
Rychelle langsung keluar dari kamar Alarick dan kembali menuju ke kamarnya. Sayangnya kerah bajunya sudah lebih dulu ditarik oleh Alarick.
"Ikut yuk. Kita jalan - jalan ke tepi pantai." ajak Alarick yang kemudian tangannya disandarkan di bahu Rychelle dan ditariknya tubuh Rychelle hingga mereka berdua kini saling melemparkan pandangan.
Deru nafas Alarick menyapu wajah Rychelle dan membuat Rychelle menelan ludahnya kasar.
"Mr, kita tidak boleh seperti ini!" ucap Rychelle mendorong tubuh Alarick pelan dan menetralkan degub jantungnya yang selalu tidak menentu setiap berdekatan dengan Alarick.
"Kita belum buat Perjanjian nya bukan?" sanggah Alarick membela diri.
"Kalau begitu sekarang kita buat perjanjian sebelum menyusuri Pantai." ucap Rychelle sambil menarik tangan Alarick untuk mengikutinya.
"Tidak, Rachel! Tidak akan ada perjanjian apa pun di antara kita!" tolak Alarick.
"Kenapa?"
"Ck, sudahlah. Kau tidak akan pernah mengerti." ucap Alarick yang kemudian langsung melangkah keluar Cottage meninggalkan Rychelle.
"Dasar Aneh!" gerutu Rychelle yang kemudian mengikuti langkah Alarick karena ia sendiri sangat ingin menikmati udara pantai.
Rychelle melangkah santai sambil mengedarkan pandangannya menyusuri tepi pantai. Sedangkan Alarick tampak sudah berjalan jauh di depan Rychelle. Sore ini udara di tepi pantai sangat sejuk membuat Rychelle benar-benar menikmati liburan singkatnya.
Sayangnya keasyikan Rychelle kali ini harus terganggu dengan suara orang yang tidak asing.
"Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku sudah menduga sebelumnya akan menemukan dirimu di Pulau ini, Rachel Ortisia." ucap seseorang yang tiba - tiba berdiri di belakang Rychelle.
Rychelle pun berbalik dan seketika menutup mulutnya. "Tuan Chicko," netra Rychelle membulat sempurna.
"Bagaimana anda bisa sampai di sini?" tanya Rychelle kemudian.
"Tentu saja bisa. Karena aku memiliki saham di pulau ini." Jawab Chicko.
Rychelle kali ini mulai waspada dengan kehadiran Chicko, terlebih mengingat Chicko begitu menginginkannya.
"Oh iya, Rachel. Aku bisa mengajak mu ke tempat yang paling indah di pulau ini. Apa kau mau ikut denganku?" tanya Chicko kemudian.
"Tidak bisa! Kau dilarang mendekati Rachel karena dia adalah tanggung jawabku." ucap Alarick yang tiba - tiba datang dan menarik Rychelle untuk menjauh dari Chicko.
Alarick benar-benar memandang Chicko dengan pandangan tidak suka.
"Aku peringatkan kepada anda, Tuan Chicko. Sahamku di pulau ini jauh lebih besar dari pada milikmu. Dan hanya dengan sekelip mata saja, aku bisa menyentil sahammu dari pulau ini." ancam Alarick yang sudah sangat geram dengan Chicko.
"Santai dong Bung. Kenapa anda sangat posesif dengan asisten anda sendiri?" tanya Chicko menyeringai.
"Bukankah anda sudah memiliki tunangan, Tuan Alarick yang terhormat? Atau jangan-jangan anda hendak berselingkuh di belakang tunangan anda?"
Alarick semakin geram dengan ucapan Chicko kali ini. Ia pun melayangkan tinjunya ke arah wajah Chicko namun dengan sigap Bayu menahannya.
"Mr, sebaiknya kita pergi dari sini." ajak Rychelle mengamit lengan Alarick dan membawanya untuk menjauhi Chicko.
"Hati - hati, Rachel!" teriak Chicko kencang. "Jangan sampai jadi pelakor!"
Rychelle hanya mengacungkan jempolnya ke arah Chicko dari jauh untuk menjawab teriakan dari Chicko. Sedangkan kini mereka berdua jalan ke arah saung paling ujung yang tadi pagi mereka singgahi.
"Seharusnya tidak perlu menjawab teriakan Chicko meski hanya mengacungkan jempol tanganmu." gerutu Alarick sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding saung.
"Kenapa? Menurut saya dia tidak salah bicara, Mr." timpal Rychelle yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alarick.
"Jadi kau lebih membela Chicko dari pada diriku?" tanya Alarick yang makin kesal dengan ucapan Rychelle barusan.
"Bukan begitu maksud saya, Mr." jawab Rychelle sambil membuang nafasnya kasar. "Lebih baik kita tidak membahas masalah yang tadi. Saya rasa anda terlalu lelah kali ini dan membuat emosi anda tinggi."
Sedangkan Rychelle tetap duduk sambil bersandar ke dinding saung dan meluruskan kakinya.
