
...💌💌💌...
Dear Rychelle Olyvia, wanita yang akan selamanya ada dalam singgasana hatiku.
Kali ini aku masih sangat berharap kau dapat membaca goresan pena yang mungkin akan jadi yang terakhir kalinya kau baca. Mungkin, besok kita akan sulit untuk bertemu karena aku akan dipindahkan entah kemana.
Sayang,
Maafkan aku yang saat ini sama sekali tidak mampu memperjuangkan kisah cinta kita. Aku sadar, Status ku saat ini yang hanya seorang narapidana yang sangat tidak pantas mencintai dan bersanding dengan seorang polisi wanita yang sangat hebat sepertimu.
Dan aku sadar, aku akan menjadi beban terberat bagimu jika kita berdua masih saling berhubungan.
Bohong, jika aku tak menginginkan terus bersamamu, mendampingimu dan memiliki hatimu, meski aku belum mendengar sendiri dari mulutmu jika kau mencintaiku, sayang.
Tapi mendengar kau sangat merindukanmu, membuat hatiku berbunga-bunga dan makin sadar jika kau menyimpan perasaan yang sama terhadapku.
Berbalas surat cinta denganmu saja membuat aku sangat bahagia. Padahal, awalnya aku hanya mencurahkan segala perasaanku di dalam buku, tapi ternyata kau justru membalasnya di dalam buku yang sama.
Bahagia?
Sudah tentu aku merasa sangat bahagia. Terlebih saat kau membalas permainan bibirku di tempat rahasia kita, membuat aku tidak akan pernah melupakan moment itu.
Sayangnya, kali ini aku harus mundur sebentar saja dan menjauh dari mu karena besarnya rasa cintaku padamu, Rychelle.
Aku tidak mau, kekasih hatiku tersiksa dengan cibiran orang-orang yang ada di sekitarmu, hanya karena kita mempertahankan hubungan kita.
Aku juga tidak mau, mimpi besarmu harus hancur begitu saja hanya karena diriku, sayang.
Aku juga tidak ingin menjadi sosok yang nantinya sangat merasa bersalah hanya karena ke-egoisanku yang tentunya akan sangat merugikan wanita yang sangat aku cintai.
Kesuksesanmu sudah sangat nampak di ambang pintu dan aku tidak mau menjadi orang yang menghalangimu untuk bisa membuka pintu kesuksesan itu.
Cinta tetaplah cinta tanpa harus merusak dan membebani salah satu di antara kita. Dan aku akan semakin bangga jika wanita idamanku mampu meraih kesuksesannya.
Izinkan aku untuk menjadi orang yang pertama kali memberikan selamat kepadamu, sayang.
Selamat, atas keberhasilan dan kenaikan pangkat menjadi seorang Brigadir Kepala. Dan mulai saat ini bagiku kau bukan lagi BrigPol Rychelle Olyvia, melainkan sudah berganti menjadi BripKa Rychelle Olyvia.
Aku menulis semua ini dengan perasaan bangga yang tiada tara, seolah-olah aku melihat sendiri penobatan wanita spesialku menjadi BripKa.
Satu hal yang perlu kau ingat, sayang. Sampai kapan pun, dimana pun, dan dalam keadaan apapun, aku akan tetap mencintaimu, menyayangimu, dan juga merindukanmu dengan caraku.
Dengan berat hati, aku melepasmu dan merelakanmu hanya untuk kebaikanmu, sayang. Aku pun rela jika engkau memilih laki-laki lain untuk bersanding denganmu asalkan kau bahagia bersamanya.
- Lelaki yang sangat mencintaimu, Mas Arick-
...💌💌💌...
Setelah menuliskan surat perpisahan untuk Rychelle, Alarick dengan sengaja meletakkan bukunya lebih dekat dengan sipir penjara agar ia segera mengambil gambar dari isi bukunya dan mengirimkannya kepada Rychelle.
