
Jerry mengepalkan tangannya geram dan memukulkannya ke dinding kamar mandi.
"Aku tidak bisa peka terhadap perasaan Achiel. Adakah dia benar-benar ingin membuka hatinya untukku? Atau dia saat ini hanya memasang jebakan untukku agar dia bisa melarikan diri?" batin Jerry kesal sambil memandangi wajahnya sendiri di depan kaca.
"Aku tampan dan rupawan, tapi Achiel tidak sedikit pun terpesona dengan ketampananku." batin Jerry menggerutu.
Jerry pun membasuh wajahnya dan kemudian memandangi dirinya lagi di depan kaca.
"Bukan Jerry Berwyn namanya jika aku tidak bisa membuat Achiel jatuh cinta denganku. Kali ini aku tidak boleh kalah dengan tipuan atau pun rayuan dari dia."
Jerry mencoba mengatur nafasnya dan kembali mendekati Rychelle yang kini sedang menonton film.
"Aku akan menjawab semua Pertanyaan mu dengan syarat yang harus kau penuhi." ucap Jerry yang kini sudah duduk di samping Rychelle.
"Aku sudah tidak menginginkan jawaban dari Abang." jawab Rychelle mengacuhkan Jerry.
"Bukankah kau ingin tahu bagaimana aku bisa menangkap dan membawamu kemari?" tanya Jerry sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak." jawab Rychelle singkat.
"Kau ingin mengetahui kabar yang kini sedang ramai di luaran sana bukan?" tanya Jerry lagi.
"Aku tidak boleh terkecoh dengannya, kita lihat saja siapa yang lebih cerdas di antara kita," gumam Rychelle dalam hati.
"Tidak."
Jawaban yang sama keluar dari mulut Rychelle membuat Jerry mencari cara agar Rychelle mau menerima syarat darinya.
"Tapi kau ingin mengetahui segalanya tentangku bukan? Tentang nama samaranku dan bagaimana kehidupanku setelah lari dari kejaran polisi"
Rychelle kali ini menggelengkan kepalanya, "Sama sekali, tidak!" jawab Rychelle.
"Tapi kau ingin pegang ponsel bukan? Aku tahu kau sangat jenuh berhari-hari di dalam kamar." tanya Jerry yang sengaja membuat Rychelle bertekuk lutut dengannya dan akhirnya mengucapkan "iya".
Sayangnya kali ini Jerry harus menelan pil kekecewaan karena Rychelle masih mengeluarkan kata yang sama.
"Aku sudah tidak tertarik lagi dengan semua itu." jawab Rychelle membuat Jerry mulai sedikit kesal.
"Oke, kalau begitu katakan apa yang kamu inginkan saat ini?"
Dalam hati Rychelle mulai bersorak gembira karena kali ini ia sangat yakin jika Jerry pasti tidak lebih cerdas untuk mengelabuinya.
"Tidak ada yang kuinginkan."
Jawaban Rychelle kali ini membuat Jerry mulai frustasi.
Brak!
Jerry menggebrak meja yang kesekian kalinya kemudian memegang dagu Rychelle dan mengarahkannya untuk memandang wajahnya.
"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Achiel?" gertak Jerry.
"Kau sengaja mempermainkanku, hah!"
"Kau bilang ingin ini dan itu, tapi kenapa sekarang kau justru tidak menginginkannya sama sekali?"
Gertakan dan amarah Jerry tidak membuat Rychelle gentar sedikit pun. Ia justru membalas tatapan tajam Jerry yang terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Kalau bang Jerry hanya bisa melihatku dari segala sisi burukku, aku yakin Abang akan selalu naik pitam seperti ini jika bersama denganku." balas Rychelle tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Aku memang sedang tidak menginginkan apapun saat ini. Bahkan aku juga sudah tidak berharap abang terbuka denganku dan menceritakan segala sesuatunya denganku."
"Jangan berbohong Achiel! Aku yakin kau pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak ku." sarkas Jerry tajam.
"Aku tidak perlu hidup lagi jika orang yang nantinya hidup bersama ku terus saja memiliki prasangka yang buruk denganku." gertak Rychelle dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mendengar kalimat terakhir Rychelle membuat Jerry langsung memeluk Achielnya dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Achiel. Maafkan aku yang belum bisa memahami dan mengenalmu dengan baik."
