
Perlahan Rychelle memejamkan matanya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.
Point of View Rychelle Olyvia
Aku benar-benar sangat lelah. Mulai saat aku harus membantu Avega dari serangan orang-orang yang sangat tidak aku kenal dan kemudian harus lembur bekerja untuk mempersiapkan meeting dadakan perebutan tender.
Yah, meskipun aku rasa lembur dengan Mr Alarick tidak begitu melelahkan bagiku karena sebenarnya ia sudah mempersiapkan bahan meeting sebelumnya. Bahkan aku rasa Mr Alarick kini berubah menjadi bos yang sangat pengertian dengan anak buahnya.
Sebenarnya yang membuatku lelah hanyalah saat aku harus kembali menghadapi orang-orang yang menyerang Mr Alarick di tengah jalan.
Apa seperti ini ya kehidupan orang-orang kaya saat mempertaruhkan bisnis mereka? Mempertaruhkan nyawa hanya demi uang dan kekuasaan.
Aku tidak habis fikir, kenapa Chicko begitu menginginkan diriku? Dan sebenarnya mudah saja bagi Mr Alarick untuk menyerahkan diriku begitu saja pada Chicko dan menukarkannya pada si tua bangka menyebalkan itu tanpa harus mempertaruhkan aku di meja judi.
Jujur saja, aku sedikit besar kepala saat Mr Alarick begitu gigih mempertahankan aku, padahal aku hanyalah asisten kampungan baginya. Dan Avega, aku rasa dia sangat peduli dengan diriku. Mungkin karena aku sudah menolongnya kemarin itu.
Huuh. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika Mr Alarick benar-benar kalah melawan Chicko. Tak kusangka, orang tua menyebalkan itu memberi keuntungan untukku. Tuan Ludolf kejang di saat yang tepat.
Tapi, apa sebenarnya sakit yang diderita orang tua itu ya? Dan mengapa obatnya hanya ada di pulau terpencil yang sebentar lagi aku kunjungi? Hmm, ini benar-benar membuatku semakin penasaran.
Sudahlah, waktu yang sebentar ini lebih baik aku gunakan untuk beristirahat saja meski hanya sekejap.
Tapi tunggu, kenapa tangan Mr Alarick tiba-tiba menyentuh wajahku? Oh My God, kenapa tangannya terasa sangat lembut dan hangat? Dan jantung ini, kenapa harus berdebar seperti ini?
Aku sangat ingin membuka mataku dan menghentikan tangan Mr Alarick yang kini menyentuh bibirku. Tetapi kenapa aku justru sangat berat untuk membuka mataku dan menepis tangannya? Kenapa aku justru menikmati sentuhan nya ?
...❤️❤️❤️...
Alarick terus mengusap bibir ranum Rychelle dengan tangannya. Sedangkan Rychelle masih tetap memejamkan matanya membuat Alarick makin berani mendekatkan wajahnya dengan wajah Rychelle.
Cup! Satu kecupan singkat mendarat sempurna di bibir Rychelle. "Entah kenapa kau begitu cepat mengalihkan duniaku, Rachel." ucap Alarick pelan membuat Rychelle tetap memejamkan matanya dengan degub jantung yang bertalu-talu.
"Maaf sudah membawamu masuk lebih dalam di permasalahan besarku. Aku yakin kau adalah orang yang tepat untuk aku percaya. Terlebih saat papi sakau seperti ini." ucap Alarick pelan sambil mengusap kepala Rychelle dengan sangat lembut.
Ucapan Alarick barusan membuat Rychelle kembali menemukan kepingan puzzle informasi baru yang berkaitan dengan misi yang sedang ia jalani saat ini. Jika kemarin Tuan Ludolf kejang kejang karena sakau, bermakna saat ini mereka pasti akan menuju ke pulau rahasia tempat berlangsungnya jual beli narkoba.
Tiba-tiba tangan Alarick kembali tergerak untuk memindahkan tubuh Rychelle ke atas pangkuannya.
"Mr." seketika Rychelle membuka matanya saat ia sudah berada di pangkuan Alarick.
