Complicated Mission

Complicated Mission
Tak Gentar



"Aku tidak akan pergi kecuali dengan ayah bersamaku."


Lagi-lagi Rachel bersikap keras kepala tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Sedangkan di Cottage Molly juga mulai marah-marah mencari keberadaan Rachel yang sudah tidak ada di kamarnya. Terlebih saat menemukan salah satu penjaganya tidak lagi mengenakan seragam dan terkapar di bawah meja makan.


Teriakan Molly yang mengumpat semua penjaga pun terdengar sampai cottage yang ditempati oleh ayah Rachel.


"Kau dengar, Rachel! Molly kini sudah marah-marah mencari keberadaanmu. Bahaya sudah benar-benar mengancam nyawamu. Kau harus ikut denganku!" suara Chicko mulai meninggi.


Dengan santainya Rychelle justru membuka seragam penjaga yang dipakainya dan menyisakan balutan pakaian yang sebelumnya ia pakai.


"Aku akan menemui Molly, dan pakai ini untuk bertemu denganku nanti, ayah. Aku menunggumu." Rychelle memberikan seragam penjaga pada ayahnya dan langsung keluar dari kamar untuk menemui Molly.


"Ck, anak itu benar-benar keras kepala." gumam Ryan One pelan.


...😪😪😪...


Rychelle melangkahkan kakinya menuju ke Cottage dan Molly buru-buru berlari ke arah Rychelle.


"Kamu kemana aja sih Rachel?" tanya Molly kesal.


"Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini. Ada apa?"


Molly menghembuskan nafasnya legadan langsung mengamit lengan Rachel.


"Aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan seseorang. Ayo ikut aku."


Deg! Rychelle menelan ludahnya kasar. Namun ia berusaha setenang mungkin mengikuti kemana Molly mengajaknya pergi.


'Apa aku akan dihabisi secepat ini?' tanya Rychelle dalam hati. 'Huft, jika memang benar, setidaknya aku sudah berhasil menguak misi ini karena kakak pasti sudah bergerak dengan pasukan yang lainnya.'


Sesampainya di gedung besar tengah pulau, Molly mengajak Rychelle masuk ke dalam ruangan VIP dan mereka berdua langsung dipersilahkan duduk.


Di dalam ruangan tersebut tampak beberapa paket sabu, ganja, eksitasi dan berbagai jenis narkotik yang tertata rapi di dalam sebuah lemari kaca. Tidak hanya itu, terlihat juga kursi kulit oscar kayu hidrolik yang menghadap ke arah luar jendela.


Perlahan kursi tersebut berputar, dan tampak seorang pria yang ditaksir usianya kini 30 Tahun ke atas mengenakan blazer casual berwarna maroon dan kaca mata hitam.


"Tuan Jerry, perkenalkan dia yang bernama Rachel Ortisia." ucap Molly menunjuk ke arah Rychelle.


Rychelle menatap ke arah Jerry dan berdiri memberi hormat dengan menundukkan sedikit badannya. Sedangkan Jerry langsung berdiri dan berjalan ke arah Rychelle sambil melepaskan kaca matanya.


"Mr. Alarick." gumam Rychelle pelan saat melihat wajah Jerry yang saingan mirip dengan Alarick.


"Aku bukan AL, Tapi aku kakaknya." ucap Jerry memandang Rychelle dari ujung rambut sampai ujung kaki.


'Kakak Mr Arick?' gumam Rychelle dalam hati. 'Mirip sekali. Bahkan potongan rambutnya pun sama persis.' batin Rychelle mengamati Jerry dengan seksama.


"Kau tahu apa yang membuatmu datang kemari, Rachel?" tanya Jerry.


"Membantu Miss Molly bekerja."


"No." sanggah Jerry sambil memainkan kaca matanya.


"Kau akan menerima hukuman karena kelalaianmu dalam pengiman barang." lanjut Jerry to the point.


Rychelle mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan Jerry.


"Aku tidak pernah tahu barang apa yang dikirimkan Miss Molly dengan menggunakan namaku. Karena yang aku tahu dia hanya mengirimkan tepung goreng krispi." jawab Rychelle tanpa takut sedikit pun.


"Dasar bodoh!" umpat Jerry kesal. "Kau lihat barang yang tertata di sana." Jerry menunjuk ke arah lemari kaca yang berisi beberapa macam narkotika.


"Itu adalah barang sebenarnya yang dikirim oleh Molly, bukan tepung yang kau maksud." jelas Jerry kemudian. "Dan kini barang tersebut berhasil tertangkap oleh polisi."


"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Rychelle membuat Jerry semakin kesal dengan keberaniannya kali ini.


"Kau pasti sudah menjadi buronan polisi dan aku harus segera menghabisimu agar polisi tidak menemukan mata rantai penjualan barang - barang milikku. Apa kau paham!" gertak Jerry yang sama sekali tidak menyurutkan keberanian Rychelle.


