
"Kak Molly dan Rachel sama sekali tidak ada di penginapan dekat dermaga Bang." ucap Avega dengan nafas yang ter engah-engah.
Alarick yang kini terduduk lesu menghamparkan pandangannya ke lautan lepas. "Mereka sudah menuju ke Pulau seberang dengan speedboat khusus. Sayangnya akses untuk menuju ke sana sudah ditutup dengan alasan pekerjaan konstruksi." ucap Alarick dengan nada putus asa.
Ia pun langsung meninggalkan Avega dan berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Mau kemana Bang?" teriak Avega mengejar langkah Alarick.
"Hanya ada satu cara untuk menuju kesana. Aku akan pergi lewat Pantai Anyer." jawab Alarick.
"Aku ikut." balas Avega membuat langkah Alarick terhenti.
"Kau akan tetap disini untuk menghandle pekerjaan."
"Tapi Bang...."
"Kita tidak bisa pergi bersama kali ini. Tenang saja, aku akan terus memberi kabar padamu, Avega." jelas Alarick.
Avega pun mengalah dan pulang dengan memesan taksi, sedangkan Alarick kini sudah bersiap untuk menuju ke Anyer. Namun, saat hendak meninggalkan dermaga, ia melihat mobil papinya tiba. Dan benar saja, Papi Ludolf terlihat turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah dermaga.
"Papi." panggil Alarick membuat Ludolf Berwyn menghentikan langkahnya.
"Apa yang papi lakukan di sini? Bukankah papi belum pulih?" tanya Alarick mendekat ke arah papinya.
"Ada hal penting yang mengharuskan papi pergi, Al." jawab Ludolf Berwyn.
"Tapi papi belum sepenuhnya pulih dan aku tidak mengizinkan papi pergi."
Ludolf Berwyn pun akhirnya mengajak Alarick untuk pergi dengannya menuju ke pulau Rahasia. Kini Alarick pun bisa bernafas lega karena ia akan secepatnya bertemu dengan Rachel dan menyelamatkannya dari bahaya.
...⛵⛵⛵...
Cottage Pulau Rahasia.
Rachel keluar dari kamarnya dan tidak menemukan Molly di Cottage. Ia hanya melihat beberapa penjaga yang berkeliling si sekitar cottage dengan senjata lengkap. Di meja makan tampak beberapa hidangan yang sudah tersaji membuat perut Rychelle mulai berdemo minta untuk segera diisi.
"Nona Rachel," panggil salah satu orang penjaga.
"Nona Molly meminta anda untuk makan siang terlebih dahulu karena dia saat ini sedang bertemu dengan seseorang." tambahnya lagi.
Rychelle pun menganggukkan kepalanya dan langsung menuju ke arah meja makan. Namun seketika pandangannya teralihkan kepada sosok yang berdiri tidak jauh dari cottage dan masuk ke sebuah tempat semacam kedai makanan.
'Ayah!' pekik Rychelle dalam hati membuatnya sangat ingin bertemu dengan ayahnya secepatnya.
Rychelle pun berfikir keras bagaimana ia bisa lepas dari penjagaan yang super ketat ini. Ia pun mengedarkan pandangannya dan hanya satu orang penjaga yang terlihat berjaga-jaga di dalam cottage.
"Permisi pak. Bisakah saya meminta bantuan dengan anda?"
Rychelle mengayunkan tangannya memanggil seorang penjaga yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya penjaga tersebut.
Bugh! Dengan sekuat tenaga Rychelle memukul tengkuk penjaga tadi sampai ia jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri. Secepat kilat Rychelle melucuti pakaian penjaga tadi.
Setelah semua pakaiannya terlepas, Rychelle langsung mengambil obat bius yang sudah ia ia bawa dari rumah dan ia bius kan ke penjaga yang terkapar karena pukulannya tadi.
Tanpa menunggu lama Rychelle langsung memakai seragam penjaga tersebut dan tidak lupa ia mengenakan masker dan juga topinya. Dengan santai ia keluar dari cottage dan melangkah melewati beberapa penjaga yang masih berjaga di sekitar cottage.
"Woi, mau kemana bung?" tepuk seorang laki laki tepat di bahu Rychelle membuat Rychelle sedikit terkejut.
"Cari minum." jawab Rychelle dengan suara yang dibuat buat olehnya agar terdengar seperti seorang pria.
"Buruan balik sebelum Miss Molly marah besar." ucap laki-laki tadi dan Rychelle hanya mengacungkan ibu jari tangannya.
Sesampainya di kedai, tampak ayahnya sedang duduk dan menikmati sebuah kopi hitam. Rychelle pun langsung duduk tepat di samping ayahnya.
"Ayah." panggil Rychelle setengah berbisik membuat Ryan One sangat terkejut dan menjatuhkan cangkir kopinya.
Pyarr! Cangkir kopi yang dipegang Ryan pun pecah berkeping-keping.
