
...Happy Reading💓🔥...
...*****...
"Broo cewek polos kek gini, bisa kita bohongin ygy".
"Kita langsung aja bawa ke markas".
"Cantik juga uy lumayan kan kalo dibiarin nganggur".
Saat mereka hendak mengunci pergerakan Arsyila, tiba-tiba sebuah sinar yang datang dari arah belakang mereka membuat silau yang tak lain berasal dari mobil Razan.
"Woy!". Tunjuk Razan setelah turun dari mobilnya.
"Eeh itu kan bang Razan, sahabatnya bos! kita salah target kabuurrr!!".
Seru salah seorang dari mereka dan langsung lari terbirit-birit. Bos yang mereka masuk adalah Andhika, ternyata dia ketua genk coy:( pantas saja banyak anak berandalan yang mengenal Razan, selain karna pemilik sekolah alasan lainnya adalah sahabat dari sang penguasa jalanan alias Andhika.
"Ha?". Arsyila melongo. "Kok pada kabur?". Bingung Arsyila sambil celingak celinguk.
Razan segera menghampirinya dan langsung saja Arsyila disembur dengan omelan-omelan pedas bak emak-emak.
"Lo?? Lo gk papa?". Tanya Razan terlebih dahulu sambil membolak balik badan Arsyila memastikan tidak ada yang lecet.
"Kak Razan apaan sih? orang aku gk pp".
"Begok! kenapa lo gk lari?!".
"Lari? ngapain lari orang mereka cowok baik-baik kok".
"Tolol! Tolol!". Razan berdesis sambil memijat-mijat keningnya yang terasa pusing.
"Aish.. Bukannya kk Razan udah pulang ya?".
"Pulang? Gue nungguin lo di parkiran, lo kenapa pulang sendiri ha?!".
Razan masih emosi. Sungguh ia tadi sangat cemas saat mendengar Arsyila pulang sendiri dengan berjalan kaki waktu ia bertanya pada ibuk kios yang ada di depan sekolahnya.
"Ya maaf.. Kirain kk udah pulang, lagian kita gk ada janjian pulang bareng kan?". Tanya Arsyila masih dengan nada santai. Tidak kontras dengan wajah Razan yang sudah merah padam.
"Walaupun! gue kan pernah bilang, jangan pulang sendiri kalo lo gk dijemput, kasih tau gue! tapi lo malah nekat pulang sendiri. Malem lagi. Lo kira bagus cewek jalan sendiri malem-malem? atau lo sengaja narik perhatian para berandal kayak tadi?!".
"Kak Razan ngomong apaan si?! mereka itu bukan brandal! mereka malah baik mau nemenin aku jalan sampai rumah".
"Ya allaaaah.." Razan ingin menangis rasanya melihat ketololan Arsyila. Kepalanya mengadah ke atas seolah bertanya pada tuhan apakah Arsyila dulu waktu diciptakan tidak kebagian otak??
Arsyila memasang wajah bingung.
"Mereka brandal begok! tolol! arrrgh.. Lo gk liat pakaian mereka yang robek-robek gitu?!!".
"Ya kan gk boleh liat orang cuma dari cover".
"Beda tempat Arsyilaaaa...Astaghfirullahal 'aziim, Allohuakbaaar!".
Sudahlah Razan pasrah.
"Ooo berarti mereka tadi cowok-cowok nakal??". Arsyila baru ngeh.
"Iyaaaaaaaaaaa, lo kenapa tolol gini si". Kesal Razan sambil menjitak kecil kening Arsyila saking geregetnya.
"Aw sakit tau!".
Razan mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Ya biasa aja kalik! gk usah kek orang kesurupan gitu. Alay tauu".
"Alaaaay?!!!". Razan melebarkan matanya.
"Lo kira gue yang panik setengah mati nyariin lo ampe keliling sekolah, nanyain lo sana sini! terus lo bilang itu alay????!".
"Ya-Ya.. Gk si tapi-
"Tapi apa?? lo emang gk pernah ngehargain gue Syil. Apapun yang gue lakuin akan tetap gk ada artinya buat lo! yakan?".
"Kok kk Razan marahnya ke aku si?". Arsyila yang memang pembawannya gampang sensi dengan nada tinggi pun merasa tak terima.
