Complicated Mission

Complicated Mission
Mengosongkan Pulau



Jerry tidak mengedipkan matanya saat melihat Rachel yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Terlebih Rachel tampak sangat feminim dengan memakai dress biru laut yang sudah ia siapkan di walk in closed.


Berbeda dengan Rachel yang kini bulu kuduknya sudah berdiri, 'Apa aku akan segera di eksekusi sore ini jika aku tidak menerima tawaran dari Tuan Jerry tadi untuk menikah dengannya?' gumam Rachel dalam hati.


Perlahan Jerry melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rachel dan membuat Rachel berjalan mundur. Semakin Jerry mendekat, semakin Rachel menjauhkan dirinya dari Jerry hingga ia kini tersudut di meja rias.


"Tuan Jerry." panggil Rachel saat keduanya sudah hampir tidak berjarak.


"Oh, maaf sudah membuatmu takut, kita harus segera meninggalkan tempat ini karena polisi sudah menuju kemari." ucap Jerry sambil menarik tangan Rachel.


"Tapi, Tuan. Aku belum menyisir rambutku." balas Rachel dan Jerry langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Oh My God, baiklah sini aku bantu menyisir rambutmu." Jerry kini mendudukkan Rachel di depan meja rias dan menyisir rambut Rachel dengan lembut.


Sayangnya sikap lembut Jerry membuat Rachel bergidik ngeri. Di fikirannya hanyalah bayangan ia akan ditembak mati setelah diperlakukan selembut ini. Namun di sisi lain ia merasa lega mendengar polisi sudah mulai merapat.


"Aku berjanji akan memanjakan saat kita sudah menikah nanti Rachel." ucap Jerry.


"Benarkah?" tanya Rachel dengan nada tidak percaya. "Dan anda akan menembak mati istrimu jika tidak bisa menyenangkan hatimu."


Keberanian Rachel justru membuat Jerry terkekeh pelan. "Apa aku semengerikan itu Rachel di matamu?"


"Ck, bahkan lebih mengerikan dari apa yang akau bayangkan. Ayo kita pergi, sebelum anda tertangkap oleh polisi."


Rachel berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendahului Jerry.


"Tunggu Rachel!" Jerry berjalan cepat dan menghadang langkah Rachel. "Aku ingin melihat luka bekas cakaran Molly."


Sayangnya Rachel menjauhkan lengan kanannya dari Jerry. "Ck, anda ini Mafia Sungguhan atau bukan sih. Kenapa masih saja mengulur waktu saat mendengar polisi sudah menuju kemari?" suara Rachel mulai meninggi membuat Jerry yang ingin memeriksa lengan Rachel terpaksa harus mengurungkan niatnya.


"Kau benar. Ayo kita bergegas." balas Jerry sambil memegang tangan Rachel turun ke lantai bawah dan bergabung dengan yang lainnya.


Ludolf Berwyn memicingkan matanya saat melihat putra sulungnya menggenggam tangan Rachel. 'Apa yang sebenarnya menarik dari karyawan udik itu. Tidak Al, tidak Jerry semua memberikan perhatian padanya.' gumam Ludolf dalam hati.


Sedangkan Alarick juga hanya bisa menatap tajam ke arah Jerry dan juga Rachel yang menuju bergabung ke arah mereka. 'Sejak kapan Bang Jerry perhatian sama seorang wanita, dan kenapa wanitanya harus Rachel?' batin Alarick sambil mengepalkan tangannya.


"Kita langsung menuju ke dermaga." suara Jerry memecah keheningan di antara banyak orang.


"AL, kau akan pergi bersama Molly. Dan kali ini papi akan didampingi oleh Paman Ryan. Kalian berdua bersahabat dan aku ingin hubungan kalian kembali dekat seperti dulu." ucap Jerry yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.


"Dan aku akan menjaga tawanan ku sendiri." lanjut Jerry sambil menarik tangan Rachel untuk ikut dengannya.


...☘️☘️☘️...


Dua jam setelah Pulau di kosongkan, Rychand bersama dengan anak buahnya tiba di dermaga pulau rahasia. Mereka langsung mengepung pulau dan bergerak masuk hingga ke tengah tepat di gedung milik Jerry.


"Lapor komandan, pulau sudah dikosongkan!" lapor salah satu anak buah Rychand.


"Sudah aku duga sebelumnya. Kita akan berpencar mencari beberapa barang bukti di sini dan setelah itu kita menuju kepulauan seribu dan berpencar di sana. Aku yakin mereka menuju ke sana." ucap Rychand.


