
Setelah keduanya puas saling mereguk kenikmatan, Alarick pun melepaskan pagutannya sedangkan Rachel menyembunyikan mukanya di balik selimut. Melihat Rachel yang malu - malu membuat Alarick makin gemas. Ia pun semakin berani merebahkan dirinya di samping Rachel.
"Apa kau malu, Rachel?" tanya Alarick.
"Diamlah, Mas. Jangan dibahas." balas Rachel yang masih bersembunyi di balik selimut.
Perlahan Alarick menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan tangannya bersentuhan dengan kulit punggung Rachel membuatnya seperti tersengat aliran listrik.
Plak! Rachel langsung memukul tangan Alarick. "Jangan macam-macam, Mas."
"Ups! Maaf Rachel. Emm, aku memang sengaja."
Ucapan Alarick kali ini membuat pipi Rachel langsung merona entah apa sebabnya. Sentuhan tangan Alarick dirasanya sangat lembut dan berharap Alarick menariknya lalu mendekapnya dengan erat.
Tapi Rachel cepat-cepat menepis fikiran kotornya itu dan menggeser tubuhnya menjauh dari Alarick. Sayangnya setiap Rachel bergeser untuk menjauh, Alarick juga menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Rachel. Hingga Rachel hampir saja terjatuh dari tempat tidur.
Untungnya tangan Alarick dengan cepat meraih tubuh Rachel yang masih berbalut selimut dan mendekapnya dengan sangat erat.
"Ck, hampir jatuh kaaan?" Alarick menoel hidung Rachel. "Makanya jangan jauh-jauh dong, sayang."
Blush!
Pipi Rachel langsung berubah seperti kepiting rebus saat Alarick memanggilnya dengan sebutan sayang. Melihat rona di wajah Rachel, tangan Alarick langsung terulur untuk mengusap wajah Rachel.
"Meski aku baru hitungan hari mengenalmu, entah kenapa aku seperti sudah lama mengenalmu, Rachel. Dan aku belum pernah merasa sebahagia ini saat bersamamu."
"And I do love you at the first sight, Rachel Ortisia." ucap Alarick membuat Rachel langsung mengernyitkan dahinya.
"Bohong!" timpal Rachel. "Mas Arick sangat ketus dan sombong saat pertama kali bertemu denganku."
"Aku hanya tidak tahu harus bagaimana saat itu, Rachel. Aku sendiri tidak habis fikir kenapa jantungku berdetak begitu kencang saat bersitatap denganmu."
"Dan sikapku waktu itu hanya karena aku canggung bertemu denganmu, Rachel. Makanya aku berfikir lebih baik kau tidak bekerja denganku dari pada aku tidak fokus bekerja dan selalu memperhatikanmu." jelas Alarick panjang lebar. Kali ini ia tidak ingin menutupi sedikit pun tentangnya di depan Rachel karena ia sudah mantap untuk memilih Rachel sebagai dermaga terakhir kisah cintanya.
"Dih, gombal banget deh Mas Arick nih. Aku mau mandi dulu ya." Rachel berdiri dengan menggulung tubuhnya dengan selimut dan berjalan ke arah kamar mandi.
Saat berjalan melewati walk in closed, ia melihat goodie bag yang tertulis kan -Dress for Rachel From Jerry Berwyn- dan langsung menentengnya masuk ke dalam kamar mandi.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan Jerry yang berkeliling mencari Ryan One akhirnya menemukannya di kedai yang dekat dengan Cottage nya.
"Aku mencarimu dari tadi, paman. Ternyata kau ada di sini." ucap Jerry yang langsung menarik kursi dan duduk di samping Ryan One.
"Ada informasi yang baru saya dapat dan ini sangat berbahaya untuk kita semua."
"Informasi apa yang kau dapatkan, Paman? tanya Jerry sambil menyalakan cerutunya.
"Polisi akan bergerak kemari lewat Anyer karena akses dari dermaga sudah anda tutup." ucap Ryan One membuat Jerry sangat terkejut.
"Sial! Molly benar-benar sangat menyusahkan." umpat Jerry yang langsung mendial nomor ponsel anak buahnya untuk menyiapkan sejumlah kapal.
"Paman, tolong beri komando kepada semua orang untuk segera mengosongkan pulau ini dan kita akan beralih ke kepulauan seribu untuk sementara." perintah Jerry dan ia langsung kembali ke gedung di tengah pulau untuk mengamankan beberapa barang laknat yang ia jual.
Jerry berlari ke gedung dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Ia langsung mengambil tas dan membuka lemari kaca yang berisikan sabu, pil eksitasi dan jenis narkotika lainnya.
"Apaa?!" pekik Ludolf Berwyn tersentak. Cangkir kopi yang dipegangnya seketika jatuh dan pecah berkeping-keping. "Sial! Siapa yang sudah berkhianat hingga mendatangkan polisi ke pulau ini!" ucap Ludolf dengan geram.
