
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Setelah kejadian tadi Arsyila langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, rumah sakit yang biasa Arsyila dan Adhira kunjungi saat pergi kontrol karna Arvaqie hospital letaknya lumayan jauh dari rumah mereka.
Kini Arsyila tengah berada di dalam ruangan dan sedang diperiksa kembali oleh Dokter perempuan yang biasa mengobatinya setiap ia berkunjung kesana.
Beruntungnya, Arsyila pingsannya sebentar tak sampai koma seperti sebelumnya karna kata Dokter tadi Arsyila hanya kelelahan dan butuh istirahat.
"Dok gimana kondisi jantung aku?". Tanya Arsyila pasrah.
"Sayangnya, sampai saat ini terapi yang kamu jalani tidak dapat menyembuhkan penyakit kamu secara sempurna. Namun demikian ada cara lain yang dapat kita lakukan untuk membuat kamu merasa lebih baik..Yaitu....Operasi”.
Arsyila mengeleng kuat.
"Gk Dok, Syila takut..."
"Arsyila kita harus segera mengambil tindakan jika tidak keadaan kamu akan makin memburuk, orang tua kamu juga harus segera tau tentang ini. Arsyila saya harus berbicara dengan orang tua kamu, tunggu disini sebentar ya.."
Perempuan yang kerap dipanggil Dr. Risma itu pun membelakangi Arsyila dan hendak berjalan keluar namun Arsyila dengan cepat menahan tangannya.
"Jangan Dok...Please Syila mohon". Arsyila memelas.
"Tidak bisa Arsyila, ini sangat beresiko untuk kesehatan kamu. satu-satunya jalan agar kamu sembuh adalah operasi". jelas Dr. Risma.
Arsyila menggeleng..
"Syila mohon Dok...Jangan kasih tau keluarga Syila ya, Ayah baru aja pulang dari luar negri dan langsung balik besok...Bunda juga udah banyak beban. aku gk mau buat mereka khawatir lagipula kalo aku operasi dan operasinya gagal itu lebih beresiko kan?".
Tanya Arsyila membuat Dr. Risma seketika diam dan menatap dalam Arsyila.
"Syila mohon Dok, Syila janji bakal kasih tau mereka tapi gk sekarang...Tunggu waktu yang tepat". Ucap Arsyila mengibuli agar Dr. Risma mau di ajak kompromi.
Dr. Risma menghela nafas panjang lalu mengangguk pasrah.
"Ya udah tapi inget Syil orang tua kamu harus tau secepatnya.."
"Terima kasih Dok". Arsyila tersenyum lega.
"Ya udah, biar saya catat dosis obatnya dulu kamu bisa keluar tapi inget ya kalo kamu ada rada-rada mau kambuh obatnya langsung di minum ya trus langsung periksa kesini jadi obatnya harus dibawa dikantong". Peringat Dr. Risma sembari duduk dikursinya.
"Baik Dok, kalo gitu Syila keluar dulu ya". Arsyila tersenyum hangat lalu berjalan ke arah pintu setelah mendapat anggukan dari Dr. Risma.
Ceklek
Suara pintu terbuka menampakkan wajah cantik Arsyila yang terlihat kembali membaik.
Razan yang sedari tadi dipenuhi rasa cemas melebarkan matanya dan tanpa aba-aba ia pun memeluk tubuh Arsyila sambil mengeluarkan isakan kecil yang dapat di dengar Arsyila.
"Lo gk papa kan???". Tanya Razan dari balik punggung Arsyila.
"Aku gk papa kok". Jawab Arsyila dan tanpa sadar membalas pelukan Razan.
Radit, Cakra, Adhira, Jasmin dan juga Hera yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka dibuat melongo.
"Dit, kayaknya pernikahan mereka harus dipercepat deh..." Bisik Cakra pada Radit.
