
...BTW kalian mau liat novel ini cpt tamat gk?? Komen doong😃...
...______...
...Rumah yang harusnya tempat ia berteduh, justru menjadi alasan utama ia mengeluh....
...~Razan. F. A...
...Happy Reading...💓🔥...
...*****...
"Dimana Arsyila??!!".
Kacau Aydan yang tiba-tiba datang hingga membuat mereka yang masih berbincang menoleh ke arahnya".
"Ngapain lo kesini??!".
Razan maju dan berhadapan dengan Aydan sambil memberikannya tatapan sinis.
"Gue mau liat Arsyila, jangan pancing emosi gw!". Suara Aydan bercampur amarah yang tertahan, rasanya setiap melihat Razan emosinya bisa bertambah berkali-kali lipat.
"Lagi diperiksa di dalem". Jawab Razan santai, ia tak mau memancing keributan namun justru wajah santainya itu yang malah membuat Aydan terpancing.
"Ini semua gara-gara lo ??!!".
"Lo mau playing Victim??".
"Playing Victim??? kalau bukan karna lo yang deketin cewek gw, hubungan gw sama Arsyila gk bakal ancur kayak gini dan buat dia sakit".
Devan yang mendengar itu menggeram. Mengapa Aydan menyalahkan Razan sepenuhnya?? Bukannya dia yang lebih dulu menjauhi Arsyila?.
Lalu apakah Razan salah jikalau menjadi penyembuh luka pada saat Aydan sendiri tidak peduli?. Namun Devan masih bisa menahan amarahnya biarkan nanti dia berbicara empat mata dengan Aydan, ia tidak mau mempermalukan sahabatnya itu walaupun sikapnya sudah keterlaluan.
"Heh". Razan terkekeh sinis. "Itu semua tergantung elo sendiri, lo yang terlalu kekanakan dan E-GO-I-S". Razan menunjuk wajah Aydan dengan jari telunjuknya.
Darah Aydan semakin mendidih mendengar perkataan Razan, kedua tangannya terkepal.
"Oh ya..Lo bilang apa tadi? cewek gw?" Razan kembali menertawainya. "Emang lo pacaran?punya hak apa lo ngelarang gue deketin Arsyila ha? suami bukan!".
"Dia punya gw BANGS*T!!!".
Aydan kepalang emosi lalu memukul Razan brutal. Ketauhilah Aydan memiliki emosional yang tinggi jadi ia sangat mudah terpancing.
Jika sudah meledak begini siapapun tak bisa menghentikannya. Razan tak mau kalah, ia membalas pukulan Aydan tak kalah ganas hingga darah segar keluar dari sudut bibir Aydan begitupun dengan pelipis milik Razan yang juga ikut mengeluarkan darah.
Perawat beserta orang-orang yang ada di rumah sakit itu hanya ikut menyaksikan tanpa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani menghentikan Razan hingga satpam yang ada di rumah sakit itu pun datang dan bergerak maju untuk menahan kedua tangan Aydan yang hendak menyerang Razan kembali namun sayangnya tubuh kekarnya justru terpental dengan badan Aydan yang lebih kecil darinya.
"Do! Van! Ayook kita hentikan. Biaya Rumah Sakit mahal ntar kalau dua-duanya masuk UGD gimana??". Bukannya memikirkan keselamatan Razan dan Aydan, justru yang terlintas dipikiran Alzam adalah biaya pengobatan😌
"Ck tenang aja mereka sama-sama orkay". Sambung Aldo.
"Do! Van! Zam!!! Ayokk hentiin mereka, napa malah nonton?!". Chika terlihat ketakutan.
"Kenapa gk lo aja?". Tanya Aldo balik.
"Gue cewek begookk!!!!".
Chika menggeplak kepala Aldo.
"Aduuh sakit njir!".
"Cepet makanya! lo mau nih rumah sakit ancur?!".
"Iyaya".
Aldo mengalah lalu mengajak Devan dan Alzam untuk menghentikan mereka berdua.
Devan dan Alzam dengan sigap menahan tubuh Aydan yang ingin bangkit untuk membalas serangan Razan begitupun dengan Aldo yang sudah memegang kedua tangan Razan yang akan memukul Aydan kembali.
"Udah Zan udahh..Malu diliatin banyak orang".
Aldo menepuk-nepuk pundak Razan. Untungnya, emosi Razan mudah mereda.
