Complicated Mission

Complicated Mission
Ada Apa di Kamar Rachel?



Rachel mengikuti langkah penjaga dengan gontai yang akan menunjukkan kamarnya yang sudah disiapkan oleh Jerry. Kamarnya ada di lantai dua dan berdampingan dengan kamar yang ditempati oleh Molly.


Setelah masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuknya, Rychelle tercengang melihat isi dalam kamarnya yang seperti hotel bintang 5. Terlebih saat melihat makanan yang dihidangkan untuknya.


'Wow. Aku benar-benar dimanjakan sebelum meregang nyawa.' gumam Rychelle dalam hati.


Seperti biasa, ia pun mengedarkan pandangannya untuk mengecek CCTV yang ada di dalam kamar tersebut. Dan lagi-lagi nihil, ia tidak mendapati CCTV di kamar tersebut seperti di Cottage sebelumnya.


Akhirnya Rychelle pun memutuskan untuk makan siang karena perutnya sudah sangat lapar. Sambil menikmati makanannya, Rychelle mengingat ingat apa yang tadi disampaikan oleh Jerry.


'Aku tidak pernah ingat mengenal Tuan Jerry sebelumnya.' gumam Rychelle dalam hati.


'Tapi aku rasa dia sangat mengenaliku lewat tanda lahir ini. Bahkan dia mengatakan tidak memberi hukuman mati untuk ayah karena ayah adalah calon mertuanya. dan Achiel... Apa mungkin itu diriku?'


Berbagai pertanyaan memenuhi benak Rychelle tentang hal baru yang baru saja ia temui. Belum sempat Rychelle menghabiskan makanannya, rasa kantuk menyergapnya dan membuatnya sangat ingin memejamkan matanya.


"Sial! Sepertinya makanan ini mengandung obat tidur." umpat Rychelle sambil berusaha untuk membuka matanya. Namun pengaruh obat tidur yang dibubuhkan ke dalam makanannya membuatnya tidak sanggup untuk membuka matanya dan akhirnya ia tergeletak di sofa kamar.


...🍇🍇🍇...


Sedangkan Jerry akhirnya memutuskan untuk menahan Rachel di Pulau Rahasia dan membebaskan Molly untuk tetap kembali bekerja bersama Alarick dan mempersiapkan pernikahan mereka.


"Kalian Istirahatlah di kamar seperti biasa, ada beberapa hal yang harus aku lakukan." ucap Jerry sebelum meninggalkan papi dan juga Alarick.


"Terima kasih Bang." ucap Alarick yang kini bisa bernafas lega atas keputusan Jerry tadi.


Jerry pun langsung meninggalkan ruangannya dan bergegas naik ke lantai dua dan menuju kamar Rachel. Senyumnya merekah lebar saat melihat Rachel tertidur di sofa. Ia pun langsung mengangkat tubuh Rachel ke atas tempat tidur dan perlahan membuka kancing blouse Rachel satu per satu.


"Aku hanya ingin memastikan perkataanmu tadi Rachel." gumam Jerry.


Setelah semua kancing terbuka, Jerry menelan ludahnya kasar melihat kulit mulus Rachel yang bak porselen. Untung saja Rychelle sempat menyimpan smartwatch miliknya di saku celana setelah Molly membuat bajunya sobek.


"Kau berbohong, Rachel. Tidak ada bekas luka gatal sedikit pun di tubuhmu." Jerry melepaskan blouse Rachel dan melemparkannya ke tempat baju kotor, kemudian ia pun menyelimuti tubuh Rachel.


"Aku akan segera memastikan pada Paman Ryan bahwa kau memang benar-benar Achielku."


Jerry langsung beranjak keluar dari kamar Rachel. Namun saat sampai di depan pintu kamar Rachel langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Alarick.


"Apa itu kamar Molly?" tanya Alarick menunjuk ke arah pintu di belakang Abangnya.


"Bukan, ini kamar Rachel. Kamar Molly ada di belakangmu, Al." jawab Jerry.


"Oh, baiklah." Alarick pun masuk ke dalam kamar Molly dan Jerry pun beranjak pergi.


"Al, akhirnya kau datang kemari." Molly langsung berlari memeluk Alarick saay melihat Alarick masuk ke dalam kamarnya.


Namun dengan cepat, Al melepaskan pelukan Molly dan berbalik memandangnya dengan tatapan tajam. "Kenapa kau menyeret nama Rachel dalam hal gila ini Molly?!" tanya Alarick dengan nada yang tinggi.


"Dan kau justru membawanya pergi pada saat jam kerja tanpa memberitahu aku."


"Maafkan aku, Al. Aku benar-benar tidak berfikir jika transaksi itu tertangkap oleh polisi. Kau tahu sendiri kan selama ini aku selalu berhasil setiap mengirimkan barang jualankku." jawab Molly dengan manja.


