Complicated Mission

Complicated Mission
Hai, Apa Kabar?



Satu minggu kemudian,


"Dek, ada yang nyariin tuh di bawah." teriak Citra sambil mengetuk kamar Rychelle berkali-kali.


Rychelle yang saat ini sedang di dalam kamar mandi sama sekali tidak mendengar ketukan pintu dari kakak iparnya.


Citra yang sudah mengetuk pintu berkali kali dan tidak ada jawaban dari Rychelle pun mulai panik. Ia mencoba membuka pintu kamar Rychelle sayangnya masih terkunci.


Ia pun mencoba menghubungi ponsel Rychelle berkali-kali juga tidak ada jawaban. Tidak biasanya Rychelle seperti ini, dan Citra semakin khawatir. Terlebih suaminya sudah berangkat bertugas sejak pagi buta tadi.


"Rychelle!" teriak Citra lebih kencang. "Kamu denger kakak kan?"


Alarick yang mendengar teriakan citra pun langsung naik ke atas untuk melihat Apa yang terjadi.


"Ada apa Kak?" tanya Alarick.


"Rychelle sama sekali tidak menyahut panggilan ku dari tadi Al, aku takut terjadi apa-apa karena dia juga berkali-kali tidak menjawab panggilan ku." jelas Citra dengan raut wajah yang khawatir.


"Apa ada kunci cadangan kak?" tanya Alarick kemudian dan Citra pun baru teringat jika ia menyimpan kunci cadangan kamar Rychelle.


Dengan cepat Citra berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan dan kemudian masuk untuk mencari keberadaan Rychelle.


Sesampainya di dalam kamar, Rychelle tidak terlihat sama sekali. Namun pintu ke arah balkon kamar terbuka lebar, Citra dan Alarick pun langsung menuju ke balkon.


Sayangnya saat mereka hendak menuju ke balkon kamar, tampak Rychelle keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dan hanya menggunakan handuk untuk membalut tubuhnya.


Alarick langsung menelan ludahnya kasar melihat Rychelle yang belum menyadari kedatangan Alarick di kamarnya.


"Ya Ampun deeek, kamu barusan mandi?" tanya Citra lega saat melihat Rychelle keluar dari kamar mandi.


"Kakak udah khawatir banget kamu gak jawab panggilan kakak."


Rychelle membuka wajahnya yang masih tertutup handuk dan sangat terkejut saat melihat ada seorang lelaki yang berdiri di belakang kakak iparnya.


"Aaaaarrrrgggh! Kakak kok bawa cowok masuk kamarku sih." teriak Rychelle yang langsung membalikkan badannya dan kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Citra pun langsung teringat jika ia kini tidak sendiri. Ia pun langsung berbalik dan meminta Alarick untuk menunggu di bawah.


Alarick pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rychelle dan menuruni anak tangga sambil mengipas ngipas wajahnya yang sedikit terasa panas.


"Huft, sepertinya kali ini aku tidak bisa merelakan Rychelle begitu saja untuk Teysar. Aku harus mengajaknya untuk kembali bersaing secara sportif."


Alarick bergumam dalam hatinya sambil meredam dentuman detak jantungnya yang terus bertalu-talu. Sesampainya di ruang tamu, Alarick langsung menghabiskan minumannya.


"Emm, aku nanti harus ngomong apa dulu ya sama Rychelle?"


"Nanyain kabar, atau aku harus mengucapkan bela sungkawa dulu. Aduuuuh, kenapa jadi malah salah tingkah gini sih?"


Saat Alarick masih memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan saat bertemu Rychelle, kini Rychelle sedang memanyunkan mulutnya karena kesal dengan Citra.


"Kakak nih, bikin aku malu aja. Pake bawa bawa cowok masuk ke kamar." gerutu Rychelle sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Ya kan kakak khawatir sama kamu. Tadinya udah mau minta Alarick loh buat dobrak kamar kamu. Untung aja dia nanya kunci cadangan." timpal Citra membuat Rychelle kali ini membelalakkan matanya.


"Siapa kakak bilang?" tanya Rychelle.


"Alarick."


"Hah! yang tadi itu Mas Arick?"


Citra langsung menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? Makin tampan bukan?" tanya Citra sambil berbisik ke arah Rychelle.


Kali ini Rychelle mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


"Duuuh, Kak. Aku kok jadi nervous gini ya?" ucap Rychelle sambil terus merapikan rambutnya di depan kaca.


"Udah, temuin aja dulu gih. Kasihan Alarick nunggu dari tadi." balas Citra sambil menepuk bahu Rychelle dan kemudian keluar dari kamar adik iparnya itu.


...🍄🍄🍄...


Rychelle mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamarnya. Saat hendak menuruni anak tangga, ia tidak melihat Alarick sama sekali di ruang tamu hingga Rychelle turun dengan tergesa-gesa.


"Kak, Mas Arick udah pulang ya?" tanya Rychelle dengan raut wajah kecewa.


Citra yang sedang membuat kudapan di pantry pun hanya menghela nafasnya pelan.


"Kakak suruh nunggu di taman, biar kalian enak ngobrolnya bisa leluasa." jawab Citra.


"Oh."


Rychelle hanya ber-oh ria sambil meninggalkan kakak iparnya.


Alarick langsung menyunggingkan senyumannya saat melihat Rychelle berjalan mendekat ke arahnya. Dan senyuman Alarick kali ini membuat Rychelle semakin berdebar-debar.


