Complicated Mission

Complicated Mission
Save Rychelle



Rychelle membawa berkas ke ruang Alarick dengan terus memikirkan tentang kotak yang berisikan tepung goreng krispi yang ada di sudut ruang kerja Molly. Seketika otaknya pun berfikir cepat.


'Aku yakin, itu pasti sabu yang kemarin dibeli oleh Molly. Aku harus menggagalkan penjualannya kali ini.' gumam Rychelle dalam hati.


Setelah meletakkan berkas yang dia bawa ke ruang Alarick, Rychelle langsung kembali ke ruangannya dan mulai menata meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Alarick tampak pulang terlebih dahulu, melewati meja kerja Rachel begitu saja dan kali ini tanpa Molly di sampingnya.


Rychelle pun langsung mengetikkan pesan untuk kakaknya agar memberi komando kepada anak buah untuk bersiap menggagalkan perdagangan Molly kali ini, terlebih Rychelle yakin barang yang akan dijual jumlahnya sangat banyak.


"Rachel, apa kau sudah mau pulang?" tanya Molly yang tampak keluar dari ruang Alarick sambil membawa ponselnya.


"Belum Miss, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rychelle sambil mendial nomor ponsel Rychand untuk terus terhubung dengan Rychelle.


"Aku memang sangat membutuhkan bantuan untuk mengirim beberapa paket. Bisa kan?" tanya Molly ramah.


"Tentu saja Miss Molly. Dengan senang hati." jawab Rychelle yang langsung mengikuti langkah Molly ke ruang lama.


Saat menuju ke ruang kerja Molly, mereka pun berpapasan dengan Avega dan Avega langsung bertanya dengan Molly akan membawa Rychelle kemana.


"Rachel mau dibawa kemana kak?" tanya Avega menghadang langkah Molly.


"Dia aku minta membantu untuk mengirim paket, Avega. Setelah itu dia bisa langsung pulang kok." jawab Molly.


"Jangan bawa Rachel masuk dalam masalah kakak ya, aku tidak suka." bisik Avega pada Molly yang masih terdengar jelas di telinga Rychelle.


"Ck, belum jadi kekasihnya saja sudah seposesif ini." balas Molly pelan sambil menepuk bahu adiknya.


Mau tidak mau Avega pun mengekori mereka berdua ke ruang kerja Molly dan turut menyiapkan paket yang akan dikirim.


Awalnya Rychelle pikir ia diminta untuk mengangkutnya ke lobby, namun dugaannya salah besar karena tim ekspedisi barang justru yang datang mengambilnya ke ruangan Molly.


"Tugas saya apa Miss?" tanya Rychelle kemudian.


Molly langsung memberikan resi pengiriman barang tersebut yang di atas namakan Rachel Ortisia dan memintanya untuk menandatangani resi tersebut.


"Loh, ini kenapa nama pengirimnya nama saya Miss Molly?" tanya Rychelle mulai tidak terima. "Saya kan tidak tahu barang apa yang ada di dalamnya. Lagi pula bukan saya juga yang mengirimkannya." tolak Rychelle secara terang - terangan.


"Hei, aku sedang mempopulerkan namamu dalam penjualan ini dan komisinya sangat besar. Jangan bodoh Rachel. Ini nantinya akan sangat menguntungkan untukmu." jelas Molly sambil memaksa Rachel untuk segera menandatanganinya karena tim ekspedisi sudah menunggu.


Untungnya Avega langsung menarik tangan Molly untuk menjauh dari Rychelle dan juga tim ekspedisi.


"Kakak sudah gila ya?!" gertak Avega tidak terima.


"Jangan bawa Rachel masuk dalam usaha gila kakak. Aku sama sekali tidak setuju."


"Itu hanya nama saja Avega. Kamu tahu sendiri kan selama ini tidak pernah ada masalah selama pengiriman." sanggah Molly.


"Tapi kita tidak pernah tahu apa yang terjadi ke depannya kak. Dan aku sama sekali tidak setuju."


Avega langsung meninggalkan Molly dan mendekat ke arah Rachel, sayangnya tim ekspedisi barang sudah tidak ada di tempat. Begitu juga barang yang akan dikirim atas nama Rachel Ortisia.


"Rachel, kemana barangnya?" tanya Avega dengan tampang shock.


"Sudah dibawa bagian pengiriman barang." jawab Rachel.


"Oh, syukurlah. Kau bekerja dengan cekatan dan sangat baik Rachel. Aku akan mengirimkan bonus bulanan ke rekeningmu." ucap Molly dengan tersenyum. "Sekarang kau bisa bersiap untuk pulang ke rumah."


"Baik Miss, terima kasih banyak." ucap Rychelle yang langsung undur diri dari hadapan Molly dan Avega.


Sepeninggalan Rachel, Avega kembali adu mulut dengan kakaknya. Sedangkan Rychelle langsung mengambil tasnya dan menemui kakaknya di tempat yang sudah mereka sepakati.


