
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
...Ternyata orang benar..Di dunia ini kamu hanya punya diri sendiri:)...
...~...
Hari minggu adalah hari yang menyenangkan bagi murid sekolah pada umumnya. Namun berbeda dengan Arsyila yang sejak tadi subuh mengerang merasakan nyeri di perutnya karna hari ini adalah hari pertama jadwal PMS nya.
"Duuh sakit banget sihh..Gini banget jadi cewek". Keluh Arsyila sambil mengguling-gulingkan badannnya di kasur.
"Cowok mah enak! gk men, gk lahiran. Sakitnya luar biasa. Trus pas udah nikah seenak jidat gitu mau nambah binik?? cih suami afaan tuh".
Arsyila terus menggerutu sambil mencari posisi aman untuk meredakan nyeri perutnya tapi tetap saja tidak ada perubahan.
Tiba-Tiba ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Tertera nama Aydan di layar namun Arsyila tersenyum kecut melihat pesan itu.
💬ya
💬maaf tadi malem aku ketiduran.
Padahal Arsyila mengirimkannya pesan tadi malam tapi Aydan baru membalasnya. Hubungannya dengan Aydan memang sudah membaik sejak Arsyila benar-benar berbicara dengan Farah lewat telpon beberapa hari lalu. Untungnya Farah mengerti dan bisa di andalkan hingga Arsyila percaya bahwa gadis yang ia lihat di foto itu adalah sepupu Aydan ya walaupun ia masih sedikit ragu.
Namun mengapa Arsyila merasa jauh dari Aydan padahal mereka masih sering berkirim pesan, tapi tetap saja ia merasa hubungannya semakin berjarak. Mungkin karna Aydan sekarang lebih sibuk bermain PS bersama teman-temannya daripada menemani Arsyila freecall, pesannya memang di balas namun sesuai topik saja hingga terkadang Arsyila yang harus mencari topik pembahasan.
Arsyila tidak mengerti dengan semua ini hendak protes tapi tidak ada yang salah.
Ah sudahlah. Arsyila tak ingin ambil pusing, ia kemudian melempar asal ponselnya di kasur tak berniat membalas pesan Aydan toh juga balasannya itu-itu saja.
Ia pun akhirnya berniat untuk memasak air ke bawah untuk mengompres perutnya agar lebih hangat, mau beli obat pun rasanya sulit karna untuk keluar saja kepalanya terasa sedikit berdenyut.
Arsyila sudah tiba di pintu dapur dan melihat Adhira yang sedang berdiri di depan kompor sambil mengiris tipis-tipis bawang bombay beserta cabe untuk menggoreng dua buah telur.
Melihat itu mood Arsyila makin memburuk lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya.
Tepat sekali Hera baru saja memasuki pintu utama dengan menenteng satu kresek sayuran dan minyak goreng ukuran jumbo sepertinya dia baru pulang dari pasar. Hera tak sengaja melihat pergerakan Arsyila, ia sangat faham bahwa sebutuh-butuhnya Arsyila ia akan tetap mencancel niatnya jika ada Adhira di dapur. Hera sendiri bingung padahal sebelumnya Arsyila tak separah ini namun mengapa semakin dewasa Arsyila terlihat semakin menjauhi Adhira. Hera pun akhirnya memanggil anak sulungnya itu.
"Arsyila". Panggil Hera pada Arsyila yang sudah sampai di pertengahan tangga. Arsyila mengerutkan dahinya.
"Iya bund?".
"Sini bentar, nih bukain bunda minyak bimolinya sekali..Soalnya di dapur gk ada gunting".
Hera lalu mengeluarkan minyak goreng tersebut dari dalam kresek hitam dan menyerahkannya pada Arsyila. Arsyila menerimanya dengan raut bingung, melihat itu Hera cepat-cepat beranjak ke dapur tak ingin di protes Arsyila.
Arsyila berdecak.
"Padahal kan tinggal minta di ambilin gunting". Arsyila menggerutu, maklum ia sedang PMS jadi sangat mudah emosinya terpancing.
Tidak tau saja dirinya bahwa itu hanya akal-akalan bundanya agar ia kembali ke dapur dan bergabung bersama di sana. Rencananya hari ini Hera akan masak-masak sekaligus mengajarkan kedua putrinya cara memasak yang enak siapa tau dengan begitu Arsyila dan Adhira bisa dekat. Mulai sekarang ia harus lebih memperhatikan kedua putrinya dan menyatukan mereka secara perlahan.
