
Sudah hampir sebulan Molly menjadi mainan Ludolf Berwyn di dalam kamar. Ludolf yang notabenenya adalah calon mertua dari Molly justru sudah mencicipinya terlebih dahulu sebelum putranya yang ia jodohkan dengan Molly. Bahkan bukan hanya mencicipi lagi, melainkan sudah lebih dari itu.
Pagi ini Molly membuka matanya saat sinar matahari masuk ke dalam celah celah jendela kamar yang ia tempati. Sampingnya sudah kosong menandakan Ludolf Berwyn sudah bangun terlebih dahulu dibanding dirinya.
Ia menggerakkan badannya yang terasa remuk redam karena semalaman Ludolf benar-benar membuatnya sama sekali tidak tidur. Ia pun menyandarkan tubuhnya di headboard sambil mengedarkan pandangannya.
Sisa permainannya semalam membuat kamarnya sangat berantakan karena pakaiannya tercecer kemana-mana. Dengan tenaga yang tersisa, Molly pun memunguti pakaiannya satu per satu dan segera memakainya. Setelah itu ia pun bergegas menuju kamar mandi.
'Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku harus ikut kapal nelayan agar terlepas dari tua Bangka gila itu.' gumam Molly sambil mengguyur tubuhnya.
'Aku pikir dia akan melindungi aku seperti anaknya sendiri. Ternyata aku sudah salah besar dalam memberikan penilaian terhadapnya.'
Sayangnya selepas mandi dan baru satu langkah keluar dari kamar mandi harapannya langsung buyar saat dua orang polisi sudah berdiri di hadapannya.
"Nona Molly Ran. Anda kami tangkap dan anda sudah tidak bisa lagi melarikan diri." ucap Teysar yang langsung memasangkan borgol di tangan Molly.
"Kalian tidak bisa menangkap begitu saja, kalian harus menangkap Ludolf Berwyn karena dia dalang sebenarnya dari kasus ini." teriak Molly.
"Kalau begitu katakan dimana Ludolf Berwyn sekarang?" cecar Ryan One yang muncul dari pintu masuk rumah singgahnya selama hampir satu bulan ini.
"Paman Ryan." Molly membelalakkan matanya melihat Ryan One datang menggunakan seragam kepolisiannya.
"Harusnya saat itu Paman sudah terbunuh di tangan Bang Jerry. Dia sudah salah besar menjadikan Paman sebagai tawanan jika akhirnya paman berkhianat seperti ini." teriak Molly dengan gusar.
"Kalian semua polisi bodoh! Orang di hadapan kalian juga ikut andil dalam kasus ini." umpat Molly yang tidak terima melihat Ryan One sama sekali tidak dihukum.
Sayangnya umpatan Molly sama sekali tidak dihiraukan dan ia langsung digelandang ke tengah lapangan di pulau tersebut dan digabungkan dengan anak buah yang lainnya.
Molly mengabsen satu persatu anak buah Ludolf dan ternyata mereka semua tertangkap. Hanya Ludolf Berwyn saja yang belum ditemukan dimana saat ini ia berada.
"Katakan dimana Ludolf Berwyn?!" gertak Rychand sambil menatap tajam ke arah Molly.
"Ciiih, ternyata kalian masih saja belum bisa menemukan Ludolf Berwyn ya?" decih Molly meremehkan.
"Jangan-jangan kalian juga belum menemukan Jerry Berwyn juga?" ledek Molly membuat Rychand semakin geram.
"Jangan berani-beraninya meledek polisi!" gertak Rychand. "Karena sebentar lagi kau aku pastikan akan dikenai hukuman mati."
Molly terdiam dengan ucapan Rychand kali ini. Namun setelah itu ia tertawa terbahak-bahak setelah melihat nama Rychand Oliver di name tag polisi yang ada di hadapannya.
Ia ingat betul siapa Rychand Oliver, krena namanya sangat terpatri dalam ingatannya.
"Tutup mulutmu dan jangan tertawa!" gertak Rychand untuk ke sekian kalinya.
"Wow! Kau sungguh banyak berubah Rychand Oliver. Apa kau tidak ingat dulu waktu kita masih sama sama kecil kau sangat peduli denganku? Bahkan kau sangat perhatian denganku sampai kita sama-sama berjanji akan menikah saat dewasa nanti."
"Dan kau tidak pernah berbicara dengan nada tinggi seperti ini denganku Rychand." ucap Molly Ran membuat semua polisi yang berkumpul di sana menatap ke arah Komisaris Rychand.
"Dasar gila!" umpat Rychand yang enggan menimpali ocehan Molly yang menurutnya sangat tidak berguna.