"Lagi pula Rachel sendiri yang rela untuk ikut campur dengan menandatangi barang tersebut dan menyerahkannya pada kurir."


"Ck, apapun alasanmu, aku tetap kecewa padamu Molly." tukas Alarick geram.


"Tapi aku mohon, rayu Bang Jerry agar memafkanku, Al. Aku tidak mau mati mengenaskan di sini." atap Molly membuat Alarick semakin jengah melihat sikapnya.


"Aku pastikan besok kau pulang bersamaku dan papi." ucap Alarick sambil keluar dari kamar Molly.


...💕💕💕...


Setelah keluar dari kamar Molly dan Jerry sudah tidak terlihat, Alarick cepat - cepat masuk ke dalam kamar Rachel dan mengunci pintunya dari dalam.


"Ternyata dia sedang tertidur pulas." gumam Alarick saat mendapati Rachel tertidur berbalutkan selimut.


Perlahan Alarick mendekat ke tempat tidur Rachel dan duduk di tepi ranjang nya. "Aku sangat lega kau baik-baik saja Rachel." ucap Alarick sambil mengusap kepala Rachel dengan lembut.


"Aku benar - benar sangat mengkhawatirkanmu." Alarick terus memandangi Rachel lekat-lekat. Tiba-tiba Rachel berbalik membelakanginya dan kini Alarick diperlihatkan punggung mulus Rachel yang tidak tertutup selimut.


Alarick mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka jika Rachel tidur tanpa mengenakan pakaian. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah tempat baju kotor yang terdapat blouse yang tadi digunakan oleh Rachel.


"Apa yang sebenarnya sudah dilakukan Bang Jerry saat masuk ke dalam kamar Rachel tadi?" tanya Alarick sambil memungut pakaian Rachel.


"Sobek?" Alarick mengerutkan dahinya. Alarick yang memang tidak melihat kondisi baju Rachel saat meninggalkannya di ruangan Jerry mulai beranggapan bahwa Jerry lah yang membuat blouse Rachel sobek.


"Kurang Ajar!" umpat Alarick sambil melempar kembali blouse Rachel. "Aku pikir dia selama ini memiliki kelainan karena selalu menolak wanita yang datang kepadanya. Ternyata aku salah besar."


Alarick kembali gusar mengingat Abangnya tadi memutuskan untuk menahan Rachel di Pulau ini. Berbagai pikiran negatif mulai memenuhi kepalanya membayangkan nasib Rachel jika hidup bersama Abangnya.


Sedangkan Rachel kini mulai mengerjapkan matanya. Melihat Rachel hampir bangun, Alarick pun kembali mendekat ke tepi ranjang Rachel.


"Mas Arick." Rachel mengerutkan dahinya saat melihat Alarick di depannya. Tapi selanjutnya ia tersadar jika kini ia tidak lagi mengenakan pakaiannya.


"Apa yang mas Arick lakukan padaku?" tanya Rachel dengan tatapan tajam nya dan mengeratkan selimutnya.


"Bukan aku yang melakukannya, Rachel. Percayalah!" Alarick beringsut dari kasur dan mengambil blouse Rachel.


"Bang Jerry yang sudah menyobek bajumu dan melepaskannya. Aku bertemu dengannya di luar pintu kamarmu." timpal Alarick lagi sambil memperlihatkan blouse Rachel yang koyak.


"Oh, blouse ku sobek karena ditarik oleh Miss Molly saat di ruangan Tuan Jerry tadi." balas Rachel.


"Kenapa dia menyobek blouse mu, Rachel?" Alarick kini duduk tepat di hadapan Rachel dan mulai mengikis jarak di antara mereka berdua.


"Emm, karena aku meminta Tuan Jefry untuk menghabisi nyawanya terlebih dahulu sebelum menghabisi nyawaku."


Jawaban Rachel kali ini membuat Alarick tersenyum lebar.


"Kok malah senyum sih."


"Aku sangat suka keberanianmu, Rachel." timpal Alarick yang makin mendekatkan dirinya ke arah Rachel membuat dada Rachel berdegub dengan sangat kencang.


"Dan aku akan memberanikan diriku untuk memutuskan hubungan ku dengan Molly dan memperkenalkanmu sebagai calon istriku." ucap Alarick sambil mendaratkan bibirnya ke bibir Rachel.


Serangan mendadak dari Alarick membuat Rachel sedikit kelimpungan, tapi selanjutnya ia pun membalas serangan mendadak dari Alarick dan keduanya hanyut dalam permainan bibir mereka.


...☘️☘️☘️...


Nah, sambil nunggu bab selanjutnya, mampir yuk ke karya bestie Author. Dijamin ceritanya gak kalah seru loooh.


Nama Pena : Ipah


Judul Novel : Juragan Muda