
...Warning💥 Ini adalah part panjang, semoga kalian gk bosan😭 Aku sengaja habisin satu tema biar nanti tema yang baru lagi😌...
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
Malam harinya...
Sesuai permintaan Razan tempo hari, malam ini Razan akan pergi menjemput Arsyila ke rumahnya untuk ikut merayakan pesta perusahaan atas permintaan papanya.
Arsyila yang sudah siap dari satu jam sebelum kedatangannya pun hanya berdiri di balkon menunggu Razan dengan hati yang berdebar.. Entah ia sendiri tidak tahu kenapa malam ini ia menjadi sangat gugup, mungkin karna ini kali pertamanya mengikuti pesta orang kaya bersama Razan pulak.
Kali ini ia memakai gaun merah muda yang ada di dalam paper bag yang dititipkan Razan tadi. Ya! paper bag tersebut berisikan gaun mewah yang sengaja di ambil dari brand ternama dan khusus didesain untuk Arsyila. Tak lupa ia mengenakan jilbab pasmina dengan warna senada itu juga satu paket, sengaja agar Arsyila tak payah mencari jilbab yang cocok. Pengertian memang:)
Gaun manis Arsyila.
Arsyila kembali membaca secarik kertas yang terselip dalam paper bag tersebut.
For Arsyila (si manis jembatan ancol).
Tanpa basa-basi, gue sengaja minta lo buka hadiahnya pas udah dirumah biar temen-temen lo gk pada ribut. BTW, gaunnya dipake buat ntar malem ya:) itu bukan dari gue tapi dari mama. Kayaknya mama suka sama lo deh, eh:(
Dahlah sampe ketemu ntar malem.. Dandannya jangan cantik-cantik ntar jembatan ancol roboh.
Arsyila kembali terkekeh kecil membaca tulisan konyol milik Razan. Razan memang sulit untuk ditebak.
Tak menunggu waktu lama.. Razan pun tiba di depan gerbang rumah Arsyila ditandai dengan suara klakson mobilnya. Arsyila makin gugup. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya mengambil tas slempang miliknya lalu segera turun ke bawah..
"Razan udah dateng kayaknya". Ujar Hera yang sedang duduk di ruang tamu, ya! mengenai agenda malam ini tentu saja Hera tau dan memberi izin pada Arsyila.
Hera pun berjalan keluar bersamaan dengan itu, Razan juga sudah tiba didepan pintu rumahnya untuk berpamitan. Arsyila yang sudah tiba dilantai bawah segera menghampiri keduanya.
Outfit Razan..
"Bund.." Sapa Razan ramah lalu menyalami tangan Hera layaknya seorang menantu. Arsyila yang mendengar panggilan Razan pada bundanya pun dibuat melongo.
"Bu..Bu..Bunda??". Beo Arsyila dengan gumaman kecil.
"Kalo gitu saya langsung ajak Arsyila pergi ya, soalnya pesta udah mau mulai". Ujar Razan sambil melirik kagum Arsyila.
"Oh ya sudah.. Kalian hati-hati ya dijalan". Pesan Hera.
"Mm Syila pamit ya bund Assalamu'alaikum". Ujar Arsyila lalu mendekat dan menyalami tangan Hera.
"Wa'alaikumussaalam".
Mereka berdua pun berbalik dan pergi menuju mobil.
"Inget hati-hati bawa mobilnya.. Anak bunda dijagain ya Zan". Pesan Hera lagi dengan sedikit berteriak.
"Siaaap bunnnd". Razan menoleh sekilas sambil memberi tanda ok dengan tangannya.
Arsyila hanya diam menanggapi itu, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah bagaimana bersosialasi dengan orang-orang bangsawan yang ikut dipesta tersebut.. Atau dia akan selalu mengekori Razan kemanapun Razan melangkah?.
"Lo kok cantik? kan gue udah pesen buat tampil biasa". Razan membuyarkan lamunan Arsyila membuat Arsyila spontan mendongak menatapnya.
"H-Ha?". Arsyila masih loading, maklum tadi dia kurang fokus mendengarkan.
