Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 78 : Tiara Anggraini



...Pasti pada penasaran kan kenapa bisa Kayla jadi Tiara??...


...Baca bismillah ya sebelum baca😚...


...Happy Reading💓🔥...


...*****...


~✨✨✨✨🕊🕊~


*Tiara papa gk mau tau! ujian kelulusan nanti kamu harus dapet peringkat 1! papa gk mau punya anak bodoh*.


Kalimat itu terus berputar bagaikan kaset di telinga Tiara hingga membuatnya semakin frustasi.


Kini ia sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan untungnya kondisi jalan yang ia lewati agak sepi. Tak lupa dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya, rok sepaha dan rambut yang sudah acak-acakan.


"Kenapa selalu aku yang di tuntut??? kenapa aku gk pernah dikasih kebebasan buat ngelakuin hal yang aku mau?? hiks mereka semua jahat!!!!".


Tiara memukul stir mobilnya dengan tangan kirinya yang bebas meluapkan segala amarah yang bergejolak memenuhi dadanya hingga membuatnya sesak.


Tiit Tiit Tiit


Suara mobil dari arah belakang namun Tiara sama sekali tak memperdulikannya.


"Apa mereka menginginkan aku mati?!".


Tiara sudah mulai kehilangan akal, tanpa sengaja matanya melihat ke arah kaca spion yang menampilkan sebuah mobil hitam seperti sedang mengincarnya. Dan ia juga merasakan mobilnya seperti ditubruk dari belakang.


Jauh didepan sana Tiara juga melihat sebuah mobil hitam berlawanan arah dengannya. Ia merasa dikepung.


Karna terlalu panik Tiara sampai tak bisa berfikir jernih, saat dirasanya mobil yang didepan tadi mulai mendekat Tiara pun tanpa pikir panjang memutar stir mobilnya lalu....


_____________


"Ck Tiara dimana siii??, gue cariin di sekolah gk ada. Arrghh".


Aydan menjambak rambutnya frustasi lalu memukul stir mobilnya. Setelah pulang sekolah tadi ia berniat menjemput Tiara di sekolahnya namun ia sama sekali tak menemukan keberadaan Tiara membuatnya sedikit merasa khawatir.


"Asap??". Aydan terkejut melihat sebuah asap yang menyembul didekat pohon besar yang berada tak jauh di depannya. Ia pun menambah kecepatan mobilnya hingga kini sudah berada di tempat kejadian. Mendadak Aydan merasakan firasat buruk.


"Mobilnya kayak gk asing". Gumam Aydan lalu ia segera turun dari mobilnya dan berjalan mendekat, bersamaan dengan itu seorang gadis juga turun dari mobil yang tak lain adalah Sania orang yang menguntit Tiara tadi, namun Aydan tak terlau menghiraukannya karna wajahnya terhalang asap.


"TOOLOOONG.."


Tiara sempat merintih sambil berusaha keluar dari mobil namun na'as kondisi tubuhnya sudah sangat lemah disertai darah yang terus mengucur dari keningnya karna benturan keras yang diterima kepalanya hingga akhirnya Tiara tak sadarkan diri.


Aydan yang mendengar suara familiar itu melebarkan matanya lalu mempercepat langkahnya.


"Tiaraaa!!". Aydan terkejut saat melihat wajah Tiara yang penuh dengan darah lalu segera membawa keluar tubuh milik kekasihnya itu dari dalam mobil. Sania yang melihat itu dibuat mematung.


"Ini pasti ulah lo kann???!!!". Emosi Aydan meluap-luap membuat Sania tersentak.


"Bu-Bukaan". Sania menggeleng cepat mencoba menghindari tuduhan Aydan.


"Sumpah lo jahat banget San! lo udah keterlakuan..Kali ini gue gk bakal maafin lo!. Tegas Aydan lalu segera membawa Tiara ke rumah sakit".


✨✨✨✨🕊🕊🕊✨✨✨


"Dan sampe sekarang gue masih ngerasa bersalah sama diri gue sendiri karna gk bisa jagain dia, sampe akhirnya kita berdua pisah". Aydan merunduk sambil menghela nafas panjang.


~Ooh jadi ini cerita yang sebenarnya..Berarti cowok yang dimaksud orang tuanya Kayla itu Aydan.


Razan membatin.


"Tapi kok bisa pisah? kan bukan lo yang buat dia celaka?". Tanya Razan seolah tak tau apa-apa. Aydan kembali menghela nafas berat.


