
Rychelle membuang nafasnya kasar dan berbalik menatap Alarick. "Oke, tapi ada syaratnya."
Kali ini Rychelle memanfaaatkan Alarick agar dia terus tetap bertahan di Kantor Bank One Point sampai misinya selesai tanpa mendapat sangkaan buruk dari Molly.
"Tetaplah bersikap seperti atasan saya Mr, karena saya sama sekali tidak ingin menyakiti perasaan Miss Molly atau siapa pun itu."
"Bagaimana jika aku tidak bisa?" tanya Alarick balik.
"Saya lebih baik resign dari kantor anda dan menganggap tidak pernah mengenal anda sedikit pun."
Jawaban Rychelle kali ini membuat Alarick langsung menginjak remnya dan memandang ke arah Rychelle dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa harus seperti itu, Rachel? Kenapa begitu sulit bagiku untuk merasa nyaman dan bahagia di sampingmu?" tanya Alarick yang sangat tidak ingin menyetujui permintaan Rachel.
Tin! Tin!
Tin! Tin! Suara klakson mobil di belakang mobil Alarick terus berbunyi karena Alarick tidak kunjung menjalankan mobilnya dan membuat jalanan sedikit macet.
"Mr, lebih baik jalankan mobilnya. Anda sudah membuat lalu lintas terhambat." pinta Rychelle.
Alarick memutar bola matanya malas dan kemudian kembali menjalankan mobilnya.
"Saya tidak peduli sama sekali dengan anda, Mr. Karena sebelumnya saya memang tidak mengenal anda. Terlebih mengenai perasaan anda."
"Lebih baik saya kembali seperti dulu sebelum mengenal anda, dan anggap saja kita tidak pernah kenal sama sekali."
Lagi-lagi Rychelle mempertegas keinginannya kepada Alarick. Dan baru kali ini juga Alarick merasa dikesampingkan oleh seorang wanita. Selama ini justru beberapa wanita yang datang kepadanya selalu di kesampingkan oleh Alarick termasuk Molly, tunangannya sendiri.
"Baiklah, kalau memang itu maumu, Rachel. Aku akan mengabulkannya." ucap Alarick menahan rasa kesalnya.
"Sekarang, lebih baik kau turun dari mobil ku. Karena tidak pantas seorang atasan mengantarkan asistennya sendiri pulang ke rumah."
Alarick menepikan mobilnya dan mempersilahkan Rychelle untuk keluar dari mobilnya.
"Haaaah?!" pekik Rychelle sambil mengerutkan dahinya. Hari sudah hampir malam dan Alarick justru meninggalkan dirinya begitu saja di pinggir jalan.
"Dan ingat, aku tidak jadi memberimu waktu libur untuk hari esok. Datanglah ke kantor jam 6 dan jangan terlambat sedikit pun." perintah Alarick membuat Rychelle makin terkejut.
"Apaa?!"
Lagi-lagi Rychelle terpekik mengetahui sikap Alarick yang langsung berubah sinis terhadapnya. Tetapi mau tidak mau Rychelle pun mengikuti perintah Alarick karena memang dirinya sendiri yang meminta Alarick seperti itu.
"Oh, baiklah Mr. Terima kasih banyak atas tumpangannya." Rychelle membuka pintu mobil dan langsung keluar dari mobil Alarick.
Sedangkan Alarick langsung meninggalkan Rychelle begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Aaaarrrrgghhh!" Alarick meremas setir mobilnya kuat-kuat.
"Kenapa susah sekali untukmu menyadari perasaanmu padaku, Rachel?"
"Kenapa kau justru berbohong di saat matamu sudah berkata jujur, dan bahkan bibirmu juga sudah membalas ciuman dariku." gerutu Alarick sambil mengusap bibirnya sendiri dan membayangkan saat dirinya berpagutan dengan Rachel.
"Huuuh! Ini terlalu manis untuk dilupakan." ucap Alarick sambil tersenyum.
"Bahkan tamparan Rachel juga terasa sangat lembut di pipiku." Alarick berpindah mengusap pipinya yang terkena tamparan dari Rachel.
"Aku benar-benar sudah kau buat gila, Rachel Ortisia. Dan kini aku akan membuatmu sadar bagaimana perasaanmu padaku. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bertekuk lutut." gumam Alarick yang sudah merencanakan sesuatu untuk Rachel.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan Rychelle yang baru saja tiba di rumahnya langsung disambut oleh kakaknya.
"Hai dek, kamu diantar Avega kan?" tanya Rychand saat melihat wajah Rychelle yang kelelahan.
Rychelle menggelengkan kepala sambil berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin lalu meneguk nya sampai habis.
"Kok gak diantar?" tanya Rychand lagi. "Emang kalian gak jadian?"