"Hai," - - "Hai,"


Keduanya menyapa bersamaan dan kemudian mereka pun saling canggung satu sama lain.


"Baik." jawabnya singkat. "Mas Arick apa kabar?"


Pertanyaan Rychelle membuat hati Alarick sangat bahagia. "Dia bahkan masih setia memanggilku dengan sebutan 'Mas',"


"Kabarku saat ini sangat bahagia, karena aku bisa bertemu kembali denganmu." balas Alarick.


"Aku turut berbela sungkawa atas gugurnya Iptu Ryan One. Maaf jika aku baru bisa mengucapkannya hari ini denganmu." ucap Alarick sambil memandang ke arah Rychelle.


"Oh, iya. Aku pun turut berbela sungkawa atas kematian Bang Jerry. Aku benar-benar tidak pernah menduga jika akan seperti ini jadinya." balas Rychelle tanpa membalas pandangan Alarick.


Bagaimana ia mampu membalasnya, jika dipandangi oleh Alarick saja sudah membuatnya salah tingkah.


"Abang ku pasti merawatmu dengan sangat baik bukan?" tanya Alarick dan Rychelle pun menganggukkan kepalanya.


"Dia benar-benar sangat mencintaimu, Rychelle. Dan itu yang membuat aku yakin jika kau pasti masih hidup."


"Apa yang membuatmu yakin, Mas? Disaat yang lain pasti sudah mengira jika aku sudah tidak bernyawa." tanya Rychelle kemudian.


Sedikit banyaknya Citra menceritakan banyak hal dengan Rychelle apa saja yang sudah terjadi saat ia tidak ada.


Dalam cerita Citra, Alarick dan Teysar benar-benar terus berupaya mencari keberadaan Rychelle. Di saat yang lain mulai lelah untuk mencari, kedua pria tersebut sama sekali tidak pernah menyerah untuk terus mencari informasi.


Sampai akhirnya Mami Divya berhasil menghubunginya satu hari sebelum pernikahan Rychelle.


"Yang membuat aku sangat yakin adalah, tidak mungkin wanita secantik kamu meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu." jawab Alarick.


Blush!


Pipi Rychelle langsung merona mendengar pujian Alarick.


Senyuman Alarick kembali terlukis saat melihat rona di wajah wanita yang saat ini ada di hadapannya.


Tiba-tiba Citra datang membawa nampan berisi kudapan dan minuman yang baru saja ia buat.


"Naah, sambil kalian ngobrol, cobain nih coklat pisang lumer buatan kakak." ucap Citra sambil melatakkan nampan di atas meja.


"Thanks ya kak." ucap Rychelle dan Alarick hampir bersamaan.


"Diiih, kompak banget sih kalian." ledek Citra. "Sama-sama, oh iya Al. Hari ini ada acara gak?" tanya Citra kemudian.


"Kosong sih, kenapa kak?" jawab Alarick balas bertanya.


"Ajakin Rychelle jalan gih. Udah seminggu ini di rumah aja."


Mendengar jawaban kakak iparnya membuat Rychelle langsung mengerutkan dahinya.


"Eh, gak usah Mas. Kak Citra nih ada - ada aja." celetuk Rychelle.


Sedangkan Citra hanya terkekeh sambil berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.


"Nanti malem kita jalan yuk," ajak Alarick.


"Emmm..."


"Ada satu hal peninggalan Bang Jerry yang mau aku sampaikan sama kamu." lanjut Alarick lagi.


"Kemana?" tanya Rychelle kemudian.


"Kita lihat nanti malam ya." balas Alarick lagi.


Kini mereka berdua pun menikmati kudapan buatan Citra sambil saling bertukar cerita tentang apa yang terjadi selama satu tahun ini.


Alarick pun menceritakan jika Molly sudah melahirkan bayinya yang kini diurus bersama oleh dua keluarga. Satu bulan di urus oleh Avega dan juga Liber Ran, satu bulan selanjutnya diurus oleh Alarick karena anak itu juga adiknya.


"Siapa namanya?" tanya Rychelle.


"Sesuai dengan permintaan Molly, bayinya diberi nama Lollyta Ran. Dia sama sekali tidak mau menyematkan nama papi di belakang nama putrinya." jawab Alarick.


"Sekarang usianya sudah hampir 7 bulan dan sangat mirip dengan mamanya."


"Aku benar-benar melewatkan banyak hal di sini. Bahkan aku juga sudah dua kali gagal untuk menikah." tukas Rychelle.


"Tentu saja gagal. Karena Tuhan sudah mempersiapkan lelaki yang tepat untuk menjadi suamimu."


"Jika aku pernah menyerah untuk mendapatkanmu, kali ini aku akan kembali berjuang untuk menjadi suami yang baik untukmu, Rychelle,." ucap Alarick yang kali ini mulai berani memegang jemari tangan Rychelle dan menggenggam nya.


Sentuhan Alarick membuat Rychelle sesak merasakan debaran di dadanya. Terlebih saat Alarick perlahan mengecup punggung tangannya dengan sangat lembut.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan Alarick pun langsung mengangkat panggilan di ponselnya.


"..."


"Baiklah." jawab Alarick singkat dan langsung mematikan ponselnya.


"Maaf, aku harus segera pergi, Rychelle. Nanti malam aku akan menjemputmu tepat jam 7 malam." ucap Alarick.


Rychelle pun hanya mengangguk sambil melihat kepergian Alarick.