Setelah itu, seperti biasa Alarick bersiap untuk pura-pura tidur agar sipir penjara dengan mudah mengambil bukunya. Sayangnya, Avega kini justru mengajaknya mengobrol membahas tentang kehamilan kakak kandungnya.
"Bang, apa kau benar-benar tidak pernah meniduri kakak perempuanku?" tanya Avega yang masih terus memikirkan kehamilan kakaknya.
Pertanyaan Avega kali ini membuat Alarick berdecih kesal. Ia merasa tertuduh dengan pertanyaan yang dilontarkan Avega barusan.
Sayangnya jawaban Alarick kali ini membuat Avega naik pitam karena ia merasa Alarick begitu merendahkan kakaknya. Ia pun bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Alarick dengan menarik kerah baju Alarick.
"Apa maksud perkataanmu, Bang?" gertak Avega kesal sampai sipir penjara mendekat ke sel mereka berdua.
"Jangan buat keributan di sini!" hardik sipir penjara dan Avega langsung melepaskan kerah Alarick yang ia cengkeram.
Avega pun kembali ke tempatnya sambil memandang kesal ke arah Alarick.
Setelah sipir penjara meninggalkan pintu sel mereka, Alarick dan Avega pun kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Kau yang lebih dulu menuduhku yang tidak-tidak, Avega." tukas Alarick sambil merebahkan tubuhnya.
"Tapi kau juga sangat meremehkan kakak perempuanku." balas Avega yang amarah nya sudah mulai ter redam.
"Dari awal kau tahu kan, aku sama sekali tidak bisa mencintai kakakmu."
"Karena kau tidak pernah mau mencobanya, Bang." sanggah Avega.
"Terserah bagaimana pendapat mu. Yang jelas aku tidak tahu saat ini Molly sedang mengandung anak siapa."
Avega terdiam dan terus memikirkan siapa laki-laki yang sudah menghamili kakaknya. Sedangkan Alarick pun menyandarkan sambil memikirkan hal yang sama dengan Avega.
" Aku rasa orang yang sudah menghamili nya adalah orang yang bersama Molly di pulau terakhir ia tertangkap." celetuk Alarick membuat kesimpulan.
"Entahlah, hanya saja aku sangat iba mendengar perkiraan hukuman yang akan dijalani oleh Kak Molly." timpal Avega.
"Itu yang membuatku dari awal tidak ingin berkecimpung dengan barang haram. Bahkan aku juga tidak setuju ikut dalam perjudian ilegal papi."
Akhirnya keduanya pun mengobrol dengan santai seperti biasa.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan di sisi lain, Rychelle yang diantar pulang oleh Teysar dan tertidur saat perjalanan pulang langsung membuka matanya saat Teysar hendak menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Turunkan aku, Kak. Aku bisa masuk ke rumah sendiri. Mendingan kakak balik lagi aja ke kantor. Tugas kak Tey banyak kan?"
Dengan berat hati Teysar menurunkan tubuh Rychelle dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kakak balik bertugas lagi ya. Kamu jangan lupa istirahat dan minum obat." pesan Teysar sambil mengacak rambut Rychelle.
"Oke kak, thanks ya." jawab Rychelle yang langsung berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan Teysar pun segera menjalankan mobilnya kembali ke kantor polisi.
'Tidak biasanya Rychelle sakit seperti tadi. Terlebih raut wajahnya tampak tidak bersemangat.'
'Sepertinya Rychelle sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Tapi apa yang kini sedang ia fikirkan sampai ia seperti itu?'
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Teysar sambil mengemudikan mobilnya.
'Aku harus tanyakan ini kepada Bang Rychand. Setidaknya aku tahu apa yang sekarang menjadi masalah Rychelle dan siapa tahu aku bisa mengurangi beban fikirannya meski sedikit.' batin Teysar yang segara menambah laju kecepatan mobilnya untuk menemui Rychand, kakak Rychelle.
...🎀🎀🎀...