"Niatnya si mau nungguin Arsyila lulus dulu Ca, tapi setelah di lihat-lihat...." Balas Radit tanpa melanjutkan kalimatnya sembari mengangguk-anggukkan kepala.
"Anak gue emang gk ada lawan". Gumam Jasmin sedangkan Adhira dan Hera masih cengo di tempat.
"Jangan tinggalin gue Syil..hiks". Razan terisak kecil membuat Arsyila tergerak untuk mengelus punggung lebar Razan agar dia bisa lebih tenang.
"Aku gk pergi kemana-mana kok...Udah jangan nangis".
Ekhem..
Cakra berdekhem membuat Arsyila tersadar dan berniat melepas pelukannya namun Razan menahan dan semakin nengeratkan tangannya mendekap tubuh Arsyila.
"K-Kak....Lepas! malu tau, kita belum nikah". Bisik Arsyila dan Razan spontan melepas pelukannya dari Arsyila. Ia pun melihat ke arah papanya dan calon mertuanya dengan takut-takut.
"Mm Razan tadi refleks". Aku Razan tanpa ditanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Cakra menepuk bahu putranya sebentar..
"Papa maklumin".
"Saya bisa melihat sendiri ketulusan kamu pada putri saya Razan, tidak salah lagi saya memilih kamu sebagai calon menantu, tapi.."
"Tapi apa?". Razan mengernyitkan dahi.
"Tapi akan berbahaya jika membiarkan kalian bersama terlalu lama tanpa ikatan yang halal, oleh sebab itu saya ingin pernikahan kalian dimajukan selesai semester satu ini". Radit memutuskan.
"Ha???". Kaget orang-orang yang ada di sekitarnya termasuk Razan.
"Yes!". Antusias Razan yang malah kegirangan.. Arsyila yang melihat itu hanya tersenyum kecil namun berbeda dengan hatinya yang malah merasa kasihan melihat keantusiasan Razan.
~Maafin Syila kk, tapi Syila janji akan selalu bahagian kk Razan..
Arsyila membatin.
"Hadeh..." Cakra geleng-geleng kepala.
"Pa kayaknya kita harus cepet pulang deh soalnya Yana lagi sendirian di rumah...Tau kan anak papa yang satu itu rewelnya minta ampun!". -Jasmin.
"Oh iyaiya. Dit kayaknya saya harus pulang duluan gk papa kan?". Tanya Cakra.
"Gk papa, kami juga bentar lagi pulang, tinggal urus administrasinya aja".
"Ya sudah, sampai jumpa di lain waktu ya". Ujar Cakra sembari menjabat tangan Radit.
"Syil". Cakra memegang kepala Arsyila sebentar dan di balas senyuman oleh Arsyila begitupun saat ia melewati Adhira dan terakhir Hera ia hanya memberi sapaan sedang Jasmin bercupika cupiki.
"Jangan begadang, kalau gk bisa tidur chat gue aja ya atau langsung telpon juga bisa...Gue gk bakal off, mau ngawasin lo". Ujar Razan sebelum meninggalkan Arsyila.
"Iyaaa..." Balas Arsyila sambil tersenyum hangat.
"I Love you".
"I Love me to". Arsyila cengiran.
"Yaa ampun nih bocah satu! masih sempat-sempatnya ngebucin. Ayo pulang". Cakra menyeret tangan putranya dan berjalan menuju parkiran.
"Hadeeh, mm kalian tunggu di parkiran aja biar Ayah yang urus semuanya". Pinta Radit.
"Mm yah biar Syila aja...Ayah kan gk pernah istirahat dari tadi, biar Arsyila aja yang urus. Syila dah biasa kok". Arsyila meyakinkan. Ia hanya tidak ingin Ayahnya tau tentang keadaannya saat ini.
"Anak Ayah emang pengertian". Radit mengelus kepala Arsyila dan itupun tak lepas dari pandangan Adhira.
