
"Ryan One?" Rychelle mengulang ucapan Avega dengan suara yang sedikit bergetar. Rasa rindu dalam dada Rychelle akan ayah kandungnya langsung membuatnya sebak. Tangan Rychelle mengepal kuat untuk menahan dirinya agar tidak bertingkah yang mencurigakan.
Nama yang terucap dari mulut Avega menandakan bahwa ia pasti mengenal ayah Rychelle dengan baik melewati cerita dari daddynya. Kali ini Rychelle berfikir untuk terus dekat dengan Avega untuk mengorek lebih dalam lagi tentang persahabatan antara Ayah kandungnya dengan Liber Ran dan juga Ludolf Berwyn.
"Iya, Ryan One adalah sahabat daddy yang tidak pernah berhasil Daddy kalahkan dalam bermain catur." timpal Avega dan Rychelle hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oooh, begitu yaa. Lalu dimana sahabat Tuan Liber sekarang?" tanya Rychelle mulai mengorek informasi.
"Entahlah, beberapa tahun belakangan ini Om Ryan tidak tampak berkunjung kemari untuk menemani Daddy bermain catur." jawab Avega.
Percakapan mereka pun terputus karena hari sudah mulai gelap. Rychelle yang sudah sangat ingin pulang ke rumahnya, masih harus menunggu jam makan malam memenuhi permintaan Liber Ran.
Makan malam pun berlangsung sangat hangat. Rychelle benar-benar sangat cepat beradaptasi dengan Liber Ran meskipun baru saja bertemu dan saling kenal. Percakapannya dengan Liber Ran juga masih sebatas tentang pengalaman Rychelle dalam bermain catur.
"Oh iya, Rachel. Om harap lain kali kamu berkunjung lagi ke Mansion ini. Temani om bermain catur, karena om akan mengalahkanmu besok." ucap Liber Ran saat mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka.
"Baik Om, akan Rachel usahakan." jawab Rychelle. "Kalau gitu Rachel pamit dulu ya." ucap Rychelle yang sudah bersiap untuk pulang.
Tepat saat Rychelle hendak meninggalkan meja makan bersama Avega, dari arah pintu Mansion tampak Molly dan Alarick baru sampai dari perjalanan bisnis mereka. Alarick memicingkan matanya saat ia melihat asistennya terlihat sangat dekat dengan Avega.
Berbeda dengan Molly yang justru menarik bibirnya untuk tersenyum melihat adik laki-lakinya sudah mulai dekat dengan seorang wanita. Bahkan sudah berani untuk membawanya ke Mansion dan mengenalkannya pada Daddynya.
"Waaah, ternyata aku melewatkan banyak cerita kali ini." ucap Molly membuat Rychelle kali ini jadi sedikit salah tingkah.
"Saya tadi tidak sengaja bertemu dengan adik anda Miss Molly." Rychelle sedikit membungkukkan badannya di hadapan Molly.
"It's okey, Rachel. Kau tak perlu merasa sungkan denganku." timpal Molly.
Tidak ingin berlama-lama, akhirnya Rychelle pun berpamitan pada Molly dan juga Alarick. Tetapi saat Rychelle hendak masuk ke dalam mobil Avega, lengannya ditarik oleh seseorang.
"Mr Alarick."
"Aku membutuhkanmu lembur malam ini, Rachel. Ada beberapa berkas yang harus kita siapkan untuk rapat besok." ucap Alarick.
"Lembur?" tanya Avega dengan nada bicara yang kurang setuju. "Ini bukan jam kantor Bang, lagi pula Rachel juga sudah lelah malam ini." ucap Avega yang kini sudah berdiri di samping Rychelle.
Avega memang tunduk dengan Alarick saat berada di kantor, tapi tidak untuk saat ini. Avega sangat tahu jika Rychelle pasti sangat lelah malam ini, terlebih gadis itu baru saja melawan beberapa preman untuk membantunya saat di Mall tadi.
"Memang bukan jam kerja, tapi rapat mendadak besok, berkasnya harus dipersiapkan malam ini. Dan ini sangat PENTING!." tukas Alarick dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Rychelle membuang nafasnya kasar. Tidak bisa ia pungkiri jika malam ini ia merasa sangat lelah, terlebih ia sangat ingin berendam air hangat dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Tapi Mr, saya belum mandi dan ganti baju sejak tadi. Bagaimana saya bisa lembur dengan keadaan seperti ini?" tanya Rychelle membuat alasan.
