
"Whaattt!!!".
Kaget Arsyila dan Dheva kala mendengar pernyataan Razan.
"Kaget kan wkwk". Kekeh Razan melihat ekspresi mereka.
"Anjay si Aldooo bisa suka cewek ternyata". Komentar Dheva berlebihan.
"Lo kira si Aldo homo?". Sinis Razan.
"Hehe". Cengir Dheva.
"Sejak kapan kk Aldo suka ya?". Tanya Arsyila penasaran.
"Gue juga gk tau..Tapi kayaknya dari lama deh mungkin guenya aja yang baru sadar". Jawab Razan.
"Kok gue gk nyadar yak".
"Kan otak lu rada-rada lemot gitu". Sahut Razan lalu terkekeh kecil.
"Aish mulai lagi lu!". Kesal Dheva menatap sinis Razan. Razan hanya balas terkekeh.
"Tapi kok kk Aldo gk bilang ya?". Tanya Arsyila polos..Menurutnya jika suka ya tinggal disampaikan saja kan? toh juga dia cowok masa malu?. Begitulah pemikiran Arsyila.
"Ya mungkin dia takut kalau nanti Chika tiba-tiba ngejauh. Terus jadi canggung kan gk enak mana si Chika sukanya sama yang lebih bawah lagi". Jawab Razan menyampaikan argumennya.
"Trus lo apa kabar? akhirnya ada temen yang senasib ya Zan wkwkwk". Kekeh Dheva yang lagi-lagi membuat Arsyila terkadang menjadi bingung dengan pembahasan nyeleweng mereka yang ia tidak tahu.
"Diem lah Va..Awas lo kalo ampe bocor! kita AND". Ancam Razan sembari memeragakan gaya menggorok leher dengan tangannya.
"Hahaha santai-santai..Rahasia aman. Syukur lo Zan gue masih baik hati". Ujar Dheva menirukan perkataan Razan tadi.
"Kalian pada bahas apa sih dari tadi? ish kek orang bodoh aku nya". Kesal Arsyila pada Dheva dan Razan.
"Nanti juga lo bakal tau".."Kalo Alloh mentaqdirkan". Sambungnya lagi.
"Gituuu mulu dari tadi. Kak Razan tuh emang manusia paling nyebelin di dunia". Ketus Arsyila sambil cemberut.
"Hahaha udah-udah kapan selesainya nih tugas". Razan tersadar.
"Iya nih ya ampuun dah lah gue mau pindah ke sebelah aja, bye Syilll..Semangat Zan jangan lupa balas budi ke gue ntar".
Ujar Dheva sembari bangkit dari duduknya kemudian melenggang pergi dari ruangan tersebut. Razan yang mendengar itu hanya gelang-geleng kepala.
"Lanjutin Syil". Pinta Razan kemudian saat suasana sudah kembali hening seperti semula.
"Lanjutin apa?". Bingung Arsyila.
"Ngerumpinya! ya baca jadwalnya lah".
"Ooo..Yee biasa aja kalieek". Sindir Arsyila sedikit berlegot.
"Yayaya cepet baca masih banyak gk?". Tanya Razan pada Arsyila.
"Mm lumayan si yang Jurusan Agama jadwalnya belum dibaca". Jawab Arsyila.
"Oo kita pake sistem kebut yak..Lo baca aja walaupun gue gk bilang lanjut". Pinta Razan.
"Ha? emang bisa?".
"Insya allah tapi bacanya jangan kecepatan lah".
"Ookey siip".
Mereka pun akhirnya segera menyelesaikan pekerjaan yang selalu berjeda itu tanpa ada gangguan seperti sebelumnya.
Disisi lain....
Dheva tengah fokus mengetik jadwal dilaptop milik Aldo hingga saat suara kaki yang terdengar akan memasuki ruangan tempatnya berada pun tak dapat mengalihkan atensi Dheva.
Dhevan nyelonong masuk ke dalam ruangan yang ia kira sepi itu. Ia sempat terkejut saat baru memasuki ambang pintu dan mendapati Dheva yang sibuk memainkan jemarinya di atas laptop tanpa menyadari kehadirannya.
Kook gue jadi gugup ginii.. -Batin Devan saat merasakan getaran lain yang dirasakan jantungya.
Ehem..
Devan sedikit berdehem sambil melangkah masuk menuju meja yang berada didekat lemari tempat penyimpanan berkas-berkas yang sudah tidak dipakai.
Dheva tak menoleh sedikitpun mungkin ia menganggap yang datang adalah anggota OSIS lain yang sedari tadi juga sering masuk kesana sekedar untuk mengambil keperluan ataupun mengecek kebersihan ruangan tersebut hingga ia merasa malas walaupun hanya sekedar menoleh.
