aku ingin kita sama-sama memutuskan kapan aku harus melamarmu."
"Kau tahu sendiri bukan, ayah hanya memberikan waktu 3 hari untuk kita."
Aku menghela nafas perlahan dan menatap kedua netra Kak Teysar. Ketulusan hatinya memang sangat terlihat di Sorot matanya dan aku sama sekali tidak mau mengabaikan ketulusan hatinya, terlebih ini menyangkut orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Besok masih libur tugas kan kak?" tanyaku dan dia mengangguk.
"Bagaimana jika kita bicarakan masalah ini di suatu tempat entah kenapa aku sangat ingin pergi ke puncak?"
Permintaanku kali ini membuat mata Teysar berbinar dan aku melihatnya dengan sangat jelas. Seketika senyum manisnya pun merekah dari bibirnya.
"As you wish, Rychelle."
...💞💞💞...