
Rychelle mulai mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jerry. Kini keduanya sudah hampir tidak berjarak, bahkan Jerry pun bisa merasakan hembusan nafas Rychelle yang terasa menyapu wajahnya.
Degub jantung Jerry mulai berdetak tidak karuan saat ia merasakan jika Rychelle sudah mulai hendak mencium bibirnya. Namun seketika mata Jerry pun terbuka membuat Rychelle justru terpaku tepat di depan wajah Jerry sambil menelan ludahnya kasar.
"Dia benar - benar ingin menciumku." sorak Jerry dalam hati.
Jerry kali ini meletakkan ibu jarinya di bibir Rychelle dan kemudian mencium jarinya sendiri sedikit lama.
"Terima kasih sudah mencintai aku, Achiel." ucapnya kemudian dengan mata berkaca-kaca.
Melihat perlakuan Jerry barusan membuat Rychelle langsung menghambur memeluk Jerry sambil bernafas lega.
"Entah kenapa setahun bersama Jerry Berwyn membuat aku merasakan ketulusan cintanya padaku. Meski saat ini aku belum benar-benar bisa membalas perasaannya, tapi aku yakin akan diperlakukannya sebaik mungkin jika menikah nanti."
"Aku bahkan hampir putus asa untuk berjuang memerdekakan diriku sendiri dari tawanan Jerry, tapi aku masih punya satu kesempatan untuk berjuang sebelum aku menikah dengannya." gumam Rychelle dalam hati.
"Kapan kita akan menikah, Bang? Lalu bagaimana dengan acara pestanya?" tanya Rychelle mencoba untuk terlihat antusias dengan acara pernikahannya dengan Jerry.
"Aku ingin menikah denganmu minggu depan, Achiel ku sayang. Kau tahu sendiri kan betapa aku sudah sangat tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya." jawab Jerry membuat Rychelle menelan ludahnya kasar.
"Apa?! Satu minggu lagi?!" pekik Rychelle dalam hati.
"Untuk konsep pernikahannya, kali ini aku serahkan denganmu." ucap Jerry sambil mengusap kepala Rychelle dengan lembut.
"Aku tidak butuh pernikahan yang mewah, meski aku hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidupku."
Jerry langsung menyunggingkan senyumnya selebar mungkin mendengar ucapan Achielnya.
"Tapi ada satu hal yang aku inginkan, restu dari orang tua."
Kali ini senyum Jerry langsung hilang seketika.
"Jangan marah dulu abangku sayang," Rychelle langsung mengusap lengan Jerry perlahan.
"Aku tahu tidak mungkin untuk menghubungi ayah atau keluargaku. Lagi pula mereka sudah menganggap tidak ada."
"Tapi aku ingin restu dari orang tua Abang untuk pernikahan kita." pinta Rychelle sambil memperlihatkan puppy eyesnya kepada Jerry.
"Itu pun juga tidak bisa, Achiel! Kau tau sendirian bagaimana papi sangat ingin menghabisi nyawamu. Aku tidak setuju dengan permintaanmu!" ucap Jerry tegas.
"Tapi abang punya Mami di kota ini, tidak bisakah abang meminta restu pada Mami?" ucap Rychelle mulai berkaca-kaca.
"Aku sama sekali tidak menginginkan Papi Ludolf, tapi aku hanya ingin Mami mertuaku merestui pernikahan kita. Setidaknya, agar aku juga merasakan kehadiran mendiang bunda dalam acara sakral kita."
Kali ini air mata Rychelle mulai berurai membasahani pipinya.
"Jangan menangis, sayang! Aku mohon! " pinta Jerry sambil mengusap air mata wanita yang ada di depannya.
"Aku hanya merindukan bunda, aku yakin Mami Mertuaku juga pasti menyayangiku seperti bunda."
Jerry kali ini mulai luluh dengan permintaan Rychelle. Selama setahun hidup bersama Rychelle, ia sama sekali tidak pernah melihat air mata wanita yang sangat di cintainya.
Bahkan ia pun tidak mendengar laporan dari para anak buahnya jika Rychelle menangis. Mereka selalu bercerita jika Rychelle tampak gembira dan enjoy dengan hidupnya saat ini. Begitu juga yang Jerry lihat.
Namun kali ini ia sangat tidak tega melihat Achielnya menangis setelah sekian lama tidak mendapati tangisan Rychelle.
"Baiklah, malam ini aku akan membawa Mami untuk datang ke Mansion dan menginap semalam bersama mu." ucap Jerry.
"Benarkah?" tanya Rychelle dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Habiskan waktumu dengan Mami malam ini, sayang." jawab Jerry.
Rychelle pun menganggukkan kepalanya. Kini mereka berdua pun mulai menikmati beberapa hidangan yang sudah disiapkan. Bahkan keduanya tampak sangat mesra dengan saling suap menyuapi.
💞💞💞
Malam harinya, Rychelle sedang sibuk membuatkan Caramel Coffee dan juga waffle kesukaan Jerry di pantry. Tiba-tiba saja Jerry datang dan memeluknya dari belakang.
"Hai, sayang. Sepertinya aku mencium sesuatu yang sangat aku suka." ucap Jerry.
"Aku memang sedang membuatkan kudapan kesukaan abang." jawab Rychelle yang langsung menyuapkan potongan waffle ke mulut Jerry.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rychelle.