"Fokus amat". Sindir Devan pada Dheva sembari membuka laci untuk mencari sebagian kartu meja siswa yang ketinggalan karna letaknya yang agak dalam hingga Alzam dan Devan kurang memperhatikannya.
"Iya. Ngetik jadwal lo pada". Sahut Dheva tanpa menoleh.
-Batin Dheva yang merasa aneh.
Dengan gerak cepat Dheva mengangkat kepalanya dan mendapati Dhevan yang sudah akan melangkah keluar.
Dheva melebarkan bola matanya.
"Van!". Panggil Devha spontan hingga membuat langkah Devan terhenti. Devan menukik sebelah alisnya seolah bertanya kenapa?.
"Hehe lo ngapain ke sini?". Tanya Devha sambil cengiran tidak jelas.
Devan hanya mengangkat kartu-kartu yang ada ditangannya dengan gerakan malas sebagai jawaban dari pertanyaan Dheva.
"Oh. Mmm gue boleh minta tolong gk?". Tanya Dheva ragu-ragu pada Devan.
"Minta tolong apa?". Tanya Devan dengan wajah datar.
"Mmm gue kewalahan ngetik jadwalnya..Lo bisa bantu bacain gk?".
"Ha?".
"Mm gk banyak kok..Gue harus selesain ini cepet-cepet soalnya bokap nyuruh gue pulang tadi". Ujar Dheva yang terpaksa berbohong agar Devan mau membantunya.
"Ck". Decak Devan lantas menengok arah luar seperti mencari seseorang.
"Ehh sini!". Panggil Devan pada anggota OSIS perempuan yang entah ia tak tahu namanya itu saat sedang menyapu di lorong dekat ruangan OSIS.
Ish udah capek-capek nyari alesan juga. Kan gue maunya elo!
-Batin Devha kesal kala melihat Devan yang malah memanggil orang lain.
"Ada apa ya?". Tanya OSIS perempuan yang bernama Starla itu sambil menatap bingung Devan.
"Boleh minta tolong gk? kasih ini ke Alzam..Lo tau kan nama Alzam?".
Tanya Dhevan sembari menyodorkan kartu ujian tadi dihadapan Starla tanpa menunggu jawabannya terlebih dahulu.
"Ooh ya tau". Balas Starla sembari menerima kartu ujian tersebut dari tangan Devan. Siapa sih yang gk kenal orang-orang ter-famous di SMA Cakranegara ini? bahkan Starla tau bahwa yang sedang ada dihadapannya ini adalah orang yang bernama Devan:)
"Oh baguslah thanks".
"Okey". Jawab Starla kemudian pergi dari hadapan Devan.
Devan pun akhirnya mulai berjalan mendekat ke arah Dheva yang sedang menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri kek orang gila?". Sindir Devan kemudian mengambil duduk disamping Dheva.
"Hehe gue kira lo gk bakal mau". Ujar Dheva polos.
"Ooh". Balas Devan singkat, padat dan tidak jelas tanpa ada tambahan lagi.
"Hadeh dasar kutub!". Gerutu Dheva yang dapat di dengar Devan. Devan hanya tersenyum samar hingga hampir tak terlihat kala melihat wajah cemberut Dheva.
"Nih lo bacain gue dari yang ini ya". Pinta Dheva manunjuk sebagian mata pelajaran yang belum selesai diketiknya. Devan kemudian mengambil kertas yang disodorkan Dheva.
"Langsung nih?". Tanya Devan.
"Iya baca aja". Balas Dheva sembari menyiapkan jemarinya untuk mengetik.
"Biologi sama Fisika". Devan mulai mendekte.
Dheva menepuk jidatnya.
"Aisshh sebut harinya juga Devaannn tanggalnya juga biar lengkap.." Beritahu Dheva.
"Lah..Liat tanggal mapel yang di atasnya aja". Ujar Devan menunjuk laptop yang menampilkan sebagian mapel yang sudah dibuat dalam bentuk tabel.
"Devan..Gini ya yang gue butuhin itu hanya mendengar. Kalo gue harus liat ini, itu. Ya sama aja kayak kerja sendiri!". Ujar Dheva geregetan sambil menatap konyol Devan.
"Oohh gitu oke-oke". Balas Devan seadanya.
"Ah-oh-ah-oh". Sewot Dheva menirukan gaya Devan.
Ternyata buat Dheva kesal seru juga
-Batin Devan sambil cekikikan dalam hati.
...******...
Segini dulu yaaaa.... Ngantuk beratš©
See youuuuā¤