"Andai kau tahu, Aku memang sangat lelah, Rachel. Bahkan teramat lelah untuk hidupku yang tidak bebas dan terus diatur seperti robot yang tidak pernah kehabisan baterai." ucap Alarick lirih.
Rychelle sedikit terkesima dengan apa yang diucapkan Alarick barusan, tetapi ia tetap diam untuk mendengarkan.
"Aku membenci diriku sendiri yang tidak pernah bisa menentang papi yang selalu memerintahku untuk mengikuti kemauannya."
Alarick mulai menceritakan tentang apa yang menjadi keluh kesahnya terhadap Rychelle kali ini dan hal itu membuat Rychelle merasa sedikit iba pada atasannya.
"Mulai dari bisnis, kebutuhan gila papi, bahkan sampai aku harus mengorbankan perasaanku dengan menuruti keinginan papi yang menjodohkan aku dengan Molly."
"Aku sangat tersiksa dengan semua ini. Dan aku benar - benar ingin terlepas dengan belenggu yang membuatku berat untuk melangkah dan menentukan arah masa depanku."
Rychelle merasa tidak tega melihat Alarick yang biasanya sangat tegas dan berwibawa, kini justru terpuruk di hadapannya. Perlahan Rychelle mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Alarick.
Tapi baru sedikit menyentuh ujung rambut atasannya itu, ia kembali menarik tangannya ke belakang punggungnya. Kali ini Rychelle bimbang harus bagaimana menghadapi atasannya itu.
Alarick pun mengangkat kepalanya dan kini menatap Rychelle secara intens. "Maaf jika aku kali ini terlihat sangat lemah di hadapanmu, Rachel." ucap Alarick.
"Baru kali ini aku bisa mengeluarkan rasa yang terpendam dalam hatiku. Dan entah kenapa, aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu, Rachel."
"Saya akan menjaga rahasia anda dengan baik, Mr. Anda jangan khawatir." ucap Rychelle sambil tersenyum.
"Terima kasih, Rachel. Apa kau mau menjadi temanku?" tanya Alarick sambil menjentikkan jari kelingkingnya ke arah Rychelle.
Rychelle kini terpaku. Ia tidak mungkin berteman dengan orang yang nantinya akan menganggapnya sebagai musuh besarnya.
"Rachel!" panggil Alarick membuyarkan lamunan Rychelle. "Kamu mau kan berteman denganku?" tawar Alarick mengulangi lagi pertanyaannya.
"Tapi, Mr. Saya sungguh tidak ingin menjadi benalu antara hubungan anda dengan Miss Molly."
"Ck, Sudah berkali - kali aku katakan padamu, jika aku sama sekali tidak mencintainya, Rachel." lagi-lagi Alarick kembali mempertegas perasaannya terhadap Molly kepada Rychelle.
"Baiklah, jika kau memang tidak mau berteman denganku." ucap Alarick dengan putus asa dan kembali menurunkan tangannya.
Namun dengan cepat Rychelle menautkan kelingkingnya dengan kelingking Alarick. "Okey, just friend. Karena aku sudah berjanji tidak akan menjadi pelakor." ucap Rychelle.
"Chicko bukanlah orang yang tepat untuk mengikat janji denganmu, Rachel." ucap Alarick yang teringat pesan Chicko pada Rachel agar dia tidak menjadi seorang pelakor.
"Saya tidak berjanji dengan Tuan Chicko, melainkan saya berjanji dengan diri saya sendiri agar tidak menjadi pelakor, Mr. Alarick." timpal Rychelle.
"Huft, terserah padamu saja. Yang jelas saat ini kita berteman." jawab Alarick yang kemudian mengecup kelingking Rychelle yang masih tertaut dengan kelingkingnya.
"Mr!" pekik Rychelle yang langsung menarik tangannya.
"Itu hal yang biasa dilakukan seorang teman, Rachel." ucap Alarick. "Kau harus terbiasa dengan itu."
Rychelle yang gugup pun langsung memalingkan wajahnya untuk melihat jam di tangannya. Tampak waktu sudah menunjukkan jam 3 sore.
"Mr, saya rasa kita harus kembali ke Cottage untuk bersiap untuk kembali pulang." ucap Rychelle.
Alarick pun melihat jam di tangannya dan kemudian mengangguk menyetujui ucapan Rychelle. "Baiklah, ayo kita kembali," ajak Alarick mengamit tangan Rychelle dan menggenggamnya.
"Kita tidak perlu seperti ini, Mr. Saya juga bisa jalan sendiri tanpa harus dituntun seperti orang yang sudah tua." ucap Rychelle melepaskan genggaman Alarick.
"Aku hanya membalas kebaikanmu tadi, Rachel, yang mengamit lenganku menuju ke saung." balas Alarick yang seketika membuat Rychelle merasa sangat malu.
Akhirnya keduanya pun kembali ke Cottage tanpa berpegangan tangan.