"Papanya Tiara ngira kalo gue yang buat Tiara kecelakaan dan gara-gara kecelakaan itu juga Tiara jadi lupa ingatan, dari dulu hubungan gue emang gk direstuin karna Tiara gk dikasi pacaran tapi gue nekat. Sejak saat itu papanya Tiara bener-bener misahin gue sama dia, gue gk tau Tiara disembunyiin dimana tapi yang gue denger-denger Tiara dimasukin ke pesantren. Bahkan nama Tiara diganti biar gue gk bisa nemuin dia. Saat itu gue bener-bener frustasi..Kalian gk bakal ngerti gimana rasanya pisah sama orang yang paling kita cintai bahkan tanpa ada kata putus". Aydan menjelaskan.


"Terus kalo lo tau bakal sulit lupain Kayla, kenapa lo tega lampiasin perasaan lo ke Arsyila??". Tanya Razan mencoba bersabar.


"Gue gk pernah ada niat buat jadiin Arsyila pelampiasan, dari sejak pertama gue ngeliat dia..Entah kenapa gue ngerasa nyaman dan pengen miliki dia, tapi lama kelamaan gue sadar alasannya bukan hanya karna nyaman tapi.. Setiap gue liat Arsyila gue kadang ngerasa kalo dia itu Tiara". Aydan semakin dirundung rasa bersalah.


Razan berfikir sejenak, jika dilihat-lihat Kayla dan Arsyila memang agak mirip.


"Dan sekarang lo juga harus bertanggung jawab sama tindakan lo yang ceroboh itu, lo harus siap nanggung konsekuensinya. Gue gk bisa bantuin lo kalo seandainya tante Farah tau nanti". Sahut Devan.


"Bukan itu juga, gue belum bisa bayangin reaksinya tante Hera nanti kalo sampai dia tau Arsyila disakitin sama lo, gue yakin lo belum lupa kan sama ancaman tante Hera yang pernah lo ceritain ke kita". Sambung Alzam ikut-ikutan.


"Argghhh". Aydan mengacak rambutnya frustasi.


Razan yang tidak tahu apa-apa mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Ancaman apa..??". Tanya Razan bingung.


"Tante Hera pernah bilang kalo sampe Arsyila masuk rumah sakit lagi dan ayahnya Arsyila tau, Arsyila bakal ikut tinggal sama ayahnya diluar negri dan netap disana sampe proyek ayahnya selesai".


Deg.


Razan terdiam, tidak...Dia tidak boleh membiarkan ini terjadi, sudah berpisah beratahun-tahun dan kini harus berpisah lagi?? Razan tidak rela jika harus kehilangan Arsyila untuk yang kedua kalinya.


Razan pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju depan pintu ruangan Arsyila, berharap dokter segera keluar dan memberi kabar baik untuknya. Devan yang melihat itu jadi sedikit iba.


"Aydaannn!".


Mereka semua dikejutkan dengan suara nyaring Farah yang datang secara tiba-tiba.


"Mama.." Aydan terkesiap lalu berdiri menghadap mamanya.


Plak


"Maafin Aydan ma...Aydan nyesel".


"Ikut mama pulang sekarang!". Tegas Farah lalu menarik kasar tangan Aydan dan pergi dari hadapan mereka.


"Siapa yang kasih tau tente Farah???". Tanya Devan.


"Hehe gue, abisnya tuh bocah ngeselin, udah keterlaluan ya biar aja dikasih hukuman". Ujar Alzam sambil cengiran.


"Bodoh". Balas Devan datar.


*****


"Arsyila mana???".


Hera tiba di rumah sakit dengan wajah panik, tadi Alzam sempat memberi kabar tentang keadaan Arsyila karna bagaimanapun juga Hera adalah orang tuanya dan harus tau karna ini bukanlah masalah sepele.


Razan tak perduli dengan kedatangan Hera, pandangannya hanya lurus ke pintu. Bahkan bisa dihitung sudah hampir satu jam dia berdiri disana.


"Di dalem tan, lagi diperiksa..." Jawab Devan.


"Arsyila kenapa?? kenapa dia bisa masuk rumah sakit??".


Alzam dan Devan saling pandang lalu menggeleng, lambat laun Hera juga pasti tau tanpa mereka jelaskan lagipula Aydan tidak bisa sepenuhnya disalahkan karna masalah ini mengingat masalah internal Arsyila yang memang ada sangkut pautnya dengan Hera.


Karna tak mendapat jawaban Hera pun mendekat ke arah Razan.


Merasakan Hera yang sudah berdiri disampingnya membuat Razan terpaksa menoleh. Namun mata Razan melebar saat melihat wajah Hera, begitupun dengan Hera.


"Wajahnya tidak asing..." Hera nampak berfikir.


"Tante...Masih inget saya?". Tanya Razan ragu-ragu.


"Kamu yang dulu nyelametin Arsyila waktu tenggelam itu kan?".


"Iya tan..Saya juga yang dulu nelpon tante buat jemput Arsyila waktu dia ditinggalin rombongan". Mereka sedikit bernostalgia.