"Gk ada. Lo cantik". Ujar Razan singkat lalu berjalan terlebih dahulu menuju mobil meninggalkan Arsyila yang sedang berdiri mematung.
"Kak Razan tadi muji aku?". Tanya Arsyila pada dirinya sendiri barangkali ia salah dengar.
Tak ingin berfikir terlalu lama, ia pun menyusul Razan dengan wajah dongo. Tanpa dipandu Arsyila berniat masuk ke dalam mobil sport milik Razan di kursi penumpang namun anehnya kenapa Razan tak menghentikannya?
"Kak Syilaaa!!!". Serbu Yana saat Arsyila baru saja membuka pintu mobil.
"Eh..." Bodoh. Bisa-Bisanya dia lupa ada Yana, Arsyila pun bisa bernafas lega lalu ikut masuk ke dalam.
Gaun cantik Yana..
Tak butuh waktu lama.. Akhirnya mereka bertiga pun sampai ke tempat acara pesta dilangsungkan.
"Kak ayo turun.." Ajak Yana namun Arsyila tak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya, ia masih gugup.
"Udah.. Gk usah grogi kan ada aku". Tebak Yana dan Arsyila pun mulai menetralkan detak jantungnya.
Ia pun perlahan turun dari mobil.
"Eh!". Arsyila sedikit terkejut melihat Razan yang sudah berdiri didepannya.
"Nih pake". Razan menyerahkan dua buah sarung tangan putih untuk Arsyila. Arsyila hanya diam melihat benda yang diberikan Razan itu.
"Di dalem banyak orang.. Entar ada aja tuh yang modus nyenggol tangan kk Arsyila biar nyentuh kulit". Ujar Yana menebak kebingungan Arsyila. Ia juga sudah mengenakan sarung tangan.
"O-Oh.." Arsyila dengan cepat mengambil sarung tangan tersebut lalu memakainya.
"Nah ayok". Ajak Yana lalu menggandeng tangan Arsyila masuk ke dalam rumah megah bak istana itu diikuti Razan dari belakang.
Pegangan Arsyila makin mengerat di tangan Yana kala memasuki pintu utama.
"Kak Arsyila masih grogi ya". Yana cekikikan.
"Hmm.."
Seperti biasa, tokoh utama dalam sebuah drama akan menjadi sorotan dalam cerita membuat semua orang tak berkedip menatap tiga orang yang terlihat memukau saat ini.
Banyak pula dari mereka yang mengenakan gaun mewah sepertinya. Tentu, karna tema pesta malam ini adalah pangeran dan putri.
"Itu anaknya Cakra kan?? Wah tampan sekali".
Ujar seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari rekan bisnisnya Cakra.
"Iya tapi anak perempuannya yang mana?".
"Kayaknya itu deh yang paling pinggir soalnya mirip".
"Yang ditengah itu siapa??".
"Gk tau.. Papa baru liat, kayaknya bukan keluarganya Cakra deh".
Btw Arsyila ada di tengah-tengah di apit oleh dua kk beradik itu.
"Pa, Sania kita jodohin aja sama anaknya Cakra lumayan kan?".
Bisik ibunya Sania pada suaminya. Mengenai orang tua Sania, mereka memiliki kerjasama yang kuat dalam dunia bisnis dengan Cakra oleh sebab itu Razan tak terlalu mengambil tindakan yang jauh untuk Sania tak seperti Angel hanya untuk menghargai papanya.
Nah! sekarang kalian sudah tau kan kenapa waktu itu Razan hanya diam saat Arsyila di bully oleh Sania dikantin???
"Boleh juga ma". Balas papa Sania.
Razan tak menghiraukan tatapan dan bisikan mereka, ia hanya fokus mencari keberadaan orang tuanya berbeda dengan Arsyila yang semakin menundukkan kepalanya.
Hingga suara lembut seseorang menyambut kedatangan mereka membuat Arsyila refleks menghadap depan.
"Eh kalian baru dateng.." Sapa Jasmin, ya wanita dewasa yang menyapa Arsyila itu adalah Jasmin mamanya Razan, ia datang bersama suaminya siapa lagi kalau bukan Cakra.
