Complicated Mission

Complicated Mission
Musuh Masih Hidup



Sedangkan kini Jerry sudah berada di Kota Surabaya karena mengikuti mobil pembawa alat kesehatan. Meski posisinya sudah sangat jauh dari Rachel, ia tetap mengecek kabar Rachel dari kejauhan lewat anak buahnya.


Di kota asing ini, Jerry memulai hidup barunya mulai dari titik nol dengan aset cadangan yang ia punya. Meski ia pergi tanpa membawa apapun, tetap saja ia masih bisa bertahan hidup dengan baik karena uang digitalnya memiliki nominal yang sangat fantastis di dalam ponselnya.


Bahkan beberapa black card yang ia bawa bisa membantunya untuk memulai bisnis barunya di kota yang saat ini ia pijak. Ponsel Jerry berdering dan tampak nama anak buah yang ia tugaskan untuk memata-matai Rachel menghubunginya.


"..."


"Achielku sudah selamat? Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya."


"..."


"Paman Ryan?"


"..."


"Datang mengunjungi Achielku bersama seorang pria?"


"..."


"Tidak masalah, tetap awasi mereka dari kejauhan. Dan segera kirimkan foto pria yang datang bersama Paman Ryan."


Panggilan pun terputus dan Jerry langsung mengamati foto yang dikirimkan oleh anak buahnya di ponselnya. Tampak Ryan One datang ke rumah sakit dengan seorang pria muda yang sangat mirip dengannya bak pinang dibela dua. Sayangnya Ryan tampak sedikit lebih tua dari pria yang bersama dengannya.


Jerry pun memejamkan matanya mencoba mengingat siapa pria yang ada dalam foto tersebut. Sebab, selama ini yang sangat melekat dalam ingatannya hanyalah Achiel dan ayahnya.


"Tidak salah lagi, Rachel adalah Achielku dan pria yang ada bersama Paman Ryan itu pasti kakaknya." Jerry mulai mengingat bahwa kakak dari Achielnya adalah seorang laki-laki dan bukan seorang perempuan seperti apa yang Rachel katakan beberapa hari yang lalu saat ditanya Jerry.


"Tidak ku sangka bayi mengemaskan itu kini pandai bersilat lidah dan berhasil menipuku." gumam Jerry sambil tersenyum smirk.


"Bahkan dengan berani ia mempertaruhkan nyawanya dan datang di hadapanku."


"Ck, Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang benar-benar luar biasa sampai aku dibuatnya kalang kabut seperti saat ini. But I like it."


"Aku semakin tertantang untuk bisa mendapatkannya. Tunggu aku, Achiel. Sebentar lagi kau akan ku buat bertekuk lutut di hadapanku." Jerry mulai menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Setelah itu ia menghembuskan asapnya perlahan.


"Aku akan memberikan waktu untukmu bersua dengan keluargamu, Sebentar saja. Dan setelah itu aku akan tetap membawamu pergi bersamaku."


...🚬🚬🚬...


Siang ini, ayah Rychelle benar-benar menepati janjinya. Saat jam istirahat tiba, ia langsung bergegas mengunjungi putri bungsunya ke rumah sakit bersama dengan Rychand.


"Ayah!" Rychelle merentangkan tangannya dan Ryan langsung memeluknya dengan sangat erat.


Suasana haru kini menyelimuti ruang dimana Rychelle dirawat. Rychand dan Citra hanya memandangi kedua insan yang sedang melepas kerinduan di depan mereka.


Meskipun Rychelle memang yang terlebih dahulu bertemu dengan ayahnya, tetapi ia hanya sekilas melepaskan kerinduan karena setelah itu mereka masih harus berjaga-jaga untuk keselamatan mereka. Terlebih situasi dan kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk melepas rindu saat itu.


"Aku sangat lega saat mendengar ayah tertangkap oleh polisi, meskipun setelah itu aku harus tertembak oleh Tuan Ludolf. Aku sangat takut darah, ayah." ucap Rychelle yang sejak kecil sudah mengidap hemophobia karena melihat darah neneknya yang tertabrak mobil dan kemudian meninggal dunia.


Sejak saat itu, Rychelle tidak bisa melihat darah. Bahkan setiap ia datang bulan, Rychelle selalu menggigil dan demam. Berbagai terapi yang ia jalani hanya melatihnya untuk terbiasa mengurus dirinya saat datang bulan dan itu sudah berhasil saat Rychelle duduk di kelas 2 SMP.


Namun sampai detik ini, Rychelle masih tidak bisa melihat darah orang yang kecelakaan karena bisa dipastikan ia akan langsung jatuh pingsan. Apalagi saat melihat darah di bahunya kemarin.


"Luka di bahu putri ayah sudah sembuh dan tidak lagi mengeluarkan darah, sayang. Jangan takut." balas Ryan One dan Rychelle langsung menganggukkan kepalanya.


"Ayah tampak sangat tampan menggunakan baju dinas seperti ini." puji Rychelle.


"Kau tahu, ayah. Sejak kecil Rychelle selalu bangga melihat ayah memakai seragam polisi."


