Complicated Mission

Complicated Mission
Menegur Rychelle



Setelah mendengar penjelasan dari Teysar, Rychand pun langsung beranjak ke ruang Rychelle untuk membahas permasalahan ini. Di ruangan Rychelle, tampak dia sedang berkutat untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkatnya menjadi seorang BripKa.


"Rychelle, bisa kakak minta waktunya sebentar?" tanya Rychand.


Rychelle pun berbalik dan kini berhadapan dengan kakaknya.


"Maaf Komisaris Rychand, saya sedang dalam tugas. Jika anda ingin membicarakan tentang masalah pribadi, kita bisa bahas selepas bertugas nanti." jawab Rychelle to the Point karena ia sangat paham kemana arah pembicaraan kakaknya.


Mendengar jawaban adiknya yang menjawabnya dengan sangat formal membuat Rychand mengurungkan niatnya.


"Baiklah, satu jam lagi adalah waktu istirahat dan aku menunggumu di kantin."


"Saya tidak bisa janji, Komisaris Rychand. Kemungkinan satu jam lagi tugas saya belum selesai."


Lagi-lagi Rychelle menolak ajakan kakaknya untuk membicarakan masalah pribadi.


"Aku tidak mau tahu, satu jam lagi aku akan tetap menunggumu di kantin. Jika tidak maka aku akan membuat kesimpulan jika kau memang masih berhubungan dengan Arick. Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar dengannya."


Deg!


Rychelle terdiam saat kakaknya menyebut nama Arick. Ia memandang tajam ke arah kakaknya.


"Aku tunggu, BrigPol Rychelle." ucap Rychand lagi sambil meninggalkan Rychelle.


Rychelle langsung mengepalkan tangannya geram melihat kepergian kakaknya itu.


'Apa sih mau kakak nih.' gerutu Rychelle kesal.


Satu jam kemudian, Rychelle melangkahkan kakinya menuju ke kantin untuk memenuhi panggilan kakaknya.


"Mau ngomongin apa sih kak? Aku gak mau buang-buang waktu karena tugas masih belum selesai."


Rychand pun langsung membahas Point yang ia ingin tanyakan kepada Rychelle.


"Kenapa kau terlihat sangat mengacuhkan Aipda Teysar?"


"Mengacuhkan? Sepertinya tuduhan kakak kurang tepat karena aku tidak ingin mencampur adukan urusan pribadi dengan urusan tugas di kepolisian." jawab Rychelle.


"Oh ya?" balas Rychand yang terdengar tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Tetapi kamu masih bersikap dingin dengan Teysar meskipun selama ini kau bersikap hangat dengan bunda dan keluarganya Rychelle."


Kali ini ini Rychelle mengernyitkan dahinya dan memicingkan matanya. 'Darimana kakak tahu jika sikapku dengan Teysar masih dingin?' tanya Rychelle dalam hati.


"Kak Tey ya yang ngadu sama kakak?"


"Ck, kayak anak kecil tau gak? Masalah sepele aja dibesar-besarin. Aku akan selesaikan masalah ini sama Kak Tey. Dan kakak gak usah ikut campur sama urusan kami." jelas Rychelle.


"Ini bukan tentang ikut campur atau enggak Rychelle. Kakak paham betul sikapmu kali ini karena kamu masih memendam perasaan khusus kan sama Arick?" tanya Rychand dengan nada suara yang sedikit tinggi.


Rychelle langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin dan untungnya kantin masih sangat sepi dan hanya ada beberapa rekan polisi saja yang ada di ujung kantin.


"Jangan permalukan aku di sini, Kak. Kita bahas masalah ini diruangna kakak saja." pinta Rychelle, dan Rychand pun setuju.


...☘️☘️☘️...


"Aku memang suka sama Mas Arick dan bahkan aku cinta sama dia. Itu alasannya kenapa aku sampai sekarang masih bersikap dingin sama Kak Tey."


"Tapi dia gak pantas untuk kamu cintai dek." sanggah Rychand dengan nada yang tidak suka.


"Yap dan aku sangat paham apa alasan kakak bicara seperti itu. Karena status dia sebagai narapidana bukan?" balas Rychelle.


"Mas Arick tidak pernah mau seperti itu, Kak. Dia hanya menuruti kemauan papinya hanya demi keselamatannya dan Maminya. Jika dia tidak memenuhi keinginan papinya, maka nyawa dia dan maminya yang akan jadi taruhan nya."