"Apa maksudmu, Rachel?" pekik Molly gusar. Ia sama sekali tidak menyangka Rachel dengan mudah menerima hukuman dari Jerry dan justru meminta Jerry untuk menghabisi dirinya terlebih dahulu.


"Aku bicara yang sebenarnya, Miss Molly. Tertangkapnya barang laknat tersebut sudah pasti karena kelalaian anda dalam mengirim barang. Jika anda tidak lalai, barang tersebut tidak mungkin tertangkap oleh polisi."


"Lagi pula yang bersalah disini bukan aku, melainkan Miss Molly sendiri. Dan aku hanyalah korban dari kebodohan anda." jawab Rychelle panjang lebar.


"Berani-berani nya kamu yaa!" pekik Molly yang langsung melayangkan tangannya ke pipi Rachel.


Namun dengan cepat Jerry memegang tangan Molly dan menghempaskannya begitu saja.


"Kali ini aku setuju dengan ucapan Rachel. Aku akan lebih dulu menghabisimu Molly dan setelah itu baru aku akan menghabisi Rachel. Dengan begitu semua masalah akan selesai."


Kata-kata Jerry kali ini membuat Molly langsung bersimpuh di kaki Jerry sambil menangis.


"Tolong ampuni saya, Tuan." pinta Molly sambil gemetaran.


"Saya masih mau hidup, Tuan. Bukankah sebentar lagi saya akan menjadi adik ipar anda?"


"Saya mohon dengan sangat jangan habisi saya, Tuan. Saya Siap menerima hukuman apapun asal anda tidak membunuh saya."


DOR! Jerry menembakkan pistolnya ke luar jendela.


"Lepaskan aku atau kau akan ku bunuh sekarang juga!" gertak Jerry membuat Molly semakin ketakutan.


Molly pun melepaskan kaki Jerry dan langsung menyerang Rachel. Molly menarik lengan baju Rachel sekuat tenaga.


Kreek! Kemeja Rachel terkoyak tepat di lengannya. Bekas cakaran Molly membekas di lengan Rachel dan menyebabkan lengannya berdarah. Tiga sayatan kuku panjang Molly membuat Rachel meringis kesakitan.


Sedangkan Jerry kini justru terpaku pada lengan kanan Rachel. Ia tidak fokus melihat pada luka yang disebabkan cakaran Molly, melainkan ia terfokus pada tanda lahir tepat di atas luka Rachel.


'Tanda lahir di lengan itu, kenapa mengingatkan aku pada seorang gadis kecil ya?' gumam Jerry dalam hati sambil mengingat ingat siapa gadis kecil yang memiliki tanda lahir di lengan kanannya.


Sedangkan Rachel kini meringis kesakitan sambil memegangi lengannya dan berusaha menghindar dari amukan Molly. Dengan cepat Jerry memegang tangan Molly dan mencegahnya untuk menyerang Rachel ke dua kalinya. Setelah itu ia meminta para penjaga untuk membawa Molly keluar dari ruangannya.


Molly langsung digelandang paksa oleh dua orang anak buah Jerry dan dibawa entah kemana. Sedangkan Rychelle masih berdiri di ruangan Tuan Jerry.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Jerry kemudian saat melihat Rachel masih mematung di ruangannya.


"Tentu saja menunggu dibawa oleh para penjaga anda seperti Miss Molly tadi." jawab Rachel.


Jerry hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Rachel yang tidak takut sedikit pun.


"Apa kau tidak takut dengan hukuman yang sudah menantimu?" tanya Jerry tidak habis fikir dengan Rachel.


"Untuk apa aku takut?"


"Bukankah memang semua orang akan mati? Yah mungkin dengan cara begini lah aku mati." jawab Rychelle tanpa beban.


...➿➿➿...


Sambil menunggu bagaimana nasib Rychelle selanjutnya, mampir dulu yuk ke Novel temen Author. Dijamin ceritanya bagus banget looh.



...Judul Novel TAWANAN CINTA PLAYBOY...


...Author (Thatya0316)...


Blurb


Thalia Rafika Azhari mencintai sahabatnya sendiri dalam diam. Meskipun dia tahu kalau sahabatnya itu merupakan seorang playboy. Namun, kedekatannya dengan Sandiaga Lancanter membuat Thalia tidak bisa berpaling dari rasa cintanya.


Hingga pada saat orang tuanya menjodohkan dia pada seorang lelaki pilihan keluarganya, Sandiaga merasa sangat terpukul sehingga dia mencari cara agar menggagalkan perjodohan itu.


Mungkinkah pernikahan Thalia berjalan sesuai rencana? Atau dia kembali bersama Sandiaga meskipun hanya sebagai sahabat? Ataukah keduanya sama-sama menyadari kalau memiliki cinta yang tersimpan rapi di hati untuk sahabatnya?