"Ya jelas gue marah! kalo lo kenapa-napa gimana?? seandainya gue telat dateng terus lo sampe di apa-apain sama brandal tadi apa gue bakal terima??? lo memang gk perduli sama hidup lo tapi gue perduli!".
Arsyila diam meresapi kata-kata yang keluar dari mulut Razan.
"Dahlah gue capek!. Heran! ngapain gue seperduli ini sama cewek gk peka kayak lo. Lagipula lo kan udah balikan sama Aydan ya kan? lo tunggu di sini biar gue panggilin Aydan mau lo ikut pergi ke luar negri kek terserah! gue capek!".
"Balikan? maksudnya?". Arsyila bingung.
"Emang iya kan? tadi gue denger sendiri lo ngomong apa sama Aydan. Gue tebak pasti kalian balikan, emang si siapapun orangnya masa lalu akan tetap jadi pemenangnya".
Ujar Razan dengan wajah merah padam sambil memandang ke arah lain, matanya pun sudah berkaca-kaca saking panasnya. Rasa cemburu yang tadi sempat hilang kini kembali lagi hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Ya! kk Razan benar". Huh! ingin rasanya Razan menangis saat ini, mengapa dirinya harus mencintai gadis semenyakitkan ini?.
"Masa lalu emang tetap jadi pemenangnya, buktinya sampe sekarang kk Razan masih ngarepin si Nea itu kan??? gimana kalau ternyata Nea itu udah nikah? apa kk Razan bakal tetap ngambil dia dari suaminya?? sekarang siapa yang gagal moveon aku? atau kk Razan?!". Arsyila terlihat kesal setengah mati.
"Ha??". Razan melongo. Apa tidak salah? saat ini Arsyila sedang menyebut dirinya sendiri.
"Sy-Syil.."
"Apa?!". Tanya Arsyila dengan wajah menantang.
"L-Lo.."
"Mau bilang aku yang gamon?!".
Razan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Tuh kan kk Razan diem! makanya kalau ngatain orang itu li-
"Nea itu lo". Potong Razan. Akhirnya Razan memberanikan diri untuk mengungkapkan kebenaran ini. Sepertinya malam ini adalah saat yang tepat untuk Arsyila mengetahui semuanya termasuk perasaan yang telah lama membuat hatinya sesak.
"Haa?? ma-ma..maksudnya??". Kini Arsyila yang dibuat cengo.
Jadi selama ini...Gadis masa lalu yang selalu disebut Razan adalah dirinya? berarti sejauh itupula Arsyila telah cemburu pada dirinya sendiri?.
"Ya! Gue tau lo udah lupa, tapi gue nggak mungkin ngelupain lo semudah itu Syil karena lo-".
Razan menelan salivanya dengan susah payah lalu memberanikan diri untuk melanjutkan kalimatnya yang terputus.
"Karna lo cinta pertama gue". Razan menunduk, enggan untuk menatap Arsyila. Sudahlah ia tak perduli jika Arsyila akan menolaknya atau menjauhinya setelah mengungkapkan kalimat ini, namun yang pasti Razan merasa sedikit lega.
Arsyila mematung. Ia hanya diam, memberikan Razan ruang untuk berbicara karna ia sendiri masih masih sulit memahami situasi ini.
"Syill... Sedikit aja ingatan lo tentang gue, pleasseee.. Apa Lo bener-bener udah lupa? apa di hati lo nama gue udah bener-bener nggak ada?". Razan dengan air mata yang sudah menintik entah sejak kapan. Arsyila masih diam dengan perasaan yang sulit digambarkan.
Ia mencoba mengingat-ingat kembali namun memori masa lalu itu benar-benar sudah hilang. Satu hal yang masih membuatnya penasaran sampai saat ini yaitu nama Farel yang terselip di dalam buku diary-nya. Apa itu adalah Razan? sebenarnya Arsyila ingin menanyakan hal ini pada Razan namun bagaimana jika itu bukan dia? bisa-bisa masalahnya nggak akan kelar nanti. Jadi Arsyila memilih untuk diam saja.
"Dahlah! lo nggak akan ngerti sama perasaan gue. Karena yang ada di hati lo sekarang cuma Aydan ya kan?? selamat buat hubungan kalian, maaf karena gue udah lancang jatuh cinta sama lo. Mulai sekarang gue nyerah!". Ujar Razan pasrah lalu mengusap kasar air matanya yang tak berhenti mengalir sejak tadi.
