
"Aku ingin mendengar sedikit saja kejujuran dari mulutmu, Rachel. Adakah sebersit rasa cinta dalam hatimu untukku?" tanya Alarick membuat degub jantung Rychelle tidak menentu.
"Mr." panggil Rychelle sambil mengatur nafasnya karena posisi Alarick yang semakin mendekat ke arahnya.
"Kita tidak sedang di kantor. Bisa tidak kau memanggilku dengan sebutan lain?" pinta Alarick.
"Kak."
"Ada yang lain lagi?"
"M-mas."
"Aku suka mendengarnya, Rachel. Sekarang katakan dengan jujur. Aku mohon." pinta Alarick dengan sungguh-sungguh.
"M-mas Arick, A-aku ..."
"Katakan Rachel, aku mohon." desak Arick yang mendengar Rachel terbata-bata.
"Aku tidak ingin menjadi pelakor, Mas." ucap Rachel.
"Aku tidak suka jawabanmu kali ini Rachel. Dan aku benar-benar tidak suka." ucap Alarick melepaskan tangannya dari dagu Rychelle.
Kekecewaan yang begitu mendalam kini menyelimuti perasaan Alarick atas apa yang dikatakan Rachel barusan.
"Tapi kali ini aku berbicara dengan jujur, Mas. Aku tidak mungkin menyakiti perasaan banyak orang yang ada di sekelilingmu." ucap Rachel lantang.
"Dan kini kau justru telah menyakiti perasaanku. Kau tahu, Rachel. Bahkan aku siap hidup bersamamu dengan pakaian seperti ini."
"Tapi nyawaku bisa melayang begitu saja jika Mas Arick tetap bersikukuh memilihku. Apa tidak sedikit pun tidak terlintas dalam fikiranmu, Mas?" tanya Rachel.
Kini Alarick terdiam. Apa yang dikatakan Rachel memang benar adanya. Orang yang kini ada di sekelilingnya pasti akan menghalalkan segala cara agar dia tetap mengikuti aturan yang sudah disepakati sejak lama.
"Aku memang belum mengenalmu secara baik, Mas Arick. Tapi sejauh ini aku sangat mengagumimu. Namun, aku sama sekali tidak berharap untuk memilikimu karena itu adalah hal yang mustahil bagiku." ucap Rychelle sambil memandang sendu ke arah Alarick.
Alarick membuang nafasnya kasar dan mulai menjalankan mobilnya. Keduanya sama-sama terdiam sampai mobil Alarick berhenti di depan gerbang rumah Rychelle.
"Terima kasih untuk hari ini." ucap Rychelle. "Besok sore aku akan datang untuk mengajar anak-anak di sana." tukas nya lagi dan hanya dijawab dengan deheman oleh Alarick
Saat Rychelle hendak membuka pintu mobil, tangannya ditahan oleh Alarick. "Rachel, aku ingin kita tetap dekat seperti ini." pinta Alarick.
"Aku akan merahasiakan kedekatan kita di depan semua orang. Setidaknya biarkan aku merasakan kenyamanan ini meski hanya sebentar saja."
Rachel pun tersenyum dan mengangguk setuju. Anggukan Rychelle kali ini membuat Alarick menarik tangan Rychelle dan mengecup punggung tangannya.
Rychelle terdiam sambil menelan ludahnya kasar. Ada seperti sengatan listrik yang menjalar lewat tangannya menuju ke dadanya yang terus berdebar-debar.
"Semustahil apapun itu, aku tetap berharap suatu saat nanti menikah denganmu, Rachel. Aku yakin Tuhan pasti akan mendengarkan doa dan harapanku." ucap Alarick sambil mengusap pipi Rachel yang mulai merona.
"I love you, Rachel. Selamat beristirahat." ucap Alarick sambil melemparkan senyum terindahnya.
"Mmm, sekali lagi makasih ya Mas Arick." tukas Rychelle.
"Berterima kasihnya yang bener dong. Masa cuma gitu doang."
"Emm, besok aku traktir deh. Gimana?"
Alarick langsung menggelengkan kepalanya. "No, Rachel. Berterima kasihlah di sini." Alarick menunjuk ke arah pipi kirinya.
Blush! wajah Rachel makin memerah saat paham apa yang sebenarnya diminta oleh Alarick.
"Do it, now Rachel. Apa kamu mau berterima kasih disini?" tanya Alarick yang kali ini menunjuk ke arah bibirnya.
"Mas Arick jangan ngaco deh."
"Aku atau kamu yang akan melakukannya?" tawar Alarick membuat Rychelle akhirnya mengalah.
Dia takut jika Alarick yang melakukannya justru makin lama dan kemana-mana.
"Aku aja deh," ucap Rychelle. "Tapi Mas Arick tutup mata dong." pinta Rychelle.
