
"Anda mengganti pakaian anda juga, Mr?" tanya Rychelle yang baru saja keluar dari kamar kecil dan mengganti bajunya dengan baju yang kumuh dan memasukkan tasnya ke dalam karung.
"Tentu saja." jawab Alarick yang kemudian menutupi kepala Rychelle dengan selendang lusuh.
"Berikan kunci motormu." pinta Alarick saat sopir pribadinya sudah berdiri di belakang mereka.
Rychelle pun langsung memberikan kunci motornya kepada Alarick. Setelah itu mereka mulai meninggalkan rumah tersebut sambil berjalan seperti pemulung yang sedang mencari barang barang bekas.
Rychelle sedikit agak menjauh saat melewati ketiga pria bertubuh kekar yang masih mengelilingi motornya. Namun tiba-tiba terdengar suara bariton salah satu dari ketiga apria tersebut dan membuat Rychelle menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
'Duuuh, aku harus bagaimana ini?' gumam Rychelle dalam hati sambil tetap menggerakkan grabber reacher yang biasa digunakan untuk mengais sampah dan berpura pura mencari sesuatu.
"Apa anda melihat seorang wanita dengan potongan rambut bob dan mengenakan setelan seragam pegawai bank lewat di sekitar sini?" tanya pria tersebut.
"Owh, sepertinya saya melihat wanita dengan ciri-ciri seperti itu di warung sebelah sana beberapa menit yang lalu." terdengar Alarick menjawab pertanyaan pria tadi dengan suara yang dibuat-buat dan seketika membuat Rychelle langsung menghembuskan nafasnya lega.
Kedua orang pria bertubuh kekar tersebut langsung menuju ke arah warung yang ditunjuk oleh Alarick, sedangkan yang satu masih tetap berjaga di sekitar motor Rychelle.
Rychelle pun langsung melangkahkan kakinya menuju mobil Alarick. Setelah dirasa keadaan di sekitar aman, ia pun masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian Alarick pun datang dan menyusul masuk ke dalam.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini, Rachel." ucap Alarick yang langsung menjalankan mesin mobilnya.
Sedangkan sopir pribadi Alarick pun langsung berjalan ke arah motor Rychelle dan bersiap untuk membawanya pergi.
"Permisi pak. Saya mau jemput penumpang." ucap Sopir Alarick kepada seorang Pria yang bersandar di motor Rychelle.
"Kamu yang punya motor ini?" tanya pria tersebut sambil mengerutkan dahinya.
Dilihatnya sopir Alarick dari atas sampai bawah. Helm yang digunakan adalah helm seorang driver ojek online dengan jaket ojek online yang terlihat sedikit lusuh. Tidak hanya itu, sopir Alarick juga memegang ponsel seolah ia sedang hendak menjemput seorang penumpang yang tersangkut di aplikasi ojek Onlinenya.
"Jelas iya dong." jawab sopir Alarick dengan nada sedikit ketus. "Saya buru-buru nih." tambahnya sambil menyalakan mesin motor Rychelle dan pergi jauh dari pria yang sedari tadi berjaga jaga di motor Rychelle.
Setelah sopir Alarick berhasil membawa motor Rychelle, kedua orang pria tadi pun datang dan menepuk bahu temannya.
"Hei! Motor Nona Rachel dimana?" tanya pria yang baru kembali dari warung yang tadi ditunjuk oleh Alarick.
"Kita sudah salah terka. Ternyata motor yang dari tadi kita tunggu adalah motor ojek online." jawab pria tersebut sambil menunjuk ke arah motor yang dibawa oleh sopir Alarick.
"Gak mungkin kita salah terka. Aku hafal betul motor yang tadi kita ikuti." sanggah pria satunya lagi.
Tak lama kemudian lewat motor yang sangat mirip dengan motor Rachel di depan mereka bertiga.
"Itu motor Nona Rachel juga bukan kira-kira?" tanya pria yang tadi menunggu motor Rachel saat yang lain mencari Rachel ke warung.
Akhirnya mereka bertiga pun langsung melapor kepada bos mereka bahwa Rachel tidak berhasil untuk ditangkap.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan Rychelle kali ini sudah bisa bernafas lega karena dirinya benar-benar terlepas dari kejaran tiga orang pria tadi. Ia pun mencuri pandang ke arah Alarick yang sedang mengendarai mobil lewat kaca spion tengah karena kali ini ia masih duduk di seat belakang.
'Aku gak nyangka, seorang CEO seperti Mr. Arick masih menyempatkan dirinya untuk mengajar anak-anak jalanan. Aku pikir dia adalah sosok yang sangat dingin dan tidak peduli dengan hal seperti itu, tapi ternyata dia jauh sangat luar biasa dari apa yang aku kira selama ini.' gumam Rychelle dalam hati.