"Kau bisa mandi di Mansionku nanti dan setelah itu kita siapkan berkasnya untuk meeting besok pagi." jawab ALarick dan kini Rychelle mulai tidak bisa berkutik.
"Oh iya Avega, Aku berhak memberi perintah pada Rachel karena ia adalah asisten ku." ucap Alarick yang kemudian menarik tangan Rychelle untuk menjauh dari Avega dan juga mobilnya.
" Aku akan membantu Rachel lembur malam ini."
"Tidak bisa!" Tolak Alarick dengan tegas. "Tugasmu juga sudah menunggu di email yang baru saja aku kirimkan malam ini. Kau fokus saja dengan pekerjaanmu."
Avega menghentikan langkahnya dan mengecek ponselnya. Ternyata benar ucapan Alarick, karena tugasnya baru saja masuk ke dalam ponselnya 5 menit yang lalu. Avega berdecih kesal saat membacanya.
"Cih, menyusahkan. "gerutu Avega yang kemudian berputar balik kembali ke Mansionnya.
Sedangkan Alarick kini tersenyum penuh kemenangan bisa memukul mundur Avega untuk mengejarnya. Sesampainya di mobil, Alarick meminta Rychelle untuk duduk di sampingnya dan Rychelle pun menurut tanpa penolakan sedikit pun.
Tidak ada percakapan antara keduanya saat di mobil karena Alarick sangat sibuk dengan tab yang ada di tangannya. Rychelle juga terus memandang ke arah luar jendela sambil menyembunyikan rasa kantuk nya. Entah sudah berapa kali ia menguap dan lama lama Rychelle sudah tidak sanggup untuk menahan rasa kantuk nya.
...🍁🍁🍁...
"Siapa perempuan ini?!" suara bariton Ludolf Berwyn menggema kencang sampai membuat Rychelle terkejut dan membuka matanya.
Rychelle mengerjapkan matanya yang masih sangat berat berkali-kali dan kemudian membelalak sempurna saat menyadari bahwa ia kini Alarick sedang membawanya ala bridal style.
"Dia asisten baruku yang akan membantuku lembur malam ini di sini." jawab Alarick.
"Asisten tidak tahu diri!" pekik Ludolf dan Rychelle buru - buru turun dan berdiri sambil menundukkan kepalanya. "Papi tidak pernah mengajarimu menerima pegawai murahan seperti ini. Pecat sekarang juga!" gertak Ludolf Berwyn pada putranya.
Rychelle yang tidak tahu apa-apa kini hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia terus merutuki kebodohannya yang tidak kuat menahan kantuk nya kali ini.
"Dia bukan gadis murahan seperti apa yang papi katakan. Aku sendiri yang berinisiatif membawanya masuk ke dalam dengan cara seperti itu." ucap Alarick menentang papinya sendiri.
Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Alarick.
"Sejak kapan kau berani membantah papi, hahh?!" suara Ludolf Berwyn semakin meninggi.
"Siapa namamu?" tanya Ludolf yang kemudian beralih menunjuk ke arah Rychelle.
"Rachel Ortisia." jawab Rychelle datar.
"Apa seperti ini ajaran orang tuamu sampai kau tumbuh menjadi wanita yang murahan?" tanya Ludolf Berwyn yang terdengar begitu mengintimidasi.
Mendengar pertanyaan Ludolf membuat Rychelle berani mengangkat kepalanya dan kini netra nya langsung bersitatap dengan netra milik Ludolf. Nampak matanya kini mulai berkaca-kaca. Dalam lubuk hati terdalamnya ia sangat marah saat mendengar orang tuanya di bawa-bawa dalam masalah ini. Terlebih masalahnya kali ini bukanlah salah Rychelle sedikitpun.
"Lebih baik kita ke kantor saja malam ini. Kita lembur di kantor dari pada di sini." ajak Alarick sambil mengamit bahu Rychelle untuk meninggalkan Mansionnya.
"Tidak ada lembur untuk pegawai seperti dia!" Teriak Ludolf yang makin geram dengan tingkah laku putranya. "Pecat sekarang juga, Alarick!"
Alarick menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi papinya. "Aku masih sangat membutuhkan dia, dan ini juga demi kemajuan kantor yang papi dirikan bukan? Dan aku memang harus mempersiapkan bahan rapat malam ini juga untuk bisnis besar One Point besok pagi. Kumohon papi bisa mengerti." jelas Alarick.
Ludolf Berwyn tercekat tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya bisa memandangi putranya meninggalkannya begitu saja.