Rychelle terdiam tanpa membalas pelukan Jerry sedikit pun.
"Aku fikir kau masih merencanakan untuk lepas dariku. Aku fikir kau tidak pernah mau hidup bersamaku."
"Aku mohon, maafkan aku Achiel. Mulai sekarang, aku akan belajar mengenalmu lebih dekat lagi dan juga belajar untuk terbuka dengan calon istriku." ucap Jerry membuat Rychelle membalas pelukannya kali ini.
"Cinta memang akan datang jika sudah terbiasa bersama Bang. Tapi kebiasaan itu bukanlah untuk saling mencurigai, melainkan saling percaya di antara kita." tukas Rychelle membuat Jerry mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah tidak bisa membedakan lagi mana jebakan, tipuan atau kesungguhan. Yang jelas aku sangat bahagia dengan apa yang diucapkan Achiel barusan. Terlebih da juga sudah mulai membalas pelukan ku." gumam Jerry dalam hati.
Kini Jerry pun melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya ke arah Rychelle.
Rychelle sedikit bingung dengan lelaki yang kini ada di hadapannya, namun ia pun tetap menyambut uluran tangan Jerry.
"Kenalkan, Aku Jorell Kevin dan kau juga sudah aku buatkan identitas baru dengan nama Achiella." ucap Jerry.
Sedangkan Rychelle berusaha menyembunyikan rasa keterkejutanya barusan. "Pantas saja Inah memanggilnya dengan sebutan Tuan Jo, ternyata namanya Jorell Kevin." batin Rychelle.
"Nama yang bagus," timpal Rychelle. "Lalu bagaimana kini aku memanggil abang?"
"Panggil saja seperti biasa saat kita sedang berdua. Aku lebih nyaman kau memanggilku dengan sebutan Bang Jerry." jawab Jerry.
"Namun jika suatu saat nanti kita tidak sedang berdua, kau bisa memanggilku Jo."
Rychelle langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Jerry.
Jerry pun kemudian menceritakan tentang dirinya yang mengikuti mobil alat kesehatan yang menuju ke surabaya dan juga menceritakan tentang Ludolf Berwyn yang kini mengganti namanya menjadi Bemby.
Tidak hanya itu, Jerry juga menceritakan tentang bisnis besar yang saat ini sedang dikelola olehnya.
"Abang tidak berbisnis narkoba lagi kan?" tanya Rychelle. "Aku tidak suka abang menjalani bisnis terlarang itu."
Jerry menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Hanya saja, aku masih mengkonsumsinya meski sedikit." jawab Jerry jujur.
Kali ini ia bertekad untuk mulai terbuka dengan Achielnya. Untuk urusan Achiel nantinya akan menjebaknya atau lain sebagainya, itu urusan lain karena ia akan terus memperketat ruang gerak Rychelle.
"Aku bisa membantu abang untuk tidak lagi mengkonsumsi narkoba. Aku akan melakukan terapi secara khusus untuk abang. Bagaimana?" tawar Rychelle yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Jerry.
"Aku sudah sangat kecanduan, Achiel. Dan aku tidak bisa untuk melepaskan barang laknat itu."
"Abang asti bisa terlepas dari itu. Percayalah!" ucap Rychelle meyakinkan Jerry. Sayangnya lagi-lagi Jerry menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau abang memang tidak mau. Jangan salahkan aku jika nanti setela menikah aku tidak ingin punya anak dari bang Jerry." ucap Rychelle membuat pancingan.
"Kenapa begitu, Achiel?" tanya Jerry yang jantungnya mulai berdegub tidak menentu saat mendengar tentang pernikahan mereka.
"Karena bayi dari ayah yang pecandu narkoba tidak akan tumbuh dengan sehat, bahkan jika ia lahir nanti bisa dipastikan umurnya tidak akan panjang. Jadi dari pada aku membunuh anakku sendiri, lebih baik aku tidak punya anak sama sekali." jelas Rychelle panjang lebar.
Ucapan Rychelle kali ini membuat Jerry berfikir keras.
"Kalau begitu aku akan mencoba terapi darimu, Achiel. Demi anak kita nanti." ucap Jerry membuat Rychelle merekah kan senyumnya.
"Itu baru namanya calon ayah yang baik. Mulai besok kita akan mulai terapinya."