'Aku hampir saja frustasi menghadapi sikap Mr. Arick yang seperti bunglon hari ini. Mendiamkan dan mengacuhkan aku sepak pagi. Tapi kali ini dia benar-benar menyelamatkan aku dari kejaran orang yang sama sekali tidak aku kenal.'
Kali ini Rychelle menyunggingkan senyumnya sambil terus memandangi wajah Alarick dari kursi belakang.
"Aku masih tetap tampan bukan, meskipun memakai baju lusuh seperti ini?" tanya Alarick yang menangkap basah Rychelle yang terus mencuri pandang ke arahnya.
Mendengar pertanyaan Alarick barusan membuat Rychelle cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Ciit! Alarick langsung menginjak rem mobilnya tiba-tiba dan membuat Rychelle terantuk kursi mobil bagian depan. Untung saja mereka kini bukan di jalan besar, jadi tidak seperti sebelumnya yang Alarick menyebabkan macet.
"Ada apa, Mr?!" tanya Rychelle terkejut sambil memegang dadanya.
"Pindah sini gih." pinta Alarick sambil menepuk kursi mobil yang ada di sampingnya. "Biar kamu puas memandangi saya dan gak perlu curi curi pandang lagi."
"Oh, tidak perlu, Mr." jawab Rychelle menahan malu.
"Pindah sekarang, atau aku ..."
Sebelum Alarick mengeluarkan ancamannya, Rychelle pun buru-buru pindah ke samping Alarick tanpa keluar dari mobil.
"Nah, sekarang kau bisa dengan leluasa memandangi aku, Rachel." ucap Alarick kembali menjalankan mobilnya.
Sayangnya Rychelle tidak mengindahkan perkataan Alarick kali ini dan justru memandang keluar jendela mobil.
"Pandang aku, Rachel!" ucap Alarick tegas. "Ini hukuman dariku karena kau sudah berani mencuri pandang ke arahku sejak tadi." tambah Alarick lagi membuat Rychelle merasa bingung.
'Apa-apaan sih Mr. Arick nih. Jadi orang gak jelas banget.' gerutu Rychelle dalam hati.
'Ck, lagian aku nih juga kenapa lagi pake acara curi pandang ke arah Mr. Arick.' batin Rychelle merutuki kebodohannya.
Mau tidak mau Rychelle pun menuruti apa yang diinginkan Alarick. Bahkan kali ini ia sengaja melipat kakinya ke atas dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Alarick. Kemudian ia menyangga kepalanya di atas tangannya.
"Aku sekarang yakin, kau bukan hanya mengagumi ketampanan ku, tapi juga mulai terpesona dengan daya tarik yang ada pada diriku dan juga kepribadianku. Bukankah begitu, Rachel Ortisia?" tanya Alarick sambil tersenyum sekilas ke arah Rychelle.
"Wow, anda memang pemimpin yang begitu percaya diri, Mr." balas
Rychelle yang masih belum mau mengakui rasa kagumnya terhadap Alarick.
"Tentu saja aku percaya diri. Kau tahu kenapa Rachel?" tanya Alarick dan Rachel langsung menggelengkan kepalanya.
"Karena aku mengatakan segala hal dengan jujur, tidak sepertimu yang selalu menutupi kejujuran Sorot matamu dengan kebohongan."
Deg! Ucapan Alarick kali ini benar-benar membuat Rychelle terdiam seribu bahasa. Perlahan Rychelle menurunkan kakinya ke bawah dan mengalihkan pandangannya ke depan.
Melihat asistennya terdiam membisu, Alarick pun menepikan mobilnya. Tangannya terulur memegang dagu Rychelle dan mengalihkannya untuk memandang ke arahnya.
"Aku ingin mendengar sedikit saja kejujuran dari mulutmu, Rachel. Adakah sebersit rasa cinta dalam hatimu untukku?" tanya Alarick membuat degub jantung Rychelle tidak menentu.
...🙏🙏🙏...
Sambil nunggu Author up lagi malem ini, mampir yuk ke Novel temen Author.
Nama Pena : St Nurul Ng
Judul Novel : Gelora Noda dan Cinta
Blurb
Violet gadis remaja 18 tahun harus menerima pil pahit atas kesalahan Dewandaru. Dewandaru yang berencana untuk menculik dan merusak Widuri, kakak sepupu Violet malah salah sasaran, karena antara Violet dan Widuri, memiliki kemiripan yang sulit di bedakan sehingga Dewandaru, sangat sulit membedakan antara Violet dan Widuri, apalagi diantar mereka tidak saling kenal.
Violet depresi berat setelah mengalami penculikan dan pemerkosaan atas dirinya, Dewandaru, setelah di nyatakan bersalah dia mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Atas perbuatan Dewandaru, Violet, melahirkan anak lelaki, setelah keluar dari penjara Dewandaru, berusaha mencari keberadaan Violet yang telah di sembunyikan oleh orang tua Dewandaru, di luar kota.