Arsyila kemudian naik ke kamarnya untuk mengambil gunting dengan menenteng paksa minyak goreng itu di tangannya.
Setelah beberapa saat ia pun kembali dan menuruni tangga sambil menggunting bagian ujung dari minyak goreng tersebut namun tanpa sengaja minyak tersebut sedikit tumpah di ditangga ke tiga dari atas membuat Arsyila berdecak. Ia pun kembali ke kamarnya berniat mengambil lap untuk menghapus tumpahan minyak yang licin tersebut.
"Adhira..Coba kamu liatin Arsyila sekali. Tuh anak kayaknya udah menjelma jadi gunting".
Pinta Hera pada Adhira yang sedang memakan telur yang ia masak. Adhira hanya terkekeh mendengar candaan bundanya lalu beranjak keluar untuk memanggil Arsyila.
Namun saat kakinya sudah menapak ditangga ketiga paling atas tiba-tiba kakinya terasa licin dan sulit untuk menyeimbangkan diri hingga akhirnya ia merasa sudah tidak bisa berdiri lagi alias terpelest.
"Bundaaa!!!". Adhira sempat berteiak hingga akhirnya tubuhnya menggelinding dari tangga ke-3 menuju tangga urutan terakhir melewati 14 anak tangga.
Arsyila yang sudah sampai di ambang pintu pun mendengar teriakan Adhira barusan lalu melebarkan matanya. Firasat buruk tiba-tiba menghinggapi hatinya lalu dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju tangga. Arsyila terkejut bukan main, Minyak dan tisu yang ia pegang pun terlepas dari tangannya dan menutup mulut nya tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
Begitupun dengan Hera yang langsung keluar dari dapur dan betapa terkejutnya ia kala melihat putri bungsunya sudah bergeletak tak berdaya di lantai dengan darah yang tak hentinya mengucur deras di hidung dan bagian kepala Adhira.
"ADHIRAAA!!".
Hera berlari ke arah Adhira dengan raut panik.
Ia pun melihat ke atas dan mendapatkan Arsyila yang hanya diam berdiri dengan wajah sama terkejutnya menatap mereka berdua dari atas. Seketika raut wajah Hera berubah.
Arsyila dengan hati-hati turun dari tangga untuk menyusul Hera dan Adhira hingga ia melihat darah Adhira yang mengotori lantai.
"KAMU APAKAN ADIK KAMU ARSYILA?!". Bentak Hera yang sudah berdiri menyusul Arsyila.
Arsyila terkejut dengan tuduhan tiba-tiba yang di layangkan untuknya itu.
"A-Aku gk pernah bund".
Arsyila sampai sedikit terbata melihat tatapan menghunus Hera. Ia tak pernah melihat Hera seperti ini lagi sejak dirinya sudah beranjak remaja, namun melihat itu membuat Arsyila mengingat Hera yang dulu. Ia jadi takut.
"Kamu keterlaluan Arsyila!!!".
Hera sampai mengeluarkan air matanya lalu dengan cepat membopong tubuh Adhira yang tidak terlalu berat. Arsyila hendak membantu namun Hera menepis kasar tangannya.
"Jauhkan tangan kotor itu!".
Ucap Hera tegas lalu membawa Adhira keluar menuju mobil dengan terburu-buru untungnya rumah sakit tidak terlalu jauh dari area rumah mereka jadi tak perlu memanggil ambulan.
Dada Arsyila terasa nyeri mendengar perkataan Hera barusan, air matanya pun ikut menintik. Namun ia tetap mengikuti langkah Hera hingga mereka sudah tiba di mobil dengan Arsyila yang memaksa ikut lalu duduk di samping kemudi dan Adhira yang di tidurkan dibelakang.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan rumah sakit dan Adhira langsung di bawa ke ruang IGD.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Hera tak henti-hentinya histeris memanggil nama Adhira agar terbangun namun percuma saja Adhira masih ingin terpejam.
Arsyila yang menyaksikan itu ikut terharu, bukan iri lagi yang ada di hatinya namun rasa kasihan melihat keadaan adik satu-satunya saat ini. Walaupun tidak pernah bertegur sapa dengan Adhira namun tak bisa di pungkiri ia sangat menyayangi adik semata wayangnya itu.
Sekelebat kenangan di masa kecil saat mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama dan saat Adhira yang dulu selalu mengekori Arsyila saat hendak pergi ke sekolah di usia Adhira yang masih sedang imut-imutnya. Belum lagi saat adiknya yang dulu pernah di bentak Sania dan ia sendiri pun sering melakukan itu, membuat hati Arsyila merasa teriris. Ia sungguh menyesal.
"Buk tunggu di luar dulu ya, biar pasiennya kami periksa dulu".
Ujar salah seorang perawat saat mereka sudah sampai di depan pintu ruangan.
"Baik dok". Balas Hera terpaksa.
Kini tinggal mereka berdua yang berdiri di luar lalu dengan tiba-tiba Hera menarik tangan Arsyila membuat Arsyila sedikit terkejut.
"Ikut bunda!". Ucap Hera tegas. Arsyila hanya menurut dari belakang, hingga mereka tiba didepan area yang agak sepi tempat orang berlalu lalang.
"Arsyila! kenapa kamu tega melakukan ini sama adik kamu sendiri??". Mata Hera berkaca-kaca, Arsyila hanya diam bahkan bibirnya sudah terasa kelu walau hanya sekedar mencari pembelaan. "Bunda tahu kamu nggak suka sama Adhira, tapi bunda nggak pernah ngajarin kamu buat balas seseorang dengan melakukan hal keji seperti ini. Kalau kamu memang iri sama adik kamu, kamu harusnya belajar lebih giat bukannya membuat adik kamu celaka kayak gini Arsyila!".
Hera kepalang emosi tanpa sadar dirinya menitikkan air mata. Ia tak menyangka putrinya akan berbuat seperti ini..Itulah yang ada dalam pikirannya.
"Maafin Syila bund".
"Bunda emang berniat menyatukan Adhira dengan kamu namun bunda berfikir lagi sepertinya kamu memang tidak pantas menjadi seorang kakak!".
Finish Hera lalu pergi dari hadapan Arsyila.
Mendengar kalimat menyakitkan dari mulut Hera membuat hatinya seperti remuk seketika, namun Arsyila masih bisa menahannya.
Selang beberapa menit dari kepergian Hera Arsyila melihat kedatangan nenek dan kakeknya karna tadi sewaktu di mobil ia sempat mendengar bundanya menghubungi mereka.
"Arsyila dimana adik kamu?". Tanya neneknya yang terlihat panik.
"Di dalem nek".
"Oh iya kalo gitu nenek mau liat adik kamu dulu ya..Kamu gk ikut?".
"Gk nek..Syila nunggu di luar aja".
"Oh ya sudah nanti kalo ada apa-apa panggil nenek ya".
"Iya nek".
Badrul yang melihat wajah Arsyila yang lesu dan nampak tak biasa itupun hanya diam lalu mengelus pelan kepala Arsyila kemudian menyusul istrinya.
Arsyila merasakan hal aneh menjangkiti hatinya. Seperti ada yang luka namun tak bisa ia raba dan cukup terasa. Belum lagi nyeri perutnya yang masih ia tahan membuat penderitaannya lengkap sudah.
Lama mematung disana diiringi perasaan yang campur aduk membuat Arsyila akhirnya memutuskan untuk pulang saja, karna ia tidak membawa ponsel sepertinya hanya Aydan saat ini yang ia butuhkan dan hanya Aydan yang akan setia mendengar keluh kesahnya nanti
Ia pun segera pulang dengan naik taksi untung saja ia sudah terbiasa menaiki taksi sejak Aydan mengajarkannya dengan alasan ia akan jarang mengantar Arsyila pulang untuk akhir-akhir ini karna alasan latihan. Padahal ia selalu menunggu Arsyila pulang terlebih dahulu agar bisa pergi ke tempat yang ia mau sendirian.
"Makasih pak". Ujar Arsyila setelah menyerahkan ongkos taksinya.
"Masama dek".
Setibanya dikamar Arsyila langsung menyambar handponnya dan mencari kontak Aydan. Sembari menunggu panggilan terhubung ia keluar sebentar membersihkan bekas minyak yang mengotori lantai dan anak tangga dengan susah payah berlanjut menuruni tangga untuk membersihkan darah Adhira yang masih berceceran di lantai.
Arsyila sebenarnya tak ingin namun ia terpaksa agar tak terlalu flash back setiap melewati area itu.
Saat sudah selesai dengan kegiatannya ia pun kembali ke kamar untuk mengecek status panggilannya namun bukan panggilan balik yang ia dapatkan malah panggilan tak terjawab yang justru tertera di layar. Sungguh menyedihkan.
Arsyila pun akhirnya mengirimkan pesan kepada Aydan mungkin saja Aydan sedang tidak memegang ponselnya pikir Arsyila.
^^^Aydan kamu dimana?? aku mau cerita boleh? please aku lagi butuh kamu..😩^^^
Cling..
Ponsel Aydan bergetar menampilkan ada pesan masuk di layar atas. Aydan segera menggesernya agar permainannya tak terhalang. Ya! saat ini ia sedang bermain game di ponselnya.
"Ck. Ah! kan defeaat guee padahal tinggal dikit". Kesal Aydan lalu membanting ponselnya di sofa.
"Makanya mending main PS sini sama kita". Ujar Devan yang sedang asyik bertanding.
"Huh!".
Aydan kembali meraih ponselnya lalu melihat pesan yang dikirimkan Arsyila. Ia memasang wajah datar.
"Ck manja banget sih jadi cewek". Gerutu Aydan tidak berniat sama sekali untuk membalas pesan Arsyila.
Devan dan Alzam sontak menoleh ke arahnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Siapa yang manja??". Tanya Devan mengintrogasi.
"Jangan bilang lo lagi ngatain Arsyila?". Alzam ikut-ikutan.
"Eh en-enggak orang ini ada cewek lewat beranda tiktok". Aydan beralasan.
"Ooh". Alzam terlihat tidak yakin.
"Awas ya Dan..Kalo sampe lo nyakitin Arsyila, jangan panggil gue sahabat lo". Ancam Devan lalu kembali bermain.
Aydan menelan ludah mendengar ancaman Devan. Ia pun dengan terpaksa membalas pesan Arsyila.
💬Ada apa Syil?? kamu ada masalah? cerita aja tapi lewat sms aja ya soalnya aku lagi di luar.
Lagi-Lagi Aydan berbohong.
Arsyila yang membaca pesan Aydan tersenyum miris.
"Pantes panggilan aku di tolak. Hm mungkin Aydan lagi sibuk".
^^^Hm y udah gk papa, besok aja ceritanya🙂^^^
Arsyila lalu menutup ponselnya lantas memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya menghadap atas menikmati setiap buliran air mata yang sejak tadi membendung hingga akhirnya berhasil ia tumpahkan dalam diam. Sudah cukup masalah ini ia pendam sendiri, ia sendiri tidak tahu harus apa selain menangis meratapi hidupnya.
Tak ingin berlarut Arsyila akhirnya mengambil air wudhu' siapa tau dengan begitu perasaannya bisa sedikit tenang.
Saat kembali dari kamar mandi ia berniat melaksanakan solat duha sepertinya mengadu kepada tuhan memanglah jalan terbaik dan ini adalah sebuah petunjuk untuknya agar segera mendekat kepada kekasih yang haqiqi.
Baru saja memakai muknah tiba-tiba panggilan masuk dari ponselnya memenuhi ruangan yang hampa itu.
Arsyila segera meraih ponselnya dan melihat nama "Ayah💓" tertera di kontaknya. Dengan segera Arsyila menggulir tombol hijau itu ke atas.
"Halo Assalamu'alaikum yah". Arsyila pura-pura ceria.
"Wa'alaikussalam anak ayah..Bunda mana? kok dari tadi ayah telpon dia gk angkat tadi bunda kamu sempet telpon ayah katanya Adhira masuk rumah sakit. Tapi suaranya putus-putus".
"Mm iya yah Adhira lagi di rumah sakit...Arsyila lagi gk sama bunda soalnya pulang dulu ambil ponsel".
"Oo adik kamu sakit apa?".
Deg
Harus menjawab apa dia sekarang? apa iya dia kan menjawab yang sebenarnya jika Adhira terpeleset di tangga? tapi bagaimana jika Hera mengatakan hal yang berbeda nanti. Ia tidak ingin di cap pembohong oleh ayahnya lebih baik ia diam saja biar waktu yang mengungkapkan kebenarannya.
"Mm Syila kurang tahu yah..Ayah telpon bunda aja mungkin sekarang bakal aktif. Syila tutup dulu ya telponnya yah soalnya mau siap-siap ke rumah sakit".
"Oh ya sudah ayah mau telpon bunda lagi".
"Baik yah".
**Tut**
Arsyila menghela nafas. Moodnya semakin memburuk, jika ayah tersayangnya sudah tidak mempercayainya lagi lantas untuk apa ia bertahan? jika alasan ia hidup sejauh ini sudah tidak ada lagi.
...*****...
**Sad**:) Kita kasih mati aja gk si Arsyilanya biar dia hidup aman🤣😐