
Sesampainya di puncak, Teysar menyewa satu villa sederhana untuk singgah sebentar dengan Rychelle sebelum ke Little Venice. Mereka juga ingin membicarakan masalah hubungan mereka saat ini dan ke depannya.
"Rychelle." panggil Teysar sambil membawakan coklat hangat untuk Rychelle yang saat ini duduk di teras sambil menikmati pemandangan dan sejuknya udara pagi hari di puncak.
"Aku tahu kau masih sangat sulit untuk membuka hatimu untukku." ucap Teysar sambil menyodorkan coklat hangat untuk Rychelle.
"Tapi kita harus segera memutuskan tentang hubungan kita berdua ke depannya."
Rychelle menerima coklat hangat dari Teysar dan menyesap nya pelan.
"Aku tahu kak. Lagi pula bertunangan denganmu aku rasa bukan hal yang buruk." jawab Rychelle santai.
"Terlebih orang di sekitar kita sudah sangat menantikan itu, bukan?"
"Aku sangat bersyukur bunda sangat cepat pulih dan membaik. Tidak bisa dibohongi juga jika aku sangat mendambakan kasih sayangnya."
"Apa lagi saat melihat Sorot mata bahagia ayah tadi pagi saat mendengar aku hendak ke puncak bersama Kak Teysar. Aku merasa bahwa kebersamaan kita pasti akan membuat orang yang ada di sekitar kita bahagia bukan?" tanya Rychelle dan Teysar hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Lamar saja aku kapan pun kakak mau."
Kata-kata Rychelle barusan membuat hati Teysar langsung bersorak gembira. Jika ia tidak sedang bersama dengan Rychelle, sudah dipastikan ia akan melompat lompat saking bahagianya.
"Kamu serius?" tanya Teysar yang tampak sangat tidak percaya.
Rychelle mengernyitkan dahinya sambil memandang ke arah Teysar. "Memangnya aku kelihatan berbohong ya?"
Teysar buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Hanya saja, aku sedikit merasa saat ini aku sedang bermimpi." ucap Teysar sambil menepuk nepuk kedua pipinya.
Dengan geram Rychelle pun mencubit lengan Teysar dan membuat lelaki disampingnya mengaduh kesakitan.
"Awh." pekik Teysar karena cubitan Rychelle benar-benar terasa sangat pedas di lengannya.
"Mimpi ya?" Rychelle mula menautkan jari jari tangannya dan siap mencubit Teysar lagi.
"Ampun Rychelle. Oke oke. Aku minta maaf." ucap Teysar sambil menangkupkan kedua tangannya dan bersimpuh tepat di kaki Rychelle.
"Kak Teysar." Rychelle sedikit terhenyak mendapati Teysar yang kini ada di hadapannya.
"Boleh aku tahu, apa alasanmu membuat keputusan seperti ini?" tanya Teysar sambil menatap kedua netra Rychelle.
"Emm, aku hanya ingin melihat orang-orang yang ada di Sekitar ku bahagia." jawab Rychelle sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga akan bahagia bersanding denganku?" tanya Teysar yang seketika membungkam mulut Rychelle untuk kembali berbicara.
Melihat Rychelle terdiam tidak menjawab pertanyaannya, membuat Teysar sadar bahwa Rychelle benar-benar tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri dan lebih mementingkan kebahagiaan orang yang ada di sekitarnya.
"Aku tahu ini akan sangat berat untukmu, Rychelle. Kau sudah membuat keputusan sebesar ini yang sangat berpengaruh pada kehidupanmu."
"Dan aku sama sekali tidak ingin menjadi beban dalam hidupmu." ucap Teysar yang kemudian bangun dan kembali duduk di samping Rychelle.
"Aku tidak pernah merasa terbebani denganmu kak." kilah Rychelle.
Teysar pun memberanikan dirinya menggenggam erat tangan Rychelle. "Begini saja, kita buat perjanjian antara kita dalam hubungan kita ke depannya."
Rychelle mengernyitkan dahinya tidak paham apa yang sedang dikatakan oleh Teysar. "Perjanjian?"
"Yap. Perjanjian yang tidak boleh aku langgar saat menjalin hubungan denganmu." jelas Teysar.
"Maksudnya?"
Lagi-lagi Rychelle belum paham arah ucapan Teysar kali ini.
"Aku tidak akan menyentuh dan menodaimu meski nanti kita sudah menikah, Rychelle. Aku tidak mau membuatmu sakit lebih dalam lagi. Dan cukup degan status kebersamaan kita membuat orang di sekitar kita bahagia."
