Complicated Mission

Complicated Mission
Molly Hamil



Molly Ran kini hendak menjalani persidangan pertamanya. Ia sudah menyiapkan pengacara untuk membelany saat sidang berlangsung nanti. Persidangan kali ini juga akan dihadiri oleh daddynya.


Sayangnya sedari pagi kondisi Molly sangat tidak memungkinkan untuk mengikuti persidangan. Ia berkali-kali muntah dan suhu badannya juga tinggi. Akhirnya ia diperiksa terlebih dahulu sebelum mengikuti persidangan,


"Sejak kapan anda terakhir datang bulan?" tanya Dokter yang kini memeriksanya.


Molly terdiam dan mulai mengingat-ingat. Terakhir ia datang bulan adalah saat malam taruhan antara Alarick dan Chicko Praya. Dan setelahnya ia sama sekali tidak datang bulan, bermakna sudah terhitung dua bulan lebih.


"Dua bulan yang lalu dokter." jawab Molly yang dalam kepalanya mulai penuh dengan berbagai macam pertanyaan.


'Gak mungkin kan kalo aku HAMIL? Oh My God, jika aku hamil maka ini adalah anak dari Ludolf Berwyn.'


'Tidak! Aku tidak ingin punya anak dari psikopat semacam pria tua bangka itu.' keluh Molly dalam hati.


"Gejala yang kamu alami bisa jadi adalah gejala awal kehamilan." jelas Dokter dan Molly langsung menggelengkan kepalanya.


"Gak, ini gak mungkin dokter."


Molly menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh dokter yang sedang memeriksanya. sedangkan polisi yang sedang mendampinginya langsung menghubungi Rychand yang nantinya akan ikut menggiringnya ke persidangan.


"Lebih baik kita cek dulu agar lebih akurat." pinta dokter tersebut sambil memberikan testpack kepada Molly.


Dengan tangan bergetar, Molly pun menerima alat tes kehamilan tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi.


Molly langsung bersimpuh lemas saat melihat dua garis yang sangat jelas dan bermakna ia benar-benar hamil anak Ludolf Berwyn dan anaknya nanti akan menjadi adik dari Alarick Berwyn.


"Tidaaaaaaaaaak!!!" teriak Molly yang kemudian tidak sadarkan diri.


Dokter dan polisi yang kini mengawalinya langsung menggedor-gedor pintu kamar mandi karena teriakan Molly. Untungnya pintu kamar mandi Molly sama sekali tidak terkunci dan memudahkan mereka untuk membawa Molly keluar dari kamar mandi.


Dokter pun segera menyimpan alat tes kehamilan yang baru saja digunakan Molly sebagai barang bukti.


Sedangkan di sisi lain, Alarick yang mendengar tentang kehamilan Molly langsung melangkahkan kakinya menuju ke sel dimana Alarick di tahan untuk menanyakan siapa yang sudah menghamili Molly Ran.


"Alarick Berwyn!" panggil Rychand dengan suara yang lantang. "Ikut denganku ke ruang penyidikkan."


Alarick yang sedang menuliskan sesuatu di dalam bukunya langsung beranjak mengikuti langkah Rychand menuju ke ruang penyidikkan.


"Kau tunangannya Molly Ran bukan?" tanya Rychand dan dengan mantap Alarick menggelengkan kepalanya.


"Bukan! Aku sudah memutuskan hubungan ku dengannya sejak lama."


"Bohong!" gertak Rychand dengan suara melengking. "Kau kan yang membuatnya hamil?" tuduh Rychand membuat Alarick sangat terkejut.


"Hamil?"


"Bagaimana mungkin ia bisa hamil karena aku jika aku saja enggan bersentuhan dengannya? Hubungan kami hanyalah perjodohan dari dua keluarga yang sama sekali tidak aku inginkan." jelas Alarick membuat Rychand terdiam dan berfikir siapa yang sudah membuat Molly hamil.


Kemudian ia kembali teringat jika saat di Pulau terakhir ia menemukan Molly, hanya Molly satu-satunya perempuan di antara banyak laki-laki yang tertangkap. Kali ini ia tidak bisa menyalahkan Alarick karena bisa dipastikan bukan dia yang sudah menghamili Molly.


