Complicated Mission

Complicated Mission
Mode Waspada



Komisaris Besar Rychand Olyver berhasil menangkap 6 orang yang melakukan transaksi narkoba bersama dengan Aipda Teysar tepat pukul 3 dini hari. Mereka berdua menyamar sebagai gelandangan dan terus mengikuti pergerakan mereka dalam bertransaksi.


Beberapa polisi yang ikut serta dengan mereka pun langsung meringkus 6 orang tersebut dan membawanya ke kantor polisi. Tidak hanya itu, mobil ekspedisi barang juga berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.


Kabar tertangkapnya mobil ekspedisi barang berikut ke enam orang yang melakukan transaksi narkoba pun secepat mungkin sampai di telinga Molly.


"Gawat! Hari ini aku harus segera membawa Rachel pergi." gumam Molly yang terus saja mondar mandir di kamarnya.


'Tapi bagaimana bisa tertangkap ya?' gumam Molly dalam hati mengingat selama ini tidak pernah sekali pun gagal dalam setiap penjualan narkoba. Karena barang terlaknat itu sama sekali tidak pernah ada yang tahu karena semua ada di dalam tepung.


Molly terus memijat kepalanya sambil memikirkan siapa yang telah membocorkan semua aksinya. Karena selama ini tidak pernah ada yang berkhianat dengannya, terlebih ia selalu memberikan komisi yang besar kepada orang yang berhubungan dengannya.


"Rachel!" satu nama orang yang baru ia kenal terakhir ini keluar dari mulut Molly.


Namun, ia langsung menepis dugaannya saat mengingat laporan orang di Pulau Rahasia yang melakukan transaksi dengan Alarick. Rachel sama sekali tidak tahu menahu dan bahkan saat itu sedang tertidur.


"Gak, gak mungkin gadis kampungan itu paham hal seperti ini." gumam Molly.


"Tapi siapaaaa?!" pekik Molly geram.


Molly terus memantau kabar terkini. Ia pun terus mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari tahu. Sayangnya sampai pagi tiba, Molly tidak mendapatkan informasi penting yang ia cari.


...🍇🍇🍇...


Seperti biasa, Rychelle sudah berada di kantor pagi ini sebelum para karyawan tiba. Namun ia sedikit terkejut dengan keberadaan Molly di ruang kerjanya.


"Selamat pagi Miss Molly." sapa Rychelle.


"Pagi juga Rachel. Apa kau sudah sarapan?" tanya Molly dan Rachel langsung menggelengkan kepalanya.


"Belum Miss, rencana saya akan sarapan di kantin pagi ini." jawab Rychelle sambil meletakkan tasnya di meja.


"Waaah, kebetulan sekali. Bagaimana jika sarapan denganku?" tawar Molly membuat Rychelle sedikit mengerutkan dahinya.


Selama ia bekerja di Bank One Point, Molly tidak pernah mengajaknya makan bersama. 'Ada apa dengan Miss Molly?' tanya Rychelle dalam hati.


'Apa ini berkaitan dengan Mr. Arick atau dengan pengiriman barang atas namaku ya?' batin Rychelle.


"Rachel, jangan khawatir. Nanti aku akan memberi tahu Al jika pagi ini kau pergi sarapan denganku." ucap Molly lagi.


Akhirnya mau tidak mau Rychelle pun menganggukkan kepalanya setuju dan mereka berdua pun langsung meninggalkan kantor.


...🚗🚗🚗...


"Rachel, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." ucap Molly saat mereka sudah berada di mobil yang akan mengantar mereka ke sebuah restoran.


"Aku butuh bantuanmu untuk mengurus beberapa pekerjaan di Pulau Rahasia. Kita akan pergi besok pagi jam 5 dan sebelumnya kita akan mempersiapkan semuanya di luar kantor."


Mendengar Molly akan mengajaknya ke pulau Rahasia, mata Rychelle langsung berbinar. Karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan ayahnya sendiri.


"Mungkin kita akan berada di sana sekitar satu minggu ke depan, Rachel. Jadi setelah sarapan kau bisa berkemas dan sampaikan pada keluargamu kalau kau harus dinas ke luar kota." lanjut Molly.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya di kantor?" tanya Rychelle kemudian.


"Tidak perlu khawatir untuk masalah itu, aku yakin Avega dan Al bisa menghandle semuanya." jawab Molly.