Mungkin kali ini Fajar sad boy akan digantikan dengan Razan sad boy:(.
Arsyila terkejut, sungguh hatinya merasa tak terima dengan perkataan Razan tadi.
"Kak... Aku sama Aydan nggak balikan". Arsyila menjelaskan. Razan yang tadinya menunduk lesu pun refleks mengangkat kepalanya dan menatap dalam Arsyila seolah meminta penjelasan lebih.
"Lo bohong....Tadi gue denger sendiri kalau lo nggak bisa suka sama cowok lain selain Aydan!".
"Pfftt-". Arsyila menahan tawa melihat ekspresi Razan saat ini.
"Makanya kak kalau nguping tuh jangan setengah-tengah". Wajah Razan pun memerah menahan malu karena ketahuan ngepoin Arsyila.
"Te...Terus???".
"Ya terus kita temenan, masa aku harus ngulang dialognya sih". Arsyila terkekeh geli.
~Anjir mana tadi gue sempet nge-b*ngsatin Aydan lagi.
-Batin Razan.
"Kok ngelamun?".
"Mm berarti dari tadi gue salah paham?".
"Iyalah, huh! pantas aja tadi mukanya langsung beda pas liat aku turun berdua sama Aydan, orang cemburu ternyata". Goda Arsyila membuat wajah Razan jadi semakin merah menahan malu.
"Kok kk Razan nggak bilang dari awal sih, kenapa baru jujur sekarang?".
"Ya karena gue takut lo nolak dan tiba-tiba menjauh. Lebih-Lebih lo baru pisah sama Aydan pasti move on-nya lama".
Arsyila tersenyum menanggapi itu lalu perlahan tangannya bergerak untuk mengusap rambut hitam legam milik Razan yang sudah kusut sesekali merapikannya. Lutut Razan jadi lemas, baper? tentu.
"Aku nggak tau perasaan aku ke kak Razan kayak gimana. Mungkin memang, aku belum bisa menerima kedatangan orang baru...Tapi bukan berarti tidak. Kadang aku juga bingung sama diri aku sendiri yang tiba-tiba kesel kalau liat kak Razan deket sama cewek lain, apalagi pas tau kalau Kayla mantan kamu. Apa perasaan ini bisa dinamakan cemburu? padahal aku tahu jelas Kayla udah punya Hamam tapi kenapa ya kalau liat kak Razan deket sama aku jadi nyesek?".
Aku Arsyila terang-terangan dan spontan menurunkan tangannya sambil memasang wajah cemberut.
Razan tertawa lepas membuat Arsyila menatapnya bengong, apa tadi kalimatnya lucu? pikir Arsyila.
"Jadi lo percaya kalau Kayla mantan gue?? hahaha".
"Maksudnya??". Arsyila bingung.
Kejadian yang sebenarnya....
Yana, Kayla dan Razan tengah duduk bertiga diruangan Ketos.
"Minta bantuan apa bang?". -Kayla.
"Gue masih ragu sama perasaan Arsyila ke gue".
"Ya terus aku harus apa?".
"Bantu gue ngebuktiin kalau Arsyila bisa cemburu".
"Tadi bukannya dia cemburu ya??". Kayla menebak. Ia juga perempuan jadi sudah pasti Kayla mengerti dengan respon Arsyila tadi.
"Ck gue masih ragu".
"Terus gimana caranya???".
Tiba-Tiba Yana mendapat pesan masuk dari Arsyila.
"Sms dari siapa Na???". Tanya Kayla.
"Kak Arsyila".
"Dia bilang apa???". Razan dan Kayla mendekat untuk melihat pesan tersebut.
"Bilang aja mantan biar lebih seru!".
"Setuju! berarti lo harus berpura-pura seolah kita itu mantan". Ujar Razan antusias.
"Tapi Hamam harus tau dong biar perannya lebih mendalam".
"Sip. Nanti gue negosiasi sama suami lo".
"Iiih kk Razan tega banget sih". Arsyila menggeplak sebelah lengannya.
"Hahaha yes! rencana gue berhasil". Riang Razan.
"Terus hubungan kk Razan sama Kayla apa? kok bisa sedekat itu?". Arsyila masih penasaran.
"Syil..Syil, ya wajarlah kan Kayla sepupu gue".