"Rychelle tidak pernah menemuiku di dalam bui sama sekali. Tapi aku yakin dia akan selalu menjaga hatinya untukku meskipun aku kini hanyalah seorang narapidana." jawab Alarick dengan penuh percaya diri membuat Rychand langsung melayangkan pukulannya tepat di wajah Alarick.


Bugh!


Satu pukulan seketika membuat ujung bibir kanan Alarick mengeluarkan darah segar.


"Aku sangat tidak suka dengan apa yang kau katakan Al!" sarkas Rychand.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkannya menikah dengan mantan narapidana sepertimu."


Alarick mengusap ujung bibirnya sambil tersenyum. "Tidak masalah! Karena aku pastikan Rychelle pasti akan menjadikan kakak tersayangnya sebagai musuh besarnya dan dia pasti akan membencimu karena sudah menghalangi apa yang ia inginkan."


Bugh!


Pukulan kedua kini mendarat di bibir kiri Alarick lebih keras dari yang sebelumnya.


"Kau sudah gila Al!" umpat Rychand. "Apa kau mau membuat wanita yang kau cintai menjadi buah bibir dan cibiran semua orang dari berbagai kalangan hanya karena mencintai seorang narapidana sepertimu?"


"Apa kau tega, wanita yang kau cintai jadi kehilangan mental dan jati dirinya sendiri hanya karena memilih cinta yang tidak masuk akal daripada memikirkan tentang masa depannya yang cemerlang ke depan?"


"Apa ini yang kau namakan cinta, Al?" pekik Rychand. "Membunuh Rychelle dengan perlahan-lahan. Kau mencintainya atau mau balas dendam karena dia sudah menjerumuskanmu dalam bui dan menguak semua rahasia buruk yang kalian lakukan selama ini?"


Ucapan Rychand kali ini membuat Alarick berfikir dan membenarkan apa yang sudah terlontar dari mulut Rychand.


Alarick kini sadar bahwa ia hanyalah penghalang kesuksesan Rychelle. Ia sudah sadar jika Rychelle meneruskan hubungan dengannya, pasti akan menyiksa diri Rychelle karena ia akan terus menerima cibiran dan cemoohan banyak orang.


Seharusnya jika ia memang benar benar mencintai Rychelle, ia pun merelakan Rychelle menggapai mimpinya tanpa harus terbebani dengan seorang Alarick yang kini menjadi seorang narapidana. Terlebih ia paham betul saat ini Rychelle akan naik pangkat menjadi seorang BripKa.


"Aku sangat mencintainya. Bahkan melebihi dari diriku sendiri. Dan aku akan memutuskan hubungan ku dengannya karena aku tidak mau membuatnya menderita hanya karena hubungannya denganku." ucap Alarick dengan berat hati.


Sungguh ia tidak ingin melepaskan Rychelle sama sekali. Tapi ia juga tidak ingin Rychelle sakit atau menderita karenanya. Keputusannya kali ini hanya karena ia benar-benar mencintai Rychelle sepenuh hatinya.


"Aku akan menuliskan surat untuknya sebagai salam perpisahan dariku. Tolong bantu aku untuk menyampaikannya pada Rychelle. Setelah itu tidak akan pernah lagi untuk mengganggunya."


"Tidak perlu, AL. Cukup aku yang akan memberitahukannya kepada Rychelle. Dan beberapa hari lagi aku juga akan memindahkan tahananmu ke Lapas 1." jelas Rychand.


Bermakna bukan hanya terputus hubungannya dengan Rychelle, bahkan Alarick juga tidak akan lagi melihat wanita yang sangat dia cintai.


"Jika kamu memang benar-benar mencintainya, jauhi saja Rychelle tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Aku tidak mau adikku semakin menderita hanya karena mengenang laki-laki yang tidak pernah berguna dalam hidupnya lewat jejak perpisahan yang akan kau tulis untuknya. "


"Sekarang kau sudah bisa kembali ke ruanganmu. Terima kasih karena sudah berjanji untuk tidak mengusik kehidupan keluargaku." ucap Rychand panjang lebar.


Alarick pun kembali ke ruangannya dengan langkah gontai.


'Aku tidak bisa meninggalkanmu secara diam-diam, Rychelle. Aku tidak mau kau kecewa sedikit pun terhadapku dan begitu pula sebaliknya.'


'Hari ini aku mendapatkan kado terindah dalam hidupku, namun aku juga mendapat kado yang sangat buruk.'