Semua anak buah langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rychand. Tanpamenunggu lama merek sudah kembali berkumpul untuk membawa barang bukti yang mereka temukan.


Ada yang menemukan suntikan, alat hisap, silet, dan barang bekas penggunaan narkoba lainnya. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang menemukan narkoba satu pun.


Tapi Rychand tidak putus asa dia pun menuju ke ruang milik Jerry dan menyalakan komputer di ruangannya. Sandi di komputer Jerry memang dibuat sangat rumit, tapi karena Rychand merupakan anggota Hacker Topi Putih yang handal, dengan mudah ia meretas password komputer tersebut dan memindahkan data di dalam komputer ke dalam hard disk yang ia bawa.


Teysar kali ini menemukan beberapa ponsel yang tertinggal di Cottage yang tidak jauh dengan gedung. Ia pun langsung membanya ke Rychand untuk meretas sandi ponsel agar bisa melihat apa isi di dalam ponsel tersebut.


"Kau menemukan bukti penting, Aipda Teysar. Ponsel ini milik Molly Ran." ucap Rychand yang sudah berhasil membuka lock ponsel Molly.


"Ini milik Rychelle. Aku tidak ingin mengusik apa yang sudah menjadi privasinya. Dia sudah berjuang luar biasa Dan berhasil membawa kita semua ke titik ini."


Setelah semua bukti sementara terkumpul, pulau ini ini langsung di segel oleh polisi dan mereka mulai berpencar menuju ke kepulauan seribu.


...👮‍♂️👮‍♂️👮‍♂️...


"Aku faham betul saat ini kita semua dalam bahaya, Al." ucap Molly sambil menggenggam tangan Alarick. "Tapi setidaknya keberadaanmu di sisiku membuatku sangat tenang dan nyaman."


Perlahan Alarick melepaskan genggaman tangan Molly dan menjauhkan tangannya. "Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu." ucap Alarick tegas.


"Sampaikan saja."


"Aku ingin mengakhiri hubungan kita." Alarick melepaskan cincin tunangan yang terselip dijarinya dan memberikannya kepada Molly. "Kau bisa memilih laki-laki yang pantas untuk bersanding denganmu di luaran sana. Dan tentunya adalah laki-laki yang mencintaimu."


"Apa maksudmu, Al?"


"Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, sekarang. Kau bukan tunanganku atau pun calon istriku lagi, Molly Ran."


Ucapan Alarick kali ini bagai petir yang menyambar Molly dan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ia sangat tidak menduga jika Alarick akan mengatakan hal seperti itu. Seketika tangisnya pecah.


"Tapi kenapa Al? Kenapa kau tidak bisa belajar untuk mencintaiku?"


"Kenapa kau tidak bisa mengisi kekosongan hatimu dengan namaku, Al?"


Tangisan Molly sama sekali tidak membuat Alarick iba sedikit pun terhadapnya. Bahkan Alarick kini merasa sangat lega bisa memutuskan hubungannya dengan Molly.


"Hatiku sudah tidak kosong lagi."


Deg! Lagi-lagi perkataan Alaraic begitu mencubit hatinya.


"Siapa yang sudah mengisinya?" tanya Molly sambil mengepalkan tangannya erat-erat.


"Kau tidak perlu tahu karena dia terlalu spesial untukku. Jadi kali ini cukup aku yang tahu." Jawa Alarick.


"Yang jelas saat ini kita tidak ada hubungan lagi." tegas Alarick. "Aku akan membicarakan masalah ini secepatnya kepada papi dan juga paman Liber Ran. Bahkan aku juga sudah siap untuk menanggung semua akibat dari keputusan sepihak yang buat."


Molly semakin menangis mendengar ucapan Alarick. "Kamu jahat, Al!" umpat Molly di tengah isak tangisnya.


"Terserah bagaimana kau mengaggapku Molly, aku tidak peduli."


"Tapi beri tahu aku apa alasannya?" suara Molly mulai meninggi.


"Karena aku sama sekali tidak pernah mencintaimu."


...🎶🎶🎶...


Naaah, bab ini sampai sini dulu yaa. Dua bab selanjutnya langsung menyusul di up hari ini.


Sambil nunggu Author ketik ketik ceritanya, mampir dulu yuk ke karya bestie Author yang ceritanya seru banget.


Nama Pena: Ika Oktaviana


Judul Novel : Surga Di Atas Lara