Deva dan Alzam yang melihat interaksi keduanya dibuat bingung lalu saling tatap satu sama lain.


"Ya ampuun ternyata kamu satu sekolah sama Arsyila??".


"Hehe iya..Tapi tan, mm kok Arsyila kayak asing gitu ya sama saya?". Tanya Razan bingung, jika Hera saja ingat mengapa Arsyila tidak??.


Hera menghela nafas pelan lalu menjelaskan..


"Setelah kejadian dipantai itu besoknya Arsyila mendadak amnesia, kata dokter Arsyila bisa lupa dengan kejadian yang buat dia terpuruk. Entah tante lupa nama amnesianya apa, jadi ya wajar kalau dia gk inget kamu". Razan ber "Oh" panjang.


~Berarti waktu itu Arsyila juga amnesia dong! bukan pengaruh alam bawah sadar.


Razan membatin.


Ditengah keterdiaman mereka, tiba-tiba pintu ruangan Arsyila terbuka membuat Devan dan Alzam ikut mendekat ke arah Razan dan Hera untuk mendengar informasi.


Hera sedikit heran melihat dua orang dokter yang keluar bersama lima orang perawat. Apa Arsyila separah itu hingga harus diperiksa dua dokter sekaligus???. Pertanyaan itu melayang dibenaknya.


"Gimana keadaan anak saya dok??". Serbu Hera.


"Maaf kondisi pasien belum bisa dikatakan membaik, sepertinya anak ibuk tidak pernah melakukan konsultasi kesehatan jantung sehingga kondisi jantungnya semakin parah".


"Ma-Maksudnyaa apa dok???".


"Apa dikeluarga ibu ada yang memiliki riwayat penyakit jantung??".


Hera berfikir sebentar lalu mengingat papa mertuanya alias kakeknya Arsyila yang sudah meninggal karna stroke, ia juga ingat Arsyila pernah mengalami sesak waktu kecil dan mengeluh mengenai jantungnya yang kadang terasa nyeri namun itu tak berlangsung lama hingga Hera pun tak sampai berfikir kesana.


"Ayah saya dok". Aku Hera. "Tapi apa mungkin menurun ke anak saya, bukannya dia sudah dewasa??".


"Itu sangat mungkin, bukan hanya dilihat saat masih bayi ada juga gejala kelainan jantung bawaan yang muncul saat anak sudah tumbuh dewasa".


Hera yang mendengar itu dibuat mematung, begitupun dengan Devan dan Alzam. Jangan tanyakan tentang Razan sudah pasti dia merasa sangat terpukul mengetahui itu.


"Terus sekarang anak saya gimana dok?? Apa dia bisa disembuhkan?". Tanpa sadar Hera menangis.


"Masih kami pantau, mengenai bisa atau tidaknya kita serahkan saja kepada yang di atas, tugas kita hanya berdoa semoga kondisi anak ibuk cepat membaik".


"Bagaimana dengan bagian kepalanya dok??". Tanya Razan pada dokter saraf yang ikut memeriksa Arsyila.


"Alhamdulillah tidak terlalu parah...Tapi, ini tidak bisa disepelekan karna berkaitan dengan waktu siuman pasien".


"Baik kalo begitu kami pamit dulu karna harus memeriksa pasien yang lain, permisi". Ucap sang Dokter bagian jantung lalu pergi bersama perawat tadi begitupun dengan Dokter saraf.


"Arsyilaa..." Hera menangis, segala ingatan dimasa lalu bahkan perkataannya tadi pagi yang sempat menyakiti hati putrinya itu ikut terbayang-bayang. Ia merasa telah menjadi ibu yang sangat kejam untuk Arsyila.


"Sudah tante, jangan nangis lagi...Kita berdoa saja semoga Arsyila lekas sadar". Alzam menenangkan.


Razan hanya diam..Pikirannya melayang entah kemana namun yang pasti hatinya sangat sakit mendengar kabar yang disampaikan dokter tadi. Jika saja ia bisa mengubah taqdir Razan rela mengambil bagian yang didapatkan Arsyila daripada harus melihat gadis yang dicintainya itu menanggung beban seberat ini.


Tanpa sepatah kata Razan pergi darisana untuk menenangkan diri dengan air mata yang sudah berada di ujung pelipisnya.


~Kenapa tuhan..Kenapa harus Arsyila?? dia hanyalah gadis lemah.


...*****...


Sorry ya guysss....Sorry bangeet😭 ngerasa bersalah gk up udah lebih 3 hari, kampus padat +ujian dia pondok. I Love you so much✨ pembaca-pembaca setia Authorr..Untuk kedepannya bakal tor usahain up cepet.


Tetep pantau, tanpa kalian Autor gk bakal semangaat.


See you next time👋🏻💓🔥