"Haaaa???". Arsyila menganga. Bodoh! kenapa dia tidak kepikiran sampai sana? huh! begitulah wanita sangat cepat menyimpulkan tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Ooo pantes!". Arsyila mengingat kembali saat Razan menyentuh tangan Kayla tanpa lapis waktu itu.
"Isssh kk Razan bener-bener ya". Arsyila mencubit perutnya yang tertutup kaos karena salting.
"Awwsh sakit haha".
Arsyila hanya memasang wajah datar melihat Razan yang tak henti-hentinya menertawakan dirinya.
"Eh berarti lo sekarang milik gue!". Klaim Razan.
"Eeehhh..." Arsyila melotot. "Aku belum tentu setuju ya!".
"Lo yakin gk mau???". Razan menarik turunkan kedua alisnya.
"Aku belum siap".
"Siap nggak siap lo harus tetap jadi milik gue, gue nggak akan ngelepas lo lagi dan ngebiarin lo jatuh ke tangan orang lain selain gue".
"Dih!". Ketus Arsyila. Namun berbeda dengan respon wajahnya yang malah senyam senyum tak jelas. Sial! siapa yang mengajarkan Razan kaku kalimat bucin ini? Ah mungkin pak Met. Pikir Arsyila.
Tiba-Tiba Razan menunduk lalu mendekatkan wajahnya membuat Arsyila spontan menarik wajahnya ke belakang.
"Nga-Ngapain???". Kini jantung Arsyila tengah berdisko di dalam.
Razan lalu memalingkan wajahnya ke samping hingga kini telinganya lah yang berada tepat di wajah Arsyila, namun anehnya kepala Razan malah bergerak turun.
"Kak Razan ngapain si???". Heran Arsyila dengan wajah pucat pasi karena gugup.
"Mau dengar detak jantung lo. Kalau getar Berarti lo juga ada rasa sama gue". Ujar Razan setelah mendongak sekilas ke arahnya.
"Iiiih kak!". Arsyila mendorong tubuh Razan ke belakang hingga membuat Razan kembali terkekeh geli.
"Dahlah aku mau pulang, ntar bunda nyariin lagi". Arsyila dengan wajah pura-pura kesal.
"Hahaha ya udah gue anterin, yuk naik". Ujar Razan sambil membukakan Arsyila pintu mobilnya.
Arsyila pun dengan senang hati berjalan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Makasih bu.." Arsyila tersenyum manis.
"Bu???". Bingung Razan.
"Babu". Ujar Arsyila lalu cengiran hingga menampakkan sederet gigi putihnya. Razan hanya menatap datar ke arahnya lalu menutup pintu mobil itu.
"Xixixi". Arsyila terkekeh geli, lalu tak sengaja matanya melirik ke arah spion dan melihat Yana yang sedang tertidur pulas di kursi penumpang.
"Lah kak? dari tadi Yana di mobil?". Arsyila sedikit terkejut. Razan yang sudah duduk di sampingnya pun ikut menoleh ke arah belakang lalu tersenyum kecil.
"Iya, gue pulangnya barengan. Tadi dia mampir di rumah cuma buat numpang tidur, katanya ngantuk... Eh sampai di mobil tidurnya dilanjutin".
"Ooo pantes tadi aku cariin nggak ada".
"Hm".
"Kak.. Aku duduk di belakang aja ya kasihan Yana mungkin kepalanya pegel". Ujar Arsyila melihat cara tidur Yana yang salah.
Razan mengiyakan lalu membiarkan Arsyila duduk di belakang. Beruntung sekali orang yang disukainya ini sudah lebih dulu mengambil hati adiknya itu mengingat Yana yang sangat pilih-pilih soal kakak ipar.
Arsyila mengarahkan kepala Yana dengan sangat hati-hati menuju pundaknya untuk bersandar agar Yana tidak terbangun.
"Nnnghhh..." Yana melenguh namun dengan cepat Arsyila menidurkannya kembali sambil menepuk-nepuk kecil pipi tirus Yana.
"Sssutt". Arsyila sudah seperti menidurkan anak bayi. Diam-Diam Razan tersenyum kecil melihat Arsyila yang begitu perhatian pada Yana layaknya adik kandung sendiri.
"Kak kok belum jalan?". Tanya Arsyila membuat Razan langsung beralih menatap jalan.
"I-Ini mau jalan". Razan salting lalu menjalakan mobilnya dan berakhir pulang bersama.
...\*\*\*\*\*...
***See you next chapter👋🏻💓🔥***