"Sekarang aku balikkan keadaannya, Bagaimana jika kakak yang ada di posisi Mas Arick?" tanya Rychelle kemudian.


"Aku yakin kakak pasti akan melakukan hal yang sama."


Rychand membuang nafasnya kasar. "Tapi kamu harus fikirkan apa omongan orang-orang nanti, jika mereka tahu seorang calon BripKa yang berhasil menyelesaikan misi besarnya justru memiliki hubungan khusus dengan seorang narapidana."


"Ingat dek, kamu sudah hampir mencapai apa yang kamu inginkan selama ini. Jangan hanya karena cinta semuanya hancur dan kamu menjadi cibiran orang dan buah bibir di kalangan perwira tinggi."


Ucapan Rychand berhasil membungkam rapat bibir Rychelle untuk kembali berkomentar. Kali ini Rychelle mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh kakaknya.


Melihat Rychelle terdiam, Rychand pun langsung mengusap punggung adiknya.


"Kakak tidak pernah menyalahkan tentang bagaimana perasaanmu. Tapi kakak tidak bisa membenarkan jika kamu masih bersikeras untuk melanjutkan nya Rychelle. Karena bukan hanya kamu yang akan menanggung semuanya, tetapi kakak dan ayah juga akan menanggung akibat dari kesalahan yang sudah kamu perbuat."


"Beri aku waktu untuk memikirkan masalah ini kak." Rychelle langsung keluar dari ruangan Rychand dan kembali ke ruangannya sendiri.


Ia kemudian duduk sampil meletakkan kepalanya di atas meja. Matanya terpejam mengingat masalahnya yang kini makin rumit dan berat.


'Aku sangat bersyukur, misi besar yang sudah aku persiapkan selama 6 tahun sudah selesai dan sebentar lagi aku akan menuai hasilnya dengan kenaikan pangkat. Bahkan dari hasil kerja kerasku kali ini membuat namaku meroket tinggi di kalangan kepolisian, dan presiden juga akan turun memberikan penghargaan khusus untukku saat pelantikan kenaikan pangkat.'


'Tapi kini aku sendiri yang akan merusak semuanya yang sudah aku impikan selama ini hanya karena perasaan cinta. Selama ini aku sama sekali bisa menepis dan menolak semua lelaki yang datang kepadaku. Tetapi kenapa kini aku sangat sulit untuk menolak pesona Mas Arick?'


'Kenapa aku harus bertemu dengannya dalam menyelesaikan misi ini?'


'Kenapa aku tidak sanggup untuk menolaknya dan justru semakin tenggelam untuk mencintainya?'


'Kenapa perasaan cinta tidak datang di waktu yang tepat? Kenapa aku juga tidak bisa mencoba untuk mencintai Kak Teysar?'


Air mata Rychelle mulai menitik membasahi pipinya. Ia benar - benar sangat terpuruk kali ini. Ia pun mengambil tasnya dan menemui BrigJen Aris untuk meminta izin pulang lebih awal.


"Lapor BrigJen Aris, saya mau izin pulang lebih cepat karena tidak enak badan." ucap Rychelle yang kini berdiri tegap di depan BrigJen Aris.


"Laporan saya terima BrigPol Rychelle. Tapi kamu dilarang untuk pulang sendiri. Aipda Teysar akan aku perintahkan untuk mengantarmu sampai di rumah." balas BrigJen Aris yang kemudian menghubungi putranya.


Mendengar kabar dari ayahnya, Teysar pun langsung menuju ke ruang ayahnya dan siap untuk mengantar Rychelle pulang.


"Lain kali kalau memang tidak enak badan, lebih baik tidak usah memimpin olahraga Rychelle." ucap Teysar yang mulai mengendarai mobilnya.


Rychelle terdiam degan menyandarkan kepalanya di headrest mobil sambil menatap ke arah Teysar. 'Apa aku harus belajar mencintainya?' tanya Rychelle sambil terus memandangi Teysar.


Sedangkan Teysar sendiri mulai salah tingkah saat ia dipandangi oleh wanita yang sudah lama ia puja. Lama kelamaan Rychelle memejamkan matanya karena ia sudah tidak sanggup menahan rasa penat dan kantuk nya yang sudah bercampur menjadi satu.


"Aku berharap kau bisa belajar untuk mencintai aku Rychelle." gumam Teysar sambil mengusap kepala Rychelle dengan sangat lembut.


...☘️☘️☘️...