"Jangan merencanakan hal yang tidak masuk akal kak Tey!" protes Rychelle saat mendengar ucapan Teysar barusan.
"Kenapa?"
"Karena justru aku nantinya yang akan membuatmu sakit." nada Rychelle mulai meninggi dan matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Lebih baik aku yang merasa sakit dari pada aku harus menderita melihat wanita yang aku cintai memendam rasa sakitnya sendiri, Rychelle." balas Teysar.
"Jangan bodoh, Kak! Apa kau tidak bisa melihat bagaimana aku sudah mulai - - -."
Kata-kata Rychelle terputus membuat Teysar justru makin penasaran apa yang hendak Rychelle katakan.
"Mulai apa, Rychelle?" tanya Teysar sambil mendekat ke arah Rychelle.
Rychelle yang masih duduk tidak bisa mengelak kemana-mana dan posisinya kini sangat terpojok.
"Aku tahu, dihatimu masih ada nama Alarick yang belum bisa kau gantikan dengan namaku."
"Kak Teysar hanya menerka sembarangan apa yang ada dalam hatiku." sanggah Rychelle.
"Oh ya?" tanya Teysar terdengar tidak percaya dengan apa yang barusan disampaikan oleh Rychelle.
"Kalau dugaanku memang salah, maka bisakah aku menghapus bekas ciuman Alarick yang ada di bibirmu, Rychelle?"
Deg!
Rychelle langsung kalang kabut saat Teysar mulai mengusap kan jarinya tepat di bibirnya.
'Oh My God, aku harus bagaimana?' batin Rychelle sambil menelisik hatinya. Adakah ia benar-benar menggantikan posisi Alarick dengan Teysar dan mengizinkan Teysar untuk menghapus bekas ciuman Alarick yang ada di bibirnya. Atau ia tetap membiarkan Alarick yang ada dalam singgasana hatinya tanpa menggeser sedikit pun dengan Teysar.
Kebimbangan Rychelle kali ini membuatnya memejamkan matanya dan membuat posisi Teysar makin mendekat ke arahnya. Kini mereka pun sudah tidak berjarak dan Rychelle begitu merasakan hembusan nafas Teysar yang menyapu wajahnya.
Cup!
Ciuman sekilas Teysar mendarat tepat di pipi kiri Rychelle.
"Aku tidak mau menghapusnya, Rychelle. Biar kau sendiri yang menghapusnya untukku kelak agar aku tahu jika kau sudah benar-benar memiliki perasaan khusus denganku." bisik Teysar membuat Rychelle langsung salah tingkah.
Ia pun melihat jam di tangannya dan waktu menunjukkan hampir pukul 9 Pagi.
"Kak, udah hampir jam 9 nih. Kita ke Little Venice dulu yuk. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya." ajak Rychelle mengalihkan pembahasan mereka.
Teysar tersenyum dan langsung menggandeng tangan Rychelle untuk meninggalkan villa yang nanti siang akan mereka gunakan untuk tempat singgah mereka sebelum pulang.
'Kak Teysar memang sangat baik dan menghormati aku sebagai wanita. Dia bahkan memperlihatkan perhatiannya yang begitu besar terhadapku tanpa mengedepankan perasaannya.'
'Aku pun melihatnya begitu sabar menungguku membalas perasaannya. Dia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya dan bahkan ia juga meminta izin secara baik-baik dengan Mas Arick untuk menjagaku.'
'Dan ini semua membuatku semakin bimbang untuk memilih siapa yang semestinya singgah dalam singgasana hatiku. Mereka berdua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuatku tidak bisa memilih salah satu di antara mereka.'
'Meski aku sudah lama tidak bertemu Mas Arick, tapi aku merasa dekat dengannya. Dan Kak Tey, aku juga kini merasa dekat dengannya karena dia yang selalu muncul di dekatku. Tidak mungkin kan aku memilih keduanya untuk sama sama singgah dalam singgasana hatiku?'
"Aku tahu kau sedang bimbang Rychelle. Tapi saat ini bukan waktunya kau tenggelam dalam rasa bimbangmu karena kita akan melepas segala penat dalam diri kita." ucap Teysar sambil membukakan pintu mobil untuk Rychelle.
'Bahkan dia sangat paham apa yang saat ini sedang aku fikirkan.' batin Rychelle sambil masuk ke dalam mobil Teysar.
...☘️☘️☘️...
Mohon dukungannya ya readers setia aku untuk Like, Comment, Vote, Gift dan juga tonton iklannya biar Author makin semangat update ceritanya.
Terima kasih banyak. I love you all 😍