"Ini pake aja ATM Ayah, habis dari kasir langsung ke parkiran ya kita tunggu di sana..Oh ya Adhira temenin kk kamu ya". Pinta Radit pada putrinya. Ia khawatir Arsyila sampai kenapa-napa.
"Baik yah". Jawab Adhira sambil memaksakan senyum.
Ya! sehabis sholat subuh, ia kembali tidur. Arsyila agak santai karna hari ini ia sudah izin pada Razan untuk tidak masuk sekolah dengan alasan mengantar Ayahnya ke bandara bersama Hera sedangkan Adhira memilih untuk masuk sekolah saja karna ada ulangan harian. Sebenarnya si itu bukan alasan utama Adhira untuk tidak ikut melainkan ia tak ingin menyaksikan Radit yang over perhatian pada Arsyila nanti, tak baik untuk kesehatan jantung.
Arsyila pun bangun sambil mengucek-ucek matanya khas orang bangun tidur lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi karna tinggal 2 jam lagi Ayahnya akan berangkat ke luar negri.
Usai beres mandi, Arsyila lanjut menghias diri...Saat dirasa cukup ia pun segera turun ke bawah. Terlihat Hera yang tengah repot memakaikan suaminya dasi seperti orang yang akan pergi kerja karna Radit mengenakan pakaian formal.
"Ayah.." Sapa Arsyila sembari menuruni satu persatu anak tangga.
"Wih anak Ayah udah jadi, ayok kita berangkat. Sarapannya nanti aja ya di mobil, Bunda udah siapin tadi". Beritahu Radit.
"Okey Yah...."
Lama di perjalanan akhirnya mereka sampai juga ke tempat yang dituju yaitu Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Arsyila, Hera dan Radit turun dari mobil....
"Sayang aku kerja dulu ya.. Kamu jaga anak kita baik-baik...Jangan dimarahin, jangan terlalu di kekang juga okey". Pesan Radit sebelum berangkat.
"Iya mas". Jawab Hera sambil memeluk suaminya. Selesai melepas rindu dengan istrinya Radit pun berlanjut menatap putrinya lekat-lekat, melihat perubahan putrinya yang sudah lama ia tinggal dan kini sudah tumbuh dewasa tanpa kehadirannya.
Tanpa kata Arsyila langsung memeluk Ayahnya dengan sayang, sungguh Arsyila rasanya belum ikhlas berpisah dengan Ayahnya secepat ini.
"Ayah baik-baik ya disana...Jangan lupa istirahat yang cukup, Syila sayang Ayah..." Arsyila menangis dalam dekapan Ayahnya.
"Iya, cup cup anak Ayah yang manis...Udah gk boleh nangis nanti Ayah gk tenang jalannya". Ucap Radit sambil mengelap air mata Arsyila yang terus mengalir tanpa henti.
Perlahan tangis Arsyila mereda, dengan kasar Arsyila menghapus air matanya sendiri sudah seperti anak kecil. Ia harus berusaha terlihat tegar agar Radit pergi tanpa beban.
"Udah..Syila udah gk nangis kok". Arsyila tersenyum semanis mungkin.
*Cup*
Radit mengecup kening putrinya.
"Anak pinter...Ya udah Ayah pergi dulu ya". Radit mengelus sebentar kepala Arsyila.
*Cup*
Radit mengecup kening istrinya juga.
"Aku pergi dulu ya". Hera membalas dengan anggukan..
"Dadah kesayangan Ayah.."
Radit melambaikan tangan lalu segera berbalik sambil menenteng koper kecilnya. Ia tak ingin lama-lama dalam kondisi ini.
"Ayah udah masuk...Yuk kita pulang". Ajak Hera sambil merangkul putrinya.
Arsyila hanya mengangguk lesu lalu ikut berjalan memasuki mobil...
Good bye Ayah.....I will always missing you!💓
...\*\*\*\*\*...
***See next Chapet👋🏻💓🔥***
***Target 103 Chapter, moga terkabul yah😁***