Alarick langsung menutup matanya dan menunggu bibir Rychelle mendarat mulus di pipinya. Perlahan Rychelle mendekat ke arah Alarick dan sedikit lagi bibirnya mendarat di pipi kiri Alarick.
Sayangnya dengan cepat Alarick memutar kepalanya hingga membuat bibirnya lebih dulu mendarat di bibir Rychelle.
Deru nafas Rychelle terdengar sangat seksi di telinga Alarick dan membuat Alarick menarik tengkuk leher Rychelle dan makin memperdalam ciumannya. Keduanya kini saling berbalas satu sama lain sampai Rychelle mulai melepaskannya terlebih dahulu.
"Makasih atas kejujuranmu kali ini, Rachel. Aku pamit ya."
"Pulangnya hati-hati Mas." ucap Rychelle sambil keluar dari mobil Alarick.
Alarick pun meninggalkan rumah Rychelle dan Rychelle pun langsung masuk ke dalam rumahnya.
...☘️☘️☘️...
Setelah Rychelle membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, ia pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
Tangan nya terusap di bibirnya sendiri sambil memejamkan matanya mengingat saat Alarick mengecoh dirinya dan mendaratkan bibirnya hingga mereka berdua saling berpagutan satu sama lain.
'Apa seindah ini ya rasanya jatuh cinta? Aku gak nyangka sama sekali bakal dicintai sama CEO Bank One Point.' gumam Rychelle dalam hati sambil menutup wajahnya.
"I love you too, Mas Arick." ucap Rychelle pelan sambil terus mengingat ingat saat ia berdua dengan Arick.
'Aku makin kagum sama Mas Arick. Terlebih saat tahu ternyata jiwa sosialnya sangat tinggi. Udah cakep, cool, diam-diam dia juga perhatian. Aku gak bisa ngebayangin, gimana kalo tadi dia gak ada disitu?' batin Rychelle.
Jauh di lubuk hatinya ia benar-benar sangat bersyukur bertemu dengan Alarick di saat yang sangat genting. Meskipun saat di kantor Rychelle sempat uring-uringan karena sikap Alarick, namun ia sama sekali tidak mempermasalahkan itu karena sekarang Alarick sudah kembali hangat.
"Dia itu bener-bener kayak bunglon. Cepet banget berubah warna. Kadang warnanya bikin adem dan sejuk kayak hijaunya daun. Tapi kadang juga warnanya suram kayak suasana kuburan." ucap Rychelle sambil terkekeh sendiri.
Baru asyik memikirkan tentang Arick, ponsel Rychelle pun berdering dan tampak nama kakaknya sedang menghubunginya.
"Ya Ampun, aku sampai lupa kalo kakak sekarang lagi ikutin mobil pengiriman barang." gumam Rychelle sambil menepuk jidatnya.
"Halo kak."
"..."
"Rychelle udah di rumah kok. Semuanya aman. Untung tadi ada Mas Arick yang bantuin Rychelle."
"..."
"Ooh, bukan bukan. Maksud aku Mr. Alarick. Atasan aku di kantor kak."
"..."
"Oke-oke. Nanti aku akan kasih kabar ke kak Citra."
Setelah panggilannya terputus, Rychelle langsung menemui kakak iparnya dan menyampaikan pesan Rychand bahwa kali ini ia tidak pulang karena ada tugas yang harus segera diusut.
Rychelle pun menceritakan apa yang terjadi dengannya hari ini pada Citra. Mulai dari penemuannya tentang pengiriman tepung goreng krispi hingga Molly menuliskan namanya sebagai pengirim tepung tersebut.
"Semoga kakakmu tetap menjalankan taktik penangkapan dengan baik agar tidak terjadi apa-apa dengannya." ucap Citra yang mengkhawatirkan keselamatan suaminya dalam misi besar ini.
"Kakak tenang saja, Kak Rychand pasti akan menjalankan tugas dengan baik." timpal Rychelle.
"Lalu bagaimana jika Kamu tertangkap? Bukankan nama pengirimnya itu kamu, dek?" tanya Citra.
"Aku memang ditulis sebagai pengirim barang tersebut. Namun tanda tanganku sangat jelas bahwa aku adalah atas nama Molly Ran." jawab Rychelle.
"Kau memang sangat cerdas Rychelle. Pantas saja Kakakmu sangat menyayangimu." timpal Citra.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan malam berdua karena Rychand malam ini sudah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah.
...☘️☘️☘️...
Hai Guys, mampir yuk ke Novel temen aku.
Nama Pena : CovieVy
Judul : Ternyata Suamiku Gigolo
Blurb :
Seperti biasanya, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.
Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh dikejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.
Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus ****** yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik suamiku?