Complicated Mission

Complicated Mission
Sweet Night



Setelah Jerry memejamkan matanya, Rachel pelan pelan beringsut turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Jerry. Kemudian ia masuk ke kamar yang sudah disiapkan Jerry untuknya dan segera menghubungi kakaknya menggunakan smart watch miliknya.


"Hallo, Kak."


"..."


"Aku baik. Ayah saat ini membawa semua bukti dan ada di Pulau Bira."


"..."


Setelah mengakhiri panggilannya dengan Rychand, Rachel pun tergerak untuk membuka jendela kamarnya untuk sekedar menghirup udara malam. Dilihatnya jam di tangannya kini menunjukkan hampir jam 1 dini hari, namun matanya masih sangat sulit untuk terpejam.


"Mas Arick." gumam Rachel saat melihat Alarick tertidur dengan posisi duduk bersandar di kursi teras cottage nya.


Akhirnya Rachel memutuskan untuk keluar dari cottage dan mendekati Alarick. Ia pun tak lupa untuk membawa kotak P3K karena luka bekas perkelahian Arick dan Jerry tadi tampak belum diobati.


"Ssshhh," racau Alarick dengan mata yang masih terpejam saat Rachel perlahan membersihkan lukanya yang sedikit mengering.


Perlahan Alarick mengerjapkan matanya saat ia merasa ada seseorang yang mengobati lukanya.


"Rachel." panggil Alarick dengan suara khas bangun tidurnya. Sekilas senyum Alarick merekah dari bibirnya saat melihat ternyata Rachel yang kini sedang mengobati lukanya.


"Kenapa tidur di luar?" tanya Rachel yang masih fokus mengobati luka Alarick.


"Aku maunya tidur di kamar sama kamu." jawab Alarick yang terus memandang Rachel tanpa berkedip.


"Ck, jangan ngaco deh!" timpal Rachel yang sudah hampir selesai mengobati luka di wajah Alarick.


Setelah Rachel selesai mengobatinya, Alarick langsung memindahkan kepalanya ke pangkuan Rachel. "Aku cemburu dengan Bang Jerry. Aku sangat tidak rela Wanita ku disentuh olehnya meski hanya sedikit saja."


"Aku juga sangat kecewa denganmu, Rachel. Kenapa tadi kau mengusirku dan dengan suka rela mengatakan bahwa kau adalah tawanan nya?" tanya Alarick dengan tatapan sendu.


"Aku hanya tidak ingin kalian berkelahi, Mas. Aku tidak mau Mas Arick terluka."


Ucapan Rachel kali ini terdengar sangat menyejukkan hati Alarick. Seketika rasa kecewanya sirna dan berganti dengan rasa gembira yang tiada tara.


"Kau mengkhawatirkan aku, Rachel?" tanya Alarick dan Rachel pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau khawatir jika aku terluka?" tanya Alarick lagi dengan harapan Rachel mengucapkan alasan yang saat ini sangat ia tunggu.


"Tentu saja karena Mas Arick adalah seorang pemimpin perusahaan yang tidak boleh sakit. Sebab pekerjaanmu sangat banyak dan jika Mas Arick sakit, nanti banyak pekerjaan yang terbengkalai."


Alarick langsung memutar bola matanya malas saat mendengar jawaban Rachel.


"Bukan karena kau mencintaiku, Rachel? " tanya Alarick dan kini Rachel hanya terdiam.


Jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin mengatakan kepada Alarick bahwa ia sangat mencintainya. Namun Rachel teringat bahwa saat ini Alarick belum mengetahui dengan pasti siapa dirinya sebenarnya. Ia takut jika nanti Alarick justru kecewa setelah mengetahui Rachel yang sebenarnya.


"Rachel," panggil Alarick lagi yang kini sudah kembali duduk di samping Rachel.


"Emm, Mas. Sepertinya aku sudah mengantuk."


"Tidak perlu berkilah jika kau memang belum sanggup untuk mengungkapkannya, Rachel. Aku tidak akan memaksa." Alarick mulai mendekat ke arah Rachel dan mengikis jarak di antara mereka berdua.


"Karena bahasa tubuhmu sudah mengatakan hal yang sebenarnya padaku."


Cup!


Sekilas bibir Alarick langsung mendarat di bibir Rachel. Kecupan singkat Alarick membuat Rachel salah tingkah. Terlebih Alarick terus memandangi wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.


"Aku tidur dulu, Mas." Rachel beranjak dari duduknya dan bersiap untuk meninggalkan Alarick. Namun dengan cepat Alarick menarik tubuh Rachel dan membuat Rachel jatuh tepat di pangkuannya.


"Bagaimana jika tidur di pangkuanku, sayang?" tawar Alarick. "Aku akan mendekapmu sampai pagi dan aku pastikan kau tidak akan merasa kedinginan."