Bertepatan dengan itu Dr. Andika sudah selesai dengan tugasnya dan membuka pintu ruangan hingga membuat mereka yang sedang menunggu langsung menyerbunya terlebih Razan dan Aydan.
"Gimana keadaan Arsyila?!".
Ujar mereka bersamaan.
Aydan dan Razan saling menatap satu sama lain dengan sama-sama memancarkan aura permusuhan hingga Dr. Andika yang melihat mereka terheran-heran.
"Di sini ada keluarga pasien?". Tanya Andika.
"Gk, langsung dari sekolah".
"Oh iya kalau begitu, Zan ikut saya ke ruangan".
Pinta Andika pada Razan, mereka berdua nampak Akrab.
"Dok kami boleh masuk gk??". Tanya Chika.
"Maaf sebelumnya pasien belum bisa di temui,
karna ada suatu hal dan kondisi tertentu. Permisi". Ujar Andika sopan lalu mengajak Razan pergi.
"Lah biasanya kalo habis meriksa Dr. bakal mempersilahkan penunggu masuk deh kok ini gk". Heran Dheva.
"Berarti pasien belum siap ditemui". Chika cengiran.
"Iya kah?? gue serius tau Chik".
"Huh! kan tadi Dr. udah ngejelasin ada kondisi tertentu berarti kondisi Arsyila..."
"Lo ngomong apa sih Chik jangan buat gue mikir yang aneh-aneh deh".
"Gue perlu ngomong sama lo Dan. Ikut gue!".
"Tapi Van..Arsyila". Aydan terlihat memberontak.
"Dia gk butuh lo".
Balas Devan datar lalu menyeret Aydan pergi dari area itu bersama Alzam.
Kini mereka bertiga sudah sampai di taman luas yang ada di dekat parkiran rumah sakit. Devan lalu mendorong kasar tubuh Aydan yang masih dibalut seragam itu.
"Apa-Apain sih lo!". Kesal Aydan yang tak terima dengan perilaku Devan barusan.
"Lo yang apa-apaan! ngapain lo kesini dateng-dateng buat keributan?!".
"Loh. Kok lo jadi nyalahin gue???".
"Ya emang lo yang salah. Terus siapa? Razan? jelas-jelas lo yang mulai". Alzam ikut nimbrung.
"Oooo lo pada ngebelain Razan ya?? mm". Aydan mangguk-mangguk. "Kenapa gk sekalian aja gabung sama group dia".
"Ini bukan masalah bela membela Dan. Tapi lo yang gk pernah mau mengakui kesalahan lo sendiri dan justru menyalahkan orang lain".
"Lah Emang bener kan Arsyila jadi begini gara-gara Razan?? kalo bukan karna ada dia di hubungan gue sama Arsyila, pasti sekarang kita berdua gk akan berantem dan buat Arsyila masuk rumah sakit".
Devan yang mendengar perkataan Razan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya itu, dulu ia mengira Aydan adalah sosok yang dewasa. Tapi mengapa sekarang justru sebaliknya???
"Lo harusnya mikir Dan! mikir pake otak!. Lo yang kurang bersikap dewasa. Seandainya lo gk selalu ikutin emosi Dajjal lo itu mungkin masalah lo sama Arsyila bisa terselaikan dengan bijak dan gk sampai buat Arsyila masuk rumah sakit kayak sekarang".
Devan mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Sekarang gue tanya sama lo, apa yang lo lakuin sama Arsyila sebelumnya?? gue liat Arsyila terakhir kali sama lo kan?!".
Aydan diam sejenak mendengar pertanyaan Devan. Ia ingat terakhir kali ia sempat memberikan hinaan kepada Arsyila sebelum ia pergi dari area taman.
Apa Arsyila pingsan gara-gara...
"Jawab!!!". Devan membentak.
"Gu-Gue.."
Devan yang tak sabaran pun meraih kerah seragam Aydan hingga membuat Aydan sedikit mendongak.
"Jawab gk lo! lo apain Arsyila ha?!". Devan sudah sangat emosi.
"Gue gk apa-apain gue cuma ngatain dia..Mu-Murahan".
"Anj*!"
BUGH
Kini Devan yang menghantam wajah Aydan. Aydan tak membalas karna ia sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan.
"Udah Van udah".
Alzam menahan bahu Devan agar tak menyerang Aydan kembali.
"Dia harus dikasih sadar Zam!".