Namun sepanjang perjalanan, Rychelle merasa dirinya diikuti oleh seseorang. Berkali-kali Rychelle melihat ke arah spion motornya, nampak mobil Alphard terus mengekor di belakangnya.


"Kak, sepertinya ada yang mengikutiku di belakang." ucap Rychelle di mic headset nya yang sampai sekarang masih terhubung dengan kakaknya.


"Baiklah, kau bisa menyelamatkan dirimu terlebih dahulu. Kakak dan Aipda Teysar akan terus mengawal mobil ekspedisinya." balas Rychand di ujung panggilan.


Akhirnya Rychelle sengaja berbelok ke gang yang sangat kecil dan tentunya akan sulit untuk dilalui sebuah mobil besar seperti Alphard. Kemudian ia berbelok lagi dan memarkirkan motornya ke sebuah warung sambil melihat siapa yang sebenarnya sedang mengikutinya.


Tak berapa lama ada beberapa orang berbadan kekar berjalan menyusuri jalan kecil yang baru saja dilewati oleh Rychelle. Untung saja Rychelle cepat-cepat bersembunyi di balik tembok tidak jauh dari warung dan tempat dimana motornya terparkir.


"Motornya ada bos, sayangnya Nona Rachel sama sekali tidak terlihat. Kami yakin dia bersembunyi tidak jauh di sekitar sini." ucap salah satu pria bertubuh kekar tersebut.


"..."


"Ada jalan yang bisa dilalui oleh mobil, hanya saja bos harus memutar sedikit lebih jauh."


"..."


"Baik, bos. Kami akan tetap berjaga-jaga." ucap pria tadi.


Rychelle mengusap wajahnya kasar, keringatnya sudah mulai menetes dan degub jantungnya makin tidak menentu. Terlebih tiga orang pria tadi terus berdiri mengelilingi sepeda motor Rychelle.


"Siapa sebenarnya yang mengikuti aku?" gumam Rychelle pelan sambil terus menyembunyikan tubuhnya agar tidak terlihat oleh ketiga pria bertubuh kekar tadi.


Namun, tiba-tiba ada yang menutup mulut Rychelle dari belakang dan membawanya pergi sedikit lebih jauh dari tempatnya bersembunyi. Kali ini Rychelle sama sekali tidak meronta ataupun berteriak saat mengenali bau parfum lelaki yang membekap mulutnya.


Laki-laki tersebut membawa Rychelle ke salah satu rumah kecil yang sudah dipenuhi oleh anak-anak jalanan.


"Mr. Arick." panggil Rychelle sambil mengatur nafasnya dan melihat ke sekelilingnya.


Tampak ada sekitar lima belas anak jalanan yang sedang memegang buku tulis dan juga pensil. Tidak hanya itu, di depan mereka juga ada papan tulis berwarna putih dan satu lagi yang membuat Rychelle langsung menyimpulkan dengan cepat bahwa Arick sedang mengajari mereka, yaitu saat spidol boardmarker terselip di saku jas Arick.


"Siapa wanita cantik itu Pak Guru?" tanya salah satu anak laki-laki yang duduk paling depan.


Rychelle dengan cepat menyesuaikan dirinya di depan anak-anak jalanan tersebut.


"Emm, kenalkan nama saya ibu peri yang nantinya akan menemani kalian belajar." ucap Rachel memperkenalkan dirinya.


"Tapi ibu peri tidak bisa mengajar kalian hari ini karena Pak Guru dan Ibu peri harus segera pergi dari sini." ucap Alarick yang langsung membuat wajah anak-anak kecewa.


"Yaaah, kenapa pak guru?"


"Iyaa kenapa pak? Bukannya kata bapak kita harus rajin belajar biar pintar seperti Pak Guru."


"Lalu kapan kita bisa mulai belajar dengan ibu peri?"


Pertanyaan anak-anak seketika membuat suasana gaduh.


"Ibu peri berjanji akan datang kemari besok sore untuk mengajar kalian. Bagaimana?" tawar Rychelle yang langsung membuat anak-anak bersorak gembira.


Setelah itu Alarick memberikan pakaian yang kumuh untuk Rychelle gunakan agar bisa mengecoh ketiga orang yang masih berjaga di motornya dan menyelamatkan diri. Sedangkan Alarick menghubungi sopir pribadinya untuk membawa motor Rychelle ke rumahnya untuk sementara waktu.


...☘️☘️☘️...


Guys, sambil menunggu Rychelle pulang bareng Arick, mampir yuk ke Novel temen aku. Dijamin ceritanya seru banget looh.



Judul: Jodoh untuk Gibran


Author: Mom AL


Fb: Bundanya Al


Ig: ningsihartono


Blurb:


Berawal dari seorang Manager, lalu turun pangkat menjadi penjual lontong sayur keliling??


Gibran Alif, pria berusia 30tahun yang bekerja sebagai Manager di perusahaan MX Channel, harus menelan pil pahit serta menjalani berbagai macam cobaan.


Menikah dengan seorang model, namun tidak bertahan hingga selamanya.


Bagaimana cerita Gibran selanjutnya? Dan siapakah kira-kira jodoh Gibran nantinya?.