Blush! Wajah Rachel seketika merona mendengar tawaran dari Alarick. Dadanya terasa sangat sesak karena gemuruh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya seperti hampir meledak di dalam.


Sayangnya suara Rachel kali ini membuat Alarick menarik tengkuk leher Rachel dan kembali mendaratkan bibirnya. Kali ini bukan lagi kecupan sekilas karena mereka saling berbalas. Alarick melakukannya dengan sangat lembut dan Rachel tampak sangat menikmatinya.


Sayangnya kencan mereka berdua malam ini terrekam oleh Molly yang terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya untuk mengambil minum.


Molly yang baru saja meletakkan gelasnya di meja langsung menutup mulutnya karena terkejut melihat Al dan Rachel saling berciuman di depan Cottage. Tangan Molly langsung mengepal kesal saat mengetahui ternyata Rachel adalah wanita yang dimaksud oleh Alarick.


Selama ia dekat dengan Alarick dan menjalin hubungan, jangankan untuk berciuman, hanya sekedar berpegangan tangan saja bisa dihitung dengan hitungan tangan. Bahkan Alarick terlihat sangat enggan setiap berdekatan dengannya.


Dan yang membuat Molly tidak habis fikir saat ini, kenapa hampir semua laki-laki yang dekat dengannya selalu menyukai Rachel yang notabene nya hanya seorang pegawai baru di perusahaannya. Tidak Avega, Tidak juga Alarick dan kini Jerry juga terlihat sangat menyukai Rachel.


"Ini tidak bisa dibiarkan." gumam Molly kesal. Ia pun melangkahkan kakinya ke luar cottage dan berdehem tepat di belakang Alarick dan juga Rachel.


"Ehmm!"


Suara deheman Molly membuat Rachel langsung mendorong tubuh Alarick dan berdiri dari pangkuan Alarick.


"Ternyata dia ya wanita yang sudah merusak hubungan kita, Al?" tanya Molly sambil memandang sinis ke arah Rachel.


"Bukan dia yang merusak hubungan kita, tetapi karena aku yang memang tidak pernah mencintaimu Molly." jawab Alarick dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu selamat ya untuk kalian berdua." Molly mengulurkan tangannya ke arah Alarick dan juga Rachel secara bergantian.


"Maaf Miss Molly, aku ..."


Belum sempat Rachel mengutarakan kalimatnya, Molly sudah memotong ucapannya terlebih dahulu.


"Tidak perlu minta maaf Rachel. Aku turut bahagia jika Al juga bahagia meski tidak bersama denganku."


"Oh iya, ini sudah larut malam. Aku akan kembali beristirahat. Kalian lanjutkan saja kencan kalian berdua."


Molly langsung berbalik meninggalkan Alarick dan juga Rachel. Matanya sudah berkaca-kaca dan langsung ia tumpahkan di kamarnya. Sedangkan Rachel kini merasa tidak enak dengan Molly.


"Mas Arick, aku merasa tidak enak dengan Miss Molly. Aku tidak mau menjadi pelakor, Mas."


"Sssttt, kau bukan pelakor, Rachel. Sudah aku bilang dari awal jika aku sama sekali tidak mencintainya dan kami hanya dijodohkan karena kepentingan bisnis." jelas Alarick sambil mengusap kepala Rachel dengan sangat lembut.


"Tapi Tuan Ludolf sangat tidak menyukaiku, Mas." tukas Rachel.


"I dont care with him, Rachel. Selama ini papi juga tidak pernah bisa mengerti bagaimana dengan perasaanku."


Alarick menangkupkan kedua tangannya sambil menatap Rachel lekat-lekat. "Aku mohon berjuanglah bersamaku, Rachel." pinta Alarick sungguh-sungguh.


"Aku tidak bisa janji, Mas. Kita masih perlu mengenal satu sama lain. Aku tidak ingin kau merasa kecewa denganku nantinya."


"Tapi Rachel..."


"Hubungan kita terlalu rumit, Mas. Kau dan aku sangat jauh berbeda. Aku hanya percaya dengan takdir. Jika memang kita dijodohkan untuk bersama, maka kita akan terus bersama."


"Dan aku akan terus berdoa agar takdir berpihak kepada kita dan kau adalah satu-satunya wanita yang Tuhan persiapkan untuk mendampingi ku ." tukas Alarick.


"Istirahatlah, Mas. Kita masih harus berjuang untuk hari esok." ucap Rachel yang bergegas meninggalkan Cottage Alarick.


"Terima kasih banyak untuk malam ini Rachel. Jangan lupa untuk membawaku ke dalam mimpimu." Balas Alarick sambil terus memandangi Rachel masuk ke dalam cottage Jerry.


...💞💞💞...


Seperti biasa yaaa, Author mau mempromosikan karya milik bestie Author yang Novelnya seru dan keren abis.


Nama pena : Ayi


Judul Novel : Love After Parting