Rychelle pun kemudian meletakkan wafflenya satu per satu di atas piring kecil dan menyodorkannya pada Jerry.
"Just for you." ucap Rychelle yang berusaha seromantis mungkin dengan Jerry.
Sayangnya Jerry justru mengembalikan piring kecil yang berisi waffle tersebut ke meja yang ada di belakang Rychelle.
"Ada yang lebih penting dari ini, sayang." ucap Jerry sambil mengamit tangan Rychelle dan mengajaknya ke ruang tamu.
Rychelle mulai berdebar-debar saat melihat wanita yang terlihat cantik di usianya yang sudah paruh baya duduk seorang diri di ruang tamu sambil mere mas rem as jemari tangannya dengan raut wajah yang sedikit cemas.
"Mami, kenalkan ini calon istriku." ucap Jerry memperkenalkan Rychelle.
Mami Divya mengangkat kepalanya sambil memandang ke arah Rychelle. Seketika matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Rychelle benar-benar masih hidup. Ternyata apa yang dikatakan Alarick selama ini benar adanya. Gadis pujaan hatinya masih hidup dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan semakin cantik dan sangat mirip dengan mendiang bundanya." batin Mami Divya yang sangat terharu dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Mami Divya pun berjalan perlahan ke arah Rychelle dan kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, menantu," ucap Mami Divya yang mulai beruraian air mata.
Rychelle pun membalas pelukan Mami Divya dengan sangat erat seperti ia memeluk bundanya sendiri.
"Aku sangat merindukan bunda." kata-kata yang keluar dari bibir Rychelle membuat Jerry sangat yakin jika Achielnya benar-benar sangat merindukan bundanya,
"Eh, maaf. Mami Divya." ucap Rychelle kemudian meralat ucapannya sambil melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa Achiel. Anggap saja Mami ini sebagai bunda." ucap Mam Divya. "Kau semakin terlihat cantik, sama persis dengan Olyvia saat masih muda. Bagaimana kabarmu, sayang?"
"Baik Mami. Abang Jerry memperlakukan aku dengan sangat baik. Bahkan aku merasa sangat nyaman tinggal bersama dengannya selama ini." jawab Rychelle membuat Jerry tersipu malu dan wajahnya mulai merona.
"Benarkah?" tanya Mami Divya sedikit tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rychelle.
"Tentu saja Mami. Emmh, apa Mami memberikan restu untuk pernikahan kita?" tanya Rychelle kemudian membuat Mami Divya sedikit shock mendengarnya.
"Apa?! Kenapa Rychelle justru terlihat dengan senang hati meminta restu padaku? Lalu bagaimana dengan putraku, Alarick yang selama ini terus berupaya mencari keberadaannya. Dan meyakinkan kepada orang di sekitarnya jika Rychelle masih hidup?" batin Mami Divya.
"Mami merestui kami kan?" kali ini Rychelle mengulang pertanyaannya.
"Mana mungkin tidak sayang, Mami sangat bahagia jika kamu menjadi menantu Mami." jawab Mami Divya.
Melihat kebersamaan dan kedekatan Achiel dengan maminya sendiri, membuat Jerry kemudian memberikan waktu mereka berdua untuk bercengkrama di dalam kamar yang tentunya tidak luput dari pengawasan Jerry.
Jerry terus mengamati keduanya yang saling bercerita di dalam kamar yang sudah dipasang CCTV dan alat sadap. Sedari tadi ia mendengar Rychelle yang terus saja menceritakan tentang Jerry selama menjalankan terapi bersama Rychelle.
Tidak hanya itu, bahkan Rychelle juga kerap memujinya di depan maminya sendiri membuat Jerry terbang melayang.
Setelah puas bercerita, Rychelle dan Maminya pun memutuskan untuk tidur. Begitu pula Jerry yang sudah merasa sangat lelah pun memutuskan untuk tidur juga.
"Mami, aku mohon bantu aku untuk terlepas dari semua ini." bisik Rychelle pelan dari balik selimut.
"Apa maksudmu sayang? Bukankah sedari tadi Mami dengar kau begitu memuji Jerry? Tapi kenapa sekarang kau justru meminta bantuan Mami?" tanya Mami Divya dengan berbisik juga.
"Kamar ini dilengkapi CCTV di setiap sudutnya dan juga alat sadap. Aku tidak bisa bicara sembarangan, Mami." bisik Rychelle lagi.
"Tapi Mami tidak tahu bagaimana caranya bisa menolongmu, sayang. Hidup Mami saja penuh dengan ancaman." bisik Mami Divya.
Mendengar ucapan Mami Divya membuat Rychelle kali ini benar-benar sudah putus asa.
"Baiklah jika memang begitu. Mungkin memang Bang Jerry lah yang ditakdirkan menjadi jodohku." ucap Rychelle pelan.
Divya kini menggenggam jemari tangan Rychelle dengan erat. "Maafkan Mami sayang."
"No Problem, Mami. Asalkan Mami ada di sini bersamaku." ucap Rychelle.
Akhirnya mereka berdua pun terlelap dan tenggelam dalam mimpi mereka.
💞💞💞
Kawal terus Rychelle sampai Hari H Pernikahannya yaa yang akan Author lanjutkan di bab selanjutnya.