Arsyila menoleh ke arah Yana seolah bertanya siapa orang yang berdiri di hadapannya sekarang. Yana yang mengerti pun hanya tersenyum lalu memberitahu Arsyila.
"Ini mama".
"Oh iya.." Saking gugupnya Arsyila bahkan lupa jika ada Cakra sudah pasti yang didekatnya adalah istrinya hadeeh Arsyila:). Arsyila tersenyum canggung ke arah Jasmin.
"Kamu pasti Arsyila kan?". Jasmin menebak.
"Iya tan.. Aku Arsyila". Arsyila pun menyalami tangan Hera lalu menciumnya.
"Lebih cantik yang asli dari pada yang diceritain orang". Jasmin melirik Razan namun Razan tak acuh.
"Tante juga cantik". Balas Arsyila spontan, membuat Jasmin tersenyum menanggapinya. Memang benar, walaupun sudah berkepala tiga tapi Jasmin masih terlihat cantik dan awet muda.
"Pa, ini anak temennya papa yang diceritain Razan itu kan? kalau tau gini mah mama setuju dari awal". Jasmin semakin memperjelas membuat Razan hanya bisa bernafas pasrah.
(BTW Radit dan Cakra sudah berteman sejak Arsyila koma waktu lalu).
"Iya ma.. Berarti udah deal kan?".
"Deal! mama setuju banget".
"Jangan di dengerin, mereka emang gaje". Bisik Razan sedikit menunduk ke arah telinga Arsyila yang tertutup hijab kala melihat raut wajah Arsyila yang nampak bingung dengan pembicaraan orang tuanya.
"Oh ya Arsyila.. Sebelumnya saya berterima kasih karna kamu mau menghadiri pesta malam ini, saya sengaja memberikan tema pangeran dan putri sebagai ucapan terimakasih saya karna atas bantuan kamu perusahaan saya jadi berkembang pesat".
"Sama-Sama om".
Arsyila menjawab seadanya.. Kepalanya hanya standar jika dipaksa memikirkan kata-kata sopan untuk berbicara dengan orang bangsawan seperti Cakra.
"Eh ini gaun yang tante kasih itu kan? waah tante gk nyangka kalau gaunnya bakal pas di badan kamu, kamu suka gk?". Jasmin memperhatikan gaun pemberiannya dengan kagum karna terlihat mewah di tubuh Arsyila.
"Suka banget.. Makasih ya tante".
"Alhamdulillah tante seneng dengernya".
"Yann!!!". Panggil seseorang pada Yana yang membuat mereka berlima spontan menoleh ke arahnya.
"Hay Yana sayang, apa kabar??".
Yana menghela nafas kasar lalu berbalik menatap pemuda tersebut dengan mata berapi-api.
"Eh! buaya darat bisa gk sih lo gk usah gangguin hidup gue sehariiii aja". Yana ngegas.
"Yana, gk boleh sayang.. Raditya kan jodoh kamu, masa ngomongnya gitu sama calon suami". Jasmin terkekeh kecil.
Tidak dapat kakanya malah gebet adiknya ygy..
"Nah denger tu Yan... Jadi cewek tu harus lemah lembut ya gk kak?". Raditya memberi kode mata pada Arsyila.
"Lo udah dapet adek gue ya Dit.. Jangan macam-macam". Razan menatap datar ke arah Radit.
"Hehehe sorry bang becanda".
"Tan, saya mau bawa Yana ketemu mama papa boleh ya?".
Yana menggeleng cepat.
"Gk! gk mau, aku mau main sama kk Arsyila".
"Eh gk boleh nolak, Arsyilanya sama mama dulu.. Hus Radit bawa aja, cepet". Jasmin memberi kode.
"Yess! yuk beb ketemu camer!". Radit menarik paksa tangan Yana.
"Huwaaaaa mama gk mauuu!! mama jahat". Teriak Yana yang diseret Raditya.
"Hadeh tuh bocah". Jasmin geleng-geleng kepala. Sedangkan Cakra tengah diajak berbincang oleh tamu undangan yang merupakan teman bisnisnya.
"Zan, adik kamu udah dijodohin kamunya kapan?". Jasmin mengejek putra sulungnya.