Rychelle kali ini mengangguk sambil berjalan ke arah kakaknya. "Aku tidak ingin bermain dengan perasaan saat menjalankan misi ini kak. Karena itu akan semakin membuatku lelah karena terus berpura-pura." jawab Rychelle sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Thanks ya kak." balas Rychelle sambil memeluk kakaknya.
"Malam ini kakak harus ke kediaman BrigJen Aris untuk membicarakan beberapa hal yang kamu temukan akhir-akhir ini. Bisa kakak bawa laporan sementara yang sudah kamu buat?" tanya Rychand membuat Rychelle langsung membulatkan matanya.
'Gawat! Aku tidak bisa menyerahkan laporan itu sekarang. Karena yang ada dalam laporanku, hanya Arick dan Ega yang terlibat. Sedangkan aku belum menelisiknya lebih dalam siapa yang benar-benar terjun dalam perjudian dan perdagangan narkoba.' gumam Rychelle dalam hati.
"Memangnya harus malam ini ya kak?" tanya Rychelle sambil melihat ke arah jarum jam di dinding rumahnya.
"Ini sudah jam 9 malam loh, Memangnya tidak mengganggu BrigJen Aris dan keluarganya?"
Kali ini Rychelle berharap kakaknya menunda kepergiannya ke rumah BrigJen Aris karena Rychelle masih harus menelisik lebih dalam siapa yang benar-benar terjun di dalam perjudian dan pedagangan narkoba tersebut.
"BrigJen Aris tetap akan menunggu kakak sampai tengah malam sekali pun, Rychelle. Kamu jangan khawatir. Kakak hanya mau membawa laporan sementara dari video yang sudah terekam dari kamera pengintai mu." jelas Rychand membuat Rychelle makin tercekat.
"Video rekamannya juga akan dibawa?" tanya Rychelle sedikit gemetar.
"Tentu saja, Memangnya ada apa?" tanya Rychand.
"Begini kak, aku belum menelisiknya lebih dalam siapa yang benar-benar terjun dan bersalah di dalam kasus ini. Bagaimana jika menunggu sampai semua laporannya terkumpul?"
"Lagi pula bukannya kakak sudah lelah? Aku yakin kak Citra juga pasti ingin ditemani kakak malam ini."
Kali ini Rychelle berusaha untuk merayu kakaknya agar tidak pergi ke rumah BrigJen Aris malam ini. Sayangnya usaha Rychelle sia-sia saja karena Citra justru sangat mendukung suaminya untuk bertugas malam ini.
"Rychelle, kakakmu kan memang harus menjalankan tugasnya dan mengenai hal ini memang tidak bisa ditunda lagi karena berkaitan dengan nyawamu, Rychelle sayang." ucap Citra yang turun dari kamarnya dan membawakan jaket untuk Rychand.
"Terima kasih pengertiannya, Honey." balas Rychand menerima jaket dari istrinya dan mengecup bibir Citra sedikit lama.
"Sekarang tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi bukan?" tanya Rychand kepada Rychelle. "Nah lebih baik cepat bawa kemari laporannya karena kakak harus segera pergi."
Akhirnya dengan langkah gontai Rychelle melangkah ke kamarnya untuk mengambil flashdisk yang sudah berisi beberapa laporan nya selama ini. Untung saja ia hanya menyematkan hal-hal yang menurutnya penting di flashdisk tersebut.
"Ini kak laporan sementaranya." Rychelle memberikan flashdisk tersebut kepada Rychand.
"Baiklah, kakak berangkat dulu ya. Kalian segera Istirahatlah." ucap Rychand sambil melambaikan tangannya.
...☘️☘️☘️...
Hai Guys, mampir juga yuk ke Novel temen Author. Dijamin ceritanya seru loh.
Judul :Tamu Ranjang Tuan Muda Imponten
Nama pena : Liana Kiezia
FB: Liana Kiezia
#Noveltoon
#Promosi_Novel
#Sinopsis
🚨Bocil di larang mengintip...
Trea Desmond seorang wanita 23 tahun kembali ke tanah airnya dengan misi mencari ayah biologis kedua anak kembar nya.
Dalam pencarian itu dia menemukan fakta bahwa gigolo yang dulu ia sewa ternyata adalah bolsnya sendiri yang memiliki sifat kejam kepada musuh, lebih-lebih kepada wanita yang mengaku mengandung benihnya.
Tree terpaksa dan harus bisa membuat pria kejam itu untuk menghamili dirinya, demi sebuah plasenta bayi yang bisa menyelamatkan Xlano salah satu anak kembarnya yang sakit.
Apakah misi Tree mendapatkan anak lagi dari ayah biologis kedua buah hatinya akan tercapai?
Atau sebaliknya?
atau sebaliknya, Tree memilih mundur dan memilih opsi lain untuk menyelamatkan nyawa anaknya....