"Yaelaah Pak Ryan. Gimana sih megang cangkirnya. Kenapa bisa pecah?" tanya penjualnya.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Ryan mulai memunguti pecahan cangkir kopi tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
"Gak papa Pak Ryan, nanti saya buatkan lagi yang baru."
"Kopi Hitam juga satu." jawab Rychelle dengan menggunakan suara laki-laki.
"Oke, ditunggu ya."
Setelah penjualnya masuk ke dalam dan membuatkan pesanan Rychelle, Ryan One langsung menghamburkan memeluk Putrinya.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" bisik Ryan One sambil mengusap kepala Rychelle.
Air mata Rychelle langsung terjatuh membasahi pipinya, namun buru-buru ia hapus. Kali ini ia harus menahan segala gejolak yang berkecamuk dalam dadanya agar penyamarannya berhasil.
Ia sangat bahagia, akhirnya setelah enam tahun lamanya, kini ia bisa merasakan pelukan sang ayah yang sangat ia rindukan. Semua luapan kerinduan Rychelle ia tumpahkan dengan membalas pelukan ayahnya erat-erat.
"Rychelle baik, ayah." jawab Rychelle dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Ikut ayah."
Ryan langsung menarik tangan Rychelle menuju ke cottage yang tidak jauh dari kedai tersebut. Namun sebelum meninggalkan kedai, Rychelle meletakkan selembar uang untuk membayar kopi yang sudah sempat ia pesan tadi.
"Tempat ini tidak aman untukmu Rychelle. Apa yang sudah membawamu kemari?" tanya Ryan One sambil melepas topi dan masker Putrinya.
Kini terlihat wajah cantik Putrinya yang sangat ia rindukan. Nampak mta Rychelle yang berkaca--kaca membuat Ryan tidak tega dan kembali memeluk Putrinya.
"Maafkan ayah tidak bisa menjagamu, Rychelle. Ayah mohon pergilah dari Pulau ini." ucap Ryan One.
"Apa ayah tidak merindukan aku?" tanya Rychelle.
Belum sempat Ryyan One menjawab pertanyaan Putrinya, terdengar suara langkah seseorang yang mendekat masuk ke dalam cottage dan mengetuk kamar Ryan.
Rychelle pun langsung melepaskan pelukan ayahnya dan bersembunyi di dalam lemari pakaian.
"Paman, sore ini Rachel akan dibawa Molly untuk bertemu dengan Jerry." ucap Chicko saat pintu kamarnya sudah terbuka.
"Aku tidak ingin putriku kenapa-napa, Chicko. Aku mohon bawa putriku pergi dari sini." pinta Ryan One kepada Chicko.
"Tapi penjagaan di sekitar cottage Molly sangat ketat, Paman. Aku harus menyamar terlebih dahulu untuk membawa Rachel keluar dari sana."
Mendengar suara Chicko, Rachel langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ternyata anda mengenal ayah saya, Tuan Chicko." ucap Rachel dari balik lemari pakaian membuat Chicko tersentak kaget.
Ia sungguh tidak mengira sama sekali Rachel bisa lolos dari penjagaan ketat di cottage Molly. Terlebih saat Chicko melihat pakaian yang saat ini digunakan oleh Rachel.
"Jika sejak dulu, saya tahu bahwa anda mengenal ayah saya dengan baik, maka saya akan memilih bersama anda daripada Mr, Arick." ucap Rychelle kemudian.
"Rachel, kita akan bahas masalah itu nanti. Sekarang kau harus segera meninggalkan pulau ini bersamaku."
Chicko langsung menarik tangan Rachel untuk meninggalkan tempat tersebut, namun sayangnya Rachel tetap berdiri di tempatnya dan tidak bergeming sama sekali.
...🍇🍇🍇...
Hai hai hai...
Mampir yuk ke Novel temen Author. Dijamin ceritanya seru dan keren banget loh.
Nama Pena : Elprida Wati Tarigan
Judul Novel : Neraka Dalam Pernikahan
Blurb
Anatasya hidup bagaikan di neraka dalam pernikahannya. Sifat suami Ana yang begitu manja dan pemalas bahkan memiliki tempramental yang tinggi membuat hidup Ana semakin menderita.
Siapa sangka sosok pria yang dulu berjanji akan membahagiakannya dan mau menerima kesalahannya di masa lalu akan selalu mengungkitnya dan membuat hidup Ana semakin menderita.
Hingga akhirnya Ana kembali bertemu dengan sahabatnya di masalalu saat keadaan Ana begitu tragis.
Hingga akhirnya Rangga sahabat Ana memilih untuk menolong Ana agar keluar dari Neraka yang di bangun oleh suaminya sendiri.
Tapi seseorang di masa lalu Ana kembali muncul.
Apakah Ana memilih bertahan dengan suaminya yang kejam atau dia lebih melilih sahabat atau mantanya?