"Yaaa..Gimana lagi ma, gk ada yang mau". Ujar Razan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sesekali melirik ke arah Arsyila.
"Bohong tan, banyak kok yang mau..Dianya aja yang sombong". Sahut Arsyila spontan.
"Tapi cewek yang gue suka gk mau".
"Nea itu lagi ya?". Entah mengapa Arsyila bisa kepikiran sampai sana. Razan mengangguk antusias. Mendengar itu, Arsyila hanya memasang wajah datar, entah kenapa ia merasa kesal dengan pengakuan Razan.
"Mm Razan mama pinjem Arsyilanya bentar ya.. Mau ajak keliling, kamu temenin papa kamu aja".
"Iya ma". Razan tersenyum manis.
"Yuk Syil, temenin tante nyambut tamu". Jasmin menggandeng tangan Arsyila.
"O-Oh iya tan.. Ayo". Arsyila kembali gugup.
Sambil berjalan, Jasmin sesekali mengajaknya berbicara agar tidak canggung.
"Kamu sekarang kelas berapa Syil?".
"Sebelas tan.."
"Oohh.. Arsyila udah punya pacar ya?".
"Mm gk kepikiran untuk kesana".
"Oo masih single berarti". Jasmin mangguk-mangguk sambil tersenyum kecil.
"Hehe iya tan".
"Eh Jasmin..." Endang, ibunya Sania tiba-tiba menghampiri mereka membuat keduanya terpaksa berhenti untuk sekedar berbincang.
"Eh jeng". Jasmin membalas tak kalah ramah sambil cupika cupiki.
"Putrinya mana?". Tanya Jasmin basa-basi.
"Tuh, biasa lagi ngobrol sama kawan bangsawannya".
Tunjuk Endang pada Sania yang berdiri dipojokan bersama beberapa gadis yang setara dengannya. Arsyila mengikuti arah pandang Endang bertepatan dengan itu Sania tengah menatapnya dengan aura penuh kebencian namun berubah menjadi manis kala Jasmin menengok ke arahnya.
"Ooo makin cantik saja ya rupanya, dulu pas baru ngekor sama kamu dia masih malu-malu".
"Hihii kalo diinget-inget lucu ya, apalagi pas dia kenalan sama Razan gelasnya hampir jatuh saking groginya".
Endang melebihkan cerita, padahal yang sebenarnya terjadi adalah dia yang menyenggol lengan putrinya itu agar mau berkenalan dengan Razan hingga jus yang ada di genggaman Sania sedikit tumpah. Kalau dilihat-lihat Endang memang sengaja memanas-manasi gadis asing yang ada disamping Jasmin.
"Ooh waktu itu iya haha lucunya". Meski tak lucu Jasmin harus terlihat merespon agar Endang tak tersinggung.
"Oh iya..Razan sekarang dimana ya? kok dari tadi aku gk liat dia.. Wah pasti putra kamu makin tampan ya sekarang cocok kalau beranding sama Sania, ya gk sih Jes?".
"Razan lagi sama papanya tuh disana".
Tunjuk Jasmin ke arah Razan tanpa menjawab pertanyaan Endang. Arsyila yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka hanya diam sambil menunduk. Namun entah dengan hatinya..
"Haduh tuh kan bener.. Eh gimana kalau kita jodohin aja Sania sama Razan? bisnis Cakra sama Dani (suaminya) bisa makin maju ya kan? apalagi sama-sama pembisnis kelas atas, pasti orang-orang bakal kagum sama kita".
Arsyila terkejut. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rupanya jika Razan yang termasuk orang baik-baik akan bersanding dengan Sania bad girl sekolah. Mungkin di dunia novel itu akan sangat seru namun dipikiran Arsyila itu sungguh tak bisa ia terima.
Jasmin yang diam-diam melihat perubahan wajah Arsyila itu pun mengerti lalu menolak permintaan Endang dengan halus.
"Mm kita bicarain nanti aja ya, aku gk berani nge-iyain. Kalau masalah pasangan itu tergantung Razan saja kami sebagai orang tua hanya mengikut".