"Ayah tahu sayang. Kau selalu mengatakan hal itu sejak masih kecil. Kali ini ayah mengenakan seragam polisi karena putri ayah yang sangat luar biasa."


Rychelle tersenyum bahagia mendengar ucapan ayahnya yang menurutnya terlalu berlebihan dalam memujinya.


"Ayah teramat bangga padamu, Rychelle. Sampai ayah tidak tahu lagi harus bagaimana cara mengucapkan rasa terima kasih padamu."


"Ayah sangat mengagumi kecerdasanmu, sayang, yang berhasil menguak semuanya perjudian dan perdagangan narkoba terbesar di Kota ini."


Kata-kata yang diucapkan Ryan One kali ini membuat Rychelle justru salah tingkah.


"Ayah terlalu berlebihan memujiku. Aku juga tidak bisa bergerak sendiri tanpa bantuan kakak." timpal Rychelle.


Rychand pun mendekat ke arah adiknya dan kini mereka berempat meluahkan segala kerinduan mereka dengan saling bercerita.


"Apa mereka semua sudah berhasil tertangkap?" tanya Rychelle.


"Ludolf Berwyn, Molly Ran dan juga Jerry Berwyn saat ini sedang dalam kejaran polisi. Sedangkan Alarick Berwyn dan juga Avega Ran sudah berhasil diringkas polisi dan kini sedang dalam masa penyelidikan." jawab Rychand membuat Rychelle sangat terkejut.


"Mereka tidak bersalah, kakak." timpal Rychelle dan seketika membuat Rychand mengernyitkan dahinya.


"Apa maksudmu jika mereka tidak bersalah?" tanya Rychand kemudian.


"Bank One Point berkembang pesat dari hasil perjudian dan perdagangan narkoba. Sudah jelas jika yang bertanggung jawab atas semua ini adalah Alarick Berwyn dan juga Avega Ran. Kakak mendapat laporan ini dari macbook milikmu, Rychelle. Bagaimana bisa kau mengatakan jika mereka tidak bersalah?"


Rychelle semakin terkejut saat mengetahui bahwa kakaknya ternyata membuka macbook miliknya dan membaca laporan yang sudah selesai ia buat.


"Tapi Mas Arick tidak bersalah, Kak. Dia hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh papinya. Bahkan dia juga tertekan sejak lama." timpal Rychelle membela Alarick.


Perkataan Rychelle kali ini membuat ayahnya, Rychand dan juga Citra saling melempar pandang.


"Darimana kau mengetahui ini, Rychelle?" tanya Citra sambil mengusap punggung Rychelle.


"Jangan bilang kau ada rasa dengan Alarick Berwyn." tukas Rychand.


Seketika Rychelle tersadar bahwa ia sedang membela seorang penjahat di depan atasannya sendiri.


"Emm, aku tahu dari cerita Mas Arick." jawab Rychelle pelan.


Lagi-lagi Rychand dan yang lainnya saling melempar pandang. Akhirnya Rychand pun memutuskan untuk memanggil Citra untuk berbicara di luar.


"Sayang, keluar sebentar yuk. Biar Ayah ngobrol dulu dengan Rychelle sebelum kembali ke kantor." ajak Rychand sambil mengedipkan matanya ke arah Citra.


Sesampainya di luar ruang rawat Rychelle, Rychand pun langsung bertanya kepada Citra tentang sesuatu yang ia rasa sedikit mengganjal.


"Bagaimana pendapatmu, sayang, saat Rychelle memanggil dengan sebutan Mas Arick pada atasannya sendiri di Bank One Point?" tanya Rychand curiga. "Bukankah awalnya ia memanggilnya Mr Alarick?


Citra yang juga menaruh rasa curiga terhadap Rychelle pun langsung menyimpulkan apa yang Rychelle ucapkan tadi.


"Aku rasa dia ada perasaan khusus dengan bosnya itu. Emm, Bisa jadi bukan hanya itu, tetapi Rychelle sudah memiliki hubungan khusus dengan bosnya sendiri." tukas Citra.


Rychand pun membuang nafasnya dengan kasar setelah mendengar apa yang disimpulkan oleh istrinya sendiri.


'Ternyata keterkaitan antara mereka berdua berlanjut lagi hingga sekarang?' batin Rychand mengingat bagaimana dulu Rychelle kecil yang sangat dekat dengan Alarick.


"Sayangnya aku kurang setuju jika Rychelle harus berhubungan dengan seorang narapidana seperti Alarick. Terlebih jika mengingat kebengisan papinya yang hampir saja menghilangkan nyawa Rychelle." ucap Rychand pelan.


"Aku akan coba berbicara dengan Rychelle secara baik-baik. Abang tenang saja." ucap Citra sambil mengusap lengan suaminya.


"Thanks, honey. Kalau begitu aku akan bersiap untuk menuju ke kantor bersama ayah." timpal Rychand.


Citra pun mengangguk dan menyalami tangan suaminya.


...☘️☘️☘️...


Sambil menunggu bab selanjutnya yang insya Allah akan Author update malam ini, mampir dulu yuk ke Novelku yang lain.


Kali ini sambungan cerita dari Dosen VS Ketua BEM ya.