"Bawa mereka ke kapal tahanan dan kembali berpencar mencari Ludolf Berwyn." ucap Rychand sambil berbalik meninggalkan Molly Ran.
"Rychand." teriak Molly lagi. "Aku masih mencintaimu. Kau makin tampan sekarang." racaunya saat polisi menggelandang nya menuju ke kapal tahanan.
Sedangkan Rychand kembali memeriksa warga yang berkumpul di lapangan dan sama sekali tidak ditemukan Ludolf Berwyn di antara mereka.
"Apa di antara kalian ada yang masih berada di luar pulau?" tanya Rychand.
Rychand pun langsung memerintah anak buahnya untuk menghubungi polisi yang berada di kota Metropolitan agar berjaga di dermaga tempat pelelangan ikan.
"Interupsi Komandan! Di pulau ini sama sekali tidak ada jaringan." ucap anak buah Rychand membuat Rychand mengusap wajahnya kasar.
"Ck, sahabat ayah benar-benar seperti belut yang dengan mudahnya melarikan diri." gumam nya pelan.
Ia pun langsung berpamitan kepada warga di pulau tersebut dan meminta maaf sudah membuat ketegangan untuk kedua kalinya di sana. Tak lupa Rychand juga memberikan sedikit buah tangan untuk mereka sebagai tanda permintaan maaf.
...🍭🍭🍭...
Sedangkan di kantor polisi, sipir penjara berhasil diam - diam mengambil buku milik Alarick dan juga Avega secara bersamaan. Ia pun segera mengambil gambar apa yang ditulis di dalamnya dan mengirimkannya kepada Brigadir Rychelle sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya.
Setelah itu ia segera mengembalikan buku tersebut di tempatnya kembali.
Rychelle yang menerima pesan dari sipir penjara langsung buru buru membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Namun dahinya seketika berkerut melihat apa yang dituliskan Mas Arick nya di dalam buku tersebut.
"Ck, ini bahasa apa sih?" gerutu Rychelle sambil mengamati ponselnya.
Tulisan yang ada di buku Alarick benar benar tidak bisa dipahami oleh Rychelle. Tapi Rychelle terus menscroll ponselnya untuk melihat gambar tulisan Alarick yang lainnya.
Sampai di foto yang terakhir, ia melihat namanya tertulis di buku Alarick.
...[RACHEL ORTISIA] - [IZXSVO LIGRHRZ]...
"Hmm, apa ya maksud dari tulisan ini?" gumam Rychelle sambil menautkan huruf huruf di atas dengan namanya dan mencoretkannya di atas kertas.
Tak lama kemudian Rychelle langsung tersenyum lebar.
"Naah, aku baru paham. Mas Arick pasti menulis di buku ini dengan sandi." gumam Rychelle sambil mulai mengotak atik sandi apa yang saat ini digunakan oleh Alarick untuk menulis di bukunya.
"Yes I get it, it's sandi A-Z." ucap Rychelle dengan gembira.
Ia pun langsung menuliskan rumusnya agar ia bisa tahu apa yang tertulis dalam buku Alarick. Dan setelah itu ia menyalin ke dalam bukunya apa yang sudah Alarick tulis.
...📖📖📖...
Hari ke empat di penjara.
Akhirnya aku bisa mendapatkan buku untuk menuliskan segala kerinduanku untuk wanita yang sangat aku cintai. Aku menyesal telah menjadi lelaki yang tidak berguna karena aku tidak mampu menjaga Wanita ku saat ini. Bahkan aku juga tidak mendengar kabar tentangnya, apakah ia masih bertahan hidup atau sudah tiada.
Maaf sayang, tidak bisa mendampingi mu saat ini, tapi aku akan terus berdoa untuk keselamatan, kesehatan dan kepulihanmu. Aku mencintaimu, Rachel.
...📖📖📖...
Rychelle tertegun saat berhasil memecahkan rumus yang sudah ditulis oleh Alarick. Kerinduannya semakin menggebu-gebu. Ia sangat berjumpa dengan Alarick, namun saat ini keadaannya sangat tidak memungkinkan.
"Aku juga mencintaimu, Mas Arick." gumam Rychelle sambil menyimpan ponsel dan bukunya dan bersiap untuk pulang ke rumah.
...☘️☘️☘️...
Hari ini sampai di sini dulu yaa. Besok akan disambung lagi apa isi buku Alarick.
Mohon dukungannya ya readers semua dengan like, comment, vote, gift, dan jangan lupa untuk tonton iklannya biar Author semakin semangat update. Terima kasih.