Ia langsung mengambil buku yang berisikan data orang yang masuk ke dalam pulau itu dan menelisik nya siapa orang baru yang menginjakkan kakinya di Pulau Rahasia.
"Ada 5 orang yang baru menginjakkan kakinya ke pulau ini dan salah satunya adalah Rachel Ortisia. Barang yang dikirimkan juga tertangkap dengan nama Rachel. Papi yakin dia adalah biang dari semua masalah ini Jerry." ucap Ludolf Berwyn membuat Jerry terdiam dan ikut menelisik.
'Apa mungkin memang Rachel yang melakukan semua ini? Dia juga tampak sangat berani untuk menjalani hukuman mati yang akan aku berikan tanpa ada rasa takut sedikit pun.' gumam Jerry dalam hati sambil melihat data yang sedang dipegang oleh papinya.
"Tapi Molly Ran yang sengaja untuk menuliskan nama Rachel sebagai pengirim barang tersebut, Papi. Dan itu juga tanpa sepengetahuan Rachel. Apa mungkin ini adalah trik Molly untuk menghancurkan kita dengan memfitnah Rachel?" timpal Jerry membuat Ludolf Berwyn tertegun dengan hasil pemikiran putranya.
Ia pun sedikit membenarkan perkataan putranya karena melihat Alarick yang masih saja bersikap dingin terhadap Molly dan menyimpulkan bahwa Molly melakukan itu karena kesal terhadap Alarick. Terlebih saat ia bertemu dengan Rachel, ia tampak sangat polos. Bahkan Rachel sendiri yang menolongnya saat ia hampir kehilangan nyawa.
"Permisi Tuan, semua kapal sudah siap." ucap Ryan One yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Ludolf Berwyn dan juga putranya.
"Baiklah, Aku sendiri yang akan memanggil Molly dan Rachel untuk segera bersiap naik ke kapal." ucap Jerry sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Tepat di luar ruangannya, ia berpapasan dengan Alarick yang baru saja turun dari kamar Molly.
"Ada apa Bang?" tanya Alarick. "Kenapa kau terlihat sangat gusar?"
"Nah, kebetulan sekali Al, kau cepat panggil Molly untuk bersiap. Rombongan polisi sedang berlayar menuju kemari dan kita harus segera berpindah tempat untuk menyelamatkan diri." ucap Jerry sambil menepuk bahu adiknya.
"Polisi?!" pekik Alarick sambil mengikuti langkah Jerry yang naik ke atas menuju kamar Rachel.
"Yap! Aku akan memanggil Rachel. Semoga efek obat tidurnya sudah hilang." balas Jerry membuat Alarick makin tercengang.
"Kau sengaja memberi obat tidur pada Rachel, Bang?" tanya Alarick dengan nada tidak suka. "Untuk apa, bang? Apa semua tawanan wanita mu selalu kau perlakukan seperti itu?"
"Ck, sudahlah jangan banyak bertanya. Kau urus saja Wanita mu itu." timpal Jerry yang sudah sampai di depan pintu kamar Rachel.
Melihat Jerry masuk ke dalam kamar Rachel membuat dada Alarick sangat sesak. Kobaran api cemburu mulai menyeruak di dalam dadanya. Tak lama kemudian pintu kamar Molly terbuka dan senyum Molly langsung mengembang saat melihat Alarick berdiri di depan kamarnya.
"Al," Molly langsung menghamburkan memeluk Alarick. "Kenapa kau hanya berdiri di sini? Masuklah ke dalam."
Dengan jengah Alarick melepaskan pelukan Molly. "Keadaan sedang genting, polisi sedang menuju ke pulau ini dan kita harus segera berpindah menyelamatkan diri." ucap Alarick yang kemudian berjalan mendahului Molly.
"Gak mungkin!" pekik Molly tidak percaya. "Dari mana polisi tahu?" suara Molly sudah mulai bergetar ketakutan. Ia pun mengikuti langkah kaki Alarick menuju ke ruangan Jerry.
"Jangan bodoh Molly, orang yang melakukan transaksi sudah tertangkap. Dan aku yakin polisi langsung bergerak cepat." timpal Alarick saat sudah sampai di ruangan Jerry.
Kali ini Ludolf Berwyn pun tidak lagi menuduh Rachel karena apa yang diucapkan oleh Alarick memang benar. Polisi akan bergerak cepat karena orang yang membeli barang dari Molly udah tertangkap.
...☘️☘️☘️...
Hari ini Author udah UP banyak yaa, lanjut besok lagi 😊 sambil menunggu up dari Author besok, mampir yuk ke Novel bestie Author yang dijamin ceritanya pasti seru banget. Novelnya juga udah tamat loooh.
Nama Pena : L'fere
Judul Novel : Noushafarin