"Tidur saja di pangkuanku untuk sebentar. Aku tahu kau sangat lelah, Rachel."
"Tidak perlu, Mr. Saya lebih nyaman tidur seperti tadi." sanggah Rychelle sambil berusaha untuk kembali duduk.
"Tapi Mr."
"Sssttt! Tidurlah, masih ada satu jam untuk sampai di dermaga."
Mau tidak mau Rychelle pun menuruti perintah Alarick. Usapan tangan Alarick di kepalanya benar-benar membuatnya sangat nyaman dan tanpa menunggu lama ia pun tertidur di pangkuan Alarick. Sedangkan Alarick pun kini juga tertidur dengan menyandarkan kepalanya di headrest mobil.
Setelah menempuh satu setengah jam perjalanan, kini mereka sudah sampai di dermaga. Tampak beberapa orang memenuhi tepi dermaga untuk menantikan kapal yang akan mengantarkan mereka ke pulau kecil di seberang sana.
"Mr Alarick Berwyn." panggil seseorang yang menggunakan seragam nahkoda speedboat.
"Yes I am." jawab Alarick dan tangannya langsung menggenggam tangan Rychelle untuk mendekati nahkoda tersebut.
"Speedboat for you and Rachel Ortisia is already. Come on Follow me." ucap nahkoda tersebut.
"Are you ready, Rachel?" tanya Alarick dan Rychelle pun langsung menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua langsung mengikuti langkah nahkoda ke arah speedboat yang memang dirancang khusus untuk dua penumpang saja. Alarick kemudian membantu Rychelle untuk naik terlebih dahulu, dan setelah itu baru ia duduk di samping Rychelle dengan tetap menggenggam tangannya.
Perlahan Rychelle mencoba melepaskan genggaman Alarick, sayangnya Alarick tidak merenggangkan genggamannya sedikit pun. "Tetap seperti ini untuk memastikan kau akan baik-baik saja selama bersamaku, Rachel." bisik Alarick tepat di telinga Rychelle dan membuatnya sedikit meremang.
Rychelle pun mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona akibat perlakuan hangat Alarick.
"Kamu semakin cantik jika merona seperti itu." gumam Alarick yang terdengar kurang jelas di telinga Rychelle karena ia kemudian mengalihkan pandangannya ke laut lepas.
"Anda bicara apa, Mr?" tanya Rychelle.
"Nothing." jawab Alarick singkat yang sebenarnya tidak ingin membuat Rychelle segera sadar jika ia sangat mengaguminya.
Point of View Alarick Berwyn
Aku mungkin benar-benar sudah gila karena mengagumi wanita yang bekerja menjadi asistenku ini sejak awal bertemu dengannya. Meskipun penampilannya sangat kampungan, tetapi kedatangannya membuat jantungku terus saja berdegub kencang tak menentu hingga aku harus terus bersikap dingin dan seolah tak menginginkannya.
Padahal saat itu aku benar-benar tidak bisa menetralkan detak jantungku yang selalu bertalu saat memandangnya meski dari kejauhan. Terlebih saat netra kami bertemu, aku merasa ada sesuatu yang sangat indah di matanya.
Meski penampilan pertamanya sangat berbeda dengan Molly, tetapi entah mengapa ia seolah-olah sudah menyihirku untuk selalu saja memperhatikannya. Bahkan aku sangat tidak tenang saat harus dinas keluar kota.
Bayangan dirimu selalu muncul di depanku saat aku bekerja, Rachel. Bahkan aku sangat menantikan pesan darimu meski hanya untuk melaporkan kinerjamu hari itu.
Aku sangat tidak suka saat kau terlihat sangat dekat dengan Avega. Aku sangat cemburu melihat kedekatan kalian berdua, meski Status ku sekarang adalah tunangan Molly.
Kau harus tahu jika aku sama sekali tidak menyetujui perjodohanku dengan Molly, bahkan aku tidak mencintainya sedikit pun. Mungkin kini bisa dikatakan jika aku mencintaimu, Rachel. Cinta yang tanpa alasan dan sebab karena perasaan itu hadir begitu saja saat kita bertemu.