"Mm iya juga, tapi aku yakin pasti kalau diminta Razan akan mau sama Sania. Siapa sih yang bisa nolak pesona putri aku ya gk jeng?".
Jasmin ingin muntah saja rasanya namun sekuat tenaga ia tahan.
"Iya jeng putri kamu emang cantik".
"Eh btw gadis yang disamping kamu ini siapa?. Tunjuk Endang pada Arsyila.
"Oh dia Arsyila adik kelasnya Razan, anak dari temennya Cakra".
"Ooh cantik juga, tapi cantikan Sania". Endang menatap sinis ke arah Arsyila.
Namun Arsyila hanya diam saja ia bahkan tak memperkenalkan diri sama sekali bodo amatlah jika di cap tidak ramah lagipula moodnya sudah buruk sejak melihat Endang yang sangat mirip sifatnya dengan Sania. Turun temurun ygy:)
"Ya sudah kami mau nyambut tamu yang lain dulu ya bye jeng". Ujar Jasmin lalu mengajak Arsyila pergi dari hadapan Endang yang sudah bermuka masam.
"Arsyila jangan dengerin tante rempong tadi ya, kamu paling cantik dimata tante".
Ucap Jasmin membuat hati Arsyila seperti diterbangi kupu-kupu.
"Iya tan, Syila gk pp kok". Arsyila tersenyum manis.
Lama berbincang-bincang hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 : 20 menit.
Razan menengok ke arah jarum jam yang ada di tangannya lalu menghampiri Arsyila yang sedang bercanda tawa dengan Kayla. BTW Kayla agak telat datang karna tadi Hamam ada urusan. Arsyila kira Kayla tidak akan ikut namun ia lupa orang tua Hamam juga rekan bisnisnya Cakra jadi Kayla juga ikut dan ada alasan lainnya namun kalian akan tau di chapter selanjutnya:).
"Syil ini udah jam 10, lo harus pulang". Beritahu Razan to the point.
"Hm. Kayla aku pulang duluan ya bye bye". Arsyila dan Kayla cupika cupiki.
"Okey hati-hati ya Syil".
"Iya.. Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumussaalam warohmatulloh".
Arsyila pun berjalan beriringan dengan Razan.
"Kak, aku mau pamit sama tante dan om Cakra dulu boleh?".
"Boleh. Ayok". Razan tersenyum manis lalu meraih tangan Arsyila yang tertutup sapu tangan.
Arsyila sempat terkejut namun kembali menormalkan raut wajahnya, ia sudah memaklumi sifat random Razan.
"Pa, Ma. Aku mau nganter Arsyila pulang dulu ya.. Udah jam 10+".
"Tante Syila pamit". Arsyila menyalami tangan Jasmin lalu menciumnya.
"Kamu hati-hati dijalan ya sayang.." Pesan Jasmin lalu memeluk Arsyila sebentar. Tak heran jika Jasmin disegani banyak orang karna sifatnya yang ramah dan penyayang. Arsyila bahkan bisa merasakan sifat keibuan yang dimiliki Jasmin.
"Iya tan.. Om aku pamit ya". Arsyila hanya memberi senyuman pada Cakra.
"Iya kalian hati-hati, oh ya Arsyila ini om ada hadiah buat kamu". Cakra menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapan Arsyila.
"Ini apa om?". Bingung Arsyila.
"Buka aja.."
Arsyila pun dengan rasa penasarannya segera membuka kotak yang berwarna putih tersebut dan melebarkan mata kala melihat isinya..
"Kalung??".
Arsyila kagum melihat lountin berkilau dengan bandul bulan sabit itu.
"O-Om ini beneran buat Syila?". Tanya Arsyila masih tak percaya.
"Iya apa kamu suka?".
"Suka banget, makasih om". Arsyila tersenyum manis.
"Baguslah kalo gitu".
Tiba-Tiba Razan berbisik ke telinganya.
"Ntar gue pakein di mobil".
Arsyila tak menjawab, namun entah kenapa tangannya tergerak untuk mencubit kecil perut Razan yang tertutup jas. Mungkin salting:)
"Pa, Ma kalo gitu kami berangkat".
"Iya hati-hati.."
...*****...
See you next chapter👋🏻💓🔥