Rychelle pun mengangguk setuju. Mereka pun langsung menuju restoran yang tidak jauh dari rumah Rychelle. Setelah selesai sarapan, Molly mengantar Rychelle ke rumahnya dan memberikan waktu Rychelle untuk berkemas.


"Baik, Miss. Saya akan menunggu anda." jawab Rychelle.


Setelah mobil Molly meninggalkan rumahnya, Rychelle pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Tampak Rychand dan Teysar sedang menikmati secangkir kopi di ruang tamu sambil berbincang santai.


"Gak kerja dek?" tanya Rychand saat melihat Rychelle pulang di waktu yang masih sangat pagi.


"Miss Molly ngajakin aku ke Pulau Rahasia kak. Sepertinya dia tidak mau aku tertangkap polisi karena itu akan menyusahkan dia juga." jawab Rychelle.


"Jangan pergi, Rychelle! itu sangat berbahaya." Teysar langsung angkat bicara saat mendengar Rychelle hendak ke Pulau Rahasia.


"Benar kata Teysar. Jangan pergi kali ini! Buatlah alasan sebaik mungkin agar kau tidak pergi. Atau kalau perlu kita tangkap sekalian dengan semua bukti yang sudah ada tanpa harus menunggu lama." ucap Rychand membenarkan ucapan Teysar kali ini.


"Aku tau kalian mengkhawatirkan aku, tapi kali ini aku ingin bertemu ayah dan membawanya pulang. Dan aku tetap pergi bersama Molly." jawab Rychelle.


"Jangan gila dek!" suara Rychand mulai meninggi. "Kali ini nyawamu adalah taruhannya. Bagaimana jika kau lebih dulu mati sebelum bertemu dengan ayah?" tanya Rychand dengan marah.


"Mereka tidak akan segan-segan membunuhmu dan membuang jasadmu di tengah laut. Dan sebelum kau mati mengenaskan, lebih baik aku tangkap semuanya ke kantor polisi."


Melihat kakak laki-lakinya tampak sangat marah, membuat mata Rychelle mulai berkaca-kaca. Selama ini ia tidak pernah mendapati kakak laki-lakinya itu marah padanya, terlebih sampai membentaknya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan ayah, Kak. Aku rindu. Apa aku salah mempertaruhkan nyawaku hanya untuk menemui ayah?" Satu bulir air mata terjatuh di pipi Rychelle.


"Apa aku salah merindukan sosok ayah datang kepadaku dan memelukku dengan erat?" suara Rychelle mulai terdengar serak. Dadanya mulai terasa sesak saat kerinduannya terhadap ayahnya membuncah begitu saja saat Rychand melarangnya pergi.


"Dengar Rychelle! Aku tetap tidak akan mengizinkan pergi!"


"Kenapa kaak?" tanya Rychelle dan kali ini suara tangisnya mulai pecah.


"Karena aku bisa menjadi sosok ayah, kakak dan bahkan sosok ibu untukmu." jawab Rychand tegas.


"Terserah kakak. Yang jelas aku akan tetap pergi." ucap Rychelle yang langsung meninggalkan kakaknya dan masuk ke dalam kamarnya.


Rychand mengusap wajahnya kasar melihat sikap adiknya yang sangat keras kepala.


"Kau lihat sendiri kan Aipda Teysar, betapa dia sangat keras kepala sampai tidak mendengarkan nasehatku." ucap Rychand gusar.


"Kita harus ikuti secara diam-diam dan setelah itu kita kerahkan anak buah untuk menyebrang ke pulau tersebut saat siang dan malam dengan speed boat milik kepolisian." ucap Teysar memberi saran.


"Tapi mereka bertindak sangat cepat, aku khawatir saat kita tiba disana, Rychelle justru sudah tidak bernyawa." balas Rychand.


"Saya yakin, Rychelle pasti memiliki banyak taktik untuk menyelamatkan diri. Percayalah Komisaris, adik anda pasti akan selamat." ucap Teysar yang berusaha menenangkan Rychand.


...💕💕💕...


Mohon maaf dari kemarin tidak UP, karena Author banyak kesibukan di dunia nyata.


Nah, sambil nunggu bab selanjutnya yang tetap akan UP hari ini, mampir yuk ke karya sahabat Author. Dijamin ceritanya keren.


Nama Pena : Muda Anna


Judul : Apa salahku Tuan?