"Percuma Van, pukulan cuma buat dia sadar dari emosi bukan benerin otaknya". Sindir Alzam sambil memberi tatapan sinis ke arah Aydan.
"Sehina itu Arsyila di mata lo??? Lo tau gk kalo Arsyila hampir nyelakain diri sendiri gara-gara ucapan lo itu?! kalo gue gk dateng cepet mungkin dia udah lebih parah dari sekarang". Ujar Devan sambil emosi.
Aydan terkejut, perasaanya jadi tidak karuan.
"Kaget kan lo!".
Devan terkekeh sinis bukan karna hal lucu namun rasa kesal dan kecewa lebih tepat untuk menggambar reaksinya itu.
Aydan menatap arah lain dengan perasaan yang sulit diartikan. Rasa bersalah dan kecewa bercampur menjadi satu. Karna tak kuasa menahan gejolak hatinya Aydan memilih pergi dari hadapan kedua sahabatnya tanpa sepatah kata pun. Ia sungguh malu, mengapa orang lain lebih mengerti Arsyila daripada dirinya?? padahal diantara mereka Aydan lebih banyak tau tentang Arsyila.
Devan yang melihat itu menghela nafas panjang.
"Gue gk habis pikir sama jalan fikir nya Aydan". Ungkap Devan yang terlihat pasrah.
"Gue juga, gue harap kata-kata lo tadi bisa bikin dia sadar". Sahut Alzam.
"Semoga aja".
"Ya udah masuk yuk". Ajak Alzam lalu kembali ke dalam bersama Devan.
______________
"Gimana Dok keadaan Arsyila?".
Tanya Razan saat sudah duduk berdua bersama Dr. Andika.
"Ck jangan formal ah, capek gue tiap hari pake bahasa baku".
Ujar Andika dan di balas kekehan dari Razan.
"Mau lo". Ejek Razan.
"Papa lo sii gue gk mau jadi Dokter malah di paksa, kan gue maunya jadi pilot".
"Jurusan lo kedokteran begok! ya kalik jadi pilot terus guna lo kuliah mahal-mahal tu apa??".
"Hehe". Cengir Andhika.
Mengenai Andika ia adalah teman dekat Razan, mereka dipertemukan saat acara ulang tahun perusahaan milik Ayahnya. Disanalah ia bertemu dengan Andika yang juga ikut serta memeriahi pesta tersebut karna Ayahnya yang merupakan rekan bisnisnya Cakra. Yaa walaupun Andika lebih dewasa daripada Razan tapi sikap mereka seperti orang yang seumuran.
"Btw ngapain lo ngajak gue privat gini??". Tanya Razan.
"Biar gue lebih leluasa ngomongnya, ini menyangkut pasien tadi".
"Arsyila? dia kenapa Dik??".
Razan terlihat khawatir.
"Tuh cewek keliatannya capek banget deh Zan, gue bisa liat dari wajahnya apalagi pas gue denger detak jantungnya..."
"Jantungnya apa?? lo kalo ngomong jangan setengah-tengah".
"Dia pernah stres atau depresi gk?".
Razan berfikir sejenak.
"Pernah".
Jawabnya pasti mengingat Arsyila yang hampir mencelakai orang lain bahkan dirinya sendiri.
"Pantes..Kondisi detak jantungnya gk beraturan yang gue takutin kalo ini dibiarin bisa membuat kesehatan jantungnya terganggu soalnya gue juga punya temen yang gitu Zan, dia punya depresi berat sampe akhirnya stroke".
Razan terkejut namun ia sedikit bingung.
"Gimana bisa setres/depresi larinya ke penyakit stroke?? gue rasa cuma mempengaruhi mental".
"Dari sikap dan respons serta kondisi yang dialami orang ketika diserang stress itu, ada potensi stress picu serangan jantung. Apalagi Kalo disertai perasaan cemas. Sering cemas memiliki kaitan dengan beberapa faktor gangguan jantung dan pembuluh darah ini kayak Irama detak jantung lebih cepat. Dalam kasus yang serius, fungsi jantung jadi terganggu dan meningkatkan risiko henti jantung". Jelas Andika kini menjalani provesinya sebagai Dokter.
Razan diam sejenak. Perasaannya jadi tidak karuan, tentu ia sangat takut jika Arsyila sampai separah itu.
Syill sebenarnya lo kenapa?? apa yang buat lo sampe kayak gini.
-Batin Razan. Ia turut prihatin hingga tanpa sadar ia menintikkan air mata kala mengingat Arsyila membuat Andika yang melihatnya sedikit terkejut. Baru kali ini ia menyaksikan seorang Razan menangis apalagi itu karna seorang gadis.
"Zan lo nangiss???".
"Dia cewek yang gue suka Dik"..
Jawab Razan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan yang sudah tertumpu di meja. Andika mengerti, sebagai laki-laki ia juga faham apa yang di rasakan Razan. Tapi tunggu..
"Terus cowok yang tadi??".
Bingung Andika menyebut Aydan.
"Aydan, cowoknya tapi gk pacaran". Jawab Razan lesu.
"Lah??? gebetan maksud lo?".
"Gk, lebih dari itu..Mereka udah kayak orang pacaran tapi gk ada status".
"Lah napa gk pacaran aja sekalian".
"Kata Arsyila biar gk ada kata putus".
"Jiaaaaakh tuh cewek cerita sama elo??".
"Hm".
"Wkwk miris banget idup lo Zan!". Andika mengejek Razan. "Terus tuh cewek tau gk kalo lo suka??".
Razan menggeleng.
"Hadeeeh ini nih definisi cowok tapi mental hellokitiy".
"Ya mau gimana lagi orang gue sama dia jarang akur ya kalik tiba-tiba nembak. Lahhh napa malah curhat sama lo sii??.
Razan tersadar.
"Hahaha lo yang duluan yaa bukan gue".
"Huh! balik ke topik semula kira-kira apa yang harus gue lakuin biar Arsyila bisa sembuh?".
"Gue kan dokter umum bukan dokter jiwa..Gue saranin sih lo harus bawa dia ke psikolog".
Razan teringat sesuatu. Seingatnya Arsyila juga pernah menjalani terapi untuk menyembuhkan PTSD yang ia punya namun tetap saja tidak berhasil. Dan sekarang lain hal lagi, yaitu "Depresi". Jika trauma yang lebih parah saja tidak bisa apalagi mengatasi Depresi??
"Selain Psikolog ada cara lain gk?? mungkin lo ada pernah pengalaman?".
"Satu-Satunya cara ya hindari dia dari setres apalagi sampe buat perasaannya tersinggung". Jawab Andika simple.
Gimana caranya? kalo sumber penyakitnya aja berawal dari dalam, rumah yang seharusnya tempat ia berteduh justru menjadi alasan dia mengeluh.
Razan terlihat berfikir sejenak..
"Dik..Apa...Arsyila Gue nikahin aja ya".
Ujar Razan tiba-tiba yang hampir membuat jantung Andika copot karna terkejut.
"Uhuk-Uhuk"
"Lo bilang apa tadi?? nikah?".
"Iyaa, emang ada yang salah ya? gue cuma pengen jaga dia setiap saat".
"Gk salah si Zan..Tapi.. Yaaa jangan langsung nikah juga, jadi pacar aja belum tentu keterima".
"Hmm ya juga ya".
"Wkwk Razan..Razan. Emang segitu sayangnya ya lo sama tuh cewek?".
"Huh. Ya lo kira-kira aja".
"Gue pernah ngira lu gk normal njir gara-gara gk pernah lirik cewek. Tau-Taunya lo lebih bucin ya ternyata dari gw". Ledek Andika.
"Pala lu yang gk normal!". Kesal Razan.
"Wkwk dah lah keluar sono urusan gue sama lo udah selesai..Lo bisa cek kondisi tuh cewek siapa tau uda sadar".
"Emang udah boleh masuk?".
"Iya". Andika menengok jam di tangannya sebentar.
"Udah lewat 30 menit, tadi gue gk kasih kalian masuk karna khawatir kalo tubuh pasien gk nerima keberadaan kalian mungkin sekarang udah normal lagi".
"Ooo bisa gitu ya?".
"Bisa, kan gue yang atur sendiri. Sono-Sono keluar". Andika mengusir.
"Iyaya". Razan lalu bangkit dari duduknya.
"Ntar kalo ada apa-apa lo bisa panggil gue".
"Sip. Gue duluan Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumussaalam".
Razan pun keluar dari ruangan tersebut tak sabar untuk menengok keadaan Arsyila.
"Hadeh..Razan..Razan".
Ujar Andika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
...*****...
Masih semangat gk nih